
********
Bagaimana mungkin pikiran akan selalu positif jika kenyataannya hal-hal yang terjadi seolah tidak menunjukkan arah hal tersebut.
Kanaya sudah berjuang untuk berusaha kuat dan percaya dengan suaminya bahwa tidak akan pernah ada wanita lain selain dirinya di hati suami, tapi melihat perubahannya saat ini tentu pikiran itu yang akan langsung muncul di benaknya.
Selesai subuh yang biasanya mereka gunakan untuk mengaji bersama tapi kini yang ada hanya kebisuan yang ujungnya di akhiri oleh Kanaya karena merasa sudah sangat tidak tahan.
"Jangan siksa aku seperti ini. Bukankah mas yang selalu mengatakan kalau semuanya harus dibicarakan dan tidak ada yang boleh disembunyikan dalam sebuah hubungan pernikahan? Kenapa sekarang Mas mengingkari kata-kata mas sendiri."
Kanaya semakin tersisa dalam tangis kata-katanya sudah mulai tidak jelas karena sudah berganti dengan suara yang parau dan juga gemetar.
"Katakan, Mas. Katakan," Kanaya semakin tak mampu untuk mengungkapkan segalanya. Bahkan sebenarnya kata-kata yang hari saja terucap belum seberapa.
Dirga mematung di tempat, masih berdiri memunggungi Kanaya yang masih terduduk di atas sajadah merahnya.
Mata Dirga mulai berkaca-kaca, gelombang besar sudah mulai memenuhi pelupuknya tapi masih berusaha dia tahan sekuat tenaga.
"Kenapa, Mas. Kenapa kau buat Naya bahagia namun akhirnya kau buat seperti ini. Mana semua janji mu. Aku tak pernah menuntut apapun, aku tak pernah mengharapkan hal apapun yang Naya sendiri tidak bisa dapatkan. Naya hanya ingin Mas saja. Tidak ada yang lain!"
Kanaya masih berusaha untuk merendahkan kata-katanya dia tidak akan berani berkata dengan nada tinggi kepada Dirga.
"Kalau memang mas merasa bosan dengan Naya maka lakukan saja apapun yang memang harus di lakukan. Naya tidak ingin seperti ini."
Pecah juga akhirnya pertahanan Dirga, dia langsung berlari kembali kepada Kanaya dan memeluknya.
Dirga menyesalinya caranya saat ini, dia begitu bingung harus bagaimana dia tidak sanggup untuk mengatakan karena takut Kanaya akan selalu terpikirkan akan penyakitnya dan akan mempengaruhi kehamilannya.
Tapi Dirga juga tidak bisa melihat Kanaya seperti ini. Dia sangat menyesal karena perbuatannya bahkan telah membuat Kanaya berpikir dirinya telah bosan padanya bahkan berpikir kalau ada wanita lain di tengah-tengah mereka.
"Tidak, tidak ada siapapun. Mas minta maaf, mas minta maaf," Di dekap dengan erat tubuh Kanaya yang sudah terisak.
Sakit kepalanya tak seberapa di bandingkan dengan sakit hati melihat istri tercinta seperti ini karena ulahnya.
"Bukan seperti itu, mas benar-benar minta maaf."
__ADS_1
Rasa sesalnya belum bisa menghentikan tangis apalagi rasa sakit pada Kanaya, rasanya begitu membekas dan mungkin tak akan mudah.
Bagaimana tidak akan lebih sensitif mengingat akan semua kisah hidupnya. Semua datang dengan sejuta kasih sayang namun setelahnya pergi bagai angin dan meninggalkan jejak luka di hati.
Kanaya masih sangat trauma akan semua itu jadi dia benar-benar akan langsung tersinggung ketika Dirga sedikit menjauh darinya.
"Mas tidak boleh lakukan ini, mas tidak boleh," Kanaya ingin melepaskan tapi Dirga terus menanam dan tak mengizinkan Kanaya untuk lepas.
"Tidak, mas tidak akan melakukan ini lagi. Mas minta maaf."
"Janji?" Kanaya melepaskan diri mengangkat tangannya dan mengangkat jari kelingking.
"Janji," Jari kelingking Dirga pun menyambut dengan wajah yang mengangguk setuju.
"Sekarang tersenyum, hem!" Dirga membimbing Kanaya untuk tersenyum bahkan dia juga tersenyum lebih dulu.
Hanya seperti itu yang Kanaya ingin, kebahagiaan kecil dan juga perhatian-perhatian kecil yang Dirga berikan.
Tentu Kanaya akan langsung tersenyum meski hanya tipis saja, tapi hatinya benar-benar bahagia bisa membuat Dirga kembali.
"Maaf ya, Mas tidak berniat melakukan ini padamu. Mas tidak berniat untuk jauh apalagi sampai duakan kamu. Mas baru banyak kerjaan, maaf."
"Beneran?" tanya Kanaya.
"Hem," Dirga mengangguk karena dia memang tidak ada niat untuk melakukan semuanya.
********
Pagi hari Kanaya yang penuh bahagia telah kembali dengan kembalinya Dirga seperti biasanya. Menikmati sarapan bersama mereka terus tersenyum bahkan keduanya kembali mesra dan juga saling suap-menyuapi.
Wak Ami yang melihat kembali merasa lega akhirnya dia bisa melihat Dirga bisa seperti biasanya dan juga Kanaya bisa kembali tersenyum.
Ketika senyum Kanaya hilang seakan semangat hidup wak Ami juga seakan ikut hilang dan setelah semua belah kembali sekarang kebahagiaan Wak Ami juga telah kembali.
"Nak, saran dari Wak kalian sering-sering lah bersama seperti ini. Habiskan waktu berdua dan jangan terus memikirkan pekerjaan terus. Pekerjaan memang penting tapi kalau tenaga terlalu ditekan itu tidak akan baik akhirnya. Dan juga hubungan kalian akan ada jarak."
__ADS_1
"Iya, Wak. Biar Dirga urus nanti," Dirga tersenyum dia kembali menyuapi Kanaya dan kembali memastikan istrinya itu kenyang sebelum dia pergi bekerja.
"Nanti mas beneran akan pulang lebih awal?" tanya Kanaya. Tentu dia takut kalau Dirga akan membohonginya karena beberapa hari Dirga selalu pulang terlambat.
"InsyaAllah. Mas akan pulang lebih awal. Mas ingin selalu habiskan waktu bersama kamu, Mas juga mau melihat langsung bagaimana perkembangan bumil ku ini."
"Ah! sakit, Mas!" pekik Kanaya karena Dirga mencubit hidungnya.
"Hahaha, maaf. Habisnya gemes banget sih."
Kanaya semakin senang karena bisa melihat Dirga yang bisa kembali tertawa dengan lepas. Meski hanya sebentar tapi rasanya sangat melegakan.
Kanaya ingin melihat yang seperti ini seterusnya, Dirga yang selalu tersenyum lepas tanpa senyum terpaksa. Dia ingin bisa benar-benar bahagia dengan melihat kebahagiaan mereka yang nyata bukan hanya sebagai penutup untuk masalah yang lain.
"Alhamdulillah, akhirnya habis juga," Suapan terakhir Dirga berikan kepada Kanaya.
"Terima kasih ya, Mas." Dengan puas dan semangat Kanaya mengunyah untuk suapan terakhirnya.
"Apa sih yang tidak untuk kamu. Sekali lagi Mas minta maaf ya."
"Hem, ingat ya, Mas. Jangan ulangi lagi yang seperti kemarin. Kalau memang ada masalah katakan pada Naya dan kita coba cari solusi bersama. Masalah mas akan menjadi masalah ku juga jadi Mas jangan pernah merasa sendiri," Kanaya mengingatkan.
"Iya, tidak akan," Dirga menjawab padahal yang sebenarnya ada masalah besar yang masih dia sembunyikan.
Dirga masih belum siap untuk mengatakan pada Kanaya karena dia merasa mampu untuk mengatasinya sendiri. Meski langkah awal dia salah tapi untuk selanjutnya dia pastikan tidak akan lagi.
Tak akan dia biarkan Kanaya kembali menangis karena dirinya, dia harus bahagia.
Kalau senyum Kanaya adalah kekuatannya bukankah berarti Dirga yang harus membuat Kanaya tersenyum?
"Mas berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum," pamitnya.
"Wa'alaikumsalam."
'Kamu belum jujur jujur sepenuhnya, Mas. Masih ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Meski kamu berusaha keras untuk menyembuhkannya tapi aku bisa melihat nya. Keyakinan seorang istri tidak akan pernah salah, Mas. Kami menyembunyikan sesuatu dari Kanaya,' batin Kanaya.
__ADS_1
*********
Bersambung...