
...*******...
Akhirnya, hari yang di tunggu-tunggu oleh Arifin telah datang. Hari di mana dia akan menikah dengan Ayu setelah dua minggu yang lalu mereka mengadakan acara lamaran.
Di kediaman Ayu semuanya sudah di persiapkan, panggung untuk acara juga sudah di hias sekian rupa dan kedua mempelai juga sedang di rias di kamar yang berbeda.
Bukan hanya kedua mempelai saja yang bahagia tapi kedua pihak keluarga juga lebih bahagia karena anak-anak mereka akan menikah.
Benar-benar tak lagi menganggap keluarga pada Kanaya, bahkan dia sama sekali tidak di kabari apalagi di undang.
Semburat kesedihan selalu saja terlihat di wajah wak Ami, kadang setetes air mata juga keluar tapi cepat dia hapus karena tak mau sampai di lihat oleh orang lain.
Bagaimana mungkin wak Ami akan bahagia seutuhnya, Kanaya sudah bagaikan putrinya sendiri. Tapi, di saat hari bahagia seperti ini dia tidak di beritahu. Ingin sekali wak Ami memberitahu tapi Arifin menghalanginya, bahkan mengancamnya jika wak Ami mengundangnya dia tidak akan di perbolehkan ikut.
Sementara wak Tejo juga Arifin dia sangat bahagia, tak ada kesedihan sama sekali. Mereka terus tersenyum tak ada beban sama sekali.
Di dalam kamar Arifin terus tersenyum. Dia tak henti-hentinya memperlihatkan kebahagiaannya kepada orang yang saat ini sedang meriasnya.
'Akhirnya, sebentar lagi, sebentar lagi,' batin Arifin.
Beskap putih, kain batik berwarna dasar cokelat juga kalung melati adalah yang di kenakan oleh Arifin. Dia terlihat gagah dan terlihat begitu pemberani dengan pakaian itu.
Blangkon di pasang dan menjadi sentuhan akhir sebagai tanda bahwa selesailah riasan Arifin sekarang.
"Sudah," Ucap sang perias yang sama sekali tidak di kenal oleh Arifin tapi dia tetap menerimanya karena dia di datangkan langsung oleh keluarga Ayu.
"Terimakasih," Ucap Arifin.
Pas setelah selesai di rias seorang datang dan meminta Arifin untuk cepat ke tempat yang akan di jadikan sebagai tempat akad. Tentu dengan semangat dia langsung berjalan keluar. Arifin sudah sangat tak sabar untuk segera menjadikan Ayu sebagai istrinya.
Sementara di kamar yang berbeda Ayu juga sedang mendapatkan riasan. Hampir selesai.
Kebaya putih, kain batik yang sama seperti yang Arifin pakai. Beserta semua riasan kepala yang sangat komplit. Cunduk pentul, cunduk jungkatan, rambut yang di sanggul, sanggul bunga juga bunga yang menjuntai panjang sampai di perut.
Kebahagiaan juga sangat jelas terlihat di wajah Ayu, dia sangat bahagia sebentar lagi dia akan menjadi istri Arifin, pria yang belum lama dia kenal. Ayu tidak mengira kalau akan secepat ini mereka akan menikah. Tidak di percaya kalau Arifin sangat serius dengannya.
"Ternyata berita yang aku dengar selama ini salah. Mas Arifin adalah pria yang baik." Gumam Ayu.
Simpang siur dari keburukan Arifin memang sudah dia dengar tapi dia tidak percaya. Awalnya sempat dia percaya kalau semua itu benar tapi sekarang tidak, dia percaya kalau Arifin adalah pria tak buruk. Dia sangat baik dengan membuktikan dengan keseriusannya.
"Cantiknya," Puji sang perias.
__ADS_1
Ayu hanya tersenyum dengan malu-malu.
"Suamimu pasti tidak akan bisa mengalihkan pandangannya. Dia pasti akan sangat terpana," Ucapnya lagi.
Perkataan itu semakin membuat Ayu malu, dia diam tak berkata hanya ekspresi dari wajah saja yang menjelaskan semuanya.
"Ayo, acaranya akan segera di mulai."
Ayu langsung berdiri dan sangat perlahan untuk berjalan. Kain batiknya sangat sempit jadi tak bisa membuat dia berjalan dengan cepat.
Semua terpana melihat Ayu yang begitu sangat cantik saat ini. Apalagi Arifin, bahkan dia sama sekali tidak berkedip dan terus melihat Ayu sang pujaan hati.
Sementara Ayu sendiri dia terus tersenyum seraya melangkah mendekati tempat Arifin berada, di sanalah mereka akan melaksanakan acara ijab qobul.
"Kamu cantik sekali, Ayu," Bisik Arifin ketika Ayu sudah duduk di sebelahnya. Sedikit memberikan pujian dan membuatnya tersenyum dengan menunduk malu.
"Dan sebentar lagi semua kecantikan mu ini akan menjadi milikku dan akan segera aku nikmati," Imbuhnya lagi.
Ayu semakin malu dan tak mampu berkata-kata lagi.
"Kita bisa mulai sekarang, Pak?" Ucap Arifin yang sudah sangat tak sabaran. Biasanya seorang penghulu yang bertanya tapi kali ini malah mempelainya sendiri yang berbicara.
"Baiklah, sepertinya kamu sudah sangat tak sabar," Jawab penghulu yang tersenyum.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayu Wulandari binti Machmud dengan seperangkat alat shalat dan mahar tersebut di bayar..."
"Stop...! Pernikahan ini tidak bisa di lanjutkan. Pernikahan ini harus di hentikan."
"Kalian semua orang baik-baik, dan Ayu juga perempuan yang baik. Jangan sampai terkena tipu oleh orang yang sangat b*jat seperti dirinya. Laki-laki br*ngsek yang hanya akan mempermainkan wanita saja!"
Semua orang menoleh ke arah sumber suara. Dua orang perempuan yang umurnya hampir sama.
"Pernikahan ini tidak boleh di lanjutkan karena dia harus bertanggung jawab kepada kami, kepada anak-anak kami!"
Semua orang terperangah tak percaya, ya! Kedua perempuan itu sedang hamil yang sangat mereka yakini adalah anak dari Arifin karena hanya dia saja yang sempat tidur dengan mereka.
Mereka ada korban dari ke_playboy_an nya Arifin yang sering gonta-ganti pasangan. Entah hanya mereka saja yang menanggung malu seperti ini atau masih banyak lagi di luar sana.
"Bohong! Kalian hanya pembohong! A_aku tidak mungkin menghamili kalian berdua. A_aku bahkan tidak kenal dengan kalian," Arifin berusaha mengelak, Arifin sudah berdiri dengan sangat gugup.
"Tidak kenal, kalau kamu tidak mengenal kami kenapa kamu gugup seperti itu? Kamu takut? Kamu takut kalau sifat yang sebenarnya terbongkar kan?" Ucap yang satunya.
__ADS_1
"Kami bodoh karena begitu mempercayai mu, Fin. Tapi tidak! Kami tidak akan bisa kamu bodohi lagi. Kamu harus bertanggung jawab atas kehamilan kami, kamu harus menikahi kami, bukan Ayu!"
"Tidak! Tidak akan. Kalian pasti hanya ingin menjatuhkan ku saja kan? Kalian tidak suka kan kalau aku menikah dengan Ayu!" Seru Arifin.
"Ya! Kami tidak suka karena kami yang seharusnya kamu nikahi. Di perut kami ada anakmu, anakmu!" Begitu menegaskan perempuan itu.
Begitu hancur hati Ayu, dia harus percaya dengan siapa? Arifin atau kedua perempuan itu yang perutnya memang sudah terlihat sedikit membuncit?
Ayu menangis di sana dia tak mampu mendengar suara-suara itu lagi dan dia memilih berlari masuk.
"Ayu, Ayu! Mereka hanya berbohong. Mereka hanya mau memfitnah ku!" Teriak Arifin tapi Ayu tak lagi mendengar.
Bukan hanya Ayu yang merasa sedih dan malu tapi juga orang tuanya. Mereka benar-benar di permalukan di depan semua tamu undangan.
Sementara Wak Ami, dia begitu tak percaya kalau anaknya telah menghamili dua perempuan sekaligus.
"Astaghfirullah hal 'azim." Wak Ami terduduk lemas. Begitu hancur hati seorang ibu karena merasa gagal memberikan didikan kepada anaknya.
...*************...
Meski tak mendapatkan undangan tapi Dirga tau segalanya. Tentu dia mendapatkan kabar tentang pernikahan Arifin.
Di kantornya Dirga masih duduk tapi bukan untuk bekerja melainkan untuk melihat rekaman yang sangat menarik untuk di lihat.
Sebuah rekaman yang dia dapat dari orang kepercayaannya.
"Ini sangat pantas untuk kamu dapatkan, Fin." Gumam Dirga.
Meski Dirga merasa senang tapi apa yang terjadi bukanlah drama yang dia ciptakan karena kebohongan. Semua itu adalah benar, dua perempuan yang hamil itu adalah benar. Mereka memang benar hamil anak dari Arifin.
Sebenarnya sudah sejak setelah terjadinya pertunangan mereka ingin mengatakan kepada Arifin dan meminta pertanggung jawaban tapi tujuan mereka di ketahui oleh orang-orangnya Dirga hingga terjadilah apa yang sekarang.
Kalau semua terjadi kemarin bisa saja Arifin akan melakukan sesuatu pada mereka berdua supaya pernikahannya tetap terjadi tapi dengan seperti ini pernikahan tidak akan terjadi.
Ayu perempuan baik sangat tidak pantas untuk Arifin. Lagian Arifin juga harus bertanggung jawab atas kehamilan dua perempuan itu.
"Aku sangat senang karena kamu tidak mengundang kami, Fin. Jadi kami tidak akan ikut merasa malu di pihak keluarga mu." Katanya lagi.
Semua di lihat oleh Dirga, bagaimana setiap kejadian itu tak ada satupun yang terlewatkan.
"Maafkan aku karena bahagia di atas penderitaan mu, Fin. Tapi ini sangat pantas kamu dapatkan. Semoga kamu bisa bertanggung jawab pada kedua anakmu dan kamu bisa menjadi lebih baik. Tobatlah sebelum semuanya terlambat, Fin."
__ADS_1
...*********...
Bersambung....