
...****************...
Begitu bahagia Zein ketika bisa melihat kembali Kanaya yang berangkat ke tempat dia kursus. Zein seperti orang yang kehilangan tenaga sebelum Kanaya datang tetapi setelah dia melihat wanita yang begitu dirindukan itu seketika dia lompat dan berlari mendekat dengan bahagia.
Akhirnya dia bisa melihat lagi meski wanita itu sama sekali tidak tersenyum kepadanya, bodoh amat karena yang terpenting dia bisa melihatnya bahkan bisa juga menggodanya.
"Naye! Kamu dari mana saja, apa kabar? Pasti baik dong terlihat wajah kamu begitu sumringah pagi ini. Ada apa, apakah ada yang aku lewatkan?" Zein melangkah mengikuti langkah kaki Kanaya yang hendak masuk ke dalam kelas kursusnya.
Kanaya terus diam karena dia tidak mau berurusan dengan Zein dia tahu laki-laki itu begitu menginginkannya maka dari itu Kanaya berusaha untuk menjauh meski pada akhirnya Zein tetap saja mendekatinya.
"Naye, Kenapa sih kita tidak bisa berteman? kenapa kamu selalu acuh kepadaku apakah aku begitu buruk di matamu sehingga tidak ada kesempatan untukku bisa menjadi temanmu, apalagi ngobrol denganmu?"
Kanaya tetep abai, dan duduk di tempat yang biasa dan mulai mengeluarkan buku dan mempelajari apa yang ada di papan tulis.
"Naye. Apakah aku punya kesalahan?" tanya Zein lagi dan kini sudah duduk di hadapan Kanaya dan sesekali menghalangi arah pandang mata Kanaya yang ingin melihat ke arah depan.
Jengah, itulah yang Kanaya rasakan kepada Zein selalu saja dia mengganggunya. Apakah tidak ada pekerjaan lain selain membuat orang kesal seperti ini?
"Please ya Mas Zein, jangan menggangguku. Aku ke sini untuk belajar jika memang mau menjadi teman maka jadilah teman sewajarnya. Dan jika ingin ngobrol, ngobrol di waktu yang tepat bukan di setiap waktu seperti ini. Adakalanya kita serius dengan apa yang kita kejar dan ada kalanya kita ngobrol dengan teman sekedar untuk menghilangkan rasa penat. Tetapi jangan Mas Zein pikir kalau laki-laki dan perempuan bisa berteman bahkan mengobrol secara dekat apalagi kita bukan mahram tentu tidak akan baik jika kita begitu dekat. Lebih baik menjaga diri sebelum adanya fitnah terjadi."
Begitu banyak dan lembut Kanaya mengatakan hal itu Zein juga mendengarnya tapi entah dia menerima atau tidak yang terpenting Kanaya sudah mengatakan semuanya.
"Naye, apakah memang tidak akan pernah ada kesempatan untuk ku dekat denganmu?" kini si Zein nampak serius matanya menatap lekat wajah Kanaya.
"Seharusnya Mas Zein berpikir sebelum mendekati Kanaya, saya sudah menjadi seorang istri bahkan siapapun tidak akan ada kesempatan untuk mendekat jika mendekati dengan niat untuk memiliki. Lebih baik Mas Zein kubur dalam-dalam perasaan yang belum begitu besar, dan carilah perempuan lain yang bisa benar-benar Mas Zein miliki seutuhnya."
Kanaya berharap dengan kata-katanya Zen bisa berhenti mengejarnya dan bisa mencari dan membuka hati untuk perempuan lain yang lebih baik darinya.
"Bagaimana jika aku hanya menginginkan kamu saja, bagaimana jika aku memaksamu untuk menerimaku?" ucap Zain.
"Maka aku akan terus menolaknya." jawab Kanaya tanpa berpikir panjang.
__ADS_1
"Mas, begitu banyak perempuan di luar sana yang baik bahkan banyak yang lebih baik daripada aku. Mas bisa mendapatkan mereka, aku yakin ada yang lebih baik dan lebih pantas daripada aku, dan usaha mas tidak akan sia-sia. Tetapi, jika Mas terus mengejarku maka usaha Mas akan selalu sia-sia karena sekuat apapun Mas berusaha hasilnya akan tetap sama aku tidak akan bisa menerima Mas."
Jawaban Kanaya berhasil membuat Zen terdiam, apakah itu artinya apa yang dikatakan oleh Kanaya mampu mengetuk pintu hati Zein untuk melepaskannya?
...****************...
Zein terus diam meski kini dia masih terus mengikuti Kanaya yang hendak pulang. Tumben Dirga terlambat menjemput kali ini dan Zein bisa terus melihatnya tanpa takut ada ada Dirga.
Kata-kata Kanaya tadi sedikit membuka hati Zein dan kini berdiri dengan jarak yang lebih jauh dari biasanya.
'Apakah yang dikatakan oleh Kanaya benar, apakah memang aku harus melepaskannya dan mencari wanita lain sesuai yang Kanaya katakan. Tapi, apakah ada yang bisa sama seperti Kanaya?' batin Zein.
Hati Zein meronta, dia masih ingin tetap berusaha untuk mendapatkan Kanaya tetapi hati nuraninya mengatakan bahwa memang dia harus melepaskan Kanaya. Lalu, keputusan apa yang harus diambil?
Zein masih berdiri dengan bersandar gerbang LPK dengan mata terus menatap Kanaya yang masih menunggu Dirga. Sesekali melihat ke arah jalan dan sesekali juga beralih ke arah ponsel yang dia pegang.
Wanita yang sangat spesial bagi Zein, wanita yang tak bisa mudah ditaklukan dan juga seorang wanita yang begitu teguh pendirian dan menjaga prinsip dan rumah tangganya dengan baik.
Begitu lama Kanaya menunggu Dirga entah ke mana suaminya berada sekarang dan apa yang dia lakukan sampai dia terlambat seperti sekarang ini membuat istrinya lama menunggu.
Zein ingin sekali menawarkan untuk mengantarkannya, tetapi Zein yakin Kanaya tidak akan menerimanya seperti biasa. Hingga kini Zein hanya menunggu dan memastikan bahwa Kanaya dijemput suaminya dan pulang dengan keadaan baik-baik saja.
"Lama sekali," ucap Zein seraya melihat jalan dan beralih melihat jam tangan yang dia pakai. Ternyata hampir setengah jam Kanaya menunggu Dirga datang.
"Naye, kamu yakin suamimu akan menjemputmu. Ini hampir setengah jam tetapi tidak ada tanda-tanda kedatangannya. Apa mungkin dia ada masalah?" ucap Zein tetap berada di tempat dan tidak berniat untuk mendekat.
Kanaya menoleh dan melihat Zein yang sangat menjaga jarak sekarang.
Lega rasanya bisa membuat Zein tidak selalu ada di sampingnya, meskipun dia masih tetap ada di sekitarnya tapi lumayan dia tidak begitu dekat.
"Saya yakin Mas Dirga akan menjemput," jawab Kanaya yang penuh dengan keyakinan.
__ADS_1
"Saya beli minum dulu," pamit Zein dan langsung melangkah menjauh dari Kanaya untuk pergi ke warung sebarang jalan.
Kanaya hanya menggeleng Kenapa harus minta izin padanya, bukankah itu tidak diperlukan.
Kanaya kembali fokus menunggu suaminya tetapi bukan Dirga yang datang melainkan dua orang berandal yang bertubuh kekar bahkan kedua tangan mereka terdapat tato ular yang semakin menambah kesan menakutkan bagi Kanaya yang belum terbiasa melihat hal seperti itu.
"Halo cantik, sendirian aja nih?" tanya salah satu dari mereka.
Jelas Kanaya mulai takut dengan kehadiran dua orang itu. Dia semakin gelisah dan terus memandang arah datangnya kendaraan berharap Dirga segera datang. Kedua tangannya langsung memeluk tas selempang yang dia pakai berusaha melindungi apa yang ada di dalamnya.
Apa yang dilakukan oleh Kanaya seakan menjadi sebuah guyonan bagi kedua orang itu hingga akhirnya mereka malah tertawa dengan lantang.
"Cantik serahkan tasmu kepada kami," ucap salah satu dari mereka lagi dengan mengulurkan tangan berharap Kanaya akan menyerahkan dengan sukarela.
"Tidak, Saya tidak akan menyerahkan kepada kalian," tolak Kanaya yang sudah mulai gemetar.
Tetapi penolakan dari Kanaya membuat kedua orang itu memaksa untuk menarik tas Kanaya.
"Kalau begitu berarti kamu juga harus ikut dengan kami." kini malah lengan Kanaya juga ditarik oleh mereka. Semakin Kanaya ketakutan semakin membuat kedua orang itu senang dan semakin kuat menarik Kanaya.
Tak ada siapapun di sana, hanya kendaraan yang terus melintas dan tak ada satupun yang berhenti untuk menolongnya.
Kanaya terus berteriak, berontak dan mencoba melawan tetapi tenaganya tidak kuat untuk melakukan itu. Hingga akhirnya matanya melihat Zein yang hendak menyeberang.
"Mas Zein, tolong Naya! Mas!" teriak Kanaya dengan suara yang sudah bergetar dengan rasa takut diiringi air mata yang sudah meluncur deras.
Suara Kanaya begitu lantang dan jelas membuat Zein mendengar dan seketika membulatkan matanya. Tangannya mengepal dan langsung berlari untuk menolong Kanaya.
"Naye!!" teriak Zein seraya berlari.
...****************...
__ADS_1
Bersambung...