Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Kelakuan Wak Tejo


__ADS_3

*********


Kepergian wak Ami dari rumah tentu membuat kebahagiaan yang sangat besar bagi wak Tejo juga kedua menantunya yang benar-benar hanya memperlakukan wak Ami seperti seorang pembantu.


Mereka seolah tidak merasa kehilangan dan juga malah terlihat senang meski sekarang tidak ada lagi yang membantu mereka mengurus anak-anaknya. Mereka merasa bebas sekarang dan bisa melakukan apapun yang mereka kehendaki.


Mereka bertiga bahkan tidak peduli dengan semua kata orang yang tinggal bertiga satu laki-laki dan dua perempuan.


Meskipun mereka adalah mertua dan menantu tetapi pasangan mereka sama-sama tidak ada di rumah dan tentunya mereka masih sangat normal membutuhkan hubungan biologis dari pasangan mereka masing-masing. Jadi, apakah ada kemungkinan mereka bertiga melakukan sesuatu hal yang bisa memenuhi kebutuhan mereka tersebut?


Dan hal itulah yang begitu dikhawatirkan oleh semua tetangganya. Mereka sangat takut kalau mereka bertiga akan melakukan hal yang tidak senonoh dan akan mencoreng nama baik desa.


Desas-desus kecurigaan semua orang jelas mereka dengar tetapi mereka sama sekali tidak mempedulikan itu mereka tetap berada dalam kehidupan mereka sendiri tidak peduli apa kata orang.


Dua menantu yang sangat cantik bertubuh berisi karena baru beberapa saat melahirkan dan juga sikap mereka berdua yang selalu saja genit, apakah ada kemungkinan kalau Wak Tejo mampu menahan godaan dari mereka?


Dan ternyata apa yang dia khawatirkan oleh semua orang yang ada di desa itu benar-benar terjadi.


Kedua menantunya masih sangat mudah dan yang pasti mereka berdua berada di masa paling berbeda untuk melakukan hubungan yang seperti itu.


Di saat wak Tejo baru akan masuk ke dalam kamar tiba-tiba salah satu dari menantunya menghampiri dan mengatakan butuh bantuannya.


"Pak, aku lagi nggak enak badan mau minta kakak mengerokin tetapi dia sudah tidur. Bapak bisa bantu tidak?" tanyanya dengan suara yang memelas juga tangan yang mulai meraba-raba lehernya sendiri.


Wak Tejo langsung menelan ludah sendiri ketika melihat leher jenjang menantunya tersebut ditambah lagi baby doll yang dia pakai kedua kancingnya terbuka dan jelas memperlihatkan dadanya yang terlihat begitu sangat menggoda.


"Eh, maaf. Saya baru selesai menidurkan adik sampai lupa menutupnya," ucapnya yang menyadari kalau mertuanya itu melihat di bagian yang begitu menonjol tersebut.


"Ti_tidak apa," wak Tejo tersenyum kaku saat perbuatannya diketahui oleh menantunya, tapi itu benar-benar sangat menggoda siapapun pasti sangat ingin melihat di balik baju tersebut.


Bukannya menutup tetapi menantunya itu tetap membiarkannya begitu saja dan terus bergerak menggaruk lehernya dan membuat kedua benda kembar yang begitu besar itu juga ikut bergerak naik turun pasti isinya begitu banyak.


"Bagaimana, Pak. Bisa bantuin tidak?" tanyanya lagi dengan memasang wajah yang begitu memelas juga seolah dia begitu tidak kuat menahannya.


"Bi_bisa. Mau di mana?" tanya wak Tejo. Begitu bersedia wak Tejo untuk membantu menantunya itu, tak peduli apapun tapi dia juga sangat penasaran.


"Di kamar bapak saja. Kalau di kamar aku nanti adik bangun."


Wak Tejo mengangguk dan perlahan membuka pintu, mempersilahkan menantunya itu masuk lalu dia sendiri juga ikut masuk.


Melihat bagian belakang tubuh menantunya sudah membuat wak Tejo panas dingin bagaimana sebentar lagi?


Sebentar lagi akan melihat seperti apa mulusnya kulit yang tertutup baby doll tersebut pasti akan semakin membuat wak Tejo senang.


"Ini benar-benar nggak apa-apa kan, Pak?" tanyanya dengan menoleh kearah wak Tejo.


"Tidak apa-apa. Ayo naik dan kita mulai kerokannya, nanti keburu anakmu bangun lagi."


Menantunya mengangguk dan langsung naik ke ranjang wak Tejo yang sekarang sudah dingin. Tak pernah ada kehangatan di sana setelah wak Ami pergi.

__ADS_1


Susah payah wak Tejo menelan saliva ketika perempuan yang menjadi menantunya itu mulai membuka bajunya, benar-benar sangat mulus dan indah.


"Ayo, Pak." katanya yang sudah tengkurap di hadapan wak Tejo yang masih sangat menikmati pemandangan yang begitu indah.


"I_iya. Mana minyaknya," wak Tejo ikut naik dan mulai mengoleskan minyak pada menjatuhkan.


Sentuhan demi sentuhan itu menghadirkan perasaan yang semakin besar pada keduanya. Keduanya sama-sama merinding dalam keinginan yang sama.


"Enak, Pak."


Suara menantunya bahkan seperti mengerang nikmat membuat wak Tejo semakin kelimpungan dengan adik kecil yang sudah lama tidur itu kini tiba-tiba bangun dan tegak.


Suara-suara itu membuat wak Tejo semakin tidak tahan hingga akhirnya satu tangannya menyentuh adiknya sendiri.


'Sepertinya aku berhasil,' batin menantunya itu dia juga tersenyum karena melihat mertuanya yang sudah tergoda.


"Aww, jangan keras-keras, Pak." Pekiknya dan seketika dia beralih terlentang dan bagian depan juga jelas tidak tertutup apapun memperlihatkan si kembar yang begitu menonjol.


Wak Tejo membulatkan matanya dia semakin susah untuk menahan birahi nya yang kian membesar.


"Bapak kenapa?" tanyanya yang sok tidak tau.


"Ti_tidak apa-apa. Balik lagi gih," pintanya.


"Yang belakang nanti aja pak, sekarang ganti yang depan," dia tersenyum dan semakin membuat wak Tejo merinding.


Seandainya dia istrinya pasti akan langsung di terkam, tapi dia adalah menantunya istri dari anaknya yang sekarang entah pergi ke mana.


Wak Tejo yang mulanya tengah mengalamun memikirkan akan segala hal di kejutkan dengan suara menantunya dan dia terkejut karena tangannya sudah ada di atas salah satu dari si kembar.


"Pak, aku nggak tahan." ucapnya.


"Ta_tapi..."


Tapi apa, nyatanya wak Tejo benar-benar melakukan apa yang di inginkan oleh menantunya dan mereka berdua menghabiskan waktu satu jam dengan melakukan hubungan haram antara menantu dan mertua.


Puas rasanya mereka berdua setelah melakukan itu. Keduanya tersenyum bersama-sama setelah benar-benar mendapatkan kenikmatan.


"Aku kembali ya, Pak. Takut adek bangun dan mbak juga," katanya.


Wak Tejo jelas langsung mengangguk mengizinkan, benar yang dia katakan kalau menantunya yang satu sampai bangun dan mengetahui apa yang mereka lakukan akan sangat berbahaya kan?


Wak Tejo terus tersenyum setelah kepergian menantunya itu, mengingat semua nikmat yang di dapat.


Belum juga senyum itu pudar pintu di ketuk dengan sangat pelan.


"Ada apa lagi," gumam wak Tejo dan segera beranjak. Keluar dengan hanya memakai sarung saja sementara yang bagian atas tak memakai apapun.


"Kamu?" Wak Tejo terkejut karena kini yang datang adalah menantunya yang satu.

__ADS_1


"Pak aku juga pengen," katanya.


Astaga, berarti dia mengetahui semua yang wak Tejo dan menantu yang satunya itu lakukan.


"Pe_pengen apa?" Wak Tejo hendak berkilah.


"Pengen seperti bapak dan..." Belum juga selesai mengatakan wak Tejo langsung di dorong hingga kembali masuk ke dalam kamar.


Pasrah, itulah yang wak Tejo lakukan. Kapan lagi dia akan menikmati dia wanita dalam satu malam seperti ini.


'Kamu benar-benar bodoh, Fin. Kamu meninggalkan istrimu yang sangat enak jika di sentuh.' batinnya yang begitu bahagia.


*********


Prankkk....


"Astaghfirullah hal adzim!" pekik wak Ami yang ada di semarang.


Niatnya bangun untuk mengambil minum karena merasa sangat haus kini harus di kejutkan dengan gelas yang ada di tangannya tiba-tiba lepas dan jatuh di lantai.


Gelas itu Jelas langsung pecah menjadi kepingan kecil dan perasaan yang tak enak seketika dia rasakan.


"Wak, ada apa?!" Dirga yang masih belum tidur dan tengah mengerjakan sesuatu di ruang tengah langsung berlari dia merasa sangat khawatir karena tiba-tiba mendengar suara jeritan wak Ami.


"Ma_maaf, Nak. Wak tidak sengaja," katanya penuh sesal.


"Tidak apa-apa, Wak. Wak duduk saja biar Dirga yang bersihkan."


Dirga seketika menuntun wak Ami dan membawanya duduk dia juga mengambilkan minum wak Ami.


"Wak Ami baik-baik saja?" tanya Dirga.


"W_wak baik-baik saja, Nak," senyum terpaksa keluar dari wak Ami. Jelas itu terlihat berbeda di mata Dirga karena senyumnya terlihat kaku itupun hanya sebentar.


"Terima kasih ya, Nak. Wak mau tidur lagi. Kamu juga jangan malam-malam tidurnya, jaga kesehatan kamu. Akhir-akhir ini wak lihat kamu terlihat sangat lelah kamu juga kadang terlihat pucat. Jangan terlalu memaksa tubuh untuk bekerja, berikan waktu untuk istirahat."


"Iya, Wak. Sebentar lagi Dirga juga istirahat," meski bukanlah ibunya tapi wak Ami lebih sering memberikan nasihat-nasihat untuk Dirga ataupun Kanaya, mungkin karena mereka ada di satu atas yang sama.


Begitu heran Dirga dengan wak Ami, dia terlihat begitu gelisah dan memikirkan sesuatu.


"Apa yang terjadi pada wak Ami?" gumamnya.


Sejenak Dirga terdiam di sana dan setelah itu dia langsung membersihkan pecahan gelas dan setelah selesai dia benar-benar membereskan semua pekerjaan dan menurut akan nasihat wak Ami untuk istirahat.


Sementara di dalam kamar wak Ami masih sangat tidak tenang, dia tiba-tiba memikirkan suaminya. Entah akan bagaimana kelanjutan dari pernikahannya.


"Bagaimana kabar kamu, Pak?" gumamnya.


**********

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2