
...****************...
Menikmati sarapan bersama di penginapan Kanaya juga Dirga saat ini. Tak berniat mencari sarapan di luar karena malas jadi mereka hanya sarapan seadanya saja di penginapan.
Meski sederhana tapi menurut Kanaya juga sudah sangat luar biasa, tak biasa dia makan makanan yang sangat enak dengan penyajian yang simpel tapi sangat menggiurkan.
Hanya menggunakan piring dari tanah liat yang di tambah daun pisang saja. Juga semua serba di kasih alas daun pisang. Sungguh nikmat bukan.
Bukan di dalam kamar sih ya mereka, tapi di warung makan sederhana di area penginapan.
Sekeliling sudah nampak ramai, tempat sudah sangat penuh. Mereka duduk bukan di kursi melainkan mereka duduk lesehan di atas bangunan-bangunan yang di bentuk seperti panggung.
Dan enaknya satu panggung hanya untuk satu kelompok saja jadi benar-benar tak ada orang luar yang akan di dekat mereka. Mereka bisa puas makan dan tak akan malu pembicaraannya akan di dengar oleh orang lain.
"Makan yang banyak ya biar tambah gembul," ucap Dirga seraya mengambil nasi untuk Kanaya di wadah yang terbuat dari anyaman bambu.
"Sudah, Mas. Ini sudah cukup," protes Kanaya karena Dirga selalu semangat saat mengambilkan makanan hingga akhirnya kebanyakan.
"Ini belum banyak loh. Ini baru nyelip di bawah saja, belum sisi kanan kiri dan juga atas belum," Dirga tersenyum dan kini mengambilkan olahan sederhana yang akan menjadi teman nasi.
Olahan jamur, kangkung, ayam geprek juga ikan bakar tentu dengan sambal, sangat nikmat bukan.
Begitu bingung Kanaya melihat makanan sebanyak itu dan hanya mereka berdua yang ada di sana, tidak akan mungkin habis kan?
"Mau makan sendiri atau mau suap?" tanya Dirga dengan mencondongkan wajahnya lebih dekat pada Kanaya yang masih terdiam.
"Naya bisa makan sendiri, Mas," seulas senyum keluar dari Kanaya membuat Dirga juga ikut tersenyum.
Tidak menggunakan sendok mereka makannya hanya menggunakan tangan kosong saja, itu lebih nikmat kan?
"Akk!" meski Kanaya sudah mengatakan ingin makan sendiri tapi kenyataannya Dirga tetap menyuapinya, "Hem," Dirga mengangguk sebagai isyarat supaya Kanaya mau menerima suapannya.
Kanaya menerimanya, mulutnya terbuka lebar dan matanya memandang lurus ke arah wajah Dirga.
"Enak?" tanya Dirga dan Kanaya langsung mengangguk. Bahkan bagi Kanaya makanan itu sangat enak meski hanya masakan yang sederhana saja.
Kanaya mungkin bisa membuatnya tapi rasanya pastilah tak akan seberapa di bandingkan dengan buatan di sana. Tapi entah kalau Dirga, mungkin dia akan lebih merasa enak jika masakan Kanaya. Mungkin.
"Enak, tapi masakan yang paling enak adalah punya istri ku. Dan yang kedua masakan umi," nah kan benar. Pastilah untuk Dirga masakan sang istri yang lebih istimewa.
__ADS_1
"Ini lebih enak kok," kata Kanaya.
"Hem, tapi bagiku masakan manapun dan seperti apapun tidak bisa melebihi enaknya masakan kamu. Bahkan saat makan masakan mu mas pengen nambah terus," Dirga meringis.
"Stts," Kanaya menoleh tak mau sampai ada pihak sana yang mendengarnya dan akan mengurangi Dirga dan dirinya menghina makanannya.
"Hem," Dirga mengangguk dia mengerti apa yang Kanaya maksud. "Akk!" lagi Dirga menyuapi Kanaya padahal di depan Kanaya sudah ada piringnya sendiri dan depan Dirga tentu punya Dirga sendiri kan? tapi malah Dirga suapkan pada Kanaya dan juga dia makan sendiri.
"Makanlah yang banyak dan setelah ini kita pergi ke suatu tempat."
"Kemana?" Kanaya nampak sangat penasaran.
"Nanti juga kamu tau," hanya seulas senyum saja yang Dirga berikan tentu akan menambah rasa penasaran Kanaya. Mau di ajak kemana coba.
...**************** ...
Kanaya menatap takjub pemandangan yang ada di hadapannya saat ini, sebuah air terjun yang begitu indah juga udara yang terasa sangat asri dan tentu juga sangat sejuk.
Hanya memandangnya bisa membuat Kanaya itu sangat bahagia bahkan semua penderitaan terasa ikut musnah bersamaan dengan air yang terjun begitu tinggi ke bawah sana.
Ingin rasanya Kanaya mengajak Dirga untuk turun dan merasakan bagaimana dinginnya air pegunungan yang turun di dasar sana pasti sangat menyejukkan.
Kanaya juga menerima saran dari Dirga dia tidak akan pernah membantah apa yang dikatakan Dirga selama itu hal yang baik, karena Kanaya harus patuh kepadanya.
"Bagaimana, apakah kamu suka?" tanya Dirga.
Tentu Kanaya mengangguk dengan begitu antusias Dia sangat bahagia. Sudah sangat lama dia tidak pernah datang lagi ke air terjun dan sekarang dia melihatnya lagi. Bahkan kebahagiaan Kanaya bertambah dengan kehadiran Dirga di sana, di kehidupannya.
"Sangat, Kanaya sangat bahagia," begitu bahagia Kanaya saat ini sampai-sampai dia tidak pernah berhenti untuk tersenyum.
Begitu sangat puas dia melihat pemandangan yang begitu indah di alam bebas.
Dirga juga memanfaatkan kesempatan ini dengan mengambil foto Kanaya yang begitu ceria.
'Tetaplah seperti ini Kanaya ku, tetaplah bahagia untuk selamanya,' batin Dirga dengan harapannya.
Begitu banyak foto yang diambil oleh Dirga dari Kanaya, dengan semua pose yang disengaja ataupun tidak disengaja. Dirga hanya ingin kebahagiaan Kanaya selalu terabadikan di setiap momen-momen indah kebersamaan mereka.
"Pak Danu!" teriak Dirga memanggil.
__ADS_1
Setelah mendengar teriakan dari Dirga pak Danu langsung bergegas menghampiri majikannya itu entah apa yang diinginkan dia tidak akan tahu jika tidak menghampiri.
"Iya, Tuan," jawab pak Danu seraya membungkuk hormat kepada Dirga. "Ada yang bisa saya bantu?" imbuhnya bertanya.
"Bisa tolong fotoin saya dengan Kanaya?" tanya Dirga.
Pak Danu mengangguk cepat dia juga langsung mengambil kamera dari tangan Dirga yang sudah dia sodorkan lebih dulu.
"Naya!" Panggil Dirga dan seketika Kanaya menoleh dan langsung melangkah mendekat.
"Ya, ada apa mas?" tanya Kak Naya.
"Katanya kemarin mau foto bareng, yuk," ajak Dirga.
Kanaya sempat bengong sesaat ketika Dirga meminta untuk foto bersama. Kanaya malu meski yang ada di sekitar itu hanya dia, Dirga juga Pak dan.
"Kok malah bengong? jadi mau foto bersama atau tidak?" dikejutkan lamunan Kanaya dengan Dirga yang menyentuh lengannya.
"Iya," jawaban Kanaya terdengar sedikit gugup tetapi Dirga sangat memahami hal itu.
Beberapa pose mereka lakukan, tentu dengan beberapa pose itu ada yang membuat Kanaya semakin gugup.
Mulai dari Dirga yang memeluk Kanaya dari belakang, mereka yang saling membelakangi, ada yang Kanaya duduk dan Dirga berdiri di belakangnya dan ada juga yang mereka berdua saling berhadapan dan saling bertatapan. Bahkan ada juga yang Dirga mengangkat Kanaya tinggi dan kedua tangan Kanaya berada di dua bahu Dirga.
Semua terlihat sangat indah, mereka juga sangat serasi.
Perlahan Dirga menurunkan Kanaya hingga akhirnya mata keduanya saling menatap di jarak yang begitu dekat.
"Kamu sangat cantik, Nay," ucap Dirga membuat pipi Kanaya langsung memerah.
Cup...
Satu kecupan mendarat di kening Kanaya saat dia menunduk. Sungguh, begitu besar usaha Dirga untuk menumbuhkan cinta di hati Kanaya. Dan juga begitu besar usaha Dirga untuk membuat Kanaya melupakan semua masalahnya.
'Ya Allah, tetapkan lah kebahagiaan untuk mereka berdua. Limpahkanlah sebuah rezeki di tengah keduanya yang akan menjadikan kuatnya hubungan mereka, Amin,' batin pak Danu yang begitu menginginkan hal kebaikan untuk Dirga juga Kanaya.
...****************...
Bersambung....
__ADS_1