
...****************...
Semua berjalan seperti apa yang di inginkan. Tak ada kendala yang berarti dalam semua urusan Kanaya ataupun pada Dirga.
Sampai kini juga belum ada tanda-tanda bahwa Kanaya hamil, hal yang paling di harapkan oleh keduanya belum juga di berikan oleh Sang Pencipta. Keduanya hanya bisa pasrah pada takdir karena usaha juga sudah mereka terus lakukan.
Kelainan Dirga juga semakin membaik sekarang bahkan sudah sangat jarang dia rasakan. Semua itu juga karena terapi yang rutin juga dengan obat-obatan yang selalu di berikan oleh dokter Rendra.
Setelah melawati waktu yang panjang akhirnya Kanaya bisa mengikuti ujian untuk bisa mendapatkan ijazah.
Di temani Dirga waktu berangkat Kanaya terus saja melantunkan doa. juga kadang berganti dengan mulut yang berkecamuk menghafal materi. Gugup itu pasti, takut itu juga sangat jelas, tapi keberadaan Dirga di sisinya menjadi kekuatan terbesarnya.
"Mas, bagaimana kalau Naya tidak bisa," Kanaya begitu gelisah padahal mereka juga belum sampai dan mobil masih terus berjalan.
"Yakinlah, Nay. Semua pasti akan baik-baik saja kamu pasti akan bisa mengerjakan semuanya. Percayalah pada kemampuan mu sendiri. Kamu pasti bisa," Dirga terus membesarkan hati Kanaya.
Semua akan terganti pada hati, kalau hatinya tidak semangat maka semuanya juga tidak akan baik hasilnya. Tetapi kalau hati terus bertekat maka akan menumbuhkan semangat itu dengan sendirinya dan Kanaya membutuhkan itu.
Bukan hanya dari Dirga saja yang menjadi pendukung juga penyemangat untuk kanaya tetapi juga ada para sahabatnya termasuk Zein, Muna dan Safira. Semua menginginkan keberhasilan untuk Kanaya keberhasilan dalam segala hal termasuk menjadi istri yang baik bagi Dirga dan harapan besar juga terus mereka inginkan untuk di segerakan kehadiran buah hati dari Dirga juga Kanaya.
Mobil berhenti di depan sebuah gedung di mana tempat Kanaya mengikuti ujian paket c di sana ternyata juga sudah banyak yang berdatangan termasuk teman-teman seangkatan Kanaya.
Kanaya semakin ragu untuk masuk namun Dirga terus memberikan dukungan dan terus memberikan senyum sebagai tanda bahwa dia akan selalu ada untuk Kanaya, bahkan hari ini secara khusus Dirga menemani Kanaya dan menyamping kan semua kerjaan di kantor.
"Mas, aku sangat takut. bagaimana kalau aku gagal?" jelas terbesit terasa takut juga rasa tak percaya diri dari Kanaya. Meski dia sudah terus belajar dengan benar dan sudah mempelajari semuanya dengan baik dengan bantuan Dirga juga mentor yang khusus Dirga datangkan untuk mengajari kanaya selama dia tidak ada di rumah, tapi ketakutan itu murni dan tumbuh semakin menguasai.
"Tidak usah takut ataupun merasa ragu, percayalah pada dirimu sendiri kamu pasti bisa melalui ini dengan baik, dan mas yakin hasilnya juga akan sangat memuaskan. Mas sangat yakin kamu akan sukses di kemudian hari."
Terus Dirga memberikan dukungan kepada Kanaya dan sedikit demi sedikit apa yang dikatakan Dirga didengar oleh Kanaya dan bisa menghilangkan rasa takut yang tumbuh liar dari dalam hatinya.
"Mas beneran akan menunggu Naya sampai pulang kan?" tanya Kanaya lagi.
Kehadiran Dirga di sana sangat dibutuhkan oleh Kanaya, karena kedatangannya adalah sebuah kekuatan di hati Kanaya.
"Iya Mas akan menunggumu di sini sampai kamu pulang. Ingat, jangan panik jangan tegang dan terus kerjakan dengan sabar penuh percaya diri dan juga keyakinan yang besar, kamu pasti bisa."
Dirga tersenyum dan terus memberikan kekuatan kepada Kanaya sehingga membuat istrinya itu benar-benar lebih kuat hatinya dan bisa menghilangkan rasa takut dan juga tidak percaya dirinya.
"Masuklah," pinta Dirga dan perlahan Kanaya mulai melangkah menjauh dari Dirga untuk masuk ke dalam ruangan di mana akan diadakannya ujian di hari pertama ini.
"Semangat," suara Dirga seakan hilang terbawa udara karena Dirga memang tidak terlalu mengeluarkan suara yang besar hanya sekedar saja dan Kanaya sudah paham dan langsung tersenyum.
...****************...
Kanaya berlari keluar dari ruangan setelah selesainya ujian yang diikuti. Akhirnya hari pertama telah selesai dia begitu lega dan kini terus berlari menghampiri Dirga yang masih tetap menunggu di luar gedung.
Senyum keduanya begitu merekah, begitu bahagia akan pertemuan yang sebenarnya perpisahan mereka juga sangat singkat, bahkan mereka sangat dekat tetapi mungkin, karena kondisinya dalam keadaan yang berbeda penuh ketegangan bagi Kanaya.
Kanaya berdiri dengan tegak di depan Dirga dan terus tersenyum. dia benar-benar lega, apa yang disampaikan oleh Dirga adalah benar bahwa semua pasti bisa dilalui dengan penuh percaya diri dan akhirnya karena ia berhasil melalui hari ini dengan baik.
"Bagaimana, apakah ada kesusahan?" tanya Dirga jelas ingin mengetahui apa yang terjadi tadi di dalam sana.
"Alhamdulillah semuanya baik, tidak ada yang susah. Naya sudah berusaha sekuat tenaga semoga saja hasilnya baik dan Naya bisa lulus dan mendapatkan nilai yang baik." jawab Kanaya dengan begitu antusias.
"Yang terpenting kamu sudah berusaha hasil akhir serahkan kepada Sang Kuasa.
"Sekarang kita jalan-jalan, mau?" dengan spontan Kanaya mengangguk jelas dia mau untuk jalan-jalan. Ya! sekedar untuk menghilangkan rasa tegang dan rasa penat yang dari kemarin terus saja bergulat dengan materi-materi untuk ujiannya. Meskipun belum selesai tetapi setidaknya dia lebih fresh lebih tenang untuk melewati hari esok.
__ADS_1
"Mau ke mana?" tanya Dirga lagi.
"Terserah Mas saja, Naya akan selalu ikut kemanapun Mas pergi." Dirga mengangguk dan setelahnya melangkah untuk membukakan pintu mobil untuk Kanaya, menutupnya setelah Kanaya masuk dan dia berjalan memutar untuk ke tempat pengemudi.
...****************...
Zein juga Muna kian hari semakin dekat, mereka sering bertemu entah tanpa sengaja ataupun dengan sengaja. Bahkan keduanya juga sering meluangkan waktu sekedar untuk makan siang bersama atau hanya sekedar jalan-jalan berdua namun tetap dengan jarak karena Zein mengendarai mobil jadi mereka tetap tidak saling bersentuhan.
Seperti kali ini setelah makan siang di salah satu Resto keduanya jalan-jalan sebentar sekedar menghabiskan waktu istirahat.
Terlihat bentangan laut juga ombak yang terus meliuk-liuk ke arah mereka berdua. Seolah melambai-lambai dan memanggil untuk mereka berdua datang.
Angin pantai yang semilir, juga cuaca yang mendung membuat mereka berdua begitu menikmati jalan-jalan mereka berdua, kalau saja cuaca panas pasti mereka tidak akan ke sana.
Memang belum ada ungkapan kata cinta dari keduanya tetapi hubungan keduanya semakin dekat meski masih belum adanya penjelasan.
Langkah kaki keduanya terus berdampingan sesekali menoleh saat berbicara dan juga melihat dan mendengar apa yang tengah dikatakan oleh salah satunya.
"Kemarin saya melihat Kak Zein jalan bersama mbak safira, kak Zein sama mbak safira pacaran ya?" Muna menoleh namun kata-katanya tersebut langsung mampu menghentikan langkah Zein dan kini menoleh ke arahnya bahkan berdirinya juga mengarah kepadanya.
"Pacaran? tidak. Aku dan dokter Safira hanya berteman saja. Kenapa, kamu cemburu ya?" suara Zein terdengar menggoda Muna. Dengan pertanyaan seperti itu dan juga dengan nada yang sangat berbeda bukanlah ada sesuatu yang Muna rasakan?
"Eng_enggak, siapa juga yang cemburu. Emang apa hak ku untuk cemburu, mau Kak Zein pacaran sama siapapun juga bukan urusan ku," jawaban Muna terdengar sedikit gugup, wajahnya juga berpaling membuat Zein semakin yakin ada sesuatu yang Muna sembunyikan.
"Benarkah, kalau begitu besok aku mau jalan lagi sama dokter Safira deh. Dia cantik, juga sudah sukses, nggak malu-maluin kalau di ajak jalan."
"Hah!" mata Muna terbelalak. Malu-maluin? apakah itu artinya Zein merasa malu kalau berjalan dengannya? Memang, Muna belum sukses sama seperti Safira dia sudah menjadi seorang dokter tapi dirinya hanya mahasiswi yang baru akan lulus dua tahun lagi. Sangat jauh berbeda bukan?
"Kalau begitu kenapa mengajak aku jalan, seharusnya kak Zein ngajak mbak Safira saja kan?"
Jelas Muna akan merasa tersinggung dengan perkataan dari Zein. Jelas dia tak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Safira yang sudah sukses juga mapan.
Zein malah tersenyum, terlihat jelas kalau Muna sangat marah saat dia menyinggung masalah Safira padahal kan dia sendiri yang mulai tapi sekarang malah dia yang kesal.
"Muna! kok aku di tinggal!" teriak Zein. Bergegas mengejar Muna dan namun gadis itu sama sekali tidak mempedulikannya.
Seperti itukah cewek kalau lagi ngambek?
Apakah benar Muna cemburu pada Safira?
Begitu senang Zein saat bisa menggoda Muna seperti sekarang ini. Entah kenapa tapi dia juga sangat nyaman dengannya.
Ingin sekali Zein mengikuti jejak Dirga yang langsung menikahi gadis yang di suka dan melakukan apapun termasuk berpacaran setelah halal, tapi Zein masih sangat bimbang untuk melakukan itu.
Zein bukan Dirga. Dia punya cara tersendiri untuk bisa menggapai sesuatu yang sangat dua suka. Tapi, apakah benar kalau Zein menyukai Muna? Bahkan Zein sendiri saja masih belum tau pasti perasaannya sendiri.
"Muna, tunggu!" kembali Zein berteriak langkah kakinya semakin cepat hingga bisa sampai di sebelah Muna.
"Kamu marah, Na?" Zein menoleh kearah Muna namun gadis itu tak menggubris sama sekali.
"Maaf, Muna. Bukan maksudku untuk membeda-bedakan kamu dengan Safira."
"Ya sudah kan, jalan saja sama mbak Safira," Muna semakin kesal sepertinya.
'Cewek kalau lagi marah ternyata sangat menakutkan,' batin Zein.
Langkah Muna terhenti Zein pikir Muna berhenti karena memaafkannya tapi ternyata salah. Ada seseorang yang menjadi pusat perhatian Muna.
__ADS_1
"Mbak, Naya!" teriak Muna. Dengan cepat Muna kembali berlari untuk menghampiri Kanaya juga Dirga yang ternyata juga ada di sana.
"Lah, aku pikir tadi...?" Zein cengo melihat Muna yang semakin menjauh karena ingin mendekati Muna dan Dirga.
Bukan hanya Muna yang terlihat senang Kanaya terlebih lagi. Meski jalan-jalannya yang hanya niat berdua saja terganggu tapi tidak masalah.
"Mbak Muna di sini juga, dengan siap...?" ucapan Kanaya terhenti saat melihat Zein yang melangkah mendekati mereka juga.
"Hay, Naye. Hay, Ga..." sapa Zein begitu kaku. Entah kenapa tapi Zein jadi kerasa canggung, dia gugup karena kepergok jalan berdua dengan Muna.
"Hay juga, Zein," jawab Dirga.
"Hay juga mas Zein," Kanaya pun juga menjawab sapaan dari Zein.
"Mbak Muna, mbak Muna jadian dengan mas Zein?" bisik Kanaya. Jelas bisikan itu hanya bisa di ketahui oleh dirinya dan Muna sendiri.
"Enggak, siapa juga yang jadian. Dalam agama nggak ada istilahnya jadian untuk pacaran, Mbak, Nay," Muna pun juga berbisik.
"Oh, kalau begitu langsung aja jadian untuk menikah. Aku akan menjadi pendukung pertama," Kanaya berbisik lagi.
Kali ini Muna tidak menjawab dia hanya menggeleng saja.
"Ga, gini ya kalau cewek ketemu temen. Pada main bisik-bisik. Nggak asik," celetuk Zein.
Sebenarnya Zein sangat penasaran dengan apa yang di bicarakan oleh kedua cewek di hadapannya itu. Sangat ingin tau, tapi apalah daya kalau mereka berdua tidak menghendaki.
"Kamu harus terbiasa, Zein. Memang seperti itu kalau cewek ketemu temen ceweknya. Bahkan suaminya saja di lupakan," Dirga menjawab.
Bibir Kanaya manyun ke arah Dirga namun wajahnya masih tampak berbinar.
"Kenapa, Nay. Mau minta apa kok bibirnya seperti itu. Ini masih di area umum, Nay. Jangan minta yang aneh-aneh," goda Zein.
"Hah! apa sih," ingin sekali Kanaya memukul Zein tapi tidak karena itu tidak pantas.
"Mau minta juga nggak apa-apa, Nay sayang. Paling dia yang kepingin," kini Dirga langsung merangkul Kanaya namun matanya terlontar pada Zein yang beralih mulutnya menganga.
"Mulai-mulai, dasar bucin."
"Nggak masalah bucin. Kan sama bini sendiri," ledek Dirga.
Rupanya sangat lucu Zein sama Dirga kalau lagi berdebat seperti sekarang ini. Sama-sama kayak anak kecil yang saling berebut ingin menjadi pemenang.
"Udah yuk mbak, kita pergi saja. Biarin saja mereka mau ngapa-ngapain, mau tunjuk, gulat atau apa juga terserah. Yuk, Mbak," Muna langsung menarik Kanaya tanpa meminta izin dulu pada sang empu. Tapi bagai gayun bersambut Kanaya mengikutinya.
Kedua laki-laki itu sama-sama cengo melihat kedua cewek itu yang semakin jauh.
"Mau gandengan, Bang?" goda Zein dengan suara perempuan.
"Ogah!" tentu langsung di tolak mentah-mentah oleh Dirga yang langsung berjalan lebih dulu.
"Bang, tunggu!" lagi Zein bersuara seperti perempuan bahkan tangannya juga melambai-lambai dengan genit.
"Dasar letoy!" bukannya marah tapi ucapan Dirga malah membuat Zein terbahak-bahak. Ternyata senang juga menggoda Dirga.
Wajah Dirga yang berkedut-kedut terlihat sangat lucu menurutnya. Antik sih.
...****************...
__ADS_1
Bersambung....