Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Pertunangan Muna


__ADS_3

**********


Kebahagiaan Dirga juga Kanaya sudah semakin lengkap sekarang dengan hasil positif yang Kanaya dapatkan. Hasil itu membuat keduanya terus saja semakin menempel setiap saat.


Rasanya tak ingin jauh meski hanya sesaat bahkan ketika tidak bersama sebentar saja rasa rindu begitu besar seolah begitu menggebu-gebu tak tertahan. Mungkin itulah pengaruh hormon dari kehamilan Kanaya.


Bukan hanya mereka berdua saja yang begitu bahagia, tetapi kedua orang tua Dirga juga wak Ami juga demikian. Semuanya menjadi semakin lengkap dengan kehamilan Kanaya apalagi setelah anak itu lahir ke dunia pastilah akan semakin sempurna kehidupan mereka semua.


Dirga juga semakin posesif dia selalu melarang ini itu apapun yang akan dilakukan oleh Kanaya. Tentu itu karena Dirga tidak mau sampai terjadi sesuatu kepada Kanaya ataupun calon anak mereka.


Dirga juga selalu mengatakan kepada Kanaya untuk lebih sering istirahat dan tidak boleh terlalu kecapean tetapi hari ini dia harus tetap pergi ke acara pertunangan Muna juga Zein.


"Nay sayang. Kamu boleh berangkat tetapi kamu tidak boleh terlalu banyak bergerak, kalau kamu merasakan lelah maka kamu harus langsung istirahat tidak boleh dipaksakan, kamu mengerti kan?"


Dirga begitu mewanti-wanti pada Kanaya supaya lebih memperhatikan kebaikan dirinya juga janin yang ada dalam kandungannya. Karena itulah yang menjadi prioritas Kanaya sekarang dan Dirga yang harus selalu memastikan.


"Iya, Mas. Naya akan selalu ingat apa yang menjadi nasehat Mas ini, kalau Naya lelah pasti akan langsung istirahat kalau perlu nanti Naya ngajak pulang mas," jawab Kanaya sembari bersiap.


Bukan hanya mereka berdua saja yang akan menghadiri acara pertunangan Muna dengan Zein tetapi juga ada Wak Ami juga kedua orang tua Dirga yang berangkat dari rumah mereka dan akan bertemu di rumah Muna yang menjadi tempat acara.


"Bener ya," suara Dirga begitu menekankan bahwa Kanaya harus selalu mengingat apa yang dia katakan.


"Iya, Mas." Kanaya menoleh beberapa saat kemudian kembali melihat ke arah cermin untuk memastikan ketika dia memakai bros pada hijabnya.


"Oh iya Mas, Wak sudah siap belum?" Kanaya kembali menoleh. Kini Dirga mendekat dan berdiri di belakang Kanaya.


"Tadi sih katanya mau bersiap. Mungkin sekarang sudah selesai," kedua tangan Dirga menyentuh kedua bahu Kanaya sembari melihat pantulan wajah istrinya yang ada di cermin.


"Kamu sudah sangat cantik Naya sayang. Sekarang kita berangkat kalau lama-lama nanti kita ketinggalan acara lagi, yuk."


Kanaya bergegas berdiri dari tempat duduk lalu menggandeng tangan Dirga yang sudah siap.

__ADS_1


Selalu saja mereka berdua akan terlihat begitu serasi bukan hanya dulu bahkan sekarang pun mereka berdua terlihat semakin kompak dengan pakaian yang berwarna sama.


*******


Dekorasi yang begitu indah untuk menyambut acara pertunangan antara Muna dengan Zein yang akan dilangsungkan saat ini.


Semua nampak bahagia terutama kedua pemuda pemudi yang sebentar lagi akan bertunangan. Mereka masih berada di tempat yang berbeda, Muna berada di kamar dan masih mendapatkan riasan sementara Zein masih dalam perjalanan yang sebentar lagi akan sampai.


Satu persatu tamu juga berdatangan untuk ikut memeriahkan acara yang sakral langkah pertama untuk menjelang hari pernikahan yang entah kapan akan dilangsungkan. Setelah acara inilah acara pernikahan akan diumumkan.


Tamu semakin memadati ruangan ketika keluarga dari pihak laki-laki sudah datang. Yang awalnya masih sampai di luar sekarang langsung masuk dan memenuhi ruangan. Tentu, juga langsung menempati kursi yang sudah disediakan.


Ruangan seketika menjadi hening saat acara akan dimulai sebentar lagi. Semua terdiam tak ada suara hanya fokus satu suara saja yaitu dari pembawa acara.


Kanaya juga Dirga sudah menempati tempat paling depan karena mereka juga masih termasuk dalam keluarga inti karena Dirga dan Muna mereka adalah sepupu.


Bukan hanya Kanaya saja yang begitu takjub melihat kecantikan Muna yang berbalut dengan kebaya berwarna peach juga hijab yang berwarna senada yang dipadukan dengan kain batik sebagai bawahan, tetapi semua orang yang ada di sana sangat mengagumi kecantikan itu.


Mungkin suatu saat nanti setelah anaknya lahir dia akan melanjutkan memperdalam ilmunya dalam bidang menjahit entah itu kembali kursus di tingkat kedua atau dia akan kuliah.


"Mas kenapa tersenyum seperti itu?" tanya Kanaya begitu penasaran melihat suaminya yang tersenyum ketika melihat sepupunya yang ada di depan.


"Cantik," katanya.


"Ya, Mbak Muna kan memang cantik," jawab Kanaya yang sama mengagumi kecantikan Muna yang terlihat begitu mengagumkan bahkan membuat Zein seolah tidak mau berpaling.


"Kamu salah, Sayang. Muna memang cantik dan Mas mengakui itu tetapi yang Mas bicarakan saat ini adalah baju yang dipakai oleh Muna buatan kamu. Kamu pintar membuatnya, terlihat dan cocok dikenakan oleh Muna."


"Oh, Kaya pikir Mbak Muna yang dipuji ternyata bajunya toh," kini Kanaya baru mengerti.


"Iya. Seandainya kamu pakai yang kayak gitu juga, pasti kanu juga akan semakin cantik."

__ADS_1


"Mulai mulai, hari ini yang jadi primadona adalah mbak Muna, Mas. Bukan Naya."


"Memang iya, tapi bagi Mas kamu lah yang akan selalu menjadi primadona di hati Mas," Dirga tersenyum setelah mengatakannya.


"Dan sebentar lagi akan bertambah satu lagi primadona Mas," imbuh Dirga yang tersenyum puas.


"Iya deh, iya."


Keduanya kembali fokus ke arah acara dan melihat semua runtutan acara dari awal hingga nanti akhir.


Semua nambah hening ketika Zein mengucapkan janji kepada Muna dan juga meminta untuk Muna menjadi pendamping hidupnya untuk selama-lamanya.


Terasa penuh haru ketika itu. Bukan hanya Muna saja yang menitikkan air mata kebahagiaan tetapi juga orang tua dan para tamu yang memiliki rasa sensitif yang begitu besar termasuk Kanaya.


Bukan hanya Zein saja yang mengatakan janji tersebut tetapi Muna juga sama keduanya sama-sama memberikan sedikit janji untuk satu sama lain.


Dan setelahnya, kedua orang tua maju ketika acara penyematan cincin.


Dan akhirnya keduanya memakai cincin bertunangan yang dipakaikan oleh kedua orang tua sebagai perwakilan. Jelaslah karena Muna pasti tidak akan berani menyentuh Zein selama belum halal.


Tepuk tangan terdengar begitu bergemuruh memadati tempat tersebut, sorak bahagia juga terdengar begitu bersahut-sahutan.


Begitu bahagia semua orang. Riuh kemeriahan acara di tengah-tengah berlangsungnya acara.


"Sudah, jangan menangis," langsung Dirga merangkul Kanaya yang menangis dengan keharuan yang sangat besar.


"Tidak, hanya kelilipan," tentu yang Kanaya katakan adalah bohong kan? Mana ada kelilipan di tempat yang begitu bersih seperti itu.


"Iya iya kelilipan," Dirga mengalah meski dia tau Kanaya berbohong.


*********

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2