
...****************...
Keyakinan Dirga sudah sangat penuh terhadap orang yang telah mengirimkan surat kepada Kanaya dengan mengatasnamakan Yuan sebagai pelakunya.
Siapa lagi pelaku itu kalau bukan Arifin kakak sepupu dari Kanaya. Bahkan dengan bantuan pak Danu Dirga mendapatkan semua bukti dan itu sudah bisa menjadi bukti kuat dan bisa menguak semua yang telah dilakukan oleh Arifin kepada semua orang.
Bukan itu saja tetapi Arifin juga sudah mencari orang untuk membeli ladang yang sebenarnya hak milik untuk Kanaya dari kedua orang tuanya.
Benar-benar sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi si Arifin dia melakukan itu atas n*fsu yang ingin cepat menikahi kekasihnya.
"Saya tahu kalau di dunia ini tidak ada yang gratis bagi kalian, bahkan keberadaan Kanaya di sini juga kalian hitung semua biayanya dan saya akan membayar semua biaya yang telah kalian keluarkan selama Kanaya tinggal bersama kalian," ucapan Dirga langsung mengejutkan Wak Tejo sekeluarga.
Obrolan mereka yang begitu hangat tadi dan penuh dengan gurauan kini berubah menjadi serius dengan keluarga wak Tejo yang sangat terkejut.
Bahkan Arifin juga sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Dirga. Membayarnya?
Bagaimana mungkin Arifin bisa percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dirga Bagaimana mungkin juga bisa membayar semua biaya yang sudah mereka gelontorkan untuk membiayai kehidupan Kanaya hingga sekarang.
Dari mana Dirga bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Bukankah dia hanya seorang pekerja di pabrik saja?
Yah! Dirga sendiri yang mengatakan bahwa dia hanya bekerja di pabrik tetapi Arifin tidak tahu bekerja di pabrik di bagian apa.
Semua itu adalah rahasia yang ingin Dirga sembunyikan dari mereka. Dirga tahu kalau Arifin juga ayahnya adalah seorang yang tamak akan harta bisa jadi jika mereka tahu mereka akan memanfaatkan Kanaya supaya bisa terus meminta uang kepada Dirga.
Awalnya Dirga ragu kalau ayah dan anak itu sama-sama memiliki sifat yang tamak dan sekarang semua ketamakan itu terbukti dengan mereka yang ingin menjual hak milik Kanaya.
Bahkan mungkin sebenarnya yang menjadi milik Kanaya bukan hanya ladang saja bisa jadi juga rumah yang mereka tempati karena kedua orang tua Kanaya juga dulunya tinggal di sana bahkan sang kakek juga sudah memberikannya kepada mereka
__ADS_1
Tetapi, wak Ami adik dari ayah Kanaya yang akhirnya juga tinggal di sana itu berarti wak Tejo tidak ada hak atas rumah itu.
"Apa yang kamu katakan, Nak. Jangan katakan hal yang seperti itu. Kanaya adalah anak kami bagaimana mungkin kami akan meminta bayaran untuk," wak Ami begitu lembut bicaranya.
Tutur kata yang selalu lembut yang membuat Kanaya akan selalu betah saat bersama dengannya. Bagi Kanaya wak Ami adalah ibu kedua untuknya.
"Bagaimana mungkin orang tua akan minta bayaran karena telah merawat anaknya sendiri. Itu tidak mungkin kan, Nak?"
Lagi wak Ami mengatakannya. Terlihat dia begitu tulus dan benar-benar ikhlas dalam merawat Kanaya selama ini. Terlihat tak menginginkan imbalan dalam bentuk apapun.
"Seharusnya memang seperti itu, Wak. Orang tua tidak akan meminta bayaran dalam membesarkan anak-anaknya. Tapi Kanaya kan bukan anak kalian," Dirga begitu menjelaskan.
'Ah, Ibu. Kenapa harus berbicara seperti itu sih! Aku kan ingin melihat seberapa Dirga memberikan uang pada Kita. Sebenarnya seberapa kekayaannya, atau dia hanya bisa sombong saja?' batin Arifin dengan tak suka dengan penuturan dari ibunya.
Begitu tak suka Arifin karena semua perkataan yang dilayangkan oleh ibunya. Bagi seorang ibu memang benar, merawat anak tidak butuh meminta imbalan karena seorang ibu memiliki hati yang tulus. dan wak Ami sudah menganggap Kanaya adalah putrinya bukan hanya sebagai keponakannya.
Tetapi tidak untuk Arifin dan Wak Tejo yang terus menganggap Kanaya sebagai beban untuk mereka dan orang asing yang hanya menumpang tinggal dan makan gratis di tempat mereka.
"Dan saya juga meminta hak atas Kanaya dari kalian, ladang yang seharusnya menjadi milik Kanaya harus tetap menjadi miliknya. akan saya kasih waktu sampai tanaman yang ada habis dan setelah itu saya akan mengambilnya karena saya akan membangun villa di sana."
"Saya hanya ingin setiap kami datang ke tempat ini kami memiliki tujuan yang pasti yaitu tempat tinggal kami sendiri bukan hanya sebagai penumpang di rumah orang."
Begitu sinis Dirga mengatakan perkataan itu bahkan matanya kini menoleh ke arah Wak Tejo juga Arifin secara bergantian.
Bukan maksud Dirga ingin menguasai hak yang menjadi milik Kanaya tetapi Dirga hanya ingin tempat itu menjadi bermanfaat untuk dia dan Kanaya. itupun juga sudah melalui persetujuan Kanaya sendiri.
Ada senang ada rasa Tak Rela dari keduanya, Wak Tejo beserta Arifin. Mungkin dia akan mendapatkan uang dari Dirga sebagai pembayaran atas tinggalnya Kanaya di sana tetapi itu tidak akan seberapa dibandingkan dengan ladang yang sangat luas milik Kanaya.
__ADS_1
Apalagi di sana akan dibangun menjadi Villa itu artinya mereka tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki mereka di sana lagi apalagi untuk menanam tanaman sesuka mereka.
'Kenapa harus seperti ini?' Fatin Wak Tejo yang sangat tidak percaya kalau sebentar lagi dia akan kehilangan hak atas tanah yang selama ini selalu menjadi sumber uang.
Wak Tejo juga sangat tidak rela karena dengan diambilnya tanah itu maka penghasilannya akan berkurang karena tanah yang menjadi miliknya juga tidak seberapa dibandingkan tanah itu.
Kini wak Ami hanya diam dengan perasaan yang sangat sedih, dengan semua ini apakah dia akan kehilangan Kanaya? apakah akan ada jarak di antara mereka?
Meski selama ini Wak Ami selalu diam tetapi dia sangat tahu apa yang selalu dilakukan oleh suami dan anaknya, bagaimana dia selalu membuat Kanaya sedih dan selalu memojokkannya. Tetapi wak Ami tidak bisa melakukan apapun karena dia terlalu takut kepada suaminya.
"Benarkah kamu akan membayar semua yang telah kami keluarkan kepada Kanaya?" tanya Arifin semangat. Mana mungkin dia akan menyia-nyiakan waktu, dia akan mendapatkan uang dari Dirga bukan?
"Kalau begitu berikan saja sekarang dan ambil tanahnya sekarang juga kami tidak peduli atas tanah itu karena tanah itu juga sudah tidak berguna bagi kami." ucap Arifin.
Mungkin benar yang dikatakan oleh Arifin karena saat ini panen juga gagal dan itu juga membuat dia kesal. Jadi tidak akan masalah kalau tanah itu diambil sekarang juga.
"Mau kalian bikin Villa, mau kalian apakan juga terserah kalian yang terpenting sekarang berikan uangnya kepadaku,"
Wak Ami membulatkan matanya. Dengan semua perkataan Dirga barusan bukankah itu akan membuat hubungan mereka akan renggang?
"Fin, apa yang kamu katakan. Kita tidak boleh mengambil apapun dari mereka. Uang itu tidak seharusnya mereka berikan, dan tanah itu memang hak milik Kanaya! kapanpun mereka meminta kita berhak memberikannya," seru Wak Ami.
Perdebatan terus terjadi di antara wak Ami juga Arifin. Bahkan wak Tejo juga ikut menyerukan pendapat juga apa yang ada di pikirannya.
Sementara Kanaya hanya diam, dia tidak berani mengatakan apapun makanya dia serahkan semua pada suaminya.
Sebenarnya Kanaya tidak mau melakukan itu. Awalnya dia tidak setuju dengan saran Dirga tapi semua orang juga mengatakan kalau Kanaya memang harus mengambil apa yang menjadi hak nya.
__ADS_1
...****************...
Bersambung....