Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Kedatangan Zein dan Muna


__ADS_3

...*****...


Mendengar kepulangan Dirga dari luar kota membuat Zein juga Muna bergerak cepat untuk datang ke rumahnya untuk membicarakan semua yang sudah mereka ketahui.


Mereka tidak bisa berdiam diri terlalu lama, meski Kanaya akan sedih jika mendengar semuanya tapi itu lebih baik daripada tidak tau sama sekali dan di kemudian hari akan menyesal jika Tuhan berkehendak lain. Tapi doa mereka adalah kesembuhan Dirga akan di dapatkan.


Perlahan kaki masuk ke rumah Dirga dengan Muna yang membawa buah tangan yang di beli tadi di jalan saat ingin berangkat. Memang tidak terlalu jauh tapi Muna memang menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh dulu.


"Assalamu'alaikum," seru keduanya bersamaan.


"Wa'alaikumsalam!" Wak Ami yang menjawab lebih dulu karena dia memang berada di dekat sana.


Kedatangan mereka berdua tentu di sambut baik oleh Wak Ami dan juga yang lain. Setelah mendengar suara mereka Dirga juga Kanaya langsung keluar dari kamar, mereka juga terlihat sangat senang.


"Eh mbak Muna dan mas Zein," sapa Kanaya yang melangkah mendekat.


"Iya, gimana mbak Nay, sehat?" Muna jelas akan menanyakan keadaan Kanaya lebih dulu sebelum nanti akan membicarakan semuanya, mereka ingin semua baik-baik saja.


"Alhamdulillah, ya beginilah," Kanaya menoleh kearah Dirga yang tersenyum melihatnya.


"Alhamdulillah," Muna merasa sangat lega, dengan Kanaya yang baik-baik saja tidak akan apa-apa kalau dia tau akan kebenaran suaminya.


Sementara Zein, dia terus melihat Dirga. Memang terlihat sedikit berbeda sedikit pucat lebih tepatnya.

__ADS_1


"Mas Dirga kenapa, sehat kan?" tanya Zein basa-basi tentu dia sudah tau kalau Dirga tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Hem, alhamdulillah. Hanya sedikit lelah saja," masih Dirga tidak mau mengaku kalau dia tidak baik-baik saja, dia akan selalu terlihat baik di hadapan semua orang terlebih lagi di depan Kanaya.


"Alhamdulillah," Zein pura-pura tersenyum padahal di hatinya dia mengatakan hal yang lain. 'Bagaimana bisa mas Dirga menyembunyikan semua ini dari kami semua. Mas anggap apa kami ini, apakah kami tidak di anggap ada?' batin Zein.


Mereka berempat duduk di sofa dalam satu lingkar meja bibir mereka terlihat tersenyum senang. Tapi di bibir Zein dan Muna hanya senyum yang palsu saja.


"Hem, Mas Dirga bagaimana kerjaannya?"tanya Zein lagi. Dia hanya ingin membuat Dirga bingung saja untuk menjawab.


"Alhamdulillah, semuanya baik," jawab Dirga yang tetap tenang.


"Oh iya mas, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan mas Dirga, berdua saja."


"Tentang?" Dirga ingin memastikan lebih dulu apa yang ingin di bicarakan.


"Masalah pekerjaan, Mas," Zein terpaksa berbohong dengan Dirga kalau tidak seperti itu jelas Dirga tidak akan mau.


"Oh, baiklah," Dirga setuju karena sebelum dia berangkat kemarin Zein memang sempat bertanya tentang bisnis padanya siapa tau Zein ingin membicarakan kelanjutannya.


"Tinggal dulu, Yang," pamit Zein kepada Muna.


"Hem," Muna mengangguk dan tentu dia setuju karena sudah tau apa yang akan mereka berdua bicarakan.

__ADS_1


Di ruang tengah hanya tinggal Kanaya dan juga Muna, dan setelah tak lama Dirga juga Zein pamit asisten Kanaya datang dengan membawa nampan berisi teh.


"Di minum dulu mbak Muna." pinta Kanaya.


"Hem, terima kasih malah jadi ngerepotin kan?" begitu sungkan Muna karena kedatangan mereka hanya untuk membuat Dirga mengakui saja apa yang sudah dia sembunyikan.


Seteguk teh hangat Muna nikmati rasanya sangat menenangkan dan membuat dia sedikit tenang tidak begitu gelisah seperti tadi.


"Bagaimana keadaan kehamilannya, Mbak?" tanyanya dengan mengalihkan pertanyaan.


"Alhamdulillah, sudah mulai aktif. Kamu bagaimana, udah ada tanda-tanda?"


"Doanya saja, Mbak. Semoga benar secepatnya menyusul mbak Naya." ucap Muna seraya tersenyum. Itu artinya memang sudah ada tanda-tanda akan kehamilannya bukan?


"Alhamdulillah kalau sudah. Semoga benar-benar rezekinya bulan ini," Kanaya juga tersenyum senang mendengarnya.


Kalau Muna memang hamil juga otomatis dia akan ada teman yang bisa di ajak ngobrol mengenai seputar kehamilan. Benar begitu kan?


"Amin."


********


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2