
...****************...
Begitu bahagia Kanaya bisa bertemu dengan Muna tadi ketika di pantai. Kebersamaan menjadi sangat ramai dengan adanya Muna dan Zein tidak hanya berdua saja.
Kini mereka sudah kembali ke tempat masing-masing, Kanaya pulang bersama dengan Dirga sementara Muna bersama Zein. Meski tadi sempat kesal tapi akhirnya dia bisa kembali memaafkan.
Di perjalanan Kanaya terus tersenyum. Mereka berdua juga menyanyi berdua karena Dirga memang memutar musik supaya perjalanan semakin menyenangkan.
"Sudah maghrib, kita singgah dulu di masjid terdekat ya karena kalau pulang tetap tidak akan kekejar waktunya," ucap Dirga.
Kanaya mengangguk apa yang di katakan Dirga benar. Mereka bisa shalat dulu baru pulang atau mungkin nanti akan kembali singgah untuk makan malam. Seperti biasanya Dirga memang suka mengatakan dengan mendadak.
"Iya, Mas." begitu lembut Kanaya berbicara membuat Dirga semakin senang.
Waktu-waktu ingin terus dihabiskan bersama Kanaya. Seandainya tidak membutuhkan apapun lagi dalam hidup maka Dirga hanya ingin terus selalu bersama Kanaya, menghabiskan waktu berdua dan terus bersama.
Keseharian Dirga sudah lebih banyak untuk dihabiskan bersama Kanaya tetapi rasanya masih sangat kurang. Masih ingin terus membuat Kanaya selalu tersenyum dan bahagia dan saat itu terjadi hati Dirga benar-benar sangat bahagia.
Keduanya singgah di salah satu masjid di pinggir jalan, Masjid Al Furqon. Seperti biasa Kanaya selalu saja membawa mukena kemanapun dia pergi jadi dia tidak akan pernah bingung jika tiba-tiba akan singgah untuk salat, sementara Dirga juga selalu menyediakan kopiah juga sarung.
Keduanya berjalan beriringan mengambil wudhu di sebelah samping Masjid lalu keduanya masuk. Kebetulan sudah banyak jamaah yang ada di sana bukan hanya orang asli daerah situ tetapi juga orang yang kebetulan singgah sekedar untuk menjalankan salat sama seperti mereka berdua. Jadi keduanya tidak menunggu lama untuk suara iqamah iqamah.
...****************...
Kedekatan Hani juga Yuan semakin terlihat jelas keduanya sering melakukan hal-hal secara bersamaan di saat Yuan pulang di setiap minggu. Ya! tidak seperti dulu yang hanya pulang satu bulan sekali tetapi kini dia selalu pulang di setiap minggu dan di saat dia pulang dia juga membantu Kyai Ahmad untuk mengajar anak-anak itu sebabnya Yuan Seperti mendapat tanggung jawab baru untuk anak-anak dan masa berjalannya TPA Al Amanah.
Malam ini bukan hanya bertemu karena mengajarkan anak tetapi juga bertemu saat acara mujadahan rutin yang dipimpin langsung oleh Kyai Ahmad yang diikuti oleh semua wali Santri juga para santri dan juga para guru bantu.
Semua tahu kalau Yuan kini tengah dekat kepada Hani padahal sebenarnya mereka dekat juga hanya sebatas teman bukan adanya hubungan spesial karena sampai sekarang pun Yuan masih belum bisa melupakan perasaan kepada Kanaya perasaan yang sudah begitu dalam dan akan semakin susah digantikan dengan yang lain.
__ADS_1
Tetapi para orang tua yang melihat itu menyalah artikan bahwa mereka berdua memang tengah dekat dan menjalin hubungan hingga akhirnya orang tua Yuan merencanakan untuk melamar Hani supaya menjadi menantu mereka, istri Yuan Prayoga.
Acaranya begitu ramai didatangi oleh para wali, guru, santri juga para warga sekitar yang selalu ikut dalam acara.
Semua nampak hikmat mengikuti acara yang positif tersebut bukan hanya acara mujahadah saja tetapi juga ada tausiyah setelahnya. Meski acara selalu dilakukan setiap malam tetapi semua orang begitu antusias mengikuti acara yang baik itu bahkan anak-anak kecil pun juga sangat antusias, bukan hanya senang saat ikut acara saja tetapi mereka sangat senang karena kembali bertemu dengan teman-teman mereka untuk kedua kali dalam sehari semalam.
Seperti biasa di saat acara sudah selesai para guru bantu dan juga ustadz pasti akan pulang lebih akhir karena selalu ada acara selanjutnya di rumah Kyai Ahmad, ya meski hanya sekedar minum dan menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh istri dari Kyai Ahmad.
Yuan duduk sendiri di luar rumah, ingatannya kembali memutar kenangan di masa lalu di saat dirinya selalu saja bisa melihat Kanaya yang duduk di sebelahnya. Saling ngobrol, berbagi cerita dan juga saling mengatakan harapan-harapan di masa yang akan datang.
Tanpa pamit gadis itu pergi bersama orang lain dan melupakan impian yang pernah mereka rajut bersama. entah dia benar melupakan atau mungkin dia juga terpaksa untuk menerima dan juga terpaksa untuk melupakan semua mimpi itu seperti dirinya yang kini terus dipaksa namun tak kunjung ada hasilnya.
Yuan hanya bisa meratapi semua kenangan indah yang kini terasa pahit untuk dikenang, menyesali waktu kenapa dulu dia tidak mengucapkan akan perasaannya dan mengikatnya.
Itulah kesalahan terbesarnya yang akhirnya membuat dia menyesal mungkin akan berlangsung hingga seumur hidupnya.
Yuan menoleh kala Kyai Ahmad keluar dan menepuk bahunya, tidak hanya berhenti di situ tetapi Kyai Ahmad juga langsung duduk di samping Yuan.
"Tidak ada apa-apa Kyai," jawab Yuan dengan berbohong. Jelas dia berbohong karena kini hatinya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Yang sudah pergi biarkanlah pergi, jangan diharap lagi. Biarkanlah dia bahagia bersama kehidupan yang sekarang. Jemput kebahagiaanmu meski dengan orang yang berbeda. Hidup harus tetap berjalan Yuan, tidak akan pernah selalu berada di tempat yang sama."
"Jika Allah memang berkehendak dia adalah milikmu maka suatu saat pasti akan kembali. Tetapi, Jika Allah tidak berkehendak sebesar apapun kamu mengharapkannya dia tidak akan pernah kembali."
"Jalani hidupmu. Berjalanlah maju jangan pernah memikirkan masa yang sudah hilang dan tak bisa berputar kembali. Relakan dia, dia sudah bahagia. Sekarang jemput kebahagiaan. Saya yakin Allah sudah menyiapkan segalanya yang lebih indah dari yang kamu bayangkan."
Butir-butir bening keluar dari mata Yuan dia sangat ingin melanjutkan hidup tetapi tak semudah itu kenangan yang manis tidak pernah bisa dilupakan. Yuan terus berusaha menjemput bahagia yang entah seperti apa, tetapi dia belum juga berhasil mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Cepat Yuan memalingkan wajah menghapus duka dari segala kenangan yang selalu saja hadir di saat-saat tertentu dan di saat dia berada di tempat yang membuat kenangan itu kembali lagi.
__ADS_1
"Ikhlas dan sabar," ucap Kyai Ahmad.
Dua kata yang sangat susah untuk di jalani. Memang sangat mudah untuk diucapkan tetapi sangat susah untuk kita melakukannya.
Yuan tidak menjawab, bibirnya terasa kelu untuk berucap meski hanya sepatah kata pun. Hanya sebuah senyum yang terkesan terpaksa juga anggukan kecil yang mewakili.
Sekali lagi Kyai Ahmad menepuk pundak Yuan sebelum dia beranjak dan kembali masuk. Di pintu masuk Kyai Ahmad tersenyum saat melihat Hani yang hendak keluar dengan membawa minum yang sangat Kyai Ahmad yakini itu untuk Yuan. Kyai Ahmad tidak mengatakan apapun kepada Hani dia hanya tersenyum dan tentu dibalas dengan hal yang sama oleh Hani yang juga seketika menundukkan wajahnya tak berani memandang langsung wajah beliau.
Hani keluar setelah Kyai Ahmad benar-benar masuk, Hani terpaku diam melihat Yuan yang terlihat sedih bahkan matanya terlihat sembab pipinya juga basah.
"Kak, minumnya," ucap Hani dan mengejutkan Yuan.
Dengan cepat Yuan menghapus air matanya sehingga benar-benar kering. Meski seperti itu tidak akan bisa disembunyikan dari Hani yang sudah lebih dulu melihatnya.
Hani sangat tahu apa yang dirasakan oleh Yuan, tetapi dia juga tidak bisa melakukan apapun.
"Terima kasih," Yuan menoleh dan tersenyum dengan kaku menerima gelas dari Hani yang berisi air teh hangat.
Kembali Yuan memandang ke arah pekarangan malam yang begitu gelap.
Hani melihat ke arah pandang Yuan sebentar tentu tak dia lihat apapun hanya kegelapan malam juga lampu-lampu dari desa lain yang terlihat begitu kecil.
Hani memutuskan untuk masuk kembali dan tidak ingin mengganggu Yuan karena dia yakin juga tidak bisa membantu mengobati luka yang begitu membekas di hati Yuan hingga sekarang.
'Ya Allah berikanlah kesabaran dan juga keikhlasan untuk Kak Yuan. berikanlah dia kebahagiaan, sebagaimana Engkau memberikan kebahagiaan untuk Kanaya dan juga Mas Dirga sekarang,' batin Hani sebelum dia benar-benar melangkah masuk.
...****************...
Bersambung....
__ADS_1