Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Belum Mahram


__ADS_3

'Kenapa kau selalu datang, selalu menunjukkan kepedulian meski aku sudah menolak. Apakah kau benar-benar menyukai ku? apakah kau tidak merasa sakit atas penolakan ku? segitu besarkah cinta mu hingga kau lupa akan semua perkataan ku yang aku yakin sangat menyakitkan! Maaf, aku tak bermaksud untuk itu, aku hanya tidak mau memberikan harapan.'


#Kanaya Setya Ningrum


...****************...


Kanaya sudah siap untuk pergi bersama dengan Hani saja. Keduanya memiliki janji untuk pergi berdua saja, mereka tak mengajak Wati saat ini bahkan satu temannya itu tidak tau kalau mereka akan pergi.


Jelas mereka tidak akan mengajak atau memberitahu Wati karena mereka akan pergi untuk mencari hadiah saat Wati menikah dua hari lagi.


Seperti acara-acara pada umumnya saat adanya pernikahan, semua orang-orang terdekat akan di minta untuk membantu begitu juga dengan Hani dan Kanaya, tapi mereka berdua menyempatkan diri untuk pergi sebentar.


Tak jauh mereka pergi, hanya ke desa sebelah saja. Di sana ada sebuah toko yang besar. Semua ada di sana, jadi mereka tak butuh sampai ke pasar untuk bisa membeli hadiah.


"Ayya, ayo cepat berangkat. Kalau kita lama pergi Wati akan curiga," Hani terlihat terburu-buru. Tak mau saja sampai Wati menyadari akan kepergian mereka berdua jika terlalu lama.


"Bentar, Han," Kanaya juga terlihat tergesa-gesa saat mau menutup pintu. Rumah sama sekali tak ada orang sekarang karena mereka juga berada di tempat Wati.


Keduanya langsung melangkah dengan cepat setelah pintu tertutup. Melalui jalan setapak yang menjadi akses jalan untuk sampai di desa sebelah lebih cepat. Memang ada jalan besar, namun jalan itu akan melewati rumah Wati jelas mereka berdua akan ketahuan kalau lewat sana.


...****************...


Lelahnya terasa hilang saat Kanaya juga Wati sudah berhasil memegang kotak yang sudah di bungkus kado. Senyum sumringah keluar dari bibir keduanya seiring langkah keluar dari toko yang sangat besar.


Tak muluk-muluk memang apa yang mereka beli, hanya satu set gelas cantik juga teko untuk Kanaya dan juga satu set piring cantik untuk Hani.


Memang harganya juga tak seberapa, tetapi untuk kebahagiaan mereka dan Wati yang akan menerimanya lebih dari sekedar sebuah harga.


"Alhamdulillah, sekarang kita pulang yuk, Ya," ajak Hani.


"Hem," Kanaya mengangguk dan kami juga langsung melangkah.


Langkah kaki terus berjalan, menapaki pinggiran jalan yang tumbuh dengan rumput liar. Meski jalan Kampung tetapi jalan itu begitu ramai akan lalu lalang motor atau mobil.


Tinnn,....


Kanaya juga Hani seketika menoleh, mata langsung mendapati mobil yang berhenti tepat di sisi mereka berdua.


Kanaya sangat mengenal mobil itu, dan setelahnya dia sangat percaya saat orang yang ada di dalamnya menyembulkan wajahnya dari kaca yang terbuka.


"Kalian dari mana? mau saya antar?" tanyanya yang juga sekaligus menawarkan diri untuk mengantarkan mereka berdua pulang.

__ADS_1


Heran rasa hati Kanaya, kenapa orang itu selalu saja ada di mana-mana. Entah dia memang sengaja mengikuti Kanaya atau memang kebetulan saja. Entahlah.


Hani yang memang belum mengenal Dirga hanya menoleh ke arah Kanaya dan menyenggol lengannya.


"Siapa?" bisik Hani.


"Tuan Dirga," jawab Kanaya yang juga berbisik pada Hani.


"Kamu mengenalnya?" tanya Hani lagi. Dia begitu penasaran dengan Dirga, juga sangat penasaran darimana Kanaya bisa mengenal orang seperti ini. Kenapa dia tak pernah bercerita kepadanya?


Kanaya mengangguk sebagai jawaban.


"Biar saya antar. Kebetulan saya juga mau ke desa Lembayung. Jadi kita satu arah," kata Dirga lagi yang begitu formal berbeda jauh saat hanya bersama dengan Kanaya kemarin.


"Tidak usah, Tuan. Kami akan jalan kaki saja," jawab Kanaya menolak.


"Tidak usah sungkan, lihatlah! ini sudah mendung sebentar lagi hujan, sepertinya kalian juga tidak bawa payung kan?" Dirga begitu berharap bahwa Mereka berdua akan ikut bersamanya.


Tentu Dirga ingin bisa kembali bersama dan melihat Kanaya lagi mumpung dia datang.


Jleder....


Sepertinya alam pun berpihak kepada Dirga. Baru saja dia menutup mulutnya dan guntur sudah mulai datang bersamaan dengan tetes demi tetes air hujan yang satu persatu jatuh ke bumi, hingga perlahan semakin deras.


Pastilah Hani juga Kanaya merutuki diri sendiri karena lupa membawa payung. Semua ini karena mereka terlalu semangat dan buru-buru hingga akhirnya mereka berdua lupa.


"Bagaimana, Aya?" tanya Hani yang sudah mulai gusar. Hijab nya juga sudah mulai basah.


Tiba-tiba saja pintu mobil di sebelah Dirga terbuka juga pintu di samping pengemudi juga sama.


"Mari Nona?" ajak sang sopir dan melirik ke arah Hani.


Hani tau, dia yang di minta duduk di depan sementara Kanaya di inginkan berada di belakang bersama Dirga.


"Hem?"


Jleder....


Kembali guntur semakin keras membuat Kanaya juga Hani tersentak. Mereka sangat terkejut tadi.


"Ayo," Dirga menggeser duduknya lebih mendekat dan tiba-tiba dia menarik pergelangan tangan Kanaya tanpa persetujuan.

__ADS_1


"Eh, Tuan!" protes Kanaya namun kini sudah berhasil masuk dan berada di sebelah Dirga.


"Mari, Nona!" pak sopir menegaskan lagi ke pada Hani yang masih bingung harus bagaimana. Hingga akhirnya Hani mengikuti sang sopir dan masuk di sebelah pengemudi.


Kanaya terlihat sangat kesal, wajahnya terlihat mengerut-ngerut dan berpaling dari Dirga, tetapi pria itu malah terkekeh senang melihat Kanaya yang kembali kesal karena perbuatannya.


"Tutup pintunya," pinta Dirga namun Kanaya seolah melamun dan tidak mendengar.


Dirga menggeleng, dia kembali mendekat. Semakin dekat dan dekat hingga hembusan nafasnya menyapa wajah Kanaya yang sedikit basah.


Deg..


Ser...


Jantung juga hati Dirga berseru seirama kala wajahnya melalui depan wajah Kanaya dan nafas Kanaya juga menyapa telinganya.


Sejenak Dirga menutup mata, merasakan hembusan nafas Kanaya yang membuatnya merinding. Menjelajah masuk ke telinganya membuat hati dan jantungnya semakin tak karuan.


Sementara Kanaya yang sadar jarak itu terlalu dekat hanya bisa mematung. Dia tak berani bergerak sedikitpun dengan mata yang melihat tangan Dirga yang sudah hendak menarik pintu untuk menutupnya.


'Astaghfirullah hal 'azim,' batin Kanaya.


Dirga menoleh ke arah Kanaya dan saat itu tatapan mata mereka bertemu, wajah mereka juga begitu dekat hingga hembusan nafas saling bertabrakan.


"Subhanallah," satu kata yang lolos dari bibir Dirga melihat bagaimana wajah Kanaya. Benar di buat terpana lagi Dirga hingga dia tak sadar kalau ada orang lain juga di dalam mobil itu.


Kanaya menutup mata saat Dirga menarik wajahnya sendiri untuk menjauh. Pikiran Kanaya sudah berkelana terlalu jauh dengan hal yang tak pantas.


"Kenapa? apa kamu pikir aku akan mencium mu?" pertanyaan Dirga sontak membuat mata Kanaya kembali terbuka. Dia melotot dan membuat Dirga kembali terkekeh.


"Belum mahram, besok kalau sudah halal akan aku lakukan," ucap Dirga.


Kini jantung Kanaya terasa ingin berhenti berdetak, perlakuan juga jarak dekat dirinya juga Dirga membuat organ tubuh yang satu itu memberikan respon.


Kanaya kembali acuh, memalingkan wajahnya juga menyembunyikan semua yang terjadi pada dirinya.


"Jalan, Pak," pinta Dirga.


"Baik, Tuan." mobil pun perlahan berjalan.


...****************...

__ADS_1


...Bersambung... ...


__ADS_2