
...****************...
Alhamdulillah, akhirnya Dirga juga Kanaya pulang dari tempat Kyai Ahmad setelah tadi sempat istirahat dan melakukan ibadah.
Seperti biasa Dirga akan selalu menyisihkan rezekinya untuk pesantren acap kali dia datang ke Merbabu, memberikan sedikit yang akan menjadi bekal untuk di akhirat kelak.
Sekarang, doanya bukan hanya supaya bisa mendapatkan tempat terbaik setelah menghadap Tuhan Semesta Alam setelah berpulang kelak tapi kini dia juga meminta doa supaya bisa di segerakan mendapatkan momongan yang akan menjadi pelengkap hidup dan rumah tangganya bersama Kanaya.
Tadi, Kyai Achmad juga terlihat sangat bahagia dengan kebahagiaan mereka berdua, tentu yang Dirga inginkan juga langsung dia dapatkan dengan seketika dari Kyai Achmad juga dari anak-anak.
Dan kini mereka berdua pulang ke Villa membawa doa restu dan doa terbaik dari mereka semua. Bahkan bukan hanya para penghuni pesantren saja yang memberikan doa terbaik untuk mereka berdua tapi juga seluruh warga yang mengenal Kanaya dan yang tak sengaja berpapasan.
Sebenarnya Dirga ingin ke pesantren dengan mengendarai mobil atau motor, tapi Kanaya menolak karena dia lebih ingin jalan kaki saja. Lagian jaraknya juga tidak begitu jauh.
Sesekali mereka berdua berhenti, melihat pemandangan sekitar yang kebetulan tak ada awan gelap sama sekali. Begitu terang bahkan kedua gunung merapi merbabu begitu jelas menjulang seolah menyentuh langit.
Udaranya juga begitu sejuk, tidak panas karena memang sudah sore bahkan sudah hampir menjelang magrib.
"Nay, apa kamu capek?" tanya Dirga melihat Kanaya yang jalannya sudah begitu pelan.
Kanaya menggeleng, dia sama sekali tak merasakan capek atau apalah, dia masih sangat semangat untuk melanjutkan perjalanan yang sebentar lagi sampai di Villa.
"Tidak, aku masih sangat kuat berjalan Mas. Aku hanya ingin pelan-pelan sembari menikmati keindahan alam juga udara yang begitu sejuk ini."
Keduanya terus berjalan bersebelahan sesekali saling menoleh dan kadang melihat betapa indahnya dunia ciptaan Tuhan yang masih begitu asri dan belum banyak tersentuh tangan-tangan nakal.
Menikmati senja bersama orang tercinta, menikmati udara yang kian sejuk dan juga mendengar nyanyian-nyanyian burung yang berkicau menjemput malam.
Perlahan senja datang, matahari perlahan bersembunyi menghadirkan udara yang semakin terasa dingin.
Tinggal sebentar lagi mereka sampai dan kini mereka mempercepat laju langkah kakinya untuk cepat sampai. Kata orang, jalan-jalan di waktu menjelang magrib tidaklah baik.
"Selamat datang, Tuan, Nona," sapa Pak Danu sembari membuka pintu gerbang.
"Terima kasih, Pak," Dirga pun bergegas masuk dengan menggandeng Kanaya. Dan setelahnya pintu itu di tutup oleh pak Danu lagi.
__ADS_1
"Apakah ada yang Tuan butuhkan?" tanya Pak Danu begitu hormat pada Dirga.
"Untuk saat ini tidak, Pak. Bapak istirahat saja kalau ada yang saya butuhkan saya akan panggil," Dirga langsung melenggang dengan merangkul istrinya.
"Baik, Tuan," pak Danu pun juga ikut masuk sepertinya dia ingin istirahat sesuai apa yang Dirga ucapkan.
...****************...
Rasa rindu kepada Wak Ami mengantarkan Kanaya untuk menjenguknya setelah semua tugasnya selesai di pagi hari.
Di temani Dirga dia bergegas, dia sudah sangat tidak sabar bertemu dengan wak Ami perempuan yang menjadi ibu kedua baginya itu.
Sama sepertinya merindukan ibu kandungnya Kanaya akan selalu merindukan Wak Ami ketika tidak bertemu. Bedanya kalau ibu kandungnya tak akan bisa dia temui lagi tapi kalau Wak Ami dia bisa bebas menemuinya asal dia ada waktu.
"Ayo, Mas," Kanaya begitu tak sabar dia terus menarik tangan Dirga dengan tak sabaran.
"Iya, sebentar Nay. Pelan-pelan," jawab Dirga yang tetap saja penuh dengan kelembutan.
Perlahan mobil berjalan meninggalkan Villa menuju ke rumah Wak Ami. Tetap sama, pak Danu yang menjadi sopir untuk mereka berdua.
"Mas, wak pasti sangat senang kan kalau aku datang?" tanya Kanaya.
"Aku jadi tidak sabar pengen mengejutkan wak," Kanaya termenung memikirkan betapa terkejutnya wak Ami ketika dia datang setelah sekian lama. Pasti akan sangat terkejut bercampur tidak percaya kan.
Dirga sudah kembali diam, dia merasa was-was saja kalau sampai kedatangannya tidak di sambut baik oleh keluarga itu. Kalau memang benar pasti Kana akan sangat sedih.
Dirga terus mengelus punggung Kanaya dia juga tersenyum ketika Kanaya menoleh ke arahnya.
Istrinya itu terlihat begitu bungah, bagaimana kalau apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang di harapkan.
'Semoga saja mereka menerima kedatangan kami,' batin Dirga penuh harap.
Hingga akhirnya mobil telah sampai di depan rumah wak Ami. Pintunya terbuka lebar dengan suara yang begitu gaduh di dalamnya.
Tak sedikit para tetangga yang mendengarkan di depan rumah tentu membuat Kanaya sangat penasaran dan cepat turun dari mobil.
__ADS_1
"Dasar istri tidak berguna, merawat suami saja tidak becus, merawat cucu saja tidak bisa! pergi saja kamu dari rumah ini!" bentakan itu terdengar begitu nyaring di telinga Kanaya yang baru membuka pintu mobil.
"Jangan pak, jangan usir ibu, Pak...! bruk..." Wak Ami tersungkur setelah di dorong keras oleh wak Tejo.
"Wak...!" niatnya ingin mengejutkan wak Ami untuk kedatangannya tapi kini Kanaya yang di buat terkejut oleh perlakuan wak Tejo kepada wak Ami yang begitu kasar. Bahkan tega mendorongnya hingga terjatuh di lantai depan pintu.
"Wak, apa yang wak lakukan!" mata Kanaya begitu melotot tak suka ke arah wak Tejo.
Namun laki-laki yang sudah tertutup dengan kabut kemarahan itu tak mendengar sama sekali.
Bukan hanya Kanaya yang langsung turun dan menghampiri wak Ami tapi Dirga pun juga sama. Kedua langsung memapah wak Ami untuk berdiri. Dia masih terus menangis dengan tak berdaya.
"Wak, ada apa ini Wak?" Dirga mencoba untuk bertanya dengan pelan-pelan pada wak Tejo siapa tau akan di sambut baik olehnya.
Bukannya menjawab wak Tejo langsung membentak dan mengusir mereka semua.
"Pergi dari sini! saya tidak mau bertemu dengan kalian semua. Pergi!"
Brakk...
Wak Tejo menutup pintu dengan sangat kasar membuat mereka bertiga terperanjat.
"Astaghfirullah hal adzim..., wak! wak!" Dirga mencoba untuk masuk dan membuka pintu tapi ternyata pintunya di tutup.
"Pak, pak. Jangan usir Ibu, Pak!" wak Ami masih berharap akan kembali di terima oleh wak Tejo tapi ternyata tidak.
"Pergi! dan jangan pernah kembali lagi. Aku sudah tidak butuh kamu lagi," suara begitu melengking di dengar.
"Sudah, wak. Wak ikut Nay saja. Iya kan mas?" ucap Kanaya yang seraya meminta izin.
"Iya, Wak. Wak ikut kami, ayo," perlahan di tuntun wak Ami dari sana.
Semua orang menatap iba dengan nasib wak Ami, mereka juga ikut menangis karena akan kehilangan tetangga yang sangat baik seperti wak Ami.
'Bersenang-senanglah, Wak. Tempat ini bukanlah hak wak ataupun Arifin. Secepatnya rumah ini akan kembali ke pemilik sebenarnya,' batin Dirga.
__ADS_1
...****************...
Bersambung....