
'Kenapa rasa nyaman ini datang di tempat ya salah. Aku tidak menginginkannya, tapi rasa ini yang memaksa dan sekarang semakin besar. Duhai sebuah Rasa, janganlah engkau permainkan hatiku.'
#Zein Andriawan
...****************...
Baru kali ini Kanaya pulang kursus tapi yang jemput malah terlambat. Entah apa yang terjadi pada pak Danu, entah terkena macet atau mungkin mobilnya yang bermasalah tapi yang jelas dia belum juga terlihat meski sudah setengah jam Kanaya menunggu.
Kanaya begitu gelisah, mau pulang dia tidak tau harus naik angkutan atau bis yang mana. Mau ngojek tapi tak ada ojek yang terlihat juga tak ada para ojek yang mangkal di daerah sekitar.
"Astaghfirullah hal 'azim... Pak Danu di mana?" Kanaya terus melihat ke arah jalan raya namun mobil yang biasa mengantarkan dan menjemput dia saat pergi itu belum juga terlihat.
"Hey, Naye! tumben belum pulang. Nungguin aku ya?" nih satu orang kenapa datang lagi di saat Kanaya gelisah seperti sekarang ini.
Menunggu?
Siapa juga yang menunggu Zein. Yang pasti Kanaya menunggu sang sopir yang di kerjakan khusus oleh Dirga untuk Kanaya.
Kemanapun Kanaya pergi akan selalu di antar pak Danu setiap Dirga pergi ke luar kota seperti sekarang ini. Meski dia pergi tapi tetap saja Dirga memperhatikan keselamatan juga kenyamanan Kanaya. Tapi entah kenapa sekarang bisa telat seperti ini.
Kanaya sama sekali tidak menoleh meski Zein sudah berbicara juga sudah berdiri di sampingnya. Bahkan Zein juga pura-pura ikut melihat arah jalan di mana mata Kanaya tertuju.
"Masih lama ya, kalau udah nggak sabar ingin pulang aku antar yuk. Ya sekalian biar aku bisa tau di mana tempat tinggal mu. Jadi aku bisa ngapelin kamu semau ku." katanya.
Emang ya, kalau udah yang di lakukan itu tau salah tapi dia tetap maksa pasti semua yang diniatkan pasti hal yang salah. Ya seperti niatnya sekarang ini.
Dia bilang katanya ingin berteman, tapi setelah berteman kenapa dia malah seperti itu. Kenapa dia tidak berteman dengan baik dan juga yang tulus. Ya, yang benar-benar berteman bukan berteman tapi memiliki niat terselubung ingin memiliki.
"Maaf, saya nggak minat," Kanaya menoleh sebentar. Dengan niat baik saja Kanaya tidak akan menerimanya apalagi dengan niat yang salah seperti ini? pasti akan langsung di tolak.
__ADS_1
'Astaga, nih perempuan susah bener sih di deketin. Padahal kalau aku pikir aku juga suaminya itu lebih tampan aku. Lebih segala-galanya aku tapi kenapa dia lebih memilih dia?' batin Zein.
Mungkin jika di lihat memang lebih tampan Zein, Zein juga lebih putih tapi Zein bingung saja kenapa Kanaya tidak mau memilihnya. Apakah ketampanannya tidak terlihat di matanya?
"Naye, aku antar saja ya. Panas banget loh ini bagaimana kalau aku jadi hitam?"
Kanaya tak melihat tapi dia mengernyit, kenapa jadi dia yang hitam? kalau dia tidak mau hitam juga tinggalin Kanaya udah beres kan? dia aja yang memang cari-cari masalah.
'Astaghfirullah hal 'azim... pak Danu kemana sih?' batin Kanaya yang sudah semakin tak sabar. Karena keberadaan Zein lah yang membuatnya tidak sabar ingin cepat pulang.
Jika ada orang yang tidak suka dengan hubungan Kanaya dengan Dirga pastilah mereka akan menuduh Kanaya yang macam-macam.
Mungkin mereka akan mengatakan kalau Kanaya main di belakang Dirga, tapi alhamdulillahnya sementara ini tidak ada yang terlihat tidak menyukai Kanaya. Tapi entah kalau di dalam hati mereka. Hati orang siapa yang tau?
Senyum Kanaya yang begitu manis membuat Zein tertegun tak berkedip. Membayangkan kalau senyum bahagia itu untuknya tapi nyatanya senyum itu karena mobil jemputan nya telah tiba.
Gagal deh Zein bisa mengantarkan Kanaya. Padahal dia sudah sengaja mengendarai motor biar kalau mengantarkan Kanaya jarak mereka akan begitu dekat, jadi Zein bisa ambil-ambil cara untuk bisa membuat Kanaya nempel dengannya tapi ternyata?
"Naye, ikut aku saja ya. Aku beliin apapun deh. Kamu mau tas, baju, berlian atau apapun! aku akan belikan. Ikut ya," Zein begitu memohon tapi Kanaya tak menggubrisnya.
"Naye, Nay!" sepertinya Zein akan kembali kecewa karena Kanaya tak menghiraukannya.
Jangankan hanya itu saja, Zein. Bahkan semua yang menjadi mimpi Kanaya saja sudah perlahan di penuhi oleh suaminya. Jika semua bisa di miliki oleh Kanaya secara instan pasti semua sudah di dapat.
Tetapi, semua mimpi Kanaya itu membutuhkan waktu panjang karena tak mungkin Kanaya bisa mendapatkan gelar juga sukses dalam semua hal hanya dengan hitungan detik saja.
"Maaf, Zein. Saya harus pulang, Assalamu'alaikum," Kanaya menoleh sebentar setelah mobil pak Danu berhenti di hadapannya.
Tanpa menunggu di buka oleh pak Danu Kanaya sudah membukanya sendiri, dia langsung masuk karena ingin jauh-jauh dari Zein.
__ADS_1
"Naye, Naye!" panggil Zein dengan kecewa namun masih dengan harapan kalau Kanaya akan berubah pikiran dan kembali keluar juga mau di antar pulang. Tapi ternyata tidak, Kanaya tidak keluar sampai mobil itu berjalan.
"Jalan, Pak," pinta Kanaya.
"Baik, Nona," pak Danu langsung menjalankan mobilnya lagi.
"Naye!" masih saja Zein berteriak memanggil Kanaya tapi naas, harapannya itu tak terwujud.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya dengan suara yang sangat kecewa. Matanya terus melihat mobil yang semakin jauh hingga gak terlihat.
"Astaghfirullah, Zein. Kamu itu laki-laki terhormat, tapi kamu yang seperti ini seperti laki-laki rendah yang mengejar-ngejar seorang wanita. Bahkan dia adalah seorang istri. Apa kamu tidak malu kalau sampai di cap sebagai pebinor?"
Suara bu Annisa begitu menggema dan begitu jelas di telinga Zein. Kata-katanya sangat benar, Zein juga sadar itu salah tapi kenapa hatinya terus mendorongnya untuk mendekati Kanaya.
"Kamu yang seperti ini sama saja kamu itu laki-laki yang tidak punya harga diri, Zein. Hentikan sebelum terlanjur, dia sudah milik orang lain. Jauhi dia dan cari yang lebih baik."
Sekali lagi Bu Annisa berkata. Sebenarnya dia tidak mau mengatakan itu pada anaknya, tapi mau bagaimana anaknya sudah tidak mau mendengarkan perkataannya dari kemarin.
Seorang ibu jelas menginginkan anaknya berada di jalan yang benar dan jalan Zein saat ini salah. Ini tidak pantas untuknya.
"Apa sih, Ma! Zein hanya mau berteman sama dia, Ma. Apa Zein salah jika pengen jadi temannya?"
"Jadi teman tidak salah, tapi kamu yang terus mengajarnya seperti ini yang salah. Dia sudah bahagia dengan suaminya, Zein. Jangan sampai kamu menjadi penghancur rumah tangga orang lain hanya karena berkedok sebagai teman."
"Terserah mama deh. Zein capek mau pulang," Zein cepat berlalu, dia sangat malas mendapatkan omelan dari mamanya yang sebenarnya adalah sebuah nasehat itu.
"Zein!" panggil bu Annisa tapi Zein tak lagi mendengarnya.
...****************...
__ADS_1
Bersambung....