Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Kedatangan Tamu


__ADS_3

...***********...


'Hati, kenapa engkau menjadi begitu gelisah. Apa yang membuat mu seperti ini? Bagai di serang beberapa masalah yang tak tau akan masalahnya. Aku berlindung pada sang pemilik hati untuk semua yang datang ini.'


#Kanaya Setya Ningrum


_____________


Lima hari berlalu semenjak acara khataman di gelar. Di rumah Hani kebersamaan tiga bersahabat itu tengah berlangsung. Ketiganya tengah berbincang santai membicarakan acara pernikahan Wati yang tinggal menunggu hari saja.


Ada rasa bahagia, juga ada rasa sedih. Setelah Wati menikah akan berkurang kebersamaan mereka, yang jelas Wati akan ikut dengan suaminya ke desa sebelah. Ya, meski tidak begitu jauh tetapi butuh tenaga dari kaki yang kuat untuk mereka berjalan.


"Yah, kenapa buru-buru nikah sih, Wat! Apa nggak nunggu satu atau dua tahun lagi?" Hani bersuara sementara Kanaya hanya mengangguk dengan wajah masam.


"Seharusnya kamu nungguin kita ngapa. Kita nikah aja barengan. Nggak masalah ikutan nikahan masal yang penting kan sah," Imbuh Hani.


"Idih, nunggu kalian? Emangnya kalian udah tentu dalam waktu itu sudah mendapatkan jodoh!" Begitu nyinyir Wati sekarang. Kebiasaannya mulai kumat nih kayaknya.


"Ya, kan mungkin saja." Ragu-ragu Hani menjawab. Dia sendiri juga tidak yakin sih. Soal rejeki, jodoh, mati tak ada yang tau, begitu juga dengan mereka.


"Nah, itu tau." Lagi-lagi Wati menyambar cemilan yang ada di toples berbahan plastik yang Hani sediakan sebagai teman ngobrol untuk mereka. Tidak mewah sih, hanya keripik singkong yang di bumbuhi dengan bubuk cabe.


"Tapi kalau Kanaya sepertinya udah deh. Kan dia hanya butuh dua tahun menunggu kak Yuan." Kanaya seketika melirik Hani saat menyinggung soal Yuan.


Dua tahun kan hanya penyelesaian kuliah Yuan saja, belum juga dia yang berniat mencari kerja dulu sebelum menikah pasti masih lama kan?


"Belum tentu," Jawab Kanaya datar.


Seketika Kanaya menjadi murung karena ucapan tadi. Dia kembali mengingat Yuan, kenapa rasanya sangat merindukan pria itu. Seolah-olah wajahnya terus tersenyum menyambut di hadapannya.


"Kesambet kamu, Ayya!" Seru Wati yang melihat Kanaya tersenyum sendiri.


"Siapa yang kesambet?" Elak Kanaya gak mengakui. Ya bagaimana mengakui Kanaya juga tidak kesambet sebangsa jin dan bala tentaranya melainkan kesambet cintanya Yuan.


"Cie cie cie..., sepertinya lagi kangen nih. Mau aku telfonin nggak, Ayya," Goda Hani.


"Nggak usah, Han! Kang Yuan pasti sedang banyak tugas. Aku nggak mau dia jadi terganggu karena aku," Tolak Kanaya tak bersedia.


"Tidak lah, aku yakin saat mendengar suara kamu jangankan hanya tugas kampus, tugas negara juga akan di tinggal."

__ADS_1


"Tidak usah, Han," Kanaya menegaskan dalam bibirnya yang ternyata sangat berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya. Kanaya ingin mendengar suara yang selalu penuh dengan kelembutan dan kasih sayang untuknya itu. Munafik, ya! Kanaya memang merasa demikian. Karena apa yang ada di bibir sangat berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya.


"Aya! Aya! Di cariin wak Tejo suruh pulang!" Suaranya terdengar suara dari Arifin. Orang itu tidak masuk ke rumah Hani hanya berhenti di depan saja. Entah, kenapa dia tidak mau masuk.


"Iyo, Mas! Bentar!" Balas Kanaya yang berteriak juga.


Mata ketiganya langsung saling pandang menatap bingung karena ini juga jam dimana mereka akan berangkat ke kampung Lembayung sebentar lagi, lalu untuk apa Kanaya di panggil? Bahkan Kanaya juga sudah siap dengan baju kebanggaannya.


"Kenapa ya, kok aku jadi takut gini," Perasaan tak karuan di rasakan Kanaya. Tiba-tiba saja jantungnya tak beraturan mungkin karena dia tidak tau apa sebabnya.


"Sudah sana pulang dulu. Nanti kalau udah mau berangkat aku panggil," Balas Wati.


"Aya! Kamu dengar nggak sih!" Teriakan Arifin kembali terdengar.


Kanaya semakin takut, dengan perasaan yang tak menentu dia benar-benar pamit kepada Hani kuga Wati.


"Aku pulang dulu ya," Kanaya pun segera bergegas, takut kalau bukan hanya Arifin yang memanggilnya tetapi wak Tejo sendiri. Bisa berbahaya.


Saat keluar dari rumah Hani ternyata Arifin masih saja di sana. Dia menyilang kedua tangan di depan dada dan begitu dingin sembari memandang Kanaya yang perlahan keluar.


"Lama amat sih! Kamu sebenarnya dengar atau hanya pura-pura nggak dengar supaya tidak pulang!" Seru Arifin. Pria ini, selalu saja menyalahkan juga kadang menyudutkan Kanaya juga, ya contohnya seperti sekarang ini.


Kanaya terdiam saat melihat mobil yang ada di hadapan rumah wak Tejo, mobil yang sama dengan saat itu di saat dia duduk di pinggiran jalan bersama Yuan.


"Nggak usah ngelamun, ayo cepat masuk!" Lagi suara Arifin begitu besar.


"Mas, ini mobil siapa?" Tanya Kanaya. Pastilah kalau dia sangat penasaran baru kali ini di rumah kedatangan tamu yang mengendarai mobil semewah itu.


"Nanti kamu juga tau, ayo cepat masuk."


Kanaya kembali berjalan setelah tadi sempat berhenti, berjalan masuk dengan rasa sangat penasaran dengan tamu yang datang.


"Assalamu'alaikum," Salam Kanaya ucapkan saat dia masuk, berbeda dengan Arifin yang nyelonong begitu saja.


"Wa'alaikumsalam," Jawab wak Tejo dengan dua orang laki-laki yang menjadi tamu rumah itu. Yang kini duduk di hadapan wak Tejo namun kini juga tengah menoleh ke arah Kanaya.


Tatapan mata Kanaya begitu pas, bertemu dengan tatapan mata dari pria tampan yang berpakaian sangat rapi itu.


Tiba-tiba saja pria itu tersenyum kepada Kanaya tentu membuat Kanaya juga langsung membalas hal yang sama sebagai rasa sopan santunnya kepada tamu. Ya juga sebagai tanda keramahan darinya juga.

__ADS_1


Gak lama Kanaya dalam posisi itu, dia langsung kembali berjalan dan masuk.


'Subhanallah, betapa manisnya senyuman mu. Aku menginginkan kamu selalu tersenyum seperti ini, selamanya, dan hanya untukku saja. Kau hanya bisa tersenyum kepadaku dan kau harus menjadi milik ku." Batin sang pria sembari terus melihat punggung Kanaya.


"Bagaimana, Nak. Apa kamu benar-benar ingin dia yang menemani mu? "


"Wak, aku ingin dia yang menemaniku sekarang?"


"Baiklah. Aya!" Panggil wak Tejo.


Kanaya kembali keluar bahkan dia belum sempat sampai di tempat wak Ami.


"Iya, Wak. Ada apa?" Tanya Kanaya dengan ramah, ya kan emang seperti itu nada bicara Kanaya.


"Antar Tuan ini melihat kebun Wak juga bapakmu. Dia yang akan membelinya."


Mata Kanaya seketika membulat, "kebun bapak mau di jual, Wak!"


"Oh salah, maksudnya yang separuhnya. Yang kebun Wak." Jawabnya berkilah.


"Tapi, Wak. Kenapa bukan Mas Arifin saja." Sebenarnya tak enak saja, kenapa harus Kanaya, kenapa bukan Arifin atau mungkin Wak Tejo sendiri?


"Sudahlah, jangan banyak alasan. Cepat antar kan dia. Dia tidak punya banyak waktu lagi, Aya."


"Tapi, Wak? Aya harus ke desa Lembayung."


"Cepat berangkat!"


Kanaya hanya bisa pasrah, menuruti keinginan Wak Tejo yang bukan keinginannya sendiri.


"Baik, Wak." Kanaya melangkah dengan lesu, menundukkan wajahnya, "mari, Tuan."


Senyum keluar dari bibir pria itu entah siapa dia sebenarnya dan mempunyai maksud apa. Semoga saja tak ada niat buruk pada Kanaya.


*************


Bersambung.....


____________

__ADS_1


__ADS_2