Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Sedikitpun Kebohongan


__ADS_3

'Cinta pasti akan datang, di saat kebersamaan terjalin dengan indah dan saat itu cinta juga akan mengiringinya.'


#Author


...****************...


"Sa_saya akan ke dapur untuk buat sarapan," Kanaya begitu gugup setelah perlakuan Dirga barusan.


Perlahan dia beranjak, juga mulai melepaskan mukenanya.


"Hem," Dirga mengangguk, memperlihatkan pergerakan Kanaya yang sudah mulai menjauh darinya.


Dirga juga ingin beranjak tapi untuk mengambil Al-Qur'an di meja. Belum juga Dirga melangkah dia merasakan pusing hingga dia hampir terjatuh. Kalau saja tangannya tidak cepat berpegangan lemari kecil di sebelahnya mungkin dia benar-benar akan terjatuh.


Pyarr...


"Akk!" teriak Kanaya yang sangat kaget. Dia baru saja ingin melangkah keluar tapi malah di kejutkan dengan vas bunga yang jatuh dan pecah karena tak sengaja tersenggol oleh tangan Dirga.


"Astaghfirullah, Tuan!" Kanaya kembali berlari mendekati Dirga karena dia akan terjatuh, menangkapnya dengan kekuatannya yang sebenarnya lebih kecil daripada Dirga dan memapah Dirga hingga sampai ke ranjang.


"Di sofa saja, Nay," masih sangat enggan Dirga untuk tidur di ranjang. Entah ketakutan seperti apa yang membuat Dirga seperti itu.


"Tidak, mulai sekarang Tuan harus tidur di sini juga. Kalau Tuan menolaknya biar Aya yang akan tidur di luar," bukan main-main ancaman Kanaya. Bahkan bukan tidur di sofa di ruangan itu melainkan tidur di luar. Entah luar mana yang Kanaya maksud.


"Tapi, Nay," Suara Dirga terdengar lemas tapi dia masih saja ingin menolak.


"Baiklah, kembali di sofa setelah ini Tuan tidak akan lihat Aya masuk kamar ini lagi," kekeuh Kanaya.


"Hem, baiklah," pasrah adalah jalan terbaik untuk Dirga daripada dia akan berjarak lagi dengan Kanaya, 'Semoga aku bisa selalu menahan diri, Nay,' batin Dirga.


Kanaya tak meninggalkan Dirga begitu saja, dia juga membantu sampai Dirga merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Tuan istirahat lah, biar Aya buatkan sarapan," Kanaya ingin cepat berlari keluar. Dia berpikir Dirga sakit karena dia lapar karena semalam makan tidak benar padahal hal lain yang menyebabkan itu.

__ADS_1


"Heh!" Kanaya kembali berhenti saat tangannya kembali di tarik oleh Dirga, "ke_kenapa?" Kanaya begitu gugup, apalagi di tambah dengan tatapan mata Dirga.


Apakah Dirga akan melakukan hal yang seperti saat itu lagi? tapi mana mungkin dia lagi sakit kan?


"Terima kasih," ternyata Dirga ingin berterima kasih padanya. Lega rasa hati Kanaya dia sudah deg-degan barusan.


"Hem," Kanaya mengangguk. Mungkin wejangan untuk Kanaya adalah, jangan mudah berpikiran buruk pada Dirga. Dia mendekatinya ataupun menyentuhnya bukan berarti dia ingin melakukan hal yang sama. Karena, bukan hanya Kanaya yang menahan ketakutan itu tapi Dirga juga sama.


"Sa_saya akan ke dapur."


Dirga perlahan melepaskan tangan Kanaya meski sebenarnya dia lebih ingin bersama Kanaya saat ini. Kehadiran Kanaya dan perilaku Kanaya yang seperti sekarang sudah seperti obat baginya.


Tapi Dirga tidak bisa egois, Kanaya pasti sangat mengkhawatirkannya.


...****************...


Begitu sibuk Kanaya berada di dapur, meski hanya sekedar membuat bubur putih juga minuman hangat tapi dia begitu fokus di sana.


Sebisa mungkin Kanaya melakukan hal yang terbaik, memberikan yang terbaik untuk suaminya supaya dia bisa di anggap menjadi istri yang baik juga.


Semua tak ada yang terlewatkan dan berjalan dengan sangat baik.


Berusaha keras menyampingkan sisi buruk Dirga dan menggantikan dengan semua sisi lembutnya. Kanaya sadar, tak ada orang yang sempurna ada sisi baik begitu juga ada sisi buruknya. Mungkin Kanaya sendiri pun juga mempunyai nya.


"Alhamdulillah," ucapnya setelah melihat apa yang dia buat sudah ada di atas nampan. Bubur putih juga susu hangat.


Entah suka atau tidak Dirga dengan masakannya, semoga saja menyukainya entah bagaimana rasanya.


Langkah kaki membawanya kembali masuk ke kamar, melihat Dirga yang ternyata menutup mata, apakah dia tidur?


Kanaya meletakkan nampan di nakas dan berniat untuk membangunkan Dirga.


"Tuan, bangun. Sarapan dulu, Tuan." terus Kanaya membangunkan.

__ADS_1


"Hem," Dirga menggeliat, membuka mata juga langsung duduk.


Kepalanya terasa sangat berat, sungguh pusing hingga dia menyandarkan di kepala ranjang.


"Sa_sarapan dulu," Kanaya mengambil kembali nampan di atas nakas. Dia sempat bingung, mau menyerahkan pada Dirga dan membiarkan dia makan sendiri atau mungkin menyuapi nya.


"Biar aku sendiri saja," Mengetahui kebingungan Kanaya Dirga langsung menarik nampannya, tapi tangannya malah gemetar dan ingin tumpah. Untung saja Kanaya tanggap dan mencegah nampan itu tumpah.


"Bi_biar Aya suapi saja," Kanaya berinisiatif sendiri meski dia sangat gugup. Duduk di hadapan Dirga dan mulai menyuapkan bubur pada Dirga.


Baru satu suapan saja Dirga langsung membulatkan matanya entah bagaimana sebenarnya akan rasa.


'Astaghfirullah, asinnya,' batin Dirga.


"Kenapa Tuan, nggak enak ya?" melihat bagaimana wajah Dirga sekarang membuat Kanaya yakin ada sesuatu.


"E_enak, kok." Dirga menelannya susah payah namun dia berusaha untuk membuat Kanaya tidak curiga.


"Biar saya sendiri," tak mau sampai Kanaya mencicipinya Dirga cepat menarik mangkuk dan cepat memakannya sendiri.


"Ini sangat enak. Kamu sangat pintar membuatnya," Dirga tersenyum palsu. Dia jelas tidak ingin membuat Kanaya tau dan dia akan merasa sedih.


Seperti apapun rasanya itu adalah makanan pertama yang Kanaya masak juga yang dia berikan untuk Dirga bagaimana mungkin dia akan membuangnya dan akan membuat kerja keras Kanaya sia-sia.


Kanaya terus melihat dengan perasaan senang, dia berpikir apa yang di katakan Dirga adalah hal yang benar. Sungguh puas, akhirnya ketakutan akan masakan yang tidak enak itu tidak terjadi.


Kanaya sudah membayangkan kalau dia akan mendapatkan kritikan pedas dari Dirga. Dia adalah orang kaya yang pasti apa yang dia makan adalah makanan yang enak-enak jadi sedikit saja kesalahan bisa saja kan Dirga akan langsung berkomentar pedas atau malah langsung membuangnya.


"Alhamdulillah kalau tuan suka, itu di dapur masih ada. Kalau mau nambah Aya ambilin lagi," ucap Kanaya dengan polosnya.


"Ma_masih?" mata Dirga membulat. Yang ada di hadapannya saja belum habis dan ternyata yang di dapur masih ada. Entah keberkahan karena mendapatkan perhatian dari Kanaya atau apa dan kini Dirga hanya bisa mengangguk gagu.


"Ya, ya. Nanti nambah lagi," jawabnya membuat Kanaya senang.

__ADS_1


...****************...


Bersambung....


__ADS_2