
********
Begitu senang warga Merbabu ketika melihat wa Ami telah pulang dengan sehat dan juga terlihat begitu bahagia. Mereka semua menghampiri dan juga menyapa wa Ami yang baru saja turun dari mobil Dirga.
Tentu bukan hanya para warga yang senang tetapi juga wa Ami sendiri dia lebih bahagia lagi daripada mereka semua. Akhirnya setelah lama dia pergi dari desa tersebut kini bisa kembali dan melihat semuanya masih sama seperti saat dia pergi meninggalkan tempat itu dulu.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa bertemu lagi dengan wak," salah satu warga menyapa, menyalami dan juga langsung memberikan pelukan hangat kepada wa Ami.
Rasanya sangat bahagia karena kedatangannya masih disambut baik oleh semua orang, mereka semua masih tetap sama masih selalu baik kepadanya dan juga tidak pernah enggan meski dulu anaknya selalu saja membuat masalah bagi mereka semua.
"Wak apa kabar, sudah sangat lama kita tidak bertemu dan Wak terlihat lebih segar sekarang bahkan lebih gemuk kan. Wak pasti sangat bahagia tinggal bersama Kanaya dan juga suaminya."
Bagaimana mungkin tidak bahagia kalau bisa tinggal bersama dengan pasangan yang begitu baik seperti Kanaya dan juga Dirga. Meski mereka bukanlah anak-anaknya tetapi mereka berdua selalu memperlakukan wak Ami seperti ibu kandungnya sendiri.
Kasih sayang mereka melebihi kasih sayang yang selalu dia berikan kepada Kanaya bahkan juga melebihi kasih sayang anaknya sendiri untuk dirinya.
"Hem," wa Ami tersenyum simpul dia seolah sangat enggan untuk menjawab kalau dia memang benar-benar sangat bahagia tinggal bersama mereka tetapi wa Ami takut kalau nanti dalam perkataannya ada yang salah.
Bukan hanya wak Ami saja yang disambut baik oleh mereka semua tetapi Dirga pun juga bahkan pak Danu selaku sopirnya juga disambut dengan baik. Itulah keramahan dari orang-orang sana yang membuat Dirga begitu tersanjung saat datang dan juga sangat senang dari sejak pertama datang sampai saat ini.
Semua orang terlihat menyanjung Dirga yang begitu baik dan ramah kepada semua orang tidak ada perbedaan dari si A maupun si B semua Dirga perlakukan sama dengan hormat.
"Selamat datanglah nak Dirga," sapa salah satu dari mereka yang terlihat sudah sangat tua. Jalannya sudah tertatih untuk menyapa Dirga sontak Dirga langsung menghampiri orang tersebut dan menyalami lebih dulu.
"Terima kasih, Nek," jawab Dirga dengan begitu sopan.
"Loh, Kanaya tidak ikut nak?" begitu berharap mereka semua untuk bisa melihat Kanaya yang tidak diajak oleh Dirga. Mungkin mereka sangat merindukan Kanaya yang dulu begitu mereka sayang.
"Tidak, Nek," Dirga menjawab singkat dan tidak mau menjelaskan kenapa dia tidak mengajak Kanaya tentu karena kehamilan Kanaya.
Mereka tidak bertanya lebih jelas lagi kenapa tidak mengajak Kanaya mereka semua sangat menghormati keputusan Dirga yang tidak mengajak anaknya, mungkin karena ya sedang ada pekerjaan, Hanya itu yang bisa mereka pikirkan.
__ADS_1
Setelah mereka selesai saling menyapa wa Ami segera pamit dan mulai melangkah untuk segera kembali ke rumahnya.
Dia sudah begitu merindukan rumah yang sudah lama dia tinggalkan. Semoga saja meski dia tidak ada rumah itu tetap terawat dengan baik, itulah harapannya.
Rumah terlihat sepi bahkan pintu juga tertutup seolah tidak ada penghuni yang ada di dalam. Meski seperti itu wak Ami tetap masuk untuk mengetahui apakah benar ada dan tidaknya orang di dalam.
Jika Wak Tejo tidak ada di rumah kemungkinan besar kedua menantunya ada di rumah karena mereka tidak mungkin pergi di saat cuaca begitu panas pastilah anak-anak mereka akan rewel.
"Assalamu'alaikum..." wa Ami membuka pintu dan ternyata tidak dikunci. Salamnya tidak ada yang menjawab apakah benar rumah itu tidak ada orang di dalamnya.
Karena berpikir tidak ada orang di dalam wa Ami langsung masuk begitu saja dan mencari-cari ke semua tempat di dalam bahkan di setiap kamar. Sementara Dirga dan pak Danu mereka duduk di ruang atas perintah wa Ami yang hanya menggunakan isyarat dengan tangan.
Ketika masuk di dalam kamar menantunya wa Ami melihat kedua cucunya yang tidur bersebelahan dan hal itu membuat wa Ami penasaran, Di mana ibu-ibu mereka?
Karena sangat penasaran wa Ami kembali mencari ke semua tempat namun tidak dapat dia menemukan hingga terakhir kali wak Ami memutuskan untuk mencari di dalam kamar yang dulu menjadi tempat istirahat untuk dia dan juga suaminya.
"Pak," panggil wa Ami sembari tangan membuka lalu mendorong pintu supaya bisa terbuka dan dia bisa melihat isi di dalamnya.
"Astaghfirullah hal adzim, Pak!" Pekik Wak Ami begitu sangat keras lalu dia menutup mulutnya sendiri karena sangat terkejut apa yang telah dilihat.
Wa Ami lebih terkejut lagi ketika suaranya yang keras berhasil membangunkan wak Tejo dan langsung menyibak selimutnya maka terlihatlah tubuh bagian atas mereka bertiga yang tidak memakai baju sama sekali.
Dirga dan pak Danu yang mendengar suara Wak Ami yang sangat terkejut mereka berdua langsung berlari dan menghampiri, mereka merasa cemas namun juga sangat penasaran apa yang sebenarnya wa Ami lihat hingga dia begitu terkejut dan suaranya keluar begitu lantang.
"Ada apa Wak?" Dirga langsung bertanya meski dia belum sampai ke tempat wa Ami saat ini. Kakinya terus melangkah cepat bahkan seperti berlari Begitu juga dengan pak Danu yang mengejarnya.
"Astaghfirullah hal adzim," Dirga juga pak Danu langsung ikut terkejut dan langsung beristighfar ketika melihat apa yang Wak Ami lihat saat ini.
Benar-benar perbuatan yang sangat menjijikan bagi wak Tejo dan juga dua menantunya yang kini berada di satu ranjang yang sama dan pastilah mereka bertiga baru selesai melakukan hubungan haram.
Sudah sakit hati karena diperlakukan buruk oleh suami dan juga kedua menantunya dan sekarang harus ditambah lagi dengan pengkhianatan.
__ADS_1
Bahkan wak Tejo melakukan itu kepada kedua menantunya sendiri. Apakah ini alasannya kenapa waktu itu wak Tejo mengusir wa Ami dari rumahnya sendiri, dan ternyata inilah alasan yang sebenarnya karena dia ingin menikmati waktu bersama kedua menantunya dan melakukan hal yang tidak senonoh.
Tidak ada lagi rasa takut dari wa Ami tetapi kini yang ada adalah kebencian yang sangat besar pada Wak Tejo. Wa Ami begitu marah dan dia berpikir harus melakukan sesuatu tidak peduli kalau Wak Tejo masih berstatus suaminya.
"Bapak sangat menjijikan, bahkan kalian berdua juga lah sangat menjijikan. Sekarang, beresin semua barang-barang kalian dan angkat kaki dari rumahku. Kalian semua tidak memiliki hak untuk tinggal di rumah ini. Pergi!"
Mungkin itu adalah keputusan yang benar untuk wak Ami, dia tidak bisa tinggal di sana dan pergi karena diusir tanpa menoleh tetapi yang didapatkan hanyalah hal yang seperti ini. Rumahnya hanya dijadikan tempat zina dari orang-orang yang tidak memiliki hati seperti mereka bertiga.
Mereka bertiga yang masih begitu syok atas kedatangan wa Ami masih terdiam dan terpaku tak berani mengatakan sepatah kata apapun. Kedua wanita itu menunduk seolah menyesali apa yang mereka lakukan, Benarkah mereka menyesal?
Sementara Wak Tejo dia juga masih sangat syok dia juga masih tetap berada di sana dan tidak berani untuk beranjak. Mungkinkah di bagian bawah mereka juga tidak memakai apapun?
"Sepuluh menit dari sekarang! Kalian harus sudah angkat kaki dari rumah ini. Kalau tidak aku akan mengundang seluruh warga supaya mereka menyeret kalian semua dan mempermalukan kalian!"
Suara wa Ami terdengar begitu menekankan dengan diselimuti amarah yang sangat besar hingga taatkan ada lagi kata maaf untuk mereka bertiga.
"Bu, jangan usir bapak. Bu!" Teriak wak Tejo namun tidak berani turun sementara wa Ami dia melenggang keluar dari kamar begitu juga dengan Dirga dan pak Danu.
"Pergi sekarang juga!" Hanya suara itu yang kembali wa Ami keluarkan itu pun ketika wa Ami sudah berada di luar kamar.
Sungguh sakit hati wa Ami harus menyaksikan hal yang seperti ini. Apakah ini yang membuat dia gelisah sepanjang hari? Wa Ami juga merasa sangat malu dengan Dirga juga pak Danu kenapa harus seperti ini kejadiannya.
Wa Ami terduduk lemas di kursi ruang tengah dengan tangis yang sudah pecah dan tidak bisa tertahan lagi.
Dirga menghampiri duduk di sebelahnya dan mencoba untuk menenangkan hati wa Ami.
"Yang sabar ya, Wak," ucap Dirga seraya mengelus punggung wa Ami.
*******
Bersambung....
__ADS_1