Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Mahabah Dirga


__ADS_3

'Terimalah cinta ku, terimalah kasih sayang ku yang nyata meski dengan cara yang salah. Maafkan aku.'


#Dirga Gantara


...****************...


"Eh, ada Nak Dirga." Wak Tejo keluar dari rumah, niatnya mau ke kebun tetapi jadi urung karena melihat Dirga yang datang.


Dirga seketika menoleh ke arah Wak Tejo. Berjalan menyambutnya dan menyalaminya dengan hormat.


Sementara Kanaya masih terus diam, dia juga terus melihat pergerakan Dirga. Kenapa rasanya sangat susah untuk berpaling darinya. Kanaya sendiri bahkan sangat bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.


"Assalamu'alaikum, Pak." sapa Dirga seiring dengan tangan yang menyalami wak Tejo.


"Wa'alaikumsalam, masuk masuk!" ajak wak Tejo. Tangannya langsung menggandeng lengan Dirga dan memintanya untuk masuk.


"Kamu piye toh, Aya! ono tamu kok nggak di ajak masuk," omelnya yang mengarah ke keponakannya yang masih saja terus terdiam.


"Ini bukan salah Naya, Pak. Saya yang masih enak menikmatinya udara sejuk di sini," bela Dirga. Tak rela jika Kanaya di salahkan. Dirga akan selalu melindungi Kanaya meski itu dari wak_nya sendiri. Itulah yang menjadi janjinya sebelum dia bisa memiliki Kanaya seutuhnya.


"Kamu itu memang anak baik. Yuk masuk," ajaknya lagi.


Begitu senang wak Tejo akan kedatangan Dirga yang kini semakin sering. Wak Tejo tau, kedatangannya bukan untuk masalah pembelian kebunnya tetapi karena Kanaya. Karena masalah jual kebun itu hanya akal-akalan Wak Tejo untuk bisa mendekatkan Kanaya dengan Dirga.


Tak mau larut dalam lamunannya Kanaya ikut masuk. Kini dia merasa begitu senang, dia begitu suka rela membuatkan minum untuk Dirga tanpa di suruh.


"Ayya, kamu baik-baik saja toh?" wak Ami angkat bicara. Bingung. Bagaimana tidak bingung, tak seperti biasanya Kanaya seperti ini saat kedatangan Dirga. Biasanya Kanaya akan memilih sembunyi bahkan pergi ke rumah Hani atau Wati. Tapi sekarang?


"Emang kenopo toh, Wak? Aya baik-baik saja kok," jawabnya dengan tangan sibuk membuat minum untuk Dirga yang sekarang tengah berada di ruang tengah bersama wak Tejo juga Arifin.


Tak hanya satu Kanaya membuat minum, melainkan tiga.


Kanaya tersenyum ke arah wak Ami sebelum dia membawa keluar nampan yang sudah berisi tiga cangkir yang penuh dengan teh hangat.


"Ya Allah, ono opo iki. Kok aku nggak tenang ya?" gumam wak Ami. Merasa ada yang aneh dengan perubahan Kanaya bahkan juga dengan kedatangan Dirga di pagi-pagi hari seperti ini.


Wak Ami menoleh sebentar ke arah Kanaya, dan hanya punggungnya saja yang bisa di lihat.


Sementara Kanaya sudah sampai di ruang tengah, meletakkan nampan di atas meja dan menurunkan cangkir satu persatu.


Hati Dirga begitu berbunga-bunga. Dia bisa melihat Kanaya yang tersenyum manis untuknya. Tak seperti kemarin yang terus berwajah acuh dan dingin di hadapannya.

__ADS_1


"Di minum, Nak. Maaf, hanya teh saja yang bisa kami berikan," ucap Wak Tejo.


"Tidak apa-apa, Pak. Ini sudah lebih dari cukup," jawab Dirga.


Bagaimana tidak cukup, tak ada minum apapun tapi di suguhi senyuman Kanaya saja sudah membuatnya senang dan akan betah berada di sana. Apalagi Kanaya terlihat tak menolak akan kedatangannya.


'Sepertinya yang aku lakukan telah berhasil. Maaf aku, Naya. Maafkan hamba-Mu ini ya Allah. Maaf jika yang saya lakukan ini menyalahi takdir-Mu,' batin Dirga seraya memandangi Kanaya yang hendak beranjak.


"Jangan masuk, Aya. Tetaplah di sini. Ada yang mau di bicarakan oleh nak Dirga," pinta Wak Tejo.


"Hem?" Kanaya bingung namun akhirnya dia duduk setelah tangannya di tarik oleh Arifin.


"Di bilang duduk yo duduk!" ucap Arifin dengan pergerakan yang nyata. Menarik tangan Kanaya.


Dirga menoleh sekejap saat Arifin berlaku sedikit kasar pada Kanaya. Hatinya sangat gak rela melihat gadisnya di perlakukan seperti itu. Dia ingin marah, tetapi tidak! dia harus bisa mengontrol emosinya. Tak lama lagi dia akan membawa Kanaya_nya pergi dan menjauh dari keluarga yang selalu kasar padanya.


"Begini, Aya. Kedatangan Nak Dirga ke sini sebenarnya punya maksud tertentu untuk mu. Dia melamar mu pada Wak. Dia ingin menikahi mu," ucap wak Tejo.


Deg...


Kanaya terdiam, namun matanya langsung melihat ke arah Dirga yang tersenyum malu namun penuh harap Kanaya akan menerima lamarannya.


Dalam hati Dirga terus berseru sebuah amalan, merapalkan sebuah mahabah untuk bisa saja meluluhkan hati Kanaya dan bisa membuatnya di terima.


Cara yang salah sudah di lakukan oleh Dirga. Tak membayangkan lagi bagaimana dampak akhirnya. Tak peduli lagi dia akan di benci Kanaya sendiri atau mungkin di benci Sang Pencipta nya.


Hatinya sudah tertutup akan cinta, begitu memuja cintanya hingga dia berbuat berbagai cara untuk bisa mendapatkan cintanya.


Setan apa yang telah merasuki hati dan akal pikirannya, hingga dia melupakan semua batasan.


Tak lagi berfikir akan dampak buruk, yang dia pikir hanyalah dia bisa menjadikan Kanaya miliknya seutuhnya.


'Kanaya Setya Ningrum' di selipkan nama Kanaya di tengah-tengah mahabahnya. Dan sangat dia yakin kalau hati Kanaya akan luluh, dan akan langsung menerimanya.


Sementara di hati Kanaya, terdapat pertarungan hebat antara menerima dan menolak. Di hati kecilnya dia terus berontak untuk menolak, tapi akal pikirannya terus berseru untuk menerima.


Ternyata mahabah Dirga belum juga sampai di hati terdalam milik Kanaya. Meski sudah meluluhkan semuanya tetapi tidak dengan hati nurani Kanaya.


"Bagaimana, Aya. Apakah kamu menerimanya?" tanya Wak Tejo.


"Kamu harus terima, kalau tidak maka aku yang akan langsung mengawinimu tanpa menikahimu terlebih dahulu," bisik Arifin. Begitu gila memang Arifin, bahkan dia memberikan ancaman tak bermoral pada sepupunya sendiri.

__ADS_1


Tentu Kanaya langsung terbelalak. Ancaman Arifin sangat membuat dia takut. Bagaimana kalau benar Arifin melakukannya.


"Gila kau, Mas!" mata Kanaya melotot.


"Makanya, terima saja. Kalau tidak tunggu saja nanti apa yang akan aku lakukan padamu. Aku akan gauli kamu saat ibu dan bapak pergi ke kebun. Dan akan aku pastikan kamu akan di permalukan saat kamu mengandung anak tanpa adanya status pernikahan," Benar-benar tak punya moral si Arifin.


"Do bisik-bisik opo toh?" tanya Wak Tejo.


"Bukan opo-opo kok, Pak." jawab Arifin.


Wak Tejo mengangguk dia percaya begitu saja dengan apa yang di katakan oleh anaknya. Padahal yang di ucapkan tadi pada Kanaya sungguh kata-kata yang tak pantas.


"Bagaimana, Aya. Apa kamu menerimanya?" tanya wak Tejo.


Semakin berperang hati Kanaya sementara Dirga semakin kuat merapalkan mahabah dalam hatinya. Menyebutkan nama Kanaya hingga puluhan kali bahkan ratusan kali.


"Hem," Kanaya mengangguk. Dia seakan tak sadar pada dirinya sendiri. Hati nuraninya mengatakan tidak tetapi anggota tubuh yang lain mengatakan iya, bahkan dia tak sadar kalau dia sudah menerima pinangan Dirga.


"Alhamdulillah," seru wak Tejo senang.


Sementara Arifin nyengir bahagia, ancamannya berhasil, pikirnya. Sementara Dirga, Dia juga berseru senang di hatinya. Akhirnya usahanya membuahkan hasil.


...****************...


Di Jogja...


Begitu gelisah Yuan sekarang. Kuliahnya tak bisa fokus, dia tak mengerti kenapa hatinya begitu gelisah seperti sekarang.


Dalam pikirannya hanya ada Kanaya, tapi kenapa? apa yang terjadi pada gadisnya. Kemarin dia baik-baik saja dan tak ada gelagat aneh. Jadi tak mungkin dia sakit atau apa.


"Astaghfirullah, apa yang terjadi. Ada apa denganmu, Ayya. Ya Allah, lindungi Kanaya ku. Jangan sampai ada hal buruk yang terjadi padanya." gumam nya.


Dalam hati kecil Yuan bukan hanya rasa gelisah yang datang, tapi juga ketakutan akan kehilangan.


Doa untuk kebaikan terus Yuan serukan dalam hati. Berharap akan kebaikan dari semua takdir yang akan terjadi padanya juga Kanaya_nya.


"Ya Allah, hamba memohon takdir terbaik untuk kami," gumamnya.


...****************...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2