
...****************...
Zein begitu buru-buru ke rumah sakit setelah mendapat pesan dari Safira. Tanpa pikir panjang dia langsung meluncur dan meninggalkan Muna yang sedang kuliah di kampus.
Zein begitu sangat antusias karena dia sudah sangat tidak sabar untuk mengetahui kebenaran, tapi dalam hatinya di terus berdoa semoga tidak ada yang serius dari Dirga.
"Semoga ketakutan ku tidak nyata, Ga." gumam Zein.
Kali ini Zein memang tidak mengendarai mobil melainkan motor jadi dia akan semakin mudah untuk melaju.
Sementara Safira yang ada di rumah sakit dia sangat penasaran Siapa yang telah mengkonsumsi obat yang telah diberikan oleh Zein padanya. Safira sudah tahu itu bukanlah hanya sembarang obat dari penyakit biasa melainkan dari penyakit kanker.
"Sebenarnya siapa yang sakit, kasihan sekali. Dia sedang sakit kenapa malah menyembunyikan penyakitnya dari semua anggota keluarga seharusnya dia mengatakan dengan jujur supaya keluarga bisa selalu mendampingi dan memberikan dukungan supaya dia secepatnya sembuh."
Bukan hanya Safira saja tetapi siapapun jika mengetahui hal itu pasti akan mengatakan hal yang sama, tidak benar jika menyembunyikan penyakit sebesar itu dari keluarga kalau mereka tahu dan sudah terjadi sesuatu padanya pasti keluarga sangat menyesal.
"Semoga saja orang-orang yang aku kenal dan orang yang selalu ada di sekelilingku tidak akan pernah mengalami hal ini. Ini semua menakutkan meski sebenarnya bisa disembuhkan, tetapi kemungkinannya sangat kecil apalagi jika sudah parah dan menyebar."
"Assalamu'alaikum, Dok," Zein langsung masuk ke ruangan Safira dengan sangat buru-buru. Jelas dia sudah sangat tidak sabar untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi kepada Dirga.
"Wa'alaikumsalam," Safira langsung menoleh dengan sangat cepat dia juga sudah menunggu dari tadi dan setelah Zein pergi dia juga akan pulang karena waktu kerjanya sudah habis.
Zein juga langsung duduk di hadapan Safira dengan sangat tidak sabar dan begitu gelisah tentunya. Bagaimana tidak pasti beritanya sangat besar dan sangat menakutkan. Zein terus berpikir seperti itu.
__ADS_1
"Bagaimana, Dok?"
"Mungkin benar, teman kamu itu menyembunyikan semua ini karena tidak mau sampai keluarganya sedih. Tapi seharusnya dia juga tidak boleh menyembunyikannya. Mungkin dia benar-benar berada dalam dilema sekarang."
"Memangnya obat itu obat penyakit apa, apa penyakit yang serius?"
"Hem, bahkan sangat serius. obat yang kemarin itu adalah obat dari penderita kanker. Kemungkinan besar dia menyembunyikan oleh keluarganya karena tidak ingin keluarganya sedih atau mungkin ada alasan lain yang benar-benar membuat dia harus merahasiakannya."
"Ka_kangker?" pekik Zein tak percaya.
Bagaimana bisa ini terjadi pada Dirga?
Tubuh Zein seketika merasa sangat lemas setelah mendengar kepastian itu dari Safira. Jelas dia tidak percaya.
Membayangkan saja sudah sangat mengerikan.
Sekarang Zein tau alasan Dirga menyembunyikannya, yaitu karena Kanaya yang sedang hamil dan juga Abi_nya yang kesehatannya sedang kurang baik.
"Kalau boleh tau, siapa dia?" tanya Safira yang sangat penasaran. Meski tidak mungkin dia kenal tapi tetap saja rasa penasaran itu sangat besar.
Zein masih terdiam seolah gak mampu untuk berkata-kata lagi. Tubuhnya benar-benar sangat lesu tak berdaya seolah kehilangan kekuatannya.
"Mas Zein, Mas," panggil Safira dan kini berhasil menyadarkan Zein.
__ADS_1
"Ya!" Zein terperanjat.
"Apakah salah satu keluarga mas Zein yang mengonsumsi obat ini?" tanya Safira.
Zein tanpa sadar mengangguk.
"Hanya saran, mas katakan padanya untuk jujur pada semua keluarga. Supaya dia ada yang terus mendukung dan mendampingi jadi tidak akan merasa sendiri."
"Keluarga adalah kekuatan terbesar untuknya. Meski keluarganya akan sedih saat pertama kali mendengar tapi mereka akan lebih sedih jika sampai terjadi sesuatu padanya dan dan mereka tidak tau."
"Kalau semuanya sudah terlambat pasti keluarga akan semakin menderita dan akan merasa sangat menyesal."
"I_iya, Dok. Saya akan katakan padanya. Ta_tapi... bisa di sembuhkan kan, Dok?"
"InsyaAllah bisa. Asal dia terus berobat dengan rutin dan juga menjaga dengan benar keadaan dirinya. Kalau memang memungkinkan bisa mengikuti kemoterapi."
"Alhamdulillah, semoga saja dia bisa sembuh."
Mendengar bahwa penyakit itu bisa di sembuhkan Zein merasa sangat senang. Setidaknya ada harapan untuk Dirga sembuh.
...****************...
Bersambung.....
__ADS_1