
...****************...
Ucapan selamat terus membanjiri Kanaya yang telah berhasil menyelesaikan kursusnya dengan hasil terbaik. Bahkan dia juga mendapatkan penghargaan murid paling cerdas dan juga teladan.
Sungguh, itu adalah penghargaan yang tidak pernah disangka oleh Dirga juga Kanaya sebelumnya. Kanaya pikir dia hanya akan sebatas lulus dan bisa menyelesaikan kursusnya tanpa mendapatkan penghargaan tersebut tetapi ternyata kerja kerasnya membuahkan hasil yang sangat bagus sehingga dia kini menjadi wanita yang begitu disegani di LPK.
Zein juga Muna ternyata juga datang ke acara tersebut meski keduanya terlambat dan hanya melihat acara separuhnya saja namun mereka bisa melihat bagaimana bahagianya Kanaya saat berada di atas panggung dengan membawa sertifikat juga penghargaan dari ibu Anisa.
Keduanya juga mengucapkan selamat kepada Kanaya setelah acara selesai setelah semua orang keluar.
Mereka masih berada di dalam dan saling mengucapkan selamat satu sama lain bahkan semua teman-teman Kanaya bersama dirinya melakukan foto bersama sebagai Kenangan yang fotonya juga akan mereka dapatkan.
Dengan penuh bangga Muna berlari menghampiri Kanaya saat dia turun dari panggung bahkan Muna langsung memeluknya mendahului Dirga yang sebenarnya sudah dekat.
"Mas nanti saja peluknya mbak Naya, karena saat ini mbak Naya diperuntukkan untuk umum, bukan untuk mas Dirga saja." celoteh Muna dengan kata-kata yang keluar begitu cepat.
"Enak saja untuk umum, Naya hanya milikku dan tidak akan pernah diperuntukkan untuk umum," ucap Dirga tidak rela mendengar kata-kata Muna barusan.
"Idih, posesif amat sih Mas. Hanya untuk kali ini saja, kami hanya sebentar sementara Mas Dirga nanti juga kebagian waktu yang lebih panjang daripada kami," ucap Muna dengan nyinyir.
Jelas Dirga tidak mau kalau Kanaya yang diperuntukkan untuk umum bisa-bisa dia akan dipeluk oleh laki-laki lain kecuali dirinya apalagi laki-laki yang ada di belakang Muna saat ini. Terlihat dia begitu ingin sekali mendekati mungkin dia juga ingin memeluknya, siapa lagi kalau bukan Zein.
"Baiklah, tapi hanya untuk sesama perempuan. Kalau untuk laki-laki sedikitpun tidak akan aku Izinkan untuk menyentuhnya," ucap Dirga pasrah karena dia juga tidak akan menang jika berdebat dengan Muna.
__ADS_1
Pas mengatakan itu tatapan mata Dirga memandang Zein yang kini juga langsung merasa bahwa kata-kata tersebut diperuntukkan untuknya.
"Tenang, Ga. Aku tidak mungkin akan menyentuhnya apalagi berharap lagi. Tapi, kalau diizinkan nggak masalah sih oke-oke aja." ucap Zein dengan mulut yang cengengesan.
Zein sangat tahu kalau Dirga memiliki rasa cemburu begitu besar dia tidak akan mungkin rela jika ada laki-laki lain yang berusaha mendekati Kanaya apalagi berusaha untuk menyentuhnya. Jangan harap, karena bisa-bisa Dirga akan mematahkan tangan orang tersebut.
...****************...
Untuk merayakan kelulusan Kanaya Dirga dan kedua orang tuanya juga Muna dan Zein kini makan bersama di salah satu restoran ternama di Semarang. Semua nampak bahagia terlebih lagi Kanaya dia yang paling bahagia di antara mereka. Karena ketakutannya selama ini tidaklah benar.
Dulu dia takut kalau akan gagal di tengah jalan atau mungkin tidak akan lulus tapi ternyata semua itu hanyalah ketakutan semata yang tidak menjadi nyata dan tersingkirkan oleh perjuangan yang begitu besar dari Kanaya hingga membuat dia berhasil dan juga mendapatkan hal yang tidak pernah dia sangka sebelumnya.
Di tengah-tengah acara makan mereka sesekali mereka bergurau. Saling tertawa bahagia dan menggoda hubungan Zein juga Muna. Sementara Muna beralih menggoda Kanaya tentang kapan mereka akan memberikan keponakan yang lucu untuknya.
Begitu setuju Umi Uswah dan Abi Hasan mereka juga sangat menginginkan kehadiran buah hati di antara mereka berdua yang akan menjadi cucu pertama.
"Nak, setelah kamu lulus dalam paket C dan sudah mendapatkan ijazahnya bagaimana kalau kalian fokus dulu untuk program kehamilan. Setelah kalian punya anak kalian bisa melanjutkan apa yang seharusnya kalian lakukan. Bagi Umi anak adalah nomor satu jadi setelah kelulusan paket C Umi minta kalian lebih memprioritaskan untuk program hamil." ucapan Umi Uswah di angguki oleh semuanya kecuali kedua insan yang berkaitan.
Mereka berdua diam namun saling melempar pandang. Kalau Kanaya hanya mengikuti apa yang menjadi kehendak Dirga jika dia menginginkan untuk itu maka Kanaya akan ikut tapi kalau Dirga masih menginginkan hal lain karena dia juga tidak bisa menolak meski sebenarnya dia juga sudah sangat menginginkan akan kehadiran seseorang malaikat kecil yang akan menjadi pelengkap kehidupan mereka.
"Insya Allah Umi. Setelah paket Kanaya berakhir dan ijazah yang sudah didapat kami akan melakukannya." Ternyata apa yang menjadi keinginan dari Kanaya juga menjadi keinginan Dirga. Alhamdulillah ternyata mereka sudah sama-sama menginginkan.
"Alhamdulillah kalau kalian setuju. Semoga saja Allah secepatnya memberikan rezeki berupa anak untuk kalian. Entah itu laki-laki atau perempuan yang penting sudah memiliki itu akan semakin menyempurnakan rumah tanpa kalian." ucap Umi Uswah lagi.
__ADS_1
Dirga hanya tersenyum dengan kini tangannya menggenggam tangan Kanaya yang ada di bawah meja.
Kebahagiaan memang akan semakin mereka dapatkan setelah kehadiran sang buah hati. Kehidupan mereka juga akan terasa sempurna.
Semua harta benda bisa terus di kejar tapi seharusnya tidak mengabaikan untuk bisa memiliki keturunan. Buat apa punya banyak harta benda tapi tidak punya keturunan, untuk siapa kedepannya jika tidak punya satupun seorang anak.
"Hem, apakah kalian tidak ingin melakukan honeymoon saja? dengan itu kalian akan lebih fokus," saran dari Muna.
"Nah benar, lebih baik kalian berdua honeymoon. Aku yakin kalian akan lebih cepat dengan itu," saut Zein.
"Hem, boleh juga saran kalian. Besok lah. Biar kami pertimbangkan akan pergi ke mana untuk honeymoon," jawab Dirga.
Kanaya hanya diam, semua akan selalu Kanaya serahkan pada Dirga. Bagi Kanaya dia hanyalah seorang makmum yang akan selalu mengikuti seorang Imam.
"Terus, kalian kapan akan menikah?" kini Dirga yang bertanya kepada Zein juga Muna.
Uhuk uhuk uhuk...
Muna langsung tersedak makanannya setelah mendengar pertanyaan dari Dirga barusan. Bagaimana mau nikah, Zein saja selalu saja diam dan tak berani mengatakan apapun. Muna jadi ragu, sebenarnya Zein itu benar-benar serius atau tidak padanya.
"Doakan saja, Ga. Pasti secepatnya." Zein meringis ke arah Muna yang tetap acuh. Selalu saja Zein mengatakan itu tapi nyatanya tidak pernah terjadi.
Bagaikan memberikan teori tapi tidak bisa mempraktikkan nya, itulah Zein. Entah apa yang dia tunggu.
__ADS_1
...****************...
Bersambung....