
*********
Tak sabar menunggu untuk kepulangan Dirga juga wak Ami dari Merbabu. Kanaya sudah menyiapkan makan malam untuk mereka bahkan Kanaya sendiri belum mau makan kalau mereka belum pulang.
Sudah dari tadi Umi Uswah meminta untuk Kanaya makan lebih dulu tapi dia sama sekali belum mau. Dia akan makan bersama dengan Dirga juga wak Ami nanti.
Di ruang tengah sembari menonton televisi Kanaya menunggu dan di temani oleh umi Uswah. Kanaya sama sekali tidak fokus dengan televisi yang ada di hadapannya tetapi dia lebih fokus kepada pintu yang terbuka namun belum juga ada yang masuk.
Kanaya begitu berharap bahwa suaminya akan segera pulang. Meski belum genap sehari rasanya sudah sangat merindukannya itulah yang dinamakan suami istri satu pergi satu merindukan.
"Kok belum pulang ya," Kanaya terlihat sangat cemas menanti kepulangan Dirga entah berapa lama lagi dia akan menunggu sampai Dirga pulang.
"Sebentar lagi mereka pasti pulang Nay. Hem... bagaimana kalau sebaiknya kita makan dulu kamu pasti sudah lapar kan?" ucap Umi Uswah membujuk Kanaya.
"Tidak Umi, Kanaya baru akan makan setelah Mas Dirga pulang bersama wak Ami," Kanaya tetap kekeuh dan akan menunggu suaminya.
Umi Uswah tidak bisa berkata-kata lagi dari tadi dia terus membujuk Kanaya untuk makan lebih dulu tetapi dia sama sekali tidak mau karena ingin menunggu sampai Dirga pulang dan mereka bisa makan malam bersama-sama.
Hingga setelah beberapa saat mereka menunggu suara mobil Dirga terdengar dan telah terparkir di halaman rumah. Kanaya yang mendengar dia begitu bahagia dan langsung beranjak dan melangkah keluar untuk menyambut kepulangan suaminya dan juga wak Ami.
Senyum terpancar itu indah dari Kanaya setelah benar-benar melihat bahwa suami dan wak_nya telah kembali dengan selamat tanpa ada kurang satu apapun.
Bukan hanya Kanaya yang merasa sangat bahagia Tetapi Dirga lebih lagi. Kepergiannya tanpa mengajak Kanaya rasanya begitu sangat tidak enak dan cepat-cepat ingin bisa pulang dan bertemu dengan istri tercintanya itu.
Kanaya langsung menghampiri dan juga menyalami keduanya dengan pergantian. Dirga terlihat senang dia tersenyum sangat bahagia tetapi tidak dengan wak Ami.
"Wak?" Kanaya ingin bertanya langsung kepadanya wak Ami tetapi tidak dijawab dan malah langsung masuk dengan wajah muram.
Sangat mencurigakan keadaan wak Ami saat ini Dia terlihat begitu sedih dan juga tidak semangat entah apa yang terjadi tetapi Kanaya harus tetap mengetahui apa yang membuatnya menjadi seperti itu.
"Mas, wak kenapa?" Dan terpaksa Kanaya bertanya dengan dirinya suaminya.
Dirga tersenyum lalu merangkul Kanaya dan diajak masuk terlebih dulu seperti biasa tidak akan ada yang ditutup-tutupi darinya kepada Kanaya semuanya selalu diceritakan dan akan selalu seperti itu
"Kita masuk dulu. Nanti mas ceritakan semuanya," ucap Dirga.
Kanaya menurut dan langsung melangkah masuk bersama Dirga. Dalam langkah masuknya Dirga memberitahu kepada Kanaya kalau apa yang dipesan olehnya dia dapatkan meskipun harus berputar-putar mencari dan sedikit susah tetapi Dirga berhasil menemukannya, nasi jagung dengan semua perlengkapan yang lengkap seperti yang Kanaya minta.
__ADS_1
"Beneran mas mendapatkannya?" Kanaya semakin bunga dia begitu bahagia dan sangat tidak sabar untuk menikmati makanan yang sudah lama tidak dia makan itu. Meski hanya nasi jagung saja tetapi makanan itu terasa sangat dia rindukan untuk kembali menikmati.
"Hem, mas mendapatkannya. Kamu bisa memakannya sekarang tetapi Mas mau bersih-bersih dulu. Nasi jagungnya ada bersama pak Danu kamu bisa memintanya sekarang."
Tetapi Kanaya malah menggeleng dan mengikuti Dirga menuju kamar.
"Naya ingin di suapin sama mas," Rengek nya.
Dirga tersenyum Dia sangat senang saat Kanaya manja seperti sekarang ini. Jangankan hanya disuapin minta Dirga melakukan apapun Dirga akan lakukan selama itu bisa membuat Kanaya bisa terus bahagia.
"Mas mandi dulu nggak apa-apa kan?"
Kanaya mengangguk, dia siap menunggu sampai Dirga selesai dan segar kembali.
Di saat Dirga berasa di dalam kamar mandi Kanaya terus setia menunggu, dia benar-benar ingin makan nasi jagung dan tentunya di suapi oleh Dirga sang suami.
********
Selalu saja tidak pernah muluk-muluk yang di inginkan oleh Kanaya, hanya makanan-makanan sederhana juga tentu tidak mahal.
Di meja makan hanya ada Dirga dan Kanaya, mereka hanya berdua saja di sana.
Wak Ami tidak mau dan lebih memilih terus berasa di kamar sementara umi Uswah dia sudah pamit pulang.
Kanaya begitu menikmati suapan demi suapan yang di berikan oleh Dirga terus mengunyah dan masih ragu untuk bertanya. Tapi rasa penasaran yang sudah sangat besar membuat Kanaya tak tahan lagi dan langsung bertanya.
"Mas, wak kenapa? Setelah kembali dia terlihat tidak baik-baik saja, wak tidak sakit kan, Mas?"
Kanaya begitu khawatir, perubahan wak Ami begitu besar hingga dia terus diam bahkan sekarang mengurung diri di kamar.
"Wak Tejo sudah di usir dari rumah. Begitu juga dengan kedua menantunya," Dirga memulai.
Kanaya mengernyit, dia semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi. Kenapa sampai wak Tejo di usir dari rumah.
"Kok bisa?"
"Kan mas sudah bilang, dia tidak pantas tinggal di sana. Dan setelah kamu tahu alasan kenapa wak Ami mengusir wak Tejo kamu pasti juga tidak ingin wak tinggal di sana."
__ADS_1
Semalam penasaran Kanaya saat ini, sebenarnya masalah apa yang membuat wak Ami begitu marah seperti ini, bahkan dia yang awalnya begitu takut dengan Wak Tejo sekarang berani mengusirnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Mas?"
Kanaya menghentikan pergerakan tangan Dirga yang ingin menyuapi lagi. Kanaya lebih memilih untuk menanti untuk mendengar semua penjelasan Dirga.
Dengan perlahan dengan tak ada ragu Dirga menceritakan semua yang telah terjadi. Kanaya begitu syok, tak mampu untuk berkata-kata lagi setelah mendengar penjelasan Dirga.
Pantes saja wak Ami begitu marah sampai berani meski akhirnya sekarang dia sendiri yang merasa sangat sedih.
Setelah semuanya di ceritakan Kanaya berdiri dalam diam, dia melangkah menuju kamar wak Ami.
"Nay," Panggil Dirga tapi Kanaya seolah tak mendengar dan terus melangkah.
*********
Kanaya masih terdiam hingga sampai ke kamar wak Ami. Terlihat wak Ami sudah berbaring tapi tidak tertidur.
"Wak," Panggilnya.
Kanaya duduk di hadapan wak Ami yang tidur secara miring dan setelah kedatangan Kanaya wak Ami pun duduk dengan sangat pelan.
"Ya. Kenapa, apa kamu membutuhkan sesuatu?" Wak Ami bersikap seperti biasanya bahkan seperti tak ada masalah apapun.
"Wak," Tidak mampu untuk berkata-kata lagi Kanaya langsung memeluk wak Ami dengan cepat memeluknya dengan sangat erat.
"Sabar ya, Wak."
Kini wak Ami tau apa yang membuat Kanaya sedih, pasti Dirga sudah bercerita semua padanya.
"Hem," Wak Ami membalas pelukan Kanaya dengan penuh kasih. Meski tak bisa membantu banyak tapi mampu sedikit meringankan beban untuknya.
Memberikan kekuatan dan juga seolah selalu mendorong untuk bisa lebih kuat untuk menjalani segalanya.
********
Bersambung....
__ADS_1