Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Baju Pertama Untuk Dirga


__ADS_3

...****************...


Begitu serius Kanaya mengukur-ukur kain yang akan dia bikin kemeja kali ini. Di dampingi oleh bu Annisa langsung Kanaya nampak begitu fokus.


Tak mau ada kesalahan apalagi kegagalan jadi Kanaya tidak tolah-toleh lagi meski ada sang pengganggu yang terus saja bersiul dan tak berani mendekat.


Bagaimana pengganggu itu akan berani mendekat kalau ada mamanya di sana pastilah akan mendapatkan teguran keras bahkan sebuah omelan yang sangat luar biasa.


"Nah, bagus. Kamu pinter Nay," puji bu Annisa pada Kanaya yang begitu cepat mengerti.


Ternyata meski datang dari desa saja Kanaya memiliki otak yang sangat encer dia bisa mudah menerima semua yang bu Annisa jelaskan.


Gunting Kanaya ambil, awalnya dia gemetar karena takut tidak sesuai dengan apa yang di gambar tapi dengan ketelatenan bu Annisa bisa membuat Kanaya menjadi berani dan menghilangkan ketakutannya.


Tak boleh ada keraguan dalam melakukan apapun. Semua harus dalam keyakinan yang penuh dan juga tindakan yang maksimal.


"Warnanya sangat bagus, Nay. Bahannya juga lembut. Kamu pinter mencari bahan," lagi bu Annisa memuji kepintaran Kanaya. Memang patut di acungi jempol semua tindakan Kanaya pantas saja ada cowok yang tak tau malunya melirik padanya. Padahal sudah jelas kalau sudah menjadi milik orang lain.


Kanaya hanya bisa tersenyum, dia bahagia mendapatkan pujian tapi bukan berarti dia akan begitu berbangga diri. Tak ada orang yang pernah begitu memuji dan menghargai apa yang dia kerjakan. Apalagi wak juga sepupunya itu yang selalu meremehkannya.


Kanaya kembali serius hingga akhirnya dia sudah bisa memotong semuanya. Semua tinggal di jahit saja dan akan menjadi satu kemeja utuh.


Setelahnya bu Annisa mulai mengarahkan Kanaya di depan mesin jahit. Mesin berwarna putih yang sama persis dengan yang di rumah yang di belikan oleh Dirga.


Pelan namun pasti Kanaya menyatukan satu potong kain dengan yang lainnya, membuat bu Annisa lagi-lagi di buat tertegun karena Kanaya yang seolah seperti sudah terbiasa.


"Kamu sangat pintar, Nay," katanya lagi. "Kamu beneran belum pernah melakukan ini?" tanyanya.


"Belum," Kanaya menjawab seraya menoleh kecil ke arah Bu Annisa.


Sementara Zein terlihat begitu gelisah, dia ingin mendekati Kanaya tapi tak ada keberanian karena ada mamanya. Dalam hatinya terus menyerukan pengusiran untuk mamanya, seandainya dia bukan ibu kandungnya mungkin seruan itu sudah keluar dari mulutnya dengan jelas, tapi tidak!


"Yes!" wajah Zein langsung berbinar saat bu Annisa pergi ke murid yang lain ini adalah kesempatan untuknya. Jelas dia langsung menghampiri Kanaya.


"Wih, pinternya. Nih kalau dah jadi pasti bagus dan enak di pakai. Nanti kalau udah jadi buat aku ya, Naye?" Zein kembali menjadi pengganggu dan lagi duduk di hadapan Kanaya.


Tak mau kehilangan Fokus Kanaya tetap diam tak menanggapi apa yang Zein katakan. Seperti apapun Zein menginginkan baju itu Kanaya tetap kekeuh untuk dia serahkan untuk sang suami saja.


"Naye, buat aku ya. Please," Zein begitu memohon.

__ADS_1


"Kalau ini baju untuk ku, aku akan pakai setiap hari. Tak masalah tidak di cuci karena itu dari kamu akan tetap selalu harum," katanya. Dan kecerewetannya kembali lagi.


"Maaf, tapi ini untuk suami saya," jawab Kanaya menegaskan semoga sudah bisa di mengerti oleh zein.


"Hem, dia lagi dia lagi. Ini buat aku, dan untuk suamimu aku belikan aja dan kamu tinggal bilang itu hasil buatan mu. Bagaimana, pinter kan aku?"


Pinter apaan, pinter kok untuk mengajari seorang istri menjadi pembohong pada suaminya.


"Maaf, tapi saya tidak tertarik," selalu saja Kanaya akan dingin jika berbicara dengan Zein. Jika Zein tidak seperti ini mungkin dia bisa berkata dengan lembut seperti dengan yang lainnya, tapi tidak!


"Kalau begitu, aku beli deh bajunya. Mau berapapun kamu mematok harga akan aku bayar. Bagaimana, setuju?"


"Maaf, saya tidak butuh uang dari mu," tetap tak akan mudah untuk bisa meluluhkan hati Kanaya.


"Hadeuh, bagaimana lagi ya caranya?"


"Caranya?" tanya Kanaya dan jelas Zein langsung mengangguk antusias.


"Caranya kamu berdiri dan keluar dari sini. Jangan mengganggu ku," itu bukan cara kan, tapi pengusiran.


"Tapi aku bisa dapat bajunya?"


Meskipun dengan terus berdebat Kanaya tetap melanjutkan pekerjaannya. Berharap baju itu akan cepat jadi dan dia bisa memberikan kepada Dirga hari ini juga.


Kanaya sudah tidak sabar ingin melihat Dirga memakai baju hasil kerja kerasnya. Meski itu hanya kain murah saja tapi Kanaya yakin Dirga akan menghargainya.


Rasa sabar ingin melihat Dirga memakai kemeja itu membuat Kanaya menarik senyum jelas itu si salah artikan oleh Zein yang ada di hadapannya.


Zein pikir Kanaya tersenyum karena membayangkannya. Pasti Kanaya mulai mengagumi dalam diamnya kan?


"Cie, dah mulai seneng nih ya," ucap Zein.


Dengan cepat Kanaya mengubah bentuk bibirnya menjadi mengerucut sebal. Pria ini benar-benar menjadi pengganggu untuknya.


"Kenapa kamu di sini, pulang sana!" dan bu Annisa yang datang dan langsung mengusir Zein.


"Aku masih mau di sini," kekeuh Zein tak mau beranjak.


"Zein," bu Annisa semakin geram.

__ADS_1


"Iya iya!" akhirnya menurut juga si Zein dan pergi begitu saja dari hadapan Kanaya. Ikhlas nggak ikhlas tapi dia masih tak mau Kanaya tau kapan dia adalah anak dari bu Annisa.


Kembali bu Annisa melihat kerjaan Kanaya dan semuanya benar tak ada sedikitpun kesalahan bahkan semua tepat pada tempatnya.


Kanaya semakin cepat mengerjakan, dia targetkan sebelum pulang harus sudah jadi. Dan ketika Dirga menjemput dia sudah langsung mencobanya.


'Calon wanita sukses. Dia begitu cekatan. Aku yakin dia akan sukses di kemudian hari dengan kemampuannya ini,' batin Bu Annisa.


...****************...


Kanaya terus tersenyum kala keluar dari LPK, dia begitu senang akhirnya apa yang di targetkan telah berhasil dia selesaikan.


Kanaya benar tak sabar ingin bertemu Dirga dan memberikannya. Ini adalah baju pertamanya dan kata bu Annisa juga sudah sangat bagus hasilnya bahkan juga sangat rapi.


"Eitss..., ini jatahku," tiba-tiba Zein merebut paper bag yang Kanaya bawa.


Kanaya melotot seraya menghentikan langkah dia langsung kesal karena Zein yang selalu semaunya sendiri.


"Berikan, itu bukan untuk mu!" teriak Kanaya dan berusaha merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik Dirga.


"Ini untuk ku kan, tadi kamu yang katakan," Zein melihat baju itu jelas dia langsung menyukainya.


"Kapan aku mengatakannya?" gumam Kanaya.


"Zein, berikan!" benar-benar sudah marah nih Kanaya bahkan memanggil Zein sudah langsung dengan nama saja tanpa ada embel-embel mas seperti kemarin.


"Ya, aku suka kamu memanggil namaku."


"Ih, berikan!" Kanaya tetap berusaha merebutnya.


Sementara Zein terus meninggikannya supaya Kanaya tak bisa menggapainya.


"Hey!" kini Zein yang berteriak saat baju itu di rebut oleh Dirga yang tiba-tiba datang.


"Jangan pernah mengambil apa yang bukan menjadi hak mu, Zein. Karena yang bukan hak mu meski kamu berusaha keras tidak akan pernah kamu dapatkan," ucap Dirga.


Dengan cekatan Dirga langsung menggandeng tangan Kanaya dan mengajaknya pergi. Itu lebih bijak daripada dia meladeni Zein.


...****************...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2