Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Kedatangan Sepupu Dirga


__ADS_3

'Mimpimu juga akan menjadi mimpiku. Jika mimpimu tercapai maka kebahagiaan juga akan aku rasakan. Aku janji, semua akan sesuai dengan yang kamu impikan.'


#Dirga Gantara


...****************...


Setelah sarapan di rumah Umi Kanaya juga Dirga langsung bergegas untuk pulang. Dirga terus mengatakan kalau dia ada pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan dan itu jelas membuat Umi juga Abi tak bisa menghalangi lagi.


Sebenarnya Umi masih senang Kanaya di sana, Umi jadi ada teman ngobrol dan juga saling berbagi cerita hingga begitu lama.


"Kami pulang dulu, Mi, Bi," pamit Dirga mendahului. Menyalami kedua orang tuanya yang sudah mengantarkan sampai di depan pintu.


"Hati-hati ya, ingat! sering-sering ke sini jenguk Umi dan Abi." ucap Umi.


"Iya, Mi," jawab Dirga.


Setelah Dirga selesai menyalami giliran Kanaya yang menyalami, dengan penuh rasa hormat dan mendapatkan balasan pelukan penuh dengan rasa sayang.


Sungguh! Kanaya seperti mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Kasih sayang yang terputus karena keduanya sudah tiada dan kini di gantikan oleh kedua orang tuanya Dirga.


"Hati-hati ya, Nduk. Ingat, selalu jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah," wejangan Umi.


"Iya, Umi."


"Assalamu'alaikum," ucap Dirga dan Kanaya bersamaan. Dirga langsung berjalan dan menggiring Kanaya sampai mobil setelahnya dia yang membukanya.


"Terima kasih, Tuan," ucap Kanaya.


"Hem," hanya senyum kebahagiaan yang Dirga berikan. Apa sih yang tidak untuk Kanaya bahkan semuanya akan dia lakukan.


Sementara Umi juga Abi masih terus mengamati, mereka belum pergi sampai mobil Dirga benar-benar pergi dari sana.


"Alhamdulillah ya, Bi. Akhirnya Dirga bisa menemukan wanita yang benar-benar baik dan cocok padanya. Aku pikir Dirga akan jadi perjaka tua karena terlihat tak tertarik pada wanita," kata Umi.


"Iya, Mi. Alhamdulillah. Dulu Abi juga sempat berpikir seperti itu. Bahkan dulu Abi juga ingin mencarikan jodoh untuknya dari anak teman-teman Abi. Tapi alhamdulillah, Dirga sudah menemukannya sendiri tanpa bantuan Abi," jawab Abi.


Keduanya saling menoleh, tersenyum lalu masuk dengan Umi yang di rangkul oleh Abi. Sungguh mesra keduanya, meski sudah tua tapi kemesraan itu tak pernah luntur ataupun berkurang.


...****************...

__ADS_1


Termenung seorang diri Kanaya saat ini. Setelah dari rumah Umi Kanaya hanya di antar saja oleh Dirga ke rumah dan Dirga pergi sendiri. Entah kenapa kali ini dia tidak mengajaknya.


Rasanya sangat membosankan, semua pekerjaan sudah selesai dan masak untuk makan siang juga sudah tersaji, sekarang mau apa?


Kanaya duduk sendiri di ruang tengah, memang ada televisi di sana tapi Kanaya tak ada minat untuk menyalakannya. Tak ada Dirga sebentar saja rasanya dia sangat kesepian. Apakah mungkin Kanaya sudah mulai tergantung dengan keberadaan Dirga?


Kanaya melangkah keluar, memandangi gunung Merbabu yang terlihat sangat kecil di matanya. Dia sangat merindukan tempat itu. Tempat yang memberikan kehidupan. Tempat yang memberikan semua kenangan yang kini akhirnya dia tinggalkan.


"Seandainya kalian di sini, Hani, Wati. Pastilah aku tidak akan merasa kesepian seperti ini. Di sini tak ada siapapun yang menemani ku saat Tuan Dirga pergi," Gumam Kanaya sedih.


"Assalamu'alaikum," Kanaya cepat menoleh saat mendengar suara salam yang di peruntukan untuknya.


"Wa'alaikumsalam," meski dengan heran juga penasaran Kanaya tetap menghampiri orang itu.


Seorang gadis berhijab sama seperti Kanaya. Dia cantik, lebih tinggi juga lebih putih kulitnya di banding Kanaya.


"Mbak Kanaya ya?" tanyanya membuat Kanaya semakin bingung. Darimana dia mengenalnya? bahkan Kanaya baru pertama kali melihatnya.


"I_iya, mbak siapa ya?" tanya Kanaya.


"Perkenalkan, Mbak. Saya Muna Az-zahra. Saya sepupunya mas Dirga. Rumah saya di ujung sana. Tadi saya di hubungi mas Dirga untuk datang ke sini untuk menemani mbak Naya," terangnya memperkenalkan.


"Tidak apa-apa, Mbak. Tapi ya, kok mbak manggil mas Dirga dengan panggilan Tuan sih! panggil Mas atau apa gitu dong mbak biar sedikit mesra. Kalau panggil Tuan nanti kalau ada orang lain dengar di kira mbak adalah asisten rumah mas Dirga lagi," ternyata Muna banyak bicara juga.


Pasti akan sangat menyenangkan untuk Kanaya bisa ada teman seperti Muna. Tak akan kesepian lagi. Kalau di lihat-lihat umurnya juga sama seperti Kanaya. Bisa 18 atau 19 tahun.


"Hem," Kanaya hanya tersenyum, yang di katakan Muna memang benar membuat Kanaya terdiam sesaat. Mungkin sedang mempertimbangkan.


"Duduklah di sini dulu, biar aku ambilkan minum," Kanaya pamit setelah sampai di ruang tengah Muna juga langsung menurut padanya.


Tak lama Kanaya kembali keluar dengan membawa nampan berisi dua cangkir berisi teh juga satu toples kecil berisi Keripik pisang.


"Malah jadi ngerepotin mbak Naya kan?" Muna merasa tak enak sementara Kanaya menggeleng dengan tersenyum kecil.


"Tidak," jawabnya singkat.


"Oh iya mbak. Mulai nanti aku juga di minta bantuin mas Dirga loh untuk ngajarin anak-anak di masjid. Kata mas Dirga biar mbak ada teman ngobrolnya juga. Tapi maaf ya mbak kalau misalnya aku banyak bicara. Aku memang sedikit ceriwit, hehe," Muna meringis sendiri karena pujian untuknya sendiri.


Memang benar sih.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau begitu, semakin banyak yang ngajarin anak-anak pasti mereka akan semakin semangat," Kanaya merasa sangat senang.


Ternyata Dirga memikirkan segalanya. Bahkan saat dia pergi dia juga meminta sepupunya untuk datang menemani. Dirga pasti tau kalau Kanaya akan sangat kesepian jika sendiri di rumah.


Begitu banyak yang di lakukan Kanaya juga Muna, mereka saling berbagi cerita dan pengalaman. Ternyata Muna berumur 19 tahun dan sekarang tengah menjadi mahasiswa.


Sekilas ada rasa ingin di hati Kanaya, bisa merasakan menjadi seorang mahasiswa dengan segudang tugas yang di berikan. Bisa merasakan punya banyak teman dari segala penjuru, pasti akan sangat menyenangkan.


Kanaya terdiam membayangkan, kalau itu benar-benar terjadi padanya pastilah dunianya akan berubah. Dari Kanaya yang hanya santai-santai saja di rumah aja menjadi Kanaya yang super duper sibuk karena mengerjakan semua tugas.


Tapi, apakah bisa Kanaya membagi waktunya? membayangkan saja udah sangat ribet, tapi pasti juga menyenangkan.


"Mbak, mbak kenapa?" tanya Muna mengejutkan lamunan Kanaya.


"Hah!" Kanaya terkesiap dan langsung tersadar.


"Mbak pasti pingin juga ya jadi mahasiswa? nanti aku bilang deh sama mas Dirga."


"Eh, jangan! jangan bilang sama Tuan Dirga. Aku sudah terlalu banyak ngerepotin dia, mbak. Aku nggak mau semakin menjadi beban untuknya," elak Kanaya.


"Mana ada, Mbak. Mbak tau? mas Dirga itu adalah tipe orang yang royal untuk pasangannya. Dia akan memberikan apapun yang menjadi keinginan pasangannya selama itu adalah hal positif. Jadi yakin deh, kalau mas Dirga tau mbak pengen jadi seorang mahasiswa juga dia pasti akan mengabulkan itu." ucap Muna.


Entah sejak kapan sepasang mata terus mengamati keduanya saat mengobrol. Bibirnya mengulas senyum melihat Kanaya, siapa lagi kalau bukan Dirga yang sudah pulang. Tapi dia tetap diam dan ingin mendengar semuanya.


"Nanti biar Muna bilang deh sama mas Dirga."


"Jangan ya, Please. Kalau kamu beneran bilang aku tidak mau bertemu dengan mu lagi." ancam Kanaya.


"Lah, kenapa begitu?"


"Ya! ya itu keputusan mu."


Dirga semakin tersenyum karena Kanaya yang terus menolak Muna. Tanpa Muna mengatakan Dirga juga sudah mendengarnya.


'Satu persatu keinginan mu pasti akan terwujud, Nay. Aku janji. Mulai saat ini tidak akan ada yang bisa merendahkan mu. Kamu akan sukses dan berjaya di kemudian hari.' batin Dirga.


...****************...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2