
...****************...
"Haniii!!" teriak Kanaya begitu heboh saat hendak masuk ke dalam rumah Hani. Dia sungguh tak sabar bertemu dengan sahabatnya itu.
"Assalamu'alaikum, Han.. ni..." ucapan Kanaya tersendat saat mata melihat Yuan yang tengah duduk di ruang tengah bersama Hani.
Keduanya menoleh secara bersamaan dengan tangan mereka membawa cangkir masing-masing untuk mereka minum isinya.
"Wa'alaikumsalam," bukan hanya Kanaya yang terkejut juga terpaku diam di tempat tapi Hani juga Yuan sama saja. Mereka memandangi Kanaya dengan diam.
Tak terfikir bagi Kanaya kalau dia akan bertemu dengan Yuan secepat ini. Dia masih belum siap untuk bertemu, dia langsung ragu untuk masuk semakin jauh.
Jika bisa dia akan mundur dan kembali keluar tapi dia tak bisa. Kakinya seakan tak dapat bergerak entah maju atau mundur.
"Aya," Perlahan Hani menaruh cangkir yang dia bawa, dia menoleh ke arah Yuan juga ke Kanaya secara bergantian.
Kini Hani yang bingung, apa yang harus dia lakukan. Tidak mungkin Hani akan menghalangi Kanaya untuk masuk dan tidak memperbolehkan Kanaya bertemu dengan Yuan. Tapi Hani juga ragu kalau Kanaya masuk dan berhadapan langsung dengan Yuan.
Bagaimana jika Dirga menyusul dan dia akan tau. Apakah dia akan marah seperti waktu itu? Tentu Hani sangat bingung tapi juga sangat takut.
Sementara Kanaya juga Yuan masih saling memandangi. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah Kanaya menikah.
Seandainya dulu, mereka akan begitu senang dan semangat saat bertemu seperti ini tapi sekarang? jarak mereka begitu jauh meski mereka dekat.
Hatinya masih dekat, jarak tubuh juga dekat tapi jarak berjuta harapan akan menjadi mahram kini sudah sangat jauh dan tidak akan mungkin terjadi.
Jantung mereka tetap bekerja seperti dulu, hatinya juga masih sama memberikan getaran yang sangat kuat. Semua tak banyak yang berubah hanya saja sudah berkurang.
mengapa harus sekarang, mengapa harus di pertemukan lagi di saat mereka berdua tengah berusaha keras untuk saling melupakan.
Saling mengubur dalam-dalam mimpi yang pernah di rajut bersama.
Yuan berdiri, dia ingin melangkah untuk mendekati Kanaya. Kerinduannya sangat besar hingga akhirnya kedua matanya mengalirkan air suci tanpa keinginannya.
__ADS_1
Begitu juga dengan Kanaya, air matanya juga sama ikut mengalir seiring mata yang masih terus menatap.
Ruangan menjadi begitu hening, tak ada suara kecuali helaan nafas juga detakan jantung yang hanya mereka sendiri yang mendengar.
"Ay," satu langkah di mulai oleh Yuan, tapi dia kembali mundur karena kedatangan Dirga.
Ingin sekali Yuan berteriak melihat semua ini, rasanya masih tidak sanggup untuk melihat Kanaya apalagi kini sudah di rangkul oleh laki-laki yang menyandang status sebagai suaminya.
"Nay, kenapa?" tanya Dirga dan menyadarkan Kanaya.
Cepat Kanaya menghapus air matanya sendiri begitu juga Yuan yang kini kembali mundur.
Sungguh, suasana yang sangat menyedihkan.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dirga.
"Hem," hanya senyum kecil saja yang Kanaya keluarkan itupun rasanya sangat berat dan susah.
Dirga sangat tau, ini tak mudah untuk Kanaya juga Yuan. Dan karena ini juga membuat rasa bersalah Dirga semakin kembali dan semakin besar.
'Astaghfirullah hal azim. Maaf aku Ya Allah. Dengan apa aku bisa menebus kesalahan ini, apakah rasa bersalah ini memang tidak akan pernah bisa hilang dalam diriku sampai kapanpun?' batin Dirga juga ikut teriris dengan keadaan ini.
Jika saja waktu bisa di putar kembali maka Dirga tidak akan pernah melakukan semua ini dan tidak akan pernah ingin mengenal Kanaya. Tapi mau bagaimana lagi, dia tak bisa melakukan itu.
'Maafkan mas, Nay. Maafkan aku, Yuan. Maafkan aku jika itu mungkin untuk bisa di maafkan,' Dirga hanya terus membatin dengan bibir yang berusaha mengeluarkan senyumnya.
Keadaan menjadi sangat canggung, semua terdiam dan tak ada yang bicara.
"Aya, mas Dirga, mari masuk," dan Hani lah yang memecahkan keheningan di antara mereka semua.
"Hem," Dirga mengangguk begitu juga dengan Kanaya yang begitu pelan.
Dirga tetap merangkul Kanaya untuk masuk Dirga tau Kanaya sangat berat untuk kembali berhadapan dengan Yuan. Mereka bertiga duduk dengan diam sementara Hani dia ke belakang dan berniat untuk membuat minum untuk Kanaya juga Dirga.
__ADS_1
Tak lama Hani kembali keluar dengan nampan yang berisi dua cangkir. Dia peruntukan untuk Kanaya juga Dirga tentunya.
"Silahkan di minum, Ay, Mas Dirga," begitu sopan Hani mengatakan meski dia masih ikutan canggung.
"Terima kasih, Han," Dirga yang menjawab sementara Kanaya hanya diam dengan terus menunduk. Dia bingung, dia gugup apa yang akan dia lakukan dan apa yang akan dia bicarakan.
Padahal niat awal dia ingin bertemu dengan Hani, ingin melepas rindu dengannya tapi tak taunya ada Yuan di sana dan sekarang terjadilah situasi yang sangat canggung seperti ini.
Beberapa saat hening Yuan membuka suara.
"A_Aya. Selamat ya atas pernikahan kalian. Maaf Akang nggak bisa hadir saat itu," sedikit gemetar suara Yuan tapi tetap keluar dengan sempurna.
"Akang doakan semoga langgeng dan... dan kebahagiaan selalu terlimpahkan untuk rumah tanggamu juga mas Dirga," imbuhnya.
"Mas, tolong jaga adik saya ya. Bahagiakan dia," ucapnya lagi.
Padahal dulu Yuan selalu mematenkan Kanaya sebagai calon istrinya tapi sekarang posisi itu sudah berganti menjadi adik. Yah! mungkin itu adalah hubungan terbaik untuk mereka. Karena Yuan juga Kanaya sudah seperti kakak adik.
"Pasti, saya akan selalu membahagiakannya. Jangan khawatir, adikmu akan selalu bahagia bersama ku. Dan akan aku pastikan itu," jawab Dirga yang juga dengan suara yang canggung.
Demi menjaga perasaan Yuan Dirga melepaskan rangkulan tangannya pada Kanaya. Memang tak ada yang salah jika Dirga melakukan itu karena Kanaya adalah istrinya dan akan selalu seperti itu. Tapi tidak!
Dirga tidak akan memperlihatkan kemesraannya dengan Kanaya apalagi di depan Yuan seperti ini.
Tidak ada obrolan lagi yang begitu penting, gak ada candaan juga yang terjadi. Semuanya hanya diam dalam pikirannya masing-masing.
'Maafkan Aya, Kang. Aya bersalah,' batin Kanaya yang begitu menyesal.
'Alhamdulillah, sepertinya Dirga benar-benar berusaha keras membuatmu bahagia, Ay. Akang senang lihatnya. Akang berdoa kamu akan benar-benar bahagia dengannya. Jangan kamu pikirkan akang di sini, biarkan akang yang menanggung semua derita ini sendiri. Kamu jangan,' batin Yuan dengan sekali melirik Kanaya yang terus diam tanpa kata.
Sementara di luar, tepatnya di depan jendela ada yang terlihat kesal, tontonan menarik yang dia harap tidak kesampaian. Siapa lagi kalau bukan Arifin.
"Menyebalkan. Kenapa malah jadi seperti ini sih? nggak asyik, pulang saja lah," gerutunya sendiri.
__ADS_1
...****************...
Bersambung...