
...****************...
"Mas, Mas merasa ada yang aneh nggak sih sama Mas Dirga. Kok aku merasa ada sesuatu ya?" pertanyaan Muna berhasil menghentikan aktivitas Zein yang sedang membuka-buka buku di ruang tengah rumah mereka.
Setelah menikah memang mereka memilih untuk tinggal berdua meski di rumah yang tidak terlalu besar, mereka hanya ingin bisa mandiri dan tidak tergantung pada orang tua mereka.
Meski hanya rumah sederhana dan juga tidak terlalu besar tapi itu adalah rumah hasil kerja Zein sendiri dan tidak dari orang tuanya, meski dia pernah menjadi cowok badung tapi bukan berarti dia tak bisa menyisihkan uang dan untuk membeli rumah sederhananya saat ini.
"Aneh bagaimana maksudmu?" Zein mengernyit, dia memang tidak mengerti dan kemarin-kemarin juga tidak terlalu memperhatikan Dirga ketika datang ke acara empat bulan kehamilan Kanaya.
"Ya, Muna tidak tau tapi merasa aneh saja. Seperti ada sesuatu yang terjadi padanya. Coba deh kalau mas ada waktu tanya mas Dirga kenapa," pinta Muna.
"Hem, baiklah. Kebetulan siang ini mas tidak ada kerjaan nanti mas temuin Dirga. Hem, kamu mau ikut atau nggak?"
"Hem, Muna nggak bisa ikut, Mas. deskripsi Muna belum selesai," Muna cengengesan setelah mengatakannya.
Lagian bagaimana mungkin akan selesai karena Zein selalu mengganggunya ketika dia sedang fokus.
Zein selalu saja mendekatinya saat Muna duduk anteng dengan semua tugasnya dan ujung-ujungnya pasti ya itu... maklum, masih suasana pengantin baru kan, apalagi sampai sekarang belum ada tanda-tanda Muna isi jadi Zein begitu semangat dan terus bercocok tanam tiap hari.
"Apa perlu mas bantuin kerjain nya?" Zein mendekat.
"Tidak usah, kalau mas bantuin ujung-ujungnya malah tidak akan kelar-kelar tugas Muna," tolak Muna, karena memang biasanya seperti itu kan.
Bilangnya mau membantu tapi akhirnya malah mengganggu. Itulah Zein.
"Ya mau bagaimana lagi, kamu begitu menggoda sih! cantik banget," tangan Zein bergerak mencubit pipi Muna tentu membuat sang empu melayangkan protes.
"Mas! nanti Muna tambah tembem!" celotehnya dengan wajah yang menghindar dari tangan Zein.
"Tidak apa-apa, Mas semakin gemes kalau tembem. Makin enak di lihat dan di..."
__ADS_1
"Ihh!" Muna cepat mendorong wajah Zein sebelum dia selesai melanjutkan kata-katanya, Muna sangat tau akhirnya akan kemana.
"Ih, kok di dorong sih! kapan nyampeknya?" Zein terkekeh geli melihat Muna yang mengerucut akibat ulahnya.
"Ih, apaan sih!" kembali Muna mendorong wajah Zein yang mulutnya terus bergerak buka tutup seperti mulut ikan.
"Mas! tugas Muna harus selesai hari ini! harus di kumpulkan besok!" teriak Muna tapi Zein mana peduli.
...****************...
Sesuai apa yang telah di janjikan sama Muna kini Zein benar-benar menemui Dirga. Dia sengaja ngajak makan siang bersama di salah satu restoran yang dekat dengan kantor Dirga.
Karena Zein yang mengajak Dirga pun tidak menolak dia tidak berpikir apapun karena dia pikir hanya sebatas makan siang saja.
"Hem, bagaimana keadaan Naye, Ga," dan tetap saja panggilan Zein pada Naya tidak berubah, Naye.
"Alhamdulillah, baik." Dirga juga menjawab seadanya tak lagi ada rasa cemburu sekarang karena Zein sudah menjadi suami dari sepupunya tidak mungkin kan dia masih punya perasaan pada istrinya.
Zein menggeleng karena memang belum ada tanda-tanda dari Muna, "Belum."
"Berarti masih kurang keras Nyangkulnya kurang dalem atau mungkin terlalu dalem makannya bibitnya nggak tumbuh," Dirga terkekeh.
"Resek kamu, Ga." ingin sekali Zein menonjok Dirga karena kesal dengan kata-katanya tapi itu tidak terjadi dan hanya sedikit jitakan saja yang dia berikan di kepala Dirga.
"Hahaha!" Tawa Dirga menggelegar, dia begitu senang bisa menggoda Zein. Tapi karena pergerakan Zein yang kecil itu membuat Dirga langsung terdiam setelah sempat tertawa. Kepalanya terasa nyut-nyutan.
"Ga, kamu kenapa? kamu tidak apa-apa kan?" Zein langsung panik melihat Dirga yang langsung kicep lalu menunduk, bukan itu saja, tapi wajah Dirga seketika berubah.
"Ga, kamu sakit, apa gara-gara aku jitak barusan? tapi masak iya hanya di jitak begitu kamu jadi sakit seperti ini, Ga.." tentu Zein tidak akan percaya kalau Dirga sakit karena ulahnya.
Bukankah Dirga juga jago bela diri, dia sering pukul-pukulan dan yang Zein lakukan tidak seberapa tapi kenapa Dirga sampai begitu kesakitan seperti ini?
__ADS_1
"Ga..." Zein sudah beralih duduknya di sebelah Dirga sekarang.
"Aku tidak apa-apa, hanya pusing saja," jawab Dirga suaranya sudah lemah.
"Apa perlu ke rumah sakit?"
Dirga langsung mengangkat wajahnya, tidak mungkin dia akan mau ke rumah sakit bisa-bisa rahasianya terbongkar.
"Tidak usah, aku sudah bawa obat," jawab Dirga.
Semakin membuat Zein curiga karena Dirga benar-benar membawa obat tapi bukan hanya satu.
"Ga, itu obat apa?"
"Ini hanya obat sakit kepala," jawab Dirga.
'Obat sakit kepala kenapa banyak sekali? dan... sepertinya bukan sembarang obat deh,' batin Zein.
Zein tidak bertanya lagi meski dia sangat curiga.
"Hem, aku pamit ke toilet sebentar," ucapan Dirga.
Zein mengangguk, membiarkan Dirga pergi ke toilet seperti apa yang dia katakan.
Kecurigaan Zein begitu besar dia tidak percaya kalau itu hanya obat pusing biasa hingga akhirnya Zein mengambil satu-satu di setiap jenis obat dan menyimpannya disaku.
"Aku harus tau ini obat apa? benar kata Muna, kamu menyembunyikan sesuatu dari kamu semua, Ga." gumam Zein.
...****************...
Bersambung....
__ADS_1