
'Apakah yang harus aku lakukan. Tak tega melihatnya menderita, tapi aku juga belum siap untuk menerima rasa sakit yang di berikan. Apakah aku terlalu egois dengan membiarkan dia menderita sendiri? Ya! mungkin aku sangat egois. Maafkan aku. Izinkan aku menata hati untuk bisa kuat dan sanggup menerima semuanya.'
#Kanaya Setya Ningrum
...****************...
Begitu sibuk Kanaya, dia mulai mengerjakan semua yang sudah biasa dia kerjakan. Membersihkan rumah, mencuci, juga bebenah sudah biasa dia lakukan, jadi tak akan membuat dia merasa kesusahan.
Hanya satu yang belum Kanaya bisa, mencuci menggunakan mesin cuci. Di desanya tak ada satupun yang punya, Kanaya pun juga tak mengenal mesin canggih itu.
Dari tadi Kanaya hanya mengamati saja, dia bingung bagaimana caranya juga bagaimana cara kerja mesin itu. Takut kesiangan juga takut Dirga keburu mencarinya Kanaya memilih untuk mencuci secara manual. Pasti akan lebih bersih kan, pikirnya.
Kesibukan Kanaya terlihat jelas oleh Dirga yang ternyata berdiri di belakang pintu, dia tersenyum seraya memperhatikan Kanaya yang dari tadi dia mengamati mesin sampai sekarang.
"Nay, kenapa kamu mencuci dengan manual? kenapa tidak pakai mesin saja biar lebih cepat. Kamu juga tidak akan terlalu lelah," Tak tega juga akhirnya Dirga keluar dari persembunyiannya.
Kanaya menoleh dengan terkejut, bukannya Dirga masih sakit kenapa malah datang menemuinya? padahal Kanaya sudah memintanya untuk istirahat tadi.
"Loh, Tu_tuan kok malah ke sini, kan Aya suruh istirahat," Kanaya mendongak, dia tetap tak beranjak.
Bukannya menjawab Dirga tapi Kanaya malah protes karena kedatangan Dirga.
Dirga sangat tau, Kanaya juga ingin belajar menggunakan mesin itu tapi dia takut untuk mengatakannya pada Dirga.
"Sini aku ajarin," Dirga langsung mengambil semua pakaian yang ada di hadapan Kanaya yang sudah dia rendam dan ingin doa gosok itu. Cepat Dirga memasukkan ke mesin.
Kanaya cepat berdiri, matanya melongo karena Dirga yang sudah bergerak begitu cepat. Kanaya seakan tak menyadarinya dan sekarang semua baju itu sudah anteng di dalam mesin cuci.
"Mendekat_lah dan lihat baik-baik," pinta Dirga.
Ragu Kanaya melangkah, sungguh pelan kakinya bergerak benar-benar seperti siput kelaparan saat ini.
Tak sabar Dirga langsung menarik tangan Kanaya, menghimpitnya di antara dirinya juga mesin cuci.
Lagi-lagi jantung Kanaya kembali berdegup kencang. Tubuh Dirga yang masih terasa panas itu berhasil menempel di tubuh belakang Kanaya. Hembusan nafas menyapa pipinya ketika Dirga menoleh untuk mengajarkannya.
Dirga melongok ke depan melalui sebelah kanan sementara sebelah kiri Kanaya ada tangan Dirga juga yang menyentuh mesin. Benar-benar tak bisa bergerak Kanaya saat ini.
"Sini tempat sabun, dan sini tempat pewangi. putar di sini maka air akan mengalir sendiri dan nanti akan bekerja sendiri. Setelah selesai nanti baru bisa berhenti berputar dan bisa di buka," terang Dirga.
__ADS_1
"Kamu paham kan?" tanya Dirga. Tak ada Niat untuk mengurung Kanaya di depannya karena mengajari tidak mungkin dengan jarak yang jauh, pikir Dirga.
"Hem," Kanaya mengangguk, berusaha cepat mengerti meski entah dia benar-benar mengerti atau tidak. Yang terpenting bagi Kanaya adalah dia bisa terlepas dari Dirga secepatnya. Bukankah kalau dia sudah bisa pasti Dirga juga akan pergi kan?
"Alhamdulillah kalau kamu udah paham. Aku tau kamu pasti akan cepat paham dalam segala sesuatu," Dirga tersenyum dia menoleh ke arah wajah Kanaya hembusan nafas Dirga yang menyapa begitu cepat membuat Kanaya juga menoleh.
Keduanya larut dengan tatapan mata yang semakin dalam. Menerawang semakin dalam hingga terasa menghanyutkan segalanya.
Gejolak sesuatu hadir di dalam diri Dirga, lagi-lagi dia harus bisa berjuang keras untuk bisa menahannya.
Matanya semakin memerah dengan sesuatu yang bergejolak semakin besar. Hati terus beristighfar menyebutkan nama-nama Allah dan meminta perlindungan supaya dia tidak akan menyakiti wanitanya.
Dengan tubuh gemetar Dirga mencoba menyatukan bibirnya, berharap dia bisa mengendalikan diri dan menyentuh wanitanya dengan lembut.
Tak ada penolakan, dari Kanaya bahkan dia juga menutup mata merasakan kelembutan yang di berikan oleh Dirga.
Semakin lama tubuh Dirga semakin gemetar, perjuangannya sungguh besar untuk bisa mengendalikan diri juga emosinya. Bayangan hal baru terus berputar di kepalanya.
Bagaimana dia akan mendapatkan kepuasan saat mendengar jeritan-jeritan dari pasangannya.
Air mata Dirga mengalir seiring gairah yang besar namun dia menahannya. Sebenarnya bukan gairahnya yang dia tahan, melainkan kegilaannya yang akan menyakiti Kanaya.
Kanaya pikir Dirga bisa melakukan dengan kelembutan tanpa dia tersiksa, tapi ternyata tidak! Dirga tetap tersiksa karena menahan semuanya.
Kanaya harus apa?
Apakah dia harus menyerahkan diri untuk di sakiti Dirga demi bisa memuaskannya? Apakah hanya dengan cara yang seperti itu Kanaya bisa melakukan kewajibannya.
"Tu_tuan..." Kanaya melepaskan bibir keduanya yang hanya sebatas menempel, ingin dia menghapus air mata Dirga, air mata penderitaannya yang tak bisa di bagi dengan Kanaya.
Belum juga tangan itu sampai Dirga pergi berlalu begitu saja, gairahnya semakin besar dan dia tak mau menyakiti Kanaya.
"Tuan," Kanaya menoleh mengikuti kepergian Dirga yang diam tanpa kata. Hanya air mata yang menjelaskan semuanya.
Setidaknya Dirga bisa mengontrol dirinya dan tidak memaksakan kehendaknya lagi, itulah yang membuat Dirga merasa lega.
Kanaya ingin mengejar Dirga, dia keluar dari tempat itu tapi saat dia ingin masuk ke kamar untuk mengejar Dirga Kanaya mendengar suara salam yang begitu menggema.
"Assalamu'alaikum!" teriakannya membuat Kanaya menghentikan langkah. Berhenti sejenak laku beralih ke arah lain.
__ADS_1
Kanaya menghampiri tamu yang datang dan ternyata adalah kedua mertuanya.
"Wa'alaikumsalam, U_umi, A_abi," Kanaya begitu gugup melihat kedatangan Mertuanya yang terkesan tiba-tiba itu.
Apakah benar tiba-tiba atau mungkin tadi Dirga menghampiri Kanaya untuk menyampaikan akan kedatangan kedua orang orang tuanya?
"Ma_masuk Umi, Abi," ajak Kanaya.
Keduanya tersenyum senang, akhirnya bisa bertemu dengan menantunya setelah pernikahan.
Tak lama keduanya masuk ada satu orang juga yang masuk dengan membawa beberapa kresek. Entah apa isinya Kanaya tidak tau.
"Bu, ini?" terlihat orang itu bingung.
"Langsung bawa ke dapur saja Mang. Sekalian masukin kulkas," ucap Umi.
"Baik, Bu," orang itu langsung masuk ke dapur sementara Umi langsung merangkul Kanaya yang masuk bingung.
"Dirga di mana, Nduk? Umi mau jewer dia. Mentang-mentang udah sah langsung kabur begitu saja tanpa pamit," omel Umi.
"Hem... Tuan Dirga, Tuan Dirga ada di kamar Umi, lagi istirahat."
Umi juga Abi terkekeh mendengar Kanaya yang masih memanggil Dirga dengan panggilan Tuan.
"Aneh ya, Bi. Biasanya kalau pengantin baru yang banyak istirahat kan yang wanitanya, kenapa ini malah Dirga?" Umi terkekeh. Tak tau saja apa yang membuat anaknya banyak istirahat seperti sekarang ini.
"Biar, Abi yang menemuinya, Umi," Abi sudah siap melangkah.
"Hem..., A_abi. Biar Aya saja yang panggil Tuan Dirga," sela Kanaya sebelum Abi benar-benar menemuinya. Kanaya tidak ingin keadaan Dirga sekarang di ketahui oleh kedua orang tuanya kardus Dirga juga tidak menginginkan hal itu.
"Ya sudah, kamu saja yang memanggilnya," Abi pasrah, menyerahkan keinginannya pada Kanaya.
"Umi dan Abi silahkan duduk dulu. Aya akan cepat kembali," Kanaya bergegas.
"Jangan lama-lama, Nduk."
"Iya, Umi." Kanaya berlalu dengan cepat.
...****************...
__ADS_1
Bersambung....