Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Usaha Zein


__ADS_3

...****************...


Zein begitu buru-buru untuk bisa ke rumah sakit setelah tadi janjian dengan Safira. Keinginan untuk bisa mengetahui obat yang di konsumsi oleh Dirga sangat kuat dan dia ingin tau dari Safira, ya meski dia tidak akan mengatakan dulu itu obat punya siapa.


Langkahnya begitu tergesa-gesa masuk rumah sakit, Safira pasti sudah menunggu dirinya. Sebenarnya Zein ragu untuk bertemu dengan Safira takut saja kalau nanti ada orang yang dia kenal tau dan akan mengatakan pada Muna kalau dia menemui dokter yang belum memiliki ikatan pada siapapun.


bagaimana kalau sampai Muna berpikir macam-macam?


Tapi tekat Zein begitu kuat dan dia akan katakan nanti pada Muna dia akan jujur padanya entah ada orang yang mengatakan terlebih dulu atau tidak.


"Itu ruangan dokter Safira," Zein semakin cepat melajukan langkah setelah melihat pintu ruangan Safira dan sudah terbuka sedikit, semoga saja Safira ada di tempat jadi dia tidak usah menunggu.


"Assalamu'alaikum... Permisi," di dorongnya pintu bercat putih itu dan alhamdulillah Safira ada di tempat.


"Mas Zein, baru saja mau saya hubungi lagi. Saya pikir mas Zein tidak jadi datang," ucap Safira yang tetap duduk di tempatnya.


Ternyata kedatangan Zein sudah di tunggu-tunggu oleh Safira.


Zein langsung duduk di hadapan Safira dan hanya terbatas meja saja di tengah-tengah mereka berdua.


Tak mau mengulur-ulur waktu lagi Zein langsung mengeluarkan obat-obat yang dia ambil dari Dirga dengan diam-diam dia ingin secepatnya tau obat apa itu. Semoga saja Safira bisa memberikan penjelasan hari ini juga jadi dia tidak usah bolak-balik ke rumah sakit lagi.


"Hem, ini dok. Saya mau minta tolong, kira-kira ini obat apa ya? salah satu teman saya mengonsumsi obat ini tapi dia tidak mau jujur pada semua anggota keluarganya. Saya curiga ini adalah obat dari penyakit berbahaya jadi saya mengambilnya diam-diam. Dokter Safira bisa bantu saya kan?"

__ADS_1


"Coba saya lihat," Safira langsung menerima obat-obatan itu dan langsung mengamatinya. Belum jelas karena obat itu dia terima tanpa bungkus tapi kalau di lihat-lihat.


"Sepertinya kamu memang benar. Ini adalah obat dari penyakit berbahaya. Saya belum bisa memastikan ini obat apa dulu sekarang. Saya harus bawa ke laboratorium lebih dulu untuk bisa lebih jelasnya."


"Tapi, Dok. Kira-kira, kira-kira ini obat apa jika dokter lihat?" Zein tak sabar untuk menunggu waktu yang lebih lama, dia sangat ingin mengetahuinya sekarang juga.


"Kalau saya lihat-lihat, ini adalah obat..."


"Dok, ada pasien yang harus segera di periksa."


Ucapan Safira terhenti karena kedatangan suster yang tiba-tiba masuk dan memberitahu akan pasiennya.


"Baik, saya akan segera datang," jawab Safira.


"Bagaimana, Dok. Kira-kira itu obat apa ya?" Zein tetap saja ingin tau.


"Maaf, mas Zein. Saya harus memeriksa pasien dulu. Saya tidak bisa mengada-ada karena ini menyangkut seseorang jadi harus di pastikan lebih dulu. Mas Zein bisa datang besok atau mungkin saya akan sampaikan nanti melalui telfon."


Kecewa tentu Zein dapat tapi dia tidak bisa memaksa Safira untuk mengatakan sekarang juga. Dia tau pasien Safira lebih penting untuknya.


"Baik, saya akan datang besok," dan keputusan untuk datang lagi besok yang Zein ambil.


"Kalau begitu saya permisi, Dok. Saya mohon, bantu saya untuk mengetahui itu obat apa. Saya mohon."

__ADS_1


Zein begitu memohon, dia sangat ingin tau apa yang sebenarnya Dirga sembunyikan dari semua orang.


"Pasti, saya akan bantu. Kembalilah besok dan Mas Zein akan tau jawabannya." jawab Safira.


"Hem, saya permisi Dok. Assalamu'alaikum," Zein benar-benar pergi dari ruangan Safira dan setelah kepergiannya Safira juga langsung bergegas untuk pergi ke tempat pasien yang dimaksud oleh suster tadi.


...****************...


Di perjalanan Zein terus saja diam, berpikir kira-kira obat apa yang yang di minum oleh Dirga.


"Kira-kira Dirga sakit apa ya?" tanyanya pada diri sendiri.


"Semoga saja bukan penyakit yang serius. Kalau benar, kasihan Kanaya dia pasti akan sangat sedih." imbuhnya.


Zein semakin mempercepat laju mobilnya dia ingin segera kembali ke rumah, Hem.. rasanya sangat rindu dengan istrinya meski pergi juga baru sebentar.


"Eh, ada makanan kesukaan Muna. Turun dulu deh," Zein menepikan mobil ketika melihat ada pedagang di pinggir jalan yang menjajakan makanan kesukaan Muna.


Meski hanya dengan perlakuan kecil seperti ini pastilah akan menambah keharmonisan dari hubungan mereka berdua. Muna akan bahagia begitu juga dengan dia yang juga akan bahagia.


Bukankah kebahagiaan seorang istri akan menjadi kebahagiaan suaminya juga? pasti dong.


...****************...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2