
...*********...
Bukan pergi ke kantor si Dirga, melainkan pergi ke rumah sakit untuk memperjelas lagi masalah yang belum hilang sepenuhnya. Meski dia sudah bisa mengendalikan diri tapi kadang-kadang rasa itu kembali datang seakan terus memaksanya untuk melakukan apa yang ada di dalam otaknya.
Segala arahan terus di berikan oleh dokter Rendra, bahkan obat juga di anjurkan untuk Dirga konsumsi.
"Saya sangat yakin, anda akan benar-benar sembuh dalam waktu dekat. Anda bisa melakukannya dengan normal seperti yang lainnya," Ucap dokter Rendra.
"Perkembangannya sangat bagus, pemulihan Anda terbilang cepat daripada pasien pada umumnya. Anda benar-benar sangat hebat," Puji dokter Rendra.
Ternyata benar apa yang di katakan Savira bahwa iman yang kuat juga sangat berpengaruh besar. Dengan iman yang kuat Dirga bisa dengan mudah menahan hawa n*fsu dan kini dia sudah memetik hasil dari usaha besarnya itu.
"Terimakasih atas bantuan Dokter, saya bisa seperti ini juga berkat dokter. Terima kasih," Jawab Dirga.
Dokter Rendra tersenyum bahagia, puas rasanya bisa membuat pasiennya sembuh dan puas dengan kinerjanya.
Setelah semua sudah di sampaikan Dirga pamit dari sana ada tempat tujuan lain yang juga sangat penting untuk dia datangi. Tempat yang benar-benar di pastikan sangat aman dan juga sangat baik dari segi lingkungan juga dari orang-orang sekitarnya.
"Semua hanya untuk mu, Nay. Apapun akan mas lakukan, maaf jika mas seolah memaksakan mu untuk mengikuti semua keinginan mas. Suatu saat kamu akan tau kenapa mas melakukan ini untuk mu," Gumam Dirga. Entah apa lagi yang masih Dirga sembunyikan.
***************
Di saat istirahat Kanaya kini bisa duduk bersama dengan Zein di salah satu restoran di depan LPK. Bukan untuk makan-makan tapi keduanya hanya sekedar minum saja dan memesan makanan ringan.
Zein senang, akhirnya dia bisa benar-benar menjadi teman Kanaya. Tak masalah dia tak bisa memiliki Kanaya tapi dia sangat bahagia bisa dekat dengan Kanaya. Sekarang niatnya bukan untuk bisa memiliki Kanaya melainkan untuk bisa lebih belajar lagi dari Kanaya dan bisa lebih sabar lagi.
Obrolan ringan juga terjalin di antara keduanya, meski mereka bersama tapi Kanaya tetap membatasi jarak dekat dengan Zein.
"Nay, sebenarnya kamu itu asli mana sih?" Tanya Zein sembari mengunyah kentang goreng yang ada di hadapannya.
"Magelang," Jawab Kanaya singkat.
"Dekat, tepatnya?" Zein semakin penasaran.
"Lereng gunung Merbabu," Jawab Kanaya lagi.
"Wah, pasti sangat sejuk ya di sana."
"Ya begitulah."
Hanya sesederhana itu perbincangan mereka berdua, tak ada yang lebih intim dan hanya sekedar menanyakan tempat asal, dan lain sebagainya.
Sekarang Zein benar-benar merasa tenang karena bisa berteman dengan Kanaya. Ternyata benar, berteman dengan cara seperti sekarang ini lebih baik daripada terus ingin berteman dengan terselip obsesi untuk bisa memiliki.
Zein sadar, ternyata apa yang dia rasakan kemarin bukanlah cinta melainkan sebuah obsesi saja. Entah sejak kapan dan apa sebabnya Zein begitu penasaran dengan Kanaya hingga akhirnya dia begitu ingin memiliki Kanaya.
Sekarang rasa itu benar-benar telah terganti dengan kebahagiaan sebagai teman. Hanya teman.
Satu hal yang bisa Zein ambil dari kemarin dan sekarang. Kemarin untuk berbicara bahkan dekat saja tidak bisa karena Kanaya selalu menolaknya, tapi sekarang? Alhamdulillah Zein bisa berbicara dengan Kanaya dengan mudah dan tak ada kata menghindar.
*********
Di depan LPK Dirga sudah menunggu kepulangan Kanaya, semua yang menjadi tujuannya hari ini sudah terjadi dan sekarang hanya tinggal menghabiskan waktu dengan sang istri dan membahagiakannya.
Meski sangat sibuk tapi Dirga benar-benar bisa di andalkan, semua kerjaan selalu beres meski dia selalu mengutamakan kebersamaan dengan Kanaya.
Dengan tangan memegangi ponsel Dirga berdiri di depan mobil dan bersandar, fokus dengan si kotak ajaib yang bisa memberikan informasi apapun yang dia inginkan.
__ADS_1
Dari dalam LPK Kanaya melangkah keluar, tidak sendiri ada beberapa teman juga Zein yang juga hendak pergi.
"Nay, tuh udah di jemput," Zein menunjukkan Dirga pada Kanaya karena dia yang lebih dulu melihat.
"Hem," Hanya senyuman dan selalu senyuman yang Kanaya keluarkan. Begitu penasaran si Zein, Kanaya selalu saja tersenyum seolah tak pernah mendapatkan masalah yang besar yang akan merenggut senyumannya. Seolah gak punya beban.
Mungkin itulah salah satu yang membuat Zein pernah ada keinginan untuk memiliki bahkan sampai sekarang juga masih tapi hanya sekedar mimpi yang tak pernah bisa dia wujudkan. Wanita yang enak selalu di lihat, yang selalu memberikan senyum ketulusan itu adalah wanita yang sangat hebat.
"Assalamu'alaikum, Mas Zein," Pamit Kanaya dengan melangkah pergi.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati," Jawab Zein.
"Mas Dirga!" Teriak Kanaya memanggil.
Sejenak Zein melihat kepergian Kanaya begitu bahagianya Kanaya saat melihat suaminya yang sudah datang. Dia berlari, melambaikan tangan saat Dirga sudah menoleh dan berteriak memanggil.
"Kamu sungguh beruntung, Ga. Seandainya aku yang lebih dulu mengenalnya, mungkin aku lah yang akan menjadi laki-laki beruntung itu bukan kamu," Gumam Zein.
"Semoga kamu selalu bahagia, Nay," Hanya itulah yang menjadi harapan Zein sekarang. Kebahagiaan Kanaya.
Terlihat mereka berdua tersenyum bahagia, sangat bahagia. Dirga begitu mengistimewakan Kanaya membukakan pintu mobil dan juga melakukan perlakuan-perlakuan kecil.
"Duluan Zein!" Dirga nampak melambaikan tangan pada Zein tentu langsung di sambut dengan hal yang sama oleh Zein. Zein tidak menjawab cukup dengan tersenyum saja.
*********
"Bagaimana kursus mu hari ini, Nay?" Dirga menoleh sebentar ke arah Kanaya, kali ini tak ada pak Danu bersamanya hanya mereka berdua.
"Alhamdulillah, baik." Kanaya menjawab begitu antusias sepertinya kebahagiaan Kanaya terasa begitu komplit hari ini.
"Bagaimana dengan Zein, apakah dia masih mengganggu mu lagi?" Sekedar memastikan, semoga tidak.
Dirga mengangguk lega akhirnya Zein benar-benar berubah dan tak terobsesi pada Kanaya lagi.
Keheningan sejenak terjadi di antara mereka berdua. Sengaja Dirga memutar lagu di dalam mobil itu, tentu lagu yang filmnya sangat menjadi kesukaan Kanaya.
♬♩♪♩ ♩♪♩♬♬♩♪♩ ♩♪♩♬
Desir pasir di padang tandus
Segersang pemikiran hati
Terkisah ku di antara cinta yang rumit..
Bila keyakinan ku datang
Kasih bukan sekedar cinta
Pengorbanan cinta yang agung
Ku pertaruhkan...
♬♩♪♩ ♩♪♩♬♬♩♪♩ ♩♪♩♬♬♩♪♩ ♩♪♩♬
Begitu senang Kanaya mendengar lagu itu, bahkan dia tersenyum kearah Dirga dengan membulatkan matanya.
"Menyanyi lah, aku suka suara mu," Pinta Dirga.
__ADS_1
"Ah, suara ku jelek," Tolak Kanaya malu.
"Ayolah, suara mu bagus kok. Karena suaramu lah aku mulai tertarik padamu. Pas acara khataman, hem," Dirga tetap kekeuh meminta Kanaya cinta.
"Bila bahagia mulai menyentuh seakan ku bisa hidup lebih lama namun harus ku tinggalkan cinta ketika ku bersujud..." Suara Kanaya memang begitu indah.
"Ketika ku bersujud...." Lirik yang di nyanyikan secara bersamaan oleh Dirga dan Kanaya.
Ada sebuah duka di mata Dirga yang tak di sadari oleh Kanaya. Ada yang menggenang di sana yang begitu banyak namun Dirga tahan sekuat tenaga.
Butiran-butiran bening lolos dari mata Dirga tapi dengan cepat dia memalingkan wajahnya dan menghapusnya sebelum Kanaya tersadar. Kanaya masih asyik dengan lagunya.
"Namun harus ku tinggalkan cinta, ketika ku bersujud..." Dan itu benar-benar lirik terakhir yang mereka berdua serukan bersama-sama.
"Hem, Mas kenapa?" Tanya Kanaya yang melihat mata Dirga memerah.
"Nggak apa-apa, lagunya terlalu melow jadi gini kan, ikutan baper," Jawab Dirga.
"Oh iya, Nay. Kamu belum lihat filmnya yang kedua kan? Bagaimana kalau kita lihat nanti malam, kamu pasti akan suka. Tapi aku katakan jangan lupa bawa tisu yang banyak," Ucap Dirga.
"Emang ada yang ke dua, Mas?" Tanya Kanaya begitu antusias tentu dia sangat penasaran.
"Ada, mas sudah pernah lihat tapi belum sampai habis. Nggak enak kalau nonton sendiri. Bagaimana?"
"Nay ikut aja."
"Sekarang kamu mau belajar mengendarai mobil nggak?" Tanya Dirga mengalihkan pembicaraan yang lain lagi.
"Belajar mengendarai mobil? Nggak mau, takut," Kanaya menggeleng kasar.
"Kenapa takut kan ada mas di sini. Sini," Belum juga Kanaya setuju Dirga sudah menghentikan mobilnya.
Bukannya Dirga turun dan meminta beralih tempat tapi Dirga malah memundurkan tempat duduknya, menyetel saudaranya sedikit kebelakang supaya bisa enak untuk duduk berdua.
"Sini," Dirga langsung meraih tangan Kanaya meminta Kanaya datang tampa turun lebih dulu.
"Nggak mau, Mas. Kanaya takut," Jawab Kanaya yang benar-benar takut.
"Sini sayangku, mas ajarin. Mas yakin kamu cepat bisa." Dirga tetap kekeuh.
Kanaya tak bisa mengelak lagi, dia langsung pindah dan duduk di pangkuan Dirga.
"Bismillahirrahmanirrahim," Ucap Dirga mengawalinya.
"Kamu nyalakan mesinnya," Pinta Dirga.
Kanaya tampak begitu takut dia diam namun tangannya mengikuti tangan Dirga yang menggerakkan nya.
"Nah, nyala kan?" Dirga nampak senang saat mesinnya menyala begitu juga Kanaya yang juga tersenyum dalam ketegangan. Lalu Dirga mengarahkan kedua tangan Kanaya untuk memegang di sopiranya.
Kanaya terlihat begitu tegang, matanya tak berkedip dengan tangan-tangan yang kaku.
"Mas, Naya takut," Ucap Kanaya namun sama sekali tidak menoleh ke belakang. Padahal Kanaya hanya menggerakkan tangannya saja sementara untuk rem juga gas kaki Dirga yang melakukan.
"Tidak usah takut, ada mas di sini," Jawab Dirga.
Sengaja Dirga juga mengambil jalan yang sepi jadi dia bisa mengajari Kanaya tanpa mengganggu pengendara yang lain.
__ADS_1
*********
Bersambung....