
'Dalam sebuah hubungan kepercayaan yang paling di utamakan, dan aku percaya padamu. Tapi, semoga saja kamu tak mengkhianati kepercayaan ku.'
#Dirga Gantara
...****************...
Dirga mengernyit saat tangan menerima surat dari penjaga keamanan yang ada di kantornya. Jelas dia tidak tau siapa yang mengirimkan surat untuk istrinya karena tak ada yang tau alamat itu kecuali keluarga Kanaya. Bahkan para sahabat Kanaya saja tak ada yang tau.
"Terima kasih, Pak," katanya setelah sebentar mengamati amplop putih yang di depannya tertera nama panjang istrinya.
"Saya masuk dulu, Pak. Terima kasih untuk ini," Dirga mengangkat suratnya dan menunjukkan pada Penjaga dan tentu langsung mendapatkan anggukan karena itu juga sudah menjadi bagian dari pekerjaannya.
Apalagi Dirga memang pernah mengatakan kalau ada surat untuk siapapun harus tetap di terima Dirga lebih dahulu.
"Sama-sama, Pak," jawab penjaga seraya menunduk penuh hormat kepada Dirga.
Dengan langkah pasti Dirga masuk ke gedung itu dan segera menuju ke arah ruangannya sendiri.
Kursi kebesaran menjadi tempat Dirga sekarang dia sudah duduk setelah sampai dan tentu sudah menutup pintunya.
"Aneh, kenapa tidak ada nama pengirimnya?" Dirga membolak-balikan surat itu dan mengamati dengan serius.
"Maaf, Nay," rasa penasaran yang sangat besar membuat Dirga membuka surat itu.
Baru saja membukanya dan membaca pembukaan saja sudah membuat mata Dirga memerah juga tangan yang mengepal. Nama Yuan Prayoga terpampang sangat jelas di sana. Bahkan tulisannya semua pakai huruf kapital seolah menekankan kalau dialah pengirimannya.
"Benarkah kamu tidak bahagia dengan suamimu seperti yang kamu tuliskan dalam surat mu kemarin, Aya? Kalau seperti itu pergilah darinya, aku siap menerimamu dan aku yakin aku bisa membahagiakanmu. Hanya aku yang bisa kan, Ay. Bukan dia, tapi aku yang sangat mencintaimu."
Satu bab Dirga membaca isi surat itu sudah membuat dia benar-benar dalam amarah yang sangat besar. Benarkah Kanaya secara diam-diam mengirim surat pada Yuan?
Apakah Kanaya menceritakan semua isi hatinya kalau dia tidak bahagia bersamanya. Lalu bagaimana dengan senyum yang selama ini Kanaya perlihatkan untuknya, apakah semua itu hal yang tabu?
"Apakah kamu benar-benar tega padaku, Nay. Apakah kamu benar-benar tidak bahagia bersamaku?"
Hatinya begitu sakit meski hal itu masih dia ragukan. Bahkan Dirga sendiri juga tidak yakin kalau Kanaya melakukan itu, tapi apa semua ini?
__ADS_1
Jelas-jelas surat itu datang dari Yuan Prayoga saingan terberatnya bahkan sampai sekarang saja Dirga belum bisa menggantikan posisinya di hati Kanaya.
"Ini harus di pastikan. Meski ini atas namanya tapi belum tentu itu benar, hatiku mengatakan bukan dia yang mengirimnya," gumam Dirga.
Tak boleh gegabah dalam hal ini. Semuanya belum pasti dan harus di pastikan lebih dulu kebenarannya. Dirga juga tidak menyukai kekerasan di luar kelainannya.
Di baca hingga habis semua isi suratnya. Semuanya yang tertera adalah hal-hal yang membesarkan hatinya Yuan saja dan menghinakan Dirga. Meski berusaha tidak marah tapi tetap saja hatinya di penuhi amarah itu.
"Tidak, surat ini tidak boleh sampai pada Naya. Dia tidak boleh tau," teguh Dirga. Mungkin itu memang yang harus di lakukan karena dia tidak mau sampai Kanaya yang sudah perlahan nyaman bersamanya akan berubah lagi dan akan kembali dingin.
Hanya karena sebuah surat membuat hati Dirga begitu gelisah, dia tidak semangat melakukan semua pekerjaannya. Bukannya semakin membaik tapi malah semakin berantakan. Benar-benar surat yang membawa hal yang buruk.
Hingga siang hanya beberapa saja pekerjaan yang bisa di selesaikan oleh Dirga, semua itu juga gara-gara surat yang membuat Dirga kehilangan fokusnya. Dia sangat takut kalau apa yang ada di dalam surat itu adalah benar.
Kring kring kring....
Ponsel Dirga berbunyi mengejutkan Dirga yang tengah fokus. Cepat tangan menyambarnya dan melihat siapa yang telah menghubunginya.
"Istriku," Dirga cepat mengangkat panggilan itu yang ternyata dari Kanaya.
"[Wa'alaikumsalam, Mas. Aya sudah selesai. Mas bisa jemput sekarang?]"
"Bisa, kamu tunggu di sana ya, lima menit aku sampai," jawab Dirga.
Sebenarnya Dirga ingin sebelum Kanaya sendiri menghubunginya dia ingin menjemputnya, dia tidak ingin Kanaya menunggu. Tapi semua itu ternyata tidak terjadi karena semuanya buyar hanya karena sebuah surat saja.
Sekarang Dirga harus bagaimana? apakah dia akan bersikap baik-baik saja seperti tadi pada Kanaya atau mungkin dia harus tegas padanya?
Apalagi isi surat itu mengatakan kalau Kanaya pernah mengirim surat pada Yuan, apakah ini bisa di percaya atau Dirga harus tetap menyelidiki lebih dulu?
"[Baik, Mas. Assalamu'alaikum,]"
"Wa'alaikumsalam," Dirga memutuskan telfonnya. Terlihat helaan nafas yang sangat panjang Dirga harus bisa membuat hatinya tenang dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
Semua kembali Dirga bereskan lalu dia tinggal begitu saja di mejanya. Secepatnya dia harus bisa menjemput istrinya kasihan kalau dia terlalu lama menunggu.
__ADS_1
...****************...
Di depan gedung Multi fashion Annisa Kanaya terus menunggu Dirga menjemputnya. Dia duduk tepat di emperan.
Matanya sesekali melihat arah jalan dan beralih ke tempat lain.
"Mbak menunggu siapa?" seseorang menyapa Kanaya. Seorang pria yang tampan dengan perawakan tinggi dengan kemeja putih yang di selipkan di celana hitamnya dengan rapi.
"Saya menunggu... "
"Menunggu pacarnya jemput ya?" belum juga Kanaya berbicara sampai selesai pria itu sudah menyerobot menjawab lebih dulu. Berasumsi bahwa Kanaya hanya menunggu pacarnya padahal malah suaminya.
"Boleh saya temenin?" belum juga Kanaya menjawab pria itu juga sudah langsung duduk di sebelah Kanaya namun di kursi yang berbeda.
"Hah!" Kanaya terkesiap, apa yang ingin dia katakan bahkan pria itu juga sudah duduk di sana dengan begitu anteng.
"Maaf, saya permisi," Kanaya jelas menghindar dia ingin menjaga hati Dirga. Meski dalam hatinya belum ada Dirga tapi dia harus tetap menjaga hatinya karena dia adalah suaminya.
Bukan itu saja, tapi Kanaya ingin menjaga diri dari fitnah yang mungkin bisa datang padanya. Semua tak ada yang tidak mungkin dan dia harus menjauhi hal-hal yang bisa menjadi alasan untuk fitnah itu datang.
Pria itu ikut berdiri bahkan dia mengikuti Kanaya yang ingin menjauh.
Kanaya sedikit menoleh ke arah belakang, tentu dia akan melihat pria itu yang berjalan tepat di belakangnya. Kanaya harus semakin mempercepat jalannya.
'Ya Allah, ada apa ini. Kenapa dia terus mengikuti ku?" Kanaya merasa takut dia tidak tau orang-orang seperti apa di daerah itu.
Sampai di pinggir jalan dan Kanaya berhenti dia terus mengamati jalan raya karena dia begitu berharap Dirga akan segera datang.
'Mas, cepatlah datang. Aya takut," Kanaya begitu cemas.
"Tidak usah takut, Mbak. Aku akan temani mbak sampai pacarnya datang," ucapnya dan berdiri di belakang Kanaya.
Begitu enteng dia bicara jangan takut padahal yang Kanaya takutkan adalah dia sendiri. Benar-benar nggak peka tuh orang.
...****************...
__ADS_1
Bersambung....