Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Berusaha Ikhlas


__ADS_3

'Mahabbah tak akan bisa membawa kebaikan di akhir cerita. Yang ada akan membawa sebuah pilu penuh luka di akhir cerita. Mungkin memang bisa Mahabbah di lakukan, tetapi sudah siapkah untuk menerima segala konsekuensinya? Itu bukan aku, bukan yang aku inginkan. Aku ingin cintanya hadir secara murni, bukan dengan cara yang salah.'


#Dirga Gantara


...****************...


Langkah kaki semakin pelan setelah terus berlari namun tetap tak bisa mengejar kedua sahabatnya.


Dengan di temani tas berwarna hitam yang menggantung di pundaknya Kanaya terus berjalan seorang diri. Mengamati gunung Merbabu yang menjulang tinggi di hadapannya.


Di tanah gunung inilah Kanaya di lahirkan, di besarkan penuh dengan kasih sayang. Tempat dimana dia bercanda, tertawa bahkan menangis sekaligus gunung ini menjadi saksi akan awal hingga sekarang perjalanan hidupnya.


Mulai dari terus di limpahi kasih sayang oleh kedua orang tuanya hingga akhirnya kasih sayang itu terputus dan meninggalkannya seorang diri.


"Kenapa semua menjadi seperti ini, Mak?" pertanyaannya seiring dengan nafasnya yang belum teratur sempurna.


"Kenapa mak dan bapak ninggalin Aya sendiri. Kenapa tidak ajak Aya juga, Mak. Kenapa hanya bapak saja yang mak Ajak," matanya berpusat di puncak Merbabu, lalu mengedar dan berhenti di arah pemakaman umum yang tak jauh dari jalan yang dia lewati.


Sudah lama Kanaya tidak datang, sudah lama Kanaya melupakan tempat itu hingga dia seolah tak punya waktu untuk datang.


"Mak, Bapak, Kanaya rindu," gumam nya.


Kaki Kanaya seolah menunjukan jalan kemana dia harus pergi. Kakinya melangkah menuju tempat pemakaman untuk mengunjungi pusara kedua orang tuanya.


Kaki terus melangkah, menerobos kebun orang supaya Kanaya bisa cepat sampai. Dan berhentilah di dua gundukan yang hanya berupa tanah dan ada batu nisan sebagai penanda.


Luruh sudah tubuh Kanaya di tengah-tengah di antara dua pusara itu. Terduduk lemas seolah kehilangan tenaga untuk hidupnya.


Tulang-tulang terasa hilang hingga untuk berdiri bahkan untuk duduk tegak saja Kanaya tak mampu.


Tak ada kata-kata yang mampu terucap, hanya tetes demi tetes air mata yang mulai membanjiri pipinya. Kedua tangan meraih kedua nisan yang di kedua sisi yang berbeda dan akhirnya semakin pecah tangis Kanaya di hadapan kedua pusara orang tuanya.


Tangan perlahan turun, menggenggam tanah yang masih sedikit basah karena kemarin hujan.

__ADS_1


"Mak, Pak, Kanaya kangen," ucapan yang pertama kali untuk menyapa kedua orang tuanya.


Dengan air mata yang terus mengalir tangannya perlahan mencabut rumput liar yang mulai tumbuh. Membersihkan sebersih mungkin menggunakan kedua tangannya.


Memastikan semuanya bersih tubuh Kanaya ambruk di pusara emak, memeluknya seolah dia tengah memeluk emaknya.


...****************...


Mobil terus berjalan, dan Dirga terus diam tak mengatakan apapun. Pikirannya hanya tentang Kanaya, Kanaya dan Kanaya.


Bagaimana dia bisa memiliki Kanaya dan bisa mendapatkan cintanya. Begitu mudah untuk dia mendapatkan apapun yang di kehendaki, tetapi kenapa begitu susah untuk mendapatkan cinta dari seorang gadis yang telah berhasil menggerakkan hatinya yang seolah mati untuk cinta.


'Bagaimana aku bisa memiliki mu, Naya. Apa yang bisa aku lakukan supaya kamu bisa menjadi milikku,' batin Dirga.


Harapan begitu besar tentang Kanaya, tidak hanya sebatas mengagumi dan cinta yang bahagia ketika yang di cinta bahagia. Tetapi cintanya adalah cinta untuk memiliki sepenuhnya.


Entah itu benar-benar sebuah cinta, atau sebuah obsesi? entahlah!


"Tuan, apakah saya bisa melakukan sesuatu supaya gadis itu bisa menerima anda?" tanya sang sopir yang selalu setia menemani kemanapun Dirga pergi.


"Dengan mahabah, Tuan," katanya.


Bahkan Dirga sendiri bisa melakukan itu tanpa meminta bantuan pada siapapun. Meski Tak mendapatkan gelar seolah ustadz tetapi Dirga juga mantan santri, yang jelas punya sedikit ajaran-ajaran mahabah.


Hanya dengan sedikit doa yang terus di rapalkan dengan mudah siapapun akan bertekuk lutut kepadanya. Dia bisa mendapatkannya dengan mudah tanpa harus bekerja keras.


Tapi, benarkah hanya jalan itu yang bisa Dirga ambil untuk bisa mendapatkan Kanaya?


Bagaimana jika dia berhasil mendapatkan Kanaya tapi di suatu saat kekuatan dari mahabahnya pudar atau mungkin hilang, apakah Kanaya akan tetap mau bersamanya? atau mungkin mau menerimanya dan tetap bertahan.


"Tidak, saya tidak akan melakukan itu. Saya benar-benar menyukainya. Saya mencintainya dan ingin mendapatkannya dengan cara yang benar," tegas Dirga menjawab.


"Ta_tapi bagaimana jika Anda tetap gagal?" entah setan apa yang merasuki kepala sang sopir hingga dia begitu mendesak Dirga untuk mengambil jalan yang salah untuk bisa mendapatkan Kanaya.

__ADS_1


Sejenak Dirga terdiam. Berpikir, apakah dia akan sanggup di tolak lagi oleh gadis yang benar-benar dia suka? apakah dia akan sanggup melihat gadisnya bersanding dan bahagia dengan orang lain?


Dirga bukan orang bodoh, dia tau kegunaan mahabah juga konsekuensi yang akan dia dapat setelah semuanya hilang. Bisa jadi kebencian dari orang yang dia mahabah_i yang akan dia dapat.


Alih-alih mendapat cinta tapi hanya akan dia dapat penderitaan juga penyesalan setelah semuanya perlahan menjauh. Emang awalnya akan manis, dia bisa bahagia. Tetapi semuanya tidak akan bisa kekal.


"Tidak, aku tidak bisa," ucapnya dengan keyakinan yang penuh.


"Anda lebih tau apa yang harus Anda lakukan, Tuan," kata sopir Dirga.


...****************...


'Aya sayang, janganlah engkau bersedih. Emak juga bapak sangat menyayangimu. Kami ingin bisa melihat Aya bahagia.'


'Tapi, Mak. Aya ingin ikut kalian saja. Aya tidak kuat dengan semua ini, Mak,' begitu kekeuh Kanaya mengatakan itu akan keinginannya.


'Tidak, Sayang. Yakinlah, kamu pasti kuat. Dan kebahagiaan tengah menunggumu di sana. Meski kita tak lagi bersama tetapi emak juga bapak akan selalu ada di hati Kanaya. Kami akan selalu ada dan selalu menemani Kanaya. Jangan pernah menyalahkan takdir dan jalani semua takdir yang sudah menjadi jalanmu. Suatu saat kebahagiaan akan datang.'


"Tapi, Mak.'


'Emak benar, Sayang. Jemputlah kebahagiaanmu,'


'Tapi, Pak. Kanaya hanya akan bahagia jika terus bersama kalian. Kalian adalah kebahagiaan Kanaya.'


'Jemput kebahagiaan mu, Sayang.'


" Mak! mak! Bapak!'


"Bapak!!!" Kanaya terperanjat dari pusara emaknya. Ternyata dia bermimpi bertemu kedua orang tuanya. Keduanya terus mengatakan perkataan yang harus Kanaya jalani. Yang pasti Kanaya harus bisa ikhlas menjalani semuanya.


"Ternyata hanya mimpi," gumamnya. Padahal Kanaya berharap benar-benar bisa bertemu dengan kedua orang tuanya, bahkan bisa bersama lagi dengan keduanya. Tetapi tak mungkin, alam mereka sudah berbeda.


"Maafkan Kanaya yang hampir menyerah dan putus asa, Mak. Kanaya akan berusaha untuk ikhlas. Apapun yang Allah takdirkan Kanaya akan terima dengan hati yang ikhlas," Gumam Kanaya.

__ADS_1


...****************...


Bersambung......


__ADS_2