
'Maafkan aku yang telah melukai hatimu. Maafkan aku yang begitu bodoh hingga gak mau mendengar penjelasan mu. Maaf, maaf, maaf.'
#Hani
...****************...
Tangis Kanaya begitu pecah seiring dengan langkah kaki yang terus berlari menjauh dari rumah Hani dan menuju kebun di mana dia biasa bertemu dengan Yuan.
Dia sangat berharap, kalau dia akan bertemu dengan Yuan saat ini. Berharap bahwa Yuan akan datang dan menghiburnya, menghilangkan rasa sakit juga kebingungan yang ada dalam hatinya.
Bruk...
Kanaya terjatuh saat kakinya keserimpet dengan rok nya sendiri saat dia berlari. Tentu lutut juga kedua telapak tangan akan merasa perih saat mengenai kerikil-kerikil kecil yang sebagian menempel di telapak tangannya.
Hiks hiks hiks....
Tangis Kanaya semakin pecah. Hatinya begitu rapuh juga begitu hancur karena kenyataan juga karena perkataan dari Hani barusan.
Mungkin dia memang jahat, dia memang tega karena tak mengatakan terlebih dahulu pada Hani ataupun pada Yuan. Tapi mau bagaimana? bahkan dia sendiri juga tak tau apa-apa karena dia juga begitu spontan menjawabnya.
Luka di telapak tangan juga di lututnya tak sebanding dengan hatinya, hatinya benar-benar sangat sakit.
Kanaya beranjak, membersihkan kerikil-kerikil nakal yang menempel kemudian dia kembali berlari. Kini langkahnya semakin cepat dari sebelumnya. Kanaya sudah tak sabar ingin bisa bertemu Yuan meski dia sendiri tak yakin.
Rumput-rumput liar Kanaya terjang begitu saja. Tak peduli lagi dengan kakinya yang akan tergores oleh tumbuhan ilalang atau mungkin putri malu yang tubuh liar.
Kanaya hanya terfokus pada satu tempat saja, melainkan kebun yang menjadi tempat paling nyaman saat bersama Yuan. Tempat yang bisa melihat pemandangan alam juga dapat melihat desa Ambung dengan sangat jelas.
Sampailah di kebun yang Kanaya tuju, tubuhnya ambruk begitu saja di pojok kebun yang benar-benar memperlihatkan desa Ambung, lebih tepatnya rumah Yuan.
Matanya terus mengamati, rumah yang kini terlihat tertutup. Apakah mungkin memang tidak ada orang? apakah benar saat ini Yuan tidak ada di rumah dan tidak akan datang?
"Kang, sekarang Ayya harus bagaimana?" tanyanya pada diri sendiri. Tak ada siapapun di sana kecuali dirinya sendiri yang di temani semilir angin yang membawa luka Kanaya.
Benarkah membawa sebuah luka? atau mungkin malah mendatangkan lagi luka yang baru?
"Aya kangen, Kang." ucapnya lagi yang sudah terduduk lemas.
Ternyata tak ada siapapun yang datang, bahkan Yuan pun tidak. Benarkah dia memang tak pantas bersanding dengan orang-orang yang sayang padanya?
__ADS_1
Pikiran Negatif terus menggerayangi otaknya. Dia takut jika semua akan terjadi.
"Ayya takut, Kang." ucapnya yang kian tersedu.
Jawaban yang sudah di berikan kenapa rasanya sangat sudah untuk di ubah lagi. Kanaya ingin mencabut lagi kata-kata itu tetapi kenapa rasanya tak bisa. Sekedar mengatakan 'Tidak' saja dia tak mampu.
Sedikit dia mengingat akan Yuan, tapi tidak dengan semua harapan besar padanya. Hanya terselip kecil saja Yuan di hatinya, tapi tetap tak mampu mengubah semua yang telah terjadi kepadanya.
"Kenapa tak ada yang mau mengerti. Aku, aku ingin menolak tapi tidak bisa."
"Semua begitu cepat. Bahkan aku sendiri tidak tau apa yang terjadi padaku. Apa yang terjadi padaku, kenapa aku jadi seperti ini. Arghh!!" Kanaya berteriak frustasi, menunduk dan terus memukuli kepalanya sendiri dengan kedua tangannya.
"Maafkan Aya, Kang. Maafkan Aya!" semakin pecah tangisnya sekarang. Kanaya benar-benar tak mampu menahan luka juga lika-liku perjalanan hidupnya yang sangat membuatnya pusing.
Plukk...
"Jangan sakiti dirimu sendiri, Aya. Jangan! Maafkan aku, maafkan kata-kataku yang telah menyakitimu, Maaf!"
Hani datang dan langsung memeluk Kanaya begitu saja dari samping, menghentikan gerakan kedua tangannya yang menyakitinya sendiri.
Kanaya tetap berontak, dia tetap ingin menyiksa diri ya sendiri meski Hani sudah menahannya.
"Lepasin, Han. Lepasin aku! menjauhlah diriku, aku tak pantas di sisi kalian semua, aku tak pantas! aku jahat aku memang tega, Han. Pergi!" usir Kanaya.
"Tidak, Aya. Aku tidak akan pergi. Aku menyesal, Aya. Jangan hukum aku seperti ini," Hani pun akhirnya ikut merasa kesedihan yang Kanaya rasakan meski dia tak tau luka yang seperti apa yang sebenarnya terjadi.
"Pergi, Han! Aku tidak pantas menjadi temanmu," Kanaya tetap berusaha mendorong Hani tetapi kerapuhan Kanaya sekarang membuat dia kalah dari Hani hingga berakhir Hani_lah yang memeluk Kanaya.
Tangisan pecah dari keduanya, saling berpelukan dan saling menuntaskan luka yang mungkin bisa keluar.
...^^^*********^^^...
Terduduk berdua di pinggiran kebun Hani dan Kanaya sekarang, setelah keduanya lebih tenang dan bisa saling berbicara dengan tangis yang sudah reda.
Menghadap ke arah desa Ambung berharap akan melihat Yuan yang tengah beraktivitas di sana. Padahal Kanaya sendiri tau, ini hari aktif dan Yuan pasti sedang kuliah tapi apa salahnya jika harapan itu ada.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Ay?" Hani menoleh, kali ini dia ingin mendengarkan semua penjelasan dari bibir Kanaya secara langsung.
Dia akan menahan semua kata-kata yang sebenarnya masih bersarang dalam benarnya.
__ADS_1
"Aku juga tidak tau, Han. Aku juga bingung kenapa aku bisa menerima begitu saja."
"Apakah wak Tejo atau Mas Arifin memaksa mu?" semakin penasaran Hani sekarang.
Kanaya diam tak menjawab. Meski tidak secara langsung tetapi wak Tejo sebenarnya ikut andil dalam hal ini. Jika Kanaya tidak menerimanya mungkin dia juga akan memaksanya.
Sementara Arifin, jelas-jelas dia memaksanya. Bahkan juga memberikan penekanan yang begitu menjijikkan.
"Dasar mereka ya, aku sudah tebak mereka pastilah pelakunya. Sebenernya apa sih yang mereka inginkan?" Hani terlihat sangat kesal. Meski Kanaya tak mengatakannya tetapi bungkamnya Kanaya sudah menjadi jawaban untuknya.
"Han, bisakah aku minta tolong?"
"Apa yang bisa aku tolong?" tanya Hani.
"Tolong telfon Kang Yuan. Aku ingin bicara padanya. Aku ingin mengatakan semuanya padanya. Jika dia benar-benar menyukaiku, aku ingin Kang Yuan datang melamar ku sebelum pernikahan terjadi. Aku mohon bantu aku, Han." pinta Kanaya.
Ternyata kesadarannya yang penuh masih dia dapatkan. Rupanya mahabbah Dirga belum benar-benar menguasainya.
"Oke," cepat Hani mengambil ponselnya sendiri, cepat menghubungi Yuan yang tengah berasa di jarak yang jauh.
Tut... tut... tut...
Berkali-kali ponsel memanggil tetapi tak ada respon sama sekali. Mungkinkah Yuan tengah sibuk sekarang?
"Gimana, Han?" Begitu berharap Kanaya saat ini, berharap bahwa dia akan bisa berbicara dengan Yuan dan mengatakan semua yang menjadi keinginannya.
"Tidak di jawab," Hani menggeleng lemas, "tapi akan aku coba lagi."
Begitu gelisah Kanaya menunggu tetapi sampai berkali-kali panggilan di lakukan tetap tak ada respon sama sekali.
Lemah, itulah Kanaya saat ini. Keinginannya tidak terkabul.
"Aya! Kanaya!" belum juga Yuan mengangkat telponnya suara Arifin begitu menggema. Dari mana dia tau kalo Kanaya ada di sana?
"Beneran kan kamu di sini. Cepat pulang, itu Dirga sama orang tuanya datang ingin menemui mu!" seru Arifin kalau melihat Kanaya yang sangat terkejut di tempat bersama Hani.
...*********...
Bersambung....
__ADS_1