Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Pernikahan Muna


__ADS_3

**********


"Saya terima nikah dan kawinnya Muna Az-Zahra binti Salim dengan seperangkat alat shalat dan mahar tersebut di bayar, Tunai!"


Dengan satu tarikan nafas saja Zein telah menjadikan Muna sebagai istrinya, menjadi belahan jiwa yang akan menemani sepanjang masa hidupnya.


Ikrar suci yang teramat keramat yang tak bisa di permainkan dan tidak boleh di jadikan bahan lelucon. Begitu sucinya hingga setiap kata yang terucap akan mampu menghadirkan haru dan sunyi di saat terucap.


Begitu indah dan juga begitu sempurna ucapan Zein. Tak ada rasa gugup dan juga sama sekali tidak ada sendatan di tengah-tengah kata. Zein benar-benar telah siap hingga mengucapkan dengan sangat lancar.


Tangis haru tangis bahagia bercampur menjadi satu dari semua tamu, semua keluarga bahkan juga kedua mempelai yang belum dipertemukan.


Hati rasanya begitu plong dan sangat lega setelah berhasil mengucapkan dengan lantang, singkat dan jelas.


"Sah!" seru Pak penghulu dengan mata memutar pada para saksi yang ada di dua sisi tempat itu.


"Sah!!" Jawab para saksi bahkan juga para tamu undangan juga keluarga yang berada di kursi belakang juga menyerukan kata yang sama.


Alhamdulillah, terdengar dari bapak penghulu juga dari semua orang terlebih lagi mempelai pria yang kini benar-benar rasa bahagia karena telah menemukan bidadari dalam hidupnya yang akan menemani di dalam senang dan sedihnya, di dalam naik turunnya kehidupan yang begitu keras. Yang akan terus mendukung dan terus memberikan motivasi juga mendampingi.


Semua mata beralih ke arah pintu masuk ketika sang mempelai wanita datang. Muna begitu cantik, dan sangat anggun dengan balutan kebaya berwarna putih dengan riasan adat Jawa yang begitu indah.


Semua mata tertuju padanya tak terkecuali sang pria yang kini sudah sah mendapatkan gelar sebagai suaminya yang sah.


Zein berdiri, menyambut kedatangan Muna.


Malu, itu pasti di rasakan oleh Muna, dia akan berhadapan dengan pria yang telah mempersuntingnya dengan cara yang benar dengan sesuai adat yang sudah berjalan.


Keduanya terus mendekat hingga akhirnya mereka berdua berdiri dengan saling berhadapan. Muna terus menunduk menyembunyikan bagaimana wajahnya yang sekarang yang pasti sangat cantik itu.


Sementara Zein, matanya tak pernah berkedip melihat Muna meskipun tak bisa melihat seluruh wajahnya karena Muna menunduk.

__ADS_1


Kini keduanya baru merasakan gugup, ssaling berhadapan dengan status yang sudah sangat jelas yaitu status suami istri.


Ragu namun tetap Zein lakukan, mengulurkan tangan kepada Muna supaya mendapatkan salim darinya.


Muna pun juga lebih ragu lagi untuk menerima uluran tangannya. Meski bisa di bilang setiap hari bertemu dengan Zein tapi baru kali ini mereka berdua akan saling menyentuh.


Tangan Zein terlihat bergetar ketika menggantung di hadapannya, sangat terlihat jelas. Jika ada anak kecil yang lihat mungkin akan di tertawakan.


Sementara Muna, tangannya juga bergetar ketika ingin menerima uluran tangan Zein.


"A_assalamu'alaikum.." sapa Zein dengan suara yang tak kalah getar.


Ternyata seperti inilah perasaan ketika menikah. Semua rasa campur aduk menjadi satu dan semua saling berebut kuasa.


"Wa_wa'alaikumsalam," jawab Muna. Tangannya sudah ada di hadapannya, sebentar lagi akan benar-benar menyentuh tangan Zein dan semakin bertambah perasaan gugupnya.


Hingga akhirnya berhasil_lah tangan mereka saling menyatu. Perlahan Muna mengangkatnya dan menarik gang Zein, mendekatkan tangan itu kepada bibirnya dan memberikan kecupan pertama di punggung tangan.


Inilah pertama kali tindakan dari mereka yang mendatangkan pahala yang sangat besar.


Keduanya sama-sama memejamkan mata dan merasakan aktivitas yang begitu sakral tersebut.


Sungguh, ini adalah kenikmatan yang tidak sangat besar.


Lengkaplah hidup mereka lengkaplah agama mereka dan lengkaplah kebahagiaan mereka.


Suasana masih terus penuh dengan haru semua orang begitu bahagia mengiringi kedua mempelai yang akan melangkah ke dalam mahligai rumah tangga yang akan selalu menjadi kan sumber dari kebahagiaan mereka berdua.


...****************...


Begitu bahagia Kanaya setelah pulang dari tempat acara pernikahan Muna dan juga Zein. Kali ini dia benar-benar merasa sangat lelah hingga sampai di rumah Kanaya langsung bersih-bersih dan berniat untuk istirahat.

__ADS_1


Langkah kakinya terasa sangat pegal namun dia harus bisa bersih-bersih dulu supaya lebih nyenyak ketika istirahat siang.


Sementara Dirga dia tengah keluar dari kamar dan katanya akan pergi ke dapur, entah apa yang akan dia lakukan di dapur.


Tidak lama Dirga kembali dengan membawa susu hangat yang akan diberikan kepada Kanaya. Sementara Kanaya sendiri dia juga tengah keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah sangat segar dan juga berganti pakaian rumah.


"Naya, diminum dulu susunya setelah itu baru istirahat. Mas tidak mau kamu mau tidur dalam keadaan lapar," ucap Dirga.


Padahal Dirga sendiri dia tahu kalau Kanaya pasti tidak lapar karena di tempat acara pernikahan Muna dia begitu lahap makan semua yang ada.


"Tapi Nay tidak lapar, Mas. ini perutku malah terasa sangat penuh mungkin karena Naya makan terlalu banyak tadi di acara Mbak Muna," Kanaya menjelaskan sembari melangkah mendekati Dirga begitu juga dengan Dirga yang mendekati Kanaya.


"Tidak tidak, kamu harus tetap minum susu ini karena ini sangat baik untuk kamu dan juga calon anak kita," Dirga tetap memaksa Kanaya untuk meminum susu hangat buatannya.


Kanaya tidak akan mungkin bisa menolak kalau Dirga sudah mengatakan harus, entah apapun selama itu hal baik pasti Kanaya akan melakukannya.


"Baiklah Naya akan meminumnya, terima kasih Mas," akhirnya Kanaya menerima susu buatan Dirga.


Kanaya berjalan dan duduk di sofa setelahnya baru dia meminumnya, sementara Dirga dia juga langsung mengikuti dan menunggu sampai susu itu benar-benar habis.


"Biar Mas saja yang mengembalikan ke dapur, sekarang kamu istirahatlah." Dirga tersenyum dengan mengambil gelas yang ada di tangan Kanaya lalu bergegas keluar untuk mengembalikan gelas ke dapur.


Begitu senang dan juga penuh rasa syukur bisa selalu diperhatikan oleh Dirga sang suami. Semuanya diperhatikan dari awal Kanaya bangun tidur sampai akhirnya tertidur lagi semua tidak terlepas dari pantauan Dirga.


Meski seperti itu namun Kanaya tidak pernah merasa bermasalah dia malah lebih senang karena itu artinya dia benar-benar diperhatikan.


"Terima kasih ya Allah atas semua nikmat dan kebahagiaan yang telah engkau berikan kepadaku. Kepada kami." gumam Kanaya yang merasa begitu beruntung dengan kehidupan yang telah dia jalani sekarang.


Semua telah berbanding terbalik dari kehidupannya yang dulu. Semua bisa dia dapatkan dan bisa menikmati sesuatu yang dulu tidak mungkin dia dapat semua sekarang menjadi mungkin, karena Dirga.


...****************...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2