Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Kecewa


__ADS_3

...****************...


Begitu Kanaya menunggu kepulangan Dirga dari kantor. Semua sudah dia siapkan termasuk makan malam untuk mereka berdua.


Rasanya sangat kesepian saat Dirga tidak ada jadi Kanaya menghabiskan waktu di ruang jahit atau kalau tidak dia mulai mempelajari kisi-kisi untuk paket C.


Kanaya sungguh sudah sangat yakin untuk menyiapkan segalanya untuk paket C. Dia terus belajar dan belajar. Kadang dia sendiri tapi kadang ada Dirga yang membantunya dan menjelaskan yang Kanaya tidak bisa.


Tapi alhamdulillah, meski susah dan belum pernah tapi Kanaya sangat mudah memahami semuanya Kanaya memang memiliki otak yang encer jadi Dirga semakin semangat dan tidak ada keraguan untuk membuat Kanaya bisa menguasai segalanya.


Di ruang tengah Kanaya terus mondar-mandir dengan terus melintir hijabnya. Sesekali matanya juga melihat ke arah pintu dan berharap suaminya akan segera pulang.


"Tumben mas Dirga belum pulang. Apakah di kantor banyak sekali pekerjaan ya?" gumamnya.


Kanaya berjalan ke arah jendela, membuka sedikit gorden dan mengintip keluar dan belum ada tanda-tanda kepulangan Dirga.


Kanaya kembali masuk terlihat dia semakin gelisah, hari-hari ini dia memang begitu mudah merindukan Dirga, merindukan kebersamaan juga kasih sayang yang selalu dia berikan kepadanya.


"Kenapa belum pulang?" ucapnya lagi.


Akhirnya setelah beberapa saat menunggu suara mobil masuk ke tempat parkir Kanaya dengar, senyumnya terpancar jelas dan Kanaya langsung kembali mengintip lewat jendela setelah sudah di pastikan dia adalah Dirga baru Kanaya langsung berlari keluar untuk menjemputnya.


Ingin sekali Kanaya langsung berhamburan ke pelukannya tapi Kanaya tau Dirga pasti sangat lelah karena pekerjaan jadi Kanaya hanya langsung tersenyum dan menjawab salam dari Dirga juga menyalaminya.


"Assalamu'alaikum," sapa Dirga.


"Wa'alaikumsalam, Mas. Kok baru pulang, Mas?" tangannya perlahan terlepas dari tangan Dirga dan mengambil alih tas kerjanya.


"Iya, maaf ya. Mas ada meeting mendadak dengan klien dari Jepara jadi mas nggak bisa pulang lebih cepat."


"Mas mau makan dulu atau mau bersih-bersih dulu?" keduanya melangkah dengan Dirga yang merangkul Kanaya. Sungguh, inilah hal-hal kecil yang selalu Kanaya rindukan saat Dirga jauh.


"Mas mandi dulu saja biar enak makannya. Kalau masih kotor nggak enak, masih bau juga," jawab Dirga.


Kanaya mengangguk dan terus ikut berjalan menemani Dirga sampai ke kamar.

__ADS_1


Semua Kanaya siapkan untuk Dirga. Dari kaus rumahan juga sarung. Ya, kebiasaan Dirga hanya memakai pakaian seperti itu saat malam dan itu sudah sangat Kanaya hafal.


Sembari menunggu Dirga mandi Kanaya kembali membuka buku yang ada di meja, mempelajari lagi dan lagi sampai dia benar-benar paham. Meski Kanaya sudah sangat lama gak pernah memikirkan tentang pelajaran sekolah lagi tapi itu tak membuatnya kesusahan, Kanaya yang sebenarnya memiliki IQ tinggi pastilah akan selalu mudah.


"Bagaimana, apakah ada yang kamu tidak ketahui?" tak berapa lama Dirga keluar dari kamar mandi bergegas mengambil baju ganti yang sudah Kanaya siapkan sembari melihat Kanaya sebentar. Ya, sekedar memastikan sudah sampai mana istrinya itu belajar.


"Alhamdulillah, sejauh ini masih bisa Nay pahami," jawab Kanaya.


Dirga langsung mengacak rambut Kanaya sebelum dia pergi ke ruang ganti. Tak lama dia kembali lagi dan sudah lengkap dengan pakaiannya.


"Kita makan sekarang, Mas?" Kanaya berdiri menghadang Dirga yang sudah mau duduk di sebelahnya.


"Kita makan aja dulu, Mas. Setelah itu baru mulai lagi. Nanti mas lapar lagi, yuk," ajak Kanaya.


Dirga yang sebenarnya ingin duduk terpaksa urung karena Kanaya sudah menggenggam erat pergelangan tangannya dan menariknya untuk ke meja makan untuk makan malam. Dirga tak mengelak dia ikut saja apa yang menjadi keinginan istrinya.


Begitu menikmati acara makan malam di rumah sendiri. Makan malam masakan Kanaya sendiri.


Dirga begitu lahap membuat Kanaya merasa sangat senang karena Dirga selalu saja lahap jika makan masakannya. Itulah kebahagiaan kecil dari seorang istri, masakannya di hargai dan di sukai. Tak butuh pujian asal bisa memakannya saja sudah senang banget.


Dirga memang sangat tau apa dan bagaimana cara untuk bisa membuat istrinya bahagia, meskipun dia tau Kanaya gak butuh pujian-pujian itu tapi Kanaya tetap mendapatkannya.


"Nay, apa kamu mau tau berita penting?"


"Berita? berita apa, Mas?" Kanaya tentu langsung penasaran dengan berita yang di maksud oleh Dirga. Kira-kira berita apa ya?


"Mas Arifin dah mau nikah, tapi gagal," kata Dirga yang berhasil membuat Kanaya langsung membulatkan mata juga menghentikan gerakan tangannya untuk merahapi makanannya.


"Menikah? kapan, kok nggak ngabarin Nay?" begitu terkejut Kanaya dengan berita pernikahan Arifin yang tak mengundang dirinya.


"Terus, kenapa bisa gagal?" juga terkejut karena pernikahannya harus gagal. Entah ada masalah apa hingga membuat acara yang begitu sakral seperti pernikahan itu sampai tidak bisa berjalan dengan semestinya.


Kecewa, sedih dan tak percaya.


Apakah Kanaya pantas memiliki rasa itu setelah semua yang sudah terjadi. Apakah dia boleh kecewa dengan keluarganya itu yang sama sekali tak mengundangnya? apakah itu artinya mereka sudah tidak lagi menganggapnya sebagai keluarga

__ADS_1


lagi?


"Apakah kamu sedih?" Dirga tau Kanaya sangat sedih, tapi dia hanya ingin memastikan.


"Kenapa mereka tidak mengundang Nay ya mas, apakah Nay benar sudah tidak di anggap lagi sebagai keluarga?"


Suara Kanaya begitu lirih, begitu besar rasa kecewa di dalam hatinya tapi apakah itu pantas dia rasakan?


Sekarang dia sedih, apakah mereka juga merasakan apa yang Kanaya rasakan saat ini? saya rasa tidak!


Mungkin hanya satu orang saja yang merasakan kesedihan seperti apa yang di rasakan oleh Kanaya saat ini. Bukan hanya sedih karena tidak di undang tapi Kanaya juga sedih karena dia sangat yakin Wak Ami juga sangat sedih.


"Mungkin, mereka takut kamu lagi sibuk," jawab Dirga.


Padahal Dirga sangat tau apa alasannya kenapa Kanaya tidak di undang, mereka memang tidak lagi menganggap Kanaya mungkin hanya Wak Ami saja yang masih sayang.


Satu orang saja tidak akan bisa mengalahkan keegoisan dari Wak Tejo juga Arifin. Mereka adalah bapak dan anak yang benar-benar sama dan sangat kompak sifatnya.


"Tapi setidaknya kan mereka memberitahu Nay kan, Mas?"


"Iya itu seharusnya, tapi ya udah lah nggak usah kamu pikir terlalu berlebihan. Lebih baik sekarang kamu pikirkan bagaimana kamu bisa sukses dalam paket C besok. Dan bisa menggapai semua cita-cita mu. Itu lebih baik kan?"


"Hem, mungkin mas memang benar," jawab Kanaya sedikit lemas. Meski dia berusaha menerima tapi biar bagaimanapun mereka sudah pernah memberikan kasih sayang padanya.


"Mas, kenapa pernikahannya bisa gagal?" rupanya Kanaya masih ingin mengetahui alasan sebenarnya.


"Hemm...."


Dirga menjelaskan semuanya, apa yang sebenarnya terjadi dan tak ada satupun yang terlewat.


Kini Kanaya hanya bisa menggeleng tak percaya dan terus beristighfar, kenapa Arifin bisa sejahat itu bisa membuat anak orang hamil di luar pernikahan, bahkan bukan hanya satu, tapi dua sekaligus.


"Wak Ami pasti sangat sedih, iya kan mas?" tanya Kanaya yang langsung berubah wajahnya dengan masam.


...****************...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2