
...***********...
Begitu ingin pergi ke Merbabu untuk memberikan uang amal di pesantren Kyai Achmad sebelum Dirga ingin menceritakan segalanya padahal Kanaya.
Dengan melakukan itu berharap dia bisa terhindar dari balak apapun yang akan terjadi ketika dia jujur pada Kanaya.
Dirga tidak mengajak Kanaya atau siapapun, dia hanya sendiri dan selalu percaya kalau tidak akan terjadi apa-apa ketika di jalan.
Dengan mobilnya dia melaju semakin cepat supaya bisa sampai lebih cepat dan dia juga bisa kembali ke rumahnya di hari yang sama.
Dirga sempat terperangah ketika sampai di depan rumah Yuan, halaman rumahnya sudah di penuhi oleh tenda-tenda yang entah untuk acara apa.
"Ada acara apa?" gumamnya. Namun hal itu tidak membuat Dirga lantas berhenti dia tetap menjalankan mobil dengan pelan untuk melewatinya.
*********
Pernikahan yang sebenarnya bukan keinginan dari kedua sejoli antara Yuan juga Hani sudah di pastikan harinya oleh para orang tua mereka.
Karena semua yang sudah di persiapkan membuat Hani ataupun Yuan tak bisa menolak sama sekali kecuali menerima begitu saja.
Mungkin inilah takdir.
Itulah yang selalu ada di kepala Yuan. Dia menganggap semua adalah takdir yang tak bisa di hindari lagi. Sebenarnya dia ingin menolak, tapi apa yang akan dia dapat dari penolakan itu.
Bukankah dia hanya akan mendapatkan kata-kata kasar yang akan keluar dari para keluarga bahkan dari para tetangga karena memang semua yang sudah di persiapkan?
Bahkan Yuan tidak tau kalau dia akan menikah dan di minta pulang dan libur selama satu minggu, ya! Satu minggu lagi lah pernikahan mereka akan segera di langsungkan.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Yuan ketika sampai di rumah dan halaman rumah sudah terdapat tenda-tenda yang akan di jadikan tempat acara. Tentu Yuan sempat bertanya-tanya ada acara apa?
"Acara pernikahan mu," ucap ayah Yuan setelah pertanyaan terlontar dari Yuan.
"Pe_pernikahan ku?" Mata Yuan membulat dan wajah menjadi tegang.
"Lah, bukannya waktu pulang kemarin bapak sudah mengatakan kalau kalau kamu akan segera menikah?"
Memang ayahnya sudah mengatakan kalau Yuan akan segera menikah dengan Hani, tapi dia tidak tau akan akan secepat ini. Yuan pikir dia akan menikah setelah lulus kuliah yang hanya tinggal beberapa bulan saja.
"Kenapa ayah tidak mengatakan semuanya dengan jelas?"
Pertanyaan Yuan seolah mengisyaratkan bahwa dia tidak menyetujui semuanya saat itu, tapi mau itu tidak menggoyahkan hati ayahnya yang sudah kadung menginginkannya.
Kini, Yuan hanya diam dan merenungi semua yang akan terjadi padanya sebentar lagi. Benarkah dia akan menikah dengan Hani? Perempuan yang dia anggap sebagai teman yang sama sekali tak ada rasa apapun untuknya?
Tak ada yang bisa mendengar jeritan hatinya yang begitu gusar karena tidak menginginkan pernikahan ini terjadi.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa menjalankan tugasku dengan baik setelah menuju dengan Hani. Bagaimana aku bisa," Yuan merasa tidak mungkin bisa karena di dalam hatinya masih ada wanita lain.
Wanita yang sudah menjadi milik orang lain tapi dia masih belum bisa melupakannya. Bahkan sesekali dia masih berkhayal tentangnya.
Mungkin itu salah tapi dia juga tidak bisa menghindari perasaan itu yang masih begitu dalam. Meski dia tau tak akan bisa kembali dia dapatkan tapi harapan itu masih terbersit di lubuk hati yang paling terdalam.
Kaki Yuan terus melangkah di sore hari, mencari ketenangan yang akan membuat hatinya sedikit membaik.
Tanpa dia sadari dia berhenti di sebuah villa yang dulu adalah tempat yang menjadi tempat spesial untuk dia dan Kanaya. Dia melihat tempat itu, jelas semuanya sudah berubah dan tak lagi sama.
__ADS_1
Tapi, yang membuat Yuan terpaku adalah bunga mawar yang warnanya sangat persis seperti di depan rumahnya itu begitu banyak bunganya yang mekar bahkan lebih banyak punyanya.
Berkali dia menanamkan untuk Kanaya tapi sekalipun tidak pernah hidup, tapi ini? Sekali saja Dirga yang menanamnya bisa tumbuh begitu subur dan begitu lebat bunganya.
"Dirga sangat beruntung mendapatkan kamu, Aya," katanya yang begitu pilu.
Dia tidak bisa masuk karena gerbang tertutup, tapi dia hanya bisa melihat daja dari jalan.
Ting....
'[Assalamu'alaikum, masuklah, gerbang tidak di kunci dan aku tunggu kamu di dalam. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.]'
Yuan mengernyit, benarkah yang mengirim pesan itu adalah Dirga? Tapi kenapa Dirga ada di sana, apakah dia bersama Kanaya juga?
Tidak membalas namun Yuan masuk karena sangat penasaran. Dia ingin memastikan saja apakah Dirga benar di sana atau tidak.
Ketika Yuan masuk ternyata ada mobil terparkir di sana berarti benar, Dirga ada di dan dan sekarang tengah menunggunya. Lagian apa yang ingin dia bicarakan?
"Assalamu'alaikum," sapa Yuan.
"Wa'alaikumsalam, silahkan masuk," Ternyata benar, kedatangan Yuan sudah di tunggu oleh Dirga.
"Hem, terima kasih," Yuan langsung mengikuti Dirga dan mereka berdua duduk di sofa berdua.
*******
Bersambung....
__ADS_1