
'Mungkin memang membutuhkan sebuah pengorbanan saat menjemput kebahagiaan. Juga membutuhkan rasa sakit untuk menjemput sebuah kenikmatan. Jika sakit ku adalah bentuk pengabdian aku akan ikhlas. Biarkan semua terjadi jika Engkau memang menghendaki.'
#Kanaya Setya Ningrum
...****************...
Kanaya juga Dirga keluar dari bioskop dengan bergandengan. Dirga sangat senang karena Kanaya mulai tidak membatasi kedekatan mereka.
Mata Kanaya terlihat merah karena tadi menangis saat nonton. Ternyata benar, ceritanya sangat penuh dengan haru biru yang membuat penikmatnya ikutan larut dan juga ikut sedih.
"Kita makan dulu baru pulang," Dirga menoleh namun kakinya masih terus melangkah.
Kanaya hanya mengangguk sebagai jawaban.
Dirga semakin mengeratkan tangan Kanaya yang ada di tangannya. Menggenggam seakan tak mau kehilangan, menggenggam sebagai tanda bahwa Kanaya adalah miliknya dan tak boleh ada yang mengambil darinya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Dirga setelah sampai di tempat parkir.
"Terserah Tuan saja," Lagi-lagi Kanaya hanya menyerahkan pilihan kepada Dirga. Lagian dia hanya ikut dan semua juga Dirga yang akan membayarnya.
"Kita makan nasi goreng saja, di ujung jalan ada nasi goreng enak," Keduanya berhenti di sisi motor, dengan cekatan Dirga memakaikan helm kepada Kanaya lalu memakai miliknya sendiri.
Roda-roda mulai berputar meninggalkan tempat itu. Menuju tempat selanjutnya yang akan membuat mereka kenyang.
Tak jauh, hanya sepuluh menit saja motor sudah berhenti di warung pinggir jalan yang terdapat papan nama 'Nasi goreng wenak Bu Mun'.
"Alhamdulillah," Kanaya kembali turun dan lagi-lagi Dirga yang lebih cepat melepaskan helmnya. Sementara Kanaya hanya pasrah dengan semua yang Dirga lakukan.
Kini Dirga yang berjalan di belakang Kanaya, menggiring istrinya hingga benar-benar masuk dan mencari tempat duduk.
"Bu, dua ya yang spesial. Sama minumnya dua yang hangat!" seru Dirga.
Kanaya terus memperlihatkan sekeliling, terlihat begitu banyak orang-orang yang menikmati nasi goreng buatan dari penjualnya. Melihat begitu lahapnya semua orang pasti rasanya sangat enak.
"Hem, setelah ini mau kemana? mau jalan-jalan lagi atau pulang?" tanya Dirga.
Jangankan hanya satu tempat dua tempat, keliling Semarang untuk mengenalkan semua tempat Dirga siap untuk Kanaya. Asalkan Kanaya senang apa sih yang tidak.
"Pulang saja Tuan. Sudah malam, Tuan juga pasti lelah kan," jawab Kanaya.
Kalau di tanya capek memang sangat capek tapi apapun akan Dirga lakukan demi Kanaya.
"Baiklah," Dirga pasrah.
Tak lama menunggu nasi goreng spesial yang Dirga pesan datang juga teh hangat yang di minta.
Asap yang mengepul menandakan kalau nasi goreng memang masih panas, begitu juga dengan teh yang ada di gelas bening.
"Tuan, ini banyak sekali. Aya tidak akan habis," bisik Kanaya dengan mendekatkan wajahnya pada Dirga. Dia merasa malu kalau sampai terdengar oleh orang lain.
Bukan tidak habis karena nasi gorengnya tidak enak, tapi karena Kanaya memang tak bisa makan dengan jumlah banyak.
"Di makan dulu. Nanti kalau tidak habis biar aku yang habiskan. Tenang, perutku masih muat," Dirga terkekeh.
"Tapi? nanti Tuan makan sisa dong. Kalau begitu sekarang saja di kurangin," Kanaya sudah siap mengangkat piring namun di hentikan oleh Dirga.
__ADS_1
"Tidak masalah. Cepat makan," kekeuh Dirga.
Rasa tak enak muncul dalam diri Kanaya, bagaimana mungkin dia akan memberikan makanan sisa untuk Dirga.
'Kalau begitu aku harus bisa habiskan. Kalau tidak habis? ah! tidak-tidak. Tidak baik memberikan sisa pada orang lain,' batin Kanaya.
Perlahan Kanaya mulai makan, rasanya memang sangat enak pantas saja warung itu ramai meski hanya warung kecil dan sederhana.
Satu suap dua suap hingga hampir habis Kanaya tak berhenti memakannya. Dirga terus menunggu dan mengamati meski dia juga makan kepunyaannya sendiri. Dirga menunggu Kanaya yang katanya tidak akan habis. Tapi ternyata?
"Alhamdulillah," satu piring nasi goreng itu ludes dan sekarang sudah berpindah ke dalam perut Kanaya semua.
Dirga termangu diam, katanya tidak habis tapi? ya alhamdulillah sih Dirga ikut senang tapi kalau di paksakan bagaimana kalau terjadi apa-apa pada Kanaya.
"Nay, kamu tidak apa-apa kan?" Dirga langsung khawatir karena melihat Kanaya yang terlihat berbeda, sepertinya dia menahan rasa kenyang yang amat sangat.
"Hem," Kanaya menggeleng, bertanda kalau dia memang tidak apa-apa. Dia masih kuat.
"Alhamdulillah kalau begitu," Dirga lega tapi hanya di mulut saja tidak di dalam hatinya yang sangat khawatir. Orang kekenyangan itu tidak enak kalau tidak biasa akan terasa sekujur tubuh merasa sakit semua dan itu bisa saja Kanaya mengalaminya.
"Bu," panggil Dirga setelah punyanya juga habis, "nih uangnya," Dirga langsung membayar.
"Terima kasih, Mas." begitu berterima kasih ibu itu. Terlihat begitu bahagia di sambung dengan senyum ramah mengantar kepergian keduanya.
"Kita pulang," tanya Dirga lagi. Memastikan bahwa Kanaya tidak berubah pikiran.
"Hem," Kanaya kembali mengangguk.
Benar, keduanya pulang dengan sepeda motor yang Dirga kendarai. Malam yang panjang terasa indah meski hanya sekedar jalan-jalan.
Mungkin Dirga harus lebih sering-sering mengajak Kanaya jalan seperti sekarang ini supaya mereka semakin dekat.
...****************...
Di bawah satu selimut yang sama di atas kasur yang sama keduanya sudah merebahkan tubuh mereka dengan di batasi oleh guling di tengah-tengah mereka.
Siapa yang menaruh guling di sana?
Jelas, pelakunya adalah Dirga. Dia akan lebih nyaman dengan seperti itu karena dia begitu ketakutan akan hal yang tak biasa dalam dirinya.
"Nay, apa rencana mu? Aku ingin kamu kembali sekolah atau mungkin kamu ikut kursus supaya kamu punya keahlian. Bagaimana, apakah kamu mau?" Dirga menoleh tapi hanya wajahnya saja tidak dengan seluruh tubuhnya.
"Apa harus ya, Tuan. Tapi Kanaya sudah lama tidak sekolah, bagaimana kalau gagal."
"Coba dulu, Naya. Aku yakin kamu pasti bisa berhasil," kini Dirga sudah seluruhnya mengubah posisi menjadi miring ke arah Kanaya.
"Hem, saya takut," Kanaya tidak yakin. Bagaimana kalau dia akan mengecewakan Dirga?
"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu kursus? Hal apa yang paling kamu inginkan?"
"Hem, aku lebih suka bikin baju. Aku ingin bisa menjahit," jawab Kanaya yang kini juga sudah miring ke arah Dirga. Keduanya sudah saling berhadapan.
"Kalau begitu kamu kursus saja. Besok biar aku cari tempat yang cocok untuk mu," jawab Dirga.
"Terserah, Tuan saja. Tapi kalau di suruh milih Aya lebih memilih jadi ibu rumah tangga saja. Aya tidak tergila-gila dengan karir."
__ADS_1
"Aku tau, tapi kamu juga harus punya keahlian. Oh ya! Mulai besok aku sudah kembali mengajar anak-anak lagi di masjid. Kalau kamu mau kamu bisa membantu ku," tawar Dirga.
Tentu Kanaya sangat tertarik dengan hal itu. Meski hanya menjadi guru TPA itu tetap mempunyai kepuasan tersendiri.
Apalagi bisa terus bersama anak-anak yang banyak dengan berbagai karakter itu akan sangat menyenangkan.
"Boleh?"
"Tentu boleh. Anak-anak pasti akan sangat senang," Dirga pun juga begitu antusias.
Keduanya kembali hening.
Mata Dirga tak bisa terlepas dari wajah Kanaya dan saat itu tiba-tiba gairah itu kembali hadir.
Dirga berusaha keras untuk menahannya menghembuskan nafas panjang berkali-kali karena dia yakin bisa mengendalikannya.
Matanya ingin berpaling tapi rasanya sudah terkunci dan tak bisa beralih lagi. Kenapa ini bisa terjadi?
Mata yang semakin merah, tubuh yang gemetar juga wajah yang sudah berubah membuat Kanaya tau kalau Dirga tengah menahan sesuatu.
Dengan cepat juga paksa Dirga beranjak dan memalingkan wajahnya ini harus di hentikan, pikirnya.
Dirga yang ingin pergi langsung di hentikan oleh Kanaya, Kanaya ikut duduk dan saat itu mata keduanya kembali bertemu dengan keadaan duduk dan wajah yang berhadapan.
"Lakukan jika Tuan memang menginginkannya," kata Kanaya begitu yakin.
Kata itu jelas membuat Dirga sangat terkejut. Jika Kanaya menyerah begitu bukannya dia juga menyerahkan dirinya untuk di sakiti?
"Ti_tidak, Aku tidak bisa melakukannya." tolak Dirga sembari memalingkan wajahnya. Tapi tak lama karena Kanaya menariknya lagi.
"Kalau Tuan bisa kuat merasakan sakit kenapa aku tidak! bukankah kita akan melalui ini bersama-sama?"
"Tidak, tidak! aku tidak akan bisa menyakitimu."
"Lakukan, Tuan. Aku ikhlas. Lakukanlah," suara Kanaya semakin menekankan. Meski ada semburat takut tapi Kanaya terus berusaha menyembunyikannya.
Dia merasa akan menjadi istri paling egois jika membiarkan suaminya sakit sendiri.
"Apakah ada cara lain supaya Tuan bisa tetap melakukannya tapi tidak menyakiti? apapun caranya aku akan menerimanya."
"Aku tidak tau," Dirga menunduk, gairahnya sudah semakin besar saat ini.
"Kalau begitu lakukanlah, Aya ikhlas."
Mungkin Kanaya ikhlas mendapatkan semua perlakuan Dirga, tapi Dirga yang tidak ikhlas.
Tapi gairah yang semakin membesar juga Kanaya yang tak memperbolehkan dia pergi bagaimana ini akan berakhir kecuali Dirga tidak melakukannya.
"Apakah kamu yakin?" Dirga memastikan.
"Hem," Kanaya hanya mengangguk.
"Hentikan aku jika kamu tak kuat menahannya. Pukul aku jika aku tak bisa berhenti." ucap Dirga sebelum akhirnya dia mulai menyatukan bibirnya dengan perlahan.
Awalnya sangat lembut membuat Kanaya juga ikut terlena dan menikmatinya tapi lama-lama menjadi sangat kasar membuat Kanaya sesekali memekik kesakitan.
__ADS_1
...****************...
Bersambung....