
...*********...
Hari baru di mulai, hari yang penuh perjuangan untuk menjemput masa depan yang lebih baik baru saja akan di mulai oleh Kanaya. Dia harus bisa semangat dalam semua urusan.
Membagi waktu antara kejar paket C untuk bisa mendapatkan ijazah, kursus juga kewajiban untuk menjadi istri yang baik untuk Dirga. Semua harus Kanaya lakukan dengan baik dan juga ikhlas supaya hasil akhirnya semua akan lebih memuaskan.
Perjalanan awal Kanaya yang penuh kesibukan telah di mulai sekarang, pagi mengikuti paket C, siang mengikuti kursus dan selebihnya dia abdikan kepada Dirga sebagai seorang istri.
Mungkin memang sangat berat karena baru awal-awal tapi kalau sudah berjalan pasti semuanya akan terasa sangat mudah. Kanaya akan terbiasa dan kelak jika bertambah lagi kesibukan dia akan semakin bertambah terbiasa.
"Nay, yang semangat ya. Semoga semuanya berjalan dengan sangat baik. Dan hasilnya akan memuaskan," Begitu Dirga menjadi pendukung untuk Kanaya selalu berada di belakang untuk selalu mendorong, di depan untuk menanggung semua persyaratannya dan berada di samping untuk melindungi dan juga menemani setiap langkahnya
"Terima kasih, Mas," Meski gugup Kanaya berusaha untuk bisa menjalani semuanya. Semua juga harus berjalan dengan baik dan berharap hasil yang juga lebih baik.
"Oh ya, Nay. Mas minta maaf ya, nanti tidak bisa menjemput kamu pulangnya dan juga tidak bisa mengantarkan kamu ke tempat kursus. Tetapi mas akan jemput saat sore pulang dari kursus. Kita pulang bareng nanti. Mas banyak pekerjaan," Ucap Dirga.
Mungkin kesibukan benar-benar begitu mengendalikan Dirga untuk sekarang sampai-sampai dia tak bisa menjemput dan mengantar Kanaya.
"Iya, nggak apa. Nanti Naya bisa naik ojek," Jawab Kanaya.
"Tidak perlu, Nay. Ada pak Danu yang akan menunggumu. Jadi kamu tidak perlu naik ojek," Jawab Dirga seraya tersenyum.
"Baiklah," Kanaya merasa sangat lega karena tak perlu naik ojek, lagian dia juga sangat bingung jika harus naik ojek, dia belum terbiasa.
*********
"Hemm...? Dokter Savira ya?" Zein berhenti saat dia hendak pergi ke LPK dan melihat mobil berhenti karena macet. Zein turun dan melihatnya sekedar untuk menolong dan ternyata yang memiliki mobil itu adalah Savira.
Savira yang tengah melihat-lihat keadaan mesin langsung menoleh. Dia sangat tidak tau apa yang terjadi pada mobilnya tapi dia juga sangat penasaran maka dari itu dia membukanya.
"Mas Zein ya," Savira seolah berusaha untuk kembali mengingat-ingat siapa yang ada di depannya itu, dan ternyata panggilannya benar karena dia mengangguk.
"Kenapa?" Zein ikut melongok di bagian mesin yang terlihat baik-baik saja tapi kenapa bisa mogok? Savira hanya menggeleng karena dia memang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Coba saya lihat," Zein langsung berdiri di depan mobil itu melihat apakah ada masalah untuk mobil Safira di bagian mesin. "Oh, lihatlah ini. Ternyata kabelnya lepas," Langsung Zein memasangnya.
Savira masih terus melihat apa yang Zein lakukan. Ternyata Zein juga tau akan mesin buktinya dia langsung tau apa yang menjadi masalahnya.
"Coba nyalakan," Pinta Zein.
Seketika Safira masuk ke dalam mobil dan mulai menghidupkan mesinnya. Alhamdulillah, tak butuh waktu lama mesin langsung menyala.
__ADS_1
Sungguh lega Safira sekarang akhirnya mobilnya kembali menyala dan dia bisa melanjutkan perjalanan hingga sampai ke rumah sakit. Dia ada praktek pagi dan harus datang tepat waktu.
"Alhamdulillah, sudah bisa Mas!" Safira sedikit berteriak karena dia masih berada di dalam mobil. Dia terus tersenyum begitu bahagia dan sembari sesekali menoleh ke arah Zein.
Tak berapa lama Safira juga turun sekedar mengucapkan terimakasih pada Zein.
"Mas, terima kasih ya," Ucap Safira.
"Sama-sama."
Tak ada obrolan yang pada keduanya mereka hanya berbicara sewajarnya saja hingga akhirnya mereka berpisah dan pergi ke tempat tujuan masing-masing.
Safira pergi ke rumah sakit sementara Zein pergi ke LPK untuk membantu ibunya menjadi pengajar juga di sana. Kini Zein benar-benar bisa menjalani hidupnya dengan benar seperti dirinya sebelum terkenal dengan Kanaya.
Baru saja beberapa meter mobil Zein berjalan kembali dia berhenti karena melihat ada seorang gadis yang terjatuh dari motor, bukan karena tertabrak atau keserempet kendaraan yang lain tetapi memang jatuh sendiri karena terdapat lubang di jalan yang mungkin tidak dia lihat sebelumnya.
Zein langsung berlari berniat untuk membantunya, pertama menarik motor hingga berdiri dan memarkirkannya ke tepi jalan supaya tidak berbahaya bagi pengendara lain lalu setelahnya dia berniat menolong gadis yang masih duduk di jalan dengan meringis karena sakit.
"Astaghfirullah hal 'adzim, Mbak! Mbak tidak apa-apa?" Tanya Zein dan berniat membantu gadis itu untuk berdiri dan minggir ke tepi jalan jelas supaya lebih aman dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Gadis itu menoleh sebelum tangan Zein sampai pada dirinya matanya langsung membulat begitu sempurna begitu pula dengan Zein yang juga sama terkejut melihat siapa gadis yang ingin dia tolong tersebut.
Dia tidak mengenal tapi dia pernah melihat karena Zein beberapa kali terus mondar-mandir di depan rumah sepupunya, siapa lagi gadis itu kalau bukan Muna Az-zahra.
Zein hanya terdiam dengan mata yang terus melihat Muna yang perlahan berdiri sendiri meski Dia terlihat begitu kesakitan. Sebenarnya Zein ingin membantunya tetapi Muna tidak mengizinkan karena dia langsung mundur dan menjauh.
"Kamu mengikuti ku?" Ucap Muna yang memiliki prasangka buruk kepada Zein siapa tahu apa yang dia katakan adalah benar bukan kalau Zein mengikutinya karena merasa tersinggung karena telah ditegur dirinya waktu itu.
"Bukan seperti itu, Saya hanya ingin membantumu saja tidak ada niat lain. Saya kebetulan lewat dan melihat kamu jatuh karena itulah saya datang, saya di sini karena memang saya biasa lewat sini untuk ke tempat tujuan saya," Ucap Zein menjelaskan.
"Ka_kamu pasti bohong," Muna masih tetap tidak percaya meski Zein sudah menjelaskan. Tapi kata-katanya terdengar gugup karena sudah merasa kalau Zein memang tidak berbohong.
"Benar, saya tidak berbohong. Saya hanya ingin menolong saja," Kembali Zein berbicara untuk meyakinkan Muna.
"Oh, terima kasih," Akhirnya Muna menyadari kalau Zein tidaklah bohong dia memang benar hanya ingin menolong saja.
"Maaf, saya sudah berprasangka buruk padamu," Muna tak berani mengangkat wajahnya dia terus menunduk karena merasa malu akibat menuduh Zein yang tidak-tidak.
"Hem," Zein mengangguk, dia mengerti akan apa yang ada di pikiran Muna. Mungkin memang sewajarnya dia punya kecurigaan padanya karena apa yang sudah pernah dia lakukan.
Mengintip dan mengendap-endap di rumah orang lain itu sangat mencurigakan, bisa saja itu seperti seorang maling yang sedang mencari tempat sebagai sasaran terbarunya.
__ADS_1
"Bagaimana, apa ada yang sakit? Atau perlu saya antar ke rumah sakit?" Tanya Zein.
Sebenarnya Zein adalah pria yang sangat baik, hanya saja kemarin dia terlalu terobsesi pada Kanaya makanya sedikit nggak waras.
"Tidak, ini hanya luka kecil saja, terima kasih atas tawarannya," Muna masih tak berani melihat Zein dia masih terus menunduk. Atau mungkin memang dia hanya ingin menjaga pandangan saja.
"Atau kamu mau kemana, biar saya antar," Tawar Zein lagi.
Cepat Muna menggeleng tidak mungkin dia tiba-tiba menerima tawaran orang yang sangat tidak dia kenal. Bahkan dia adalah orang yang mencurigakan untuknya.
"Tidak usah, saya bisa pergi sendiri dengan motor," Jawabnya.
"Oh, baiklah," Zein tak bisa memaksa karena dia tidak mau kalau gadis yang belum dia tau mananya itu akan semakin mencurigainya.
"Sebentar biar saya lihat dulu motornya, apakah masih layak di gunakan atau tidak," Zein langsung bergegas dan memeriksa motor Muna. Memastikan bahwa motor itu dalam kondisi baik.
Di periksa oleh Zein tapi baru saja di nyalakan motor matic itu ingin lari sendiri. Untung saja Zein begitu gesit dan langsung menjatuhkannya kalau tidak mungkin motor akan langsung lari dan membuat dia celaka juga.
"Akkk!" Muna menjerit melihat kejadian itu dia juga langsung menutup mulut dengan mata yang juga melotot melihat motor yang sudah kembali teronggok di aspal.
"Motor mu harus di bawa ke bengkel dulu. Sebenarnya saya bisa tapi saya tidak bawa kuncinya. Kalau kamu berkenan biar panggil orang bengkelnya untuk ambil motor mu dan aku antar kamu ke sana," Ucap Zein.
"Ta_tapi...?" Muna begitu ragu untuk menerima tawaran Zein.
"Kalau kamu ragu biar saya panggilkan taksi saja atau gojek. Tapi setidaknya, kamu jangan terlalu mencurigai orang itu akhirnya tidak akan baik," Ucap Zein lagi.
Zein bergegas untuk mencari taksi yang mungkin akan melintas tapi sebelum dia melangkah jauh Muna menghentikannya.
"Sa_saya ikut anda saja. Ta_tapi anda benar-benar akan mengantar saya kan?" Muna begitu gugup.
"Saya akan mengantar mu sampai tujuan."
"Terus motornya di tinggal begitu saja?" Tanya Muna yang sangat ragu untuk meninggalkan motornya.
"Nggak apa-apa, saya sudah kirim pesan pada bengkel. Mereka sudah di perjalanan."
"Oke deh," Akhirnya Muna mau menerima tawaran dari Zein dan ikut dengannya.
***"*****
Bersambung....
__ADS_1