
...****************...
Kedua pasang tangan saling melepaskan dari pelukan satu sama lain. Wajahnya menunduk dengan tangan langsung terangkat dan menghapus air matanya sendiri.
Senyum hingga kekehan kecil terdengar dengan wajah yang menunduk dan malu untuk saling melihat.
"Hem..."
"Hem..." keduanya ingin bicara, entah apa yang ingin di katakan tapi kata yang keluar secara bersamaan membuat keduanya semakin gugup tak karuan.
Keduanya kembali tersenyum malu-malu tetap tak berani memandangi wajah pasangannya.
Keduanya menjadi canggung, sangat berbeda dari beberapa saat yang tadi yang penuh emosi dan air mata.
Krukk....
Dan akhirnya bunyi dari Perut Kanaya yang mendahului berbicara. Mungkin dia lapar karena habis mengeluarkan keluh kesahnya.
"Hem, istriku ternyata tengah mengalami masalah yang serius," kata Dirga sembari terkekeh kecil.
"Hah!" wajah Kanaya seketika terangkat, "Masalah serius, maksudnya?"
"Perutnya minta jatah untuk di kenyangkan. Sekarang kita sarapan," ajak Dirga.
"Tidak mau," Kanaya menggeleng.
"Kenapa tidak mau, apakah istri ku malah ingin memuaskanku lebih dulu?" goda Dirga.
"Apa sih!" Kanaya bergelak meski dia tau Dirga hanya menggoda saja.
"Kan sekarang udah cinta, jadi nggak masalah dong. Kapanpun oke lah," mata Dirga berkedip genit. Baru saja selesai dengan perdebatan sengit sekarang sudah jail lagi dan terus menggoda Kanaya.
"Aaa...," mulut Kanaya mengerucut dengan wajah yang berkedut-kedut karena menyembunyikan rasa malunya.
Ini akan semakin menarik kan sekarang dengan Kanaya yang sudah memiliki sebuah rasa padanya akan semakin puas Dirga menggodanya.
"Nay, boleh tanya sesuatu?" kali ini pertanyaannya begitu serius.
"Tanya apa?" Kanaya juga sama, menjawab dengan sangat serius dan mata yang langsung memandangi Dirga.
"Sejak kapan?"
"Apanya?" Kanaya masih terlihat bingung, sebenarnya apa yang Dirga tanyakan padanya. Sejak kapan apanya coba, nggak jelas.
"Cinta itu datang," Rupanya hal itu yang Dirga tanyakan. Dirga ingin tau sejak kapan istrinya itu sudah ada rasa terhadapnya.
"Tidak tau," Wajah Kanaya memerah, dia juga langsung menunduk karena malu. Bagaimana dia akan menjawab kalau dia sendiri saja juga tidak tau sejak kapan perasaan itu datang di hatinya.
__ADS_1
Dirga mendekat, mengangkat dagu Kanaya dan mengecupnya sekilas dengan begitu mesra.
"Terima kasih sudah mau bertahan. Terima kasih karena memilih mas," kata Dirga setelah melepaskan kecupan di bibir Kanaya yang tadi begitu cerewet karena emosionalnya.
"Hem, terima kasih untuk cinta mas juga yang. Terima kasih juga karena mas tidak pernah lelah untuk membuat Aya bahagia. Terima kasih karena sudah mau jujur dengan Aya."
Kanaya kembali memeluk Dirga dengan sangat erat. Begitu bahagianya sekarang bahkan dia tak ada keraguan apapun lagi untuk memeluk Dirga. Semua berdasarkan cinta yang nyata bukan cinta yang penuh fatamorgana.
"Kita sarapan sekarang?" tanya Dirga dan Kanaya mengangguk.
Dirga langsung melepaskan pelukan dan mengganti dengan merangkul pinggang Kanaya. Keduanya keluar dari kamar menuju meja makan yang mungkin sudah banyak menu yang Muna siapkan.
Benar saja, semua sudah tersaji. Muna benar-benar cekatan dan sangat pintar dalam urusan masak-memasak sama persis dengan Kanaya, hanya saja berbeda resepnya.
'Sepertinya sekarang keduanya sudah baik-baik saja, alhamdulillah. Semoga sebesar apapun masalah yang hadir mas Dirga dan mbak Naya bisa menyelesaikannya. Semoga rumah tangga mereka langgeng dan selalu di limpahkan kebahagiaan, amin,' batin Muna.
"Sarapan sudah siap, sekarang Muna mau sarapan yang banyak. Setelah itu Muna harus pulang karena ada kuliah pagi," ucap Muna Heboh.
"Terima kasih ya, Mun. Sudah nemenin Naya selama mas pergi."
"Sama-sama, Mas. Tenang, besok-besok kalau mas ada keluar kota lagi bisa hubungi Muna. Muna akan selalu siap," Muna begitu antusias.
"Sepertinya satu minggu disini kamu tambah gembul aja, Mun?"
"Hah! masak sih Mas? Muna kan nggak makan yang aneh-aneh," Muna terlihat panik. Bagaimana mungkin dia akan tambah gembul. Tidak!
...****************...
Setelah mengantarkan Muna kini saatnya Dirga akan mengantarkan Kanaya ke tempat kursusnya. Kali ini dia sendiri yang akan antar jemput istrinya itu.
Hatinya tengah berbunga-bunga karena mendapatkan kenyataan manis dari Kanaya yang ternyata benar sudah mulai mencintainya. Meski Dirga yakin masih begitu kecil, tapi itu tak menjadi masalah.
"Nay, bagaimana kursus mu?" tanya Dirga memecah keheningan.
Setelah kejadian tadi pagi Kanaya lebih sering diam, terlihat dia sangat gugup atau mungkin canggung entah sangat sulit untuk di bedakan.
"A_alhamdulillah. Semua berjalan lancar. Kata Bu Annisa, besok Aya sudah bisa praktek bikin kemeja. Hem, Aya ingin untuk yang pertama kalinya bisa bikin kemeja Aya pengen bikin kemeja untuk mas, bolehkan?"
"Alhamdulillah, dengan senang hati mas akan menerimanya."
"Kalau begitu, mas bisa temenin Aya beli bahannya nggak nanti setelah pulang. Aya pengen bikin kemeja yang benar-benar bahan dan warnanya sesuai keinginan mas, Bisakan?"
Terlihat Kanaya begitu bahagia. Ini adalah pertama kalinya Kanaya akan membuat sebuah baju. Dan itu akan dia peruntukan untuk Dirga, sang suami.
"Boleh. Nanti mas jemput kamu. Mas nggak bisa nungguin kamu karena ada kerjaan, tapi mas akan jemput kamu di sini sebelum kamu pulang."
"Hem," Kanaya mengangguk cepat.
__ADS_1
Kebahagiaan keduanya begitu nyata sekarang tidak di buat-buat dan tidak di bayang-bayangi akan ketakutan.
Semua sudah jelas semua masalah sudah terbuka. Kini hanya tinggal kebahagiaan yang harus mereka pupuk hingga semakin besar.
"Alhamdulillah, sudah sampai," mobil berhenti di depan LPK.
Kanaya tersenyum, menoleh sebentar ke arah bangunan besar itu lalu kembali lagi ke arah Dirga. Di raihnya tangan Dirga, di kecup perlahan.
"Assalamu'alaikum, Mas." pamit Kanaya.
"Wa'alaikumsalam, belajar yang bener dan juga semangat. Kesuksesan ada di depan mata!" ucap Dirga.
Kembali Kanaya mengangguk. Baru Kanaya ingin keluar langsung terhenti karena Dirga kembali menariknya.
Kanaya terbengong menunggu dengan diam apa yang akan Dirga lakukan.
Sebuah kecupan penuh kasih mendarat di kening Kanaya. Matanya terpejam merasakan benih-benih cintanya telah di sirami dengan kasih sayang yang melimpah dari Dirga.
Jantung Kanaya berdebar begitu cepat. Kini dia benar-benar bisa membedakan mana getaran cinta yang nyata dan getaran yang di sebabkan oleh mahabbah.
Ternyata sangat berbeda jauh, dan kini Kanaya sangat yakin. Ini bener-bener cinta dari Allah, bukan dari mahabbah.
"Aku mencintaimu, Nay. Sangat mencintaimu," ucap Dirga.
Dirga terdiam, menunggu apakah dia akan mendapatkan jawaban yang sama dari Kanaya?
Kanaya diam, dia tak mengatakan apapun tapi wajahnya sudah bersemu merah.
Kanaya hendak keluar, Dirga hanya pasrah mungkin memang belum saatnya dia mendengar jawaban langsung dari Kanaya.
Dirga berpaling dia sedikit kecewa tapi tak masalah. Dia bisa memakluminya.
Muach....
"Aku juga mencintaimu, Mas," kecupan dari Kanaya mendarat di pipi Dirga. Kanaya langsung keluar dan berlari mungkin dia sangat malu karena kelakuannya barusan.
Dirga tersenyum, tangannya terangkat dan menyentuh pipinya yang mendapatkan hadiah dari Kanaya.
"Terima kasih, Nay." Dirga sangat bahagia.
Di depan LPK ada yang mengawasi keduanya. Meski yang mereka lakukan tidak terlalu jelas tapi mampu membuat hatinya panas. Siapa lagi kalau bukan Zein.
"Kenapa harus melihat yang seperti ini?" dia begitu tak rela melihat Kanaya mendapatkan perlakuan manis dari Dirga padahal dia tau kalau Dirga adalah suaminya.
...****************...
Bersambung.....
__ADS_1