
...*******...
Kehamilan Kanaya yang sudah tidak lama lagi akan sampai hari persalinan membuat Dirga sudah siap untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Dia sangat berharap kali ini dia tidak akan gagal.
Sebenarnya masih sangat takut tapi mengingat yang terjadi padanya tidak semakin membaik menjadikan tekat itu sangat besar di hati Dirga. Perasaan takut jika dia akan terlambat mengatakan pada Kanaya di saat dia benar-benar tak lagi bisa karena tak ada kemampuan lagi.
Di dalam ruang kerjanya Dirga mengambil kertas hasil dari rumah sakit yang pertama kali memberikan berita buruk itu padanya. Air matanya merembes tanpa tau apa sebabnya. Yang jelas hatinya sangat berat.
''Apakah kamu akan marah setelah tau, Nay?'' Dirga juga sangat takut, bukan takut karena Kanaya akan marah dan kecewa saja padanya tapi dia sangat takut kalau akan terjadi sesuatu pada Kanaya.
Hatinya begitu kalut, dia sangat berduka padahal dia sama sekali belum mengatakannya. Bagaimana setelah dia berhasil mengatakan segalanya?
Di usap air matanya dengan perlahan, dia harus kuat karena dia tak akan bisa membuat Kanaya tenang nantinya jika dia sendiri sangat rapuh seperti sekarang ini.
__ADS_1
Belum juga Dirga beranjak dari tempatnya air matanya kembali mengalir, tangannya terangkat menyentuh rambutnya sendiri yang ternyata sudah habis.
Semua yang ada sekarang hanya kepalsuan karena itu hanya sebuah rambut palsu yang dia beli secara khusus supaya Kanaya tidak tau kalau ternyata dia tak lagi memiliki rambut.
Sebenarnya bukan pada rambutnya saja yang tak lagi bisa dia pertahankan tapi tubuhnya juga, dia terlihat begitu kurus kering tak seperti dulu lagi.
Duka Dirga semakin besar seiring tangan melepaskan rambut palsu itu dan memperlihatkan kepalanya yang sudah botak dan tak ada satupun rambut yang tersisa.
''Maafkan Mas, Nay. Mas tidak bisa mempertahanka_nya. Mas sudah terus berusaha dengan berbagai pengobatan tapi ternyata Allah belum mengizinkan Mas untuk sembuh,'' ucapnya pilu.
Tangisan Dirga begitu pecah, dia sangat tak berdaya sekarang. Tubuhnya lemas seiring dengan air mata yang terus mengalir juga tangan yang mencengkram rambut palsu yang dia buat sama persis seperti rambutnya sendiri yang dulu.
Ditatapnya dengan penuh duka, kenapa harus seperti ini jalannya. Dulu waktu awal menikah masalah besar terjadi padanya dan karena itulah yang membuat dia harus berjuang keras.
__ADS_1
Beberapa bulan saja dia merasa bahagia dan menjadi laki-laki paling bahagia dan beruntung saat itu masalah yang lebih besar kembali datang padanya.
Hasil dari rumah sakit mengatakan dia menderita sakit kangker otak, dan ternyata itu juga buntut dari penyakit yang Dirga alami sejak awal pernikahan. Dia yang berusaha menahan hingga di suatu titik yang paling tertinggi ada selaput darahnya yang pecah tanpa dia ketahui hingga akhirnya hal itulah yang menyebabkan kangkernya sekarang.
Sekarang Dirga hanya bisa berserah kepada Sang Pencipta akan akhir dari semuanya. Entah penyakitnya yang akan berakhir atau mungkin kisah hidupnya yang akan berakhir.
''Ya Allah, jika Engkau memang akan berkehendak lain dari apa yang aku inginkan saya mohon, tetap bahagian Nayaku, dan izinkan aku minta maaf dan bisa mengatakan semua ini padanya terlebih dahulu.''
Harapan yang sangat sederhana tapi akan sangat susah untuk dia sendiri lakukan bahkan sampai di detik ini saja dia belum berhasil mengatakan pada istri tercintanya.
Dirga terus berusaha untuk memantapkan hatinya untuk bisa berkata jujur pada Kanaya saat ini juga. Berkali-kali dia menghembuskan nafas panjang dan juga terus beristighfar. Kekuatanlah yang dia cari untuk saat ini.
Hingga akhirnya dia benar-benar telah bisa menata hati dan siap untuk memakai rambutnya lagi tiba-tiba pintu terbuka. Dirga sangat terkejut dan saat itu rambutnya bukannya terpasang ada kepalanya tapi malah terjatuh di lantai.
__ADS_1
''Na_Nay....
*******