
...****************...
Begitu bahagia Dirga saat ini. Pulang dari rumah Uminya dengan canda tawa keduanya di dalam mobil. Sampai-sampai tak terasa kalau kini mobil sudah sampai di depan rumah mereka sendiri.
Lampu rumah sudah menyala semuanya mungkin pak Danu yang sudah menyalakan.
Kanaya hendak turun sendiri tapi di cegat oleh Dirga. Suaminya itu sepertinya akan kembali memanjakannya. Dan benar saja, Dirga turun, membuka pintu mobil lalu berniat membopong Kanaya.
"Eh, Mas mau ngapain?" Kanaya tercengang melihat tangan Dirga yang sudah siap untuk membopongnya.
"Mau membantu kamu, Naya sayang," katanya.
"Tidak usah, Naya bisa sendiri," tolak Kanaya tapi itu tetap tidak berlaku pada Dirga, dia tetap kekeuh dan langsung mengangkat Kanaya.
"Ih, Naya bisa sendiri, Mas," meski menolak tapi Kanaya sudah langsung melingkarkan tangannya di leher Dirga.
Tentunya senyum langsung hadir pada Dirga. Memandangi wajah Kanaya sejenak yang terlihat sedikit kesal tapi itu terlihat menggemaskan di mata Dirga. Gitu ya kalau orang lagi jatuh cinta, orang kesal tapi malah terlihat menggemaskan. Aneh sih ya.
"Sudah, sekarang kamu diam dan nikmati. Terima saja apa yang mas lakukan," kata Dirga dengan terus memamerkan giginya.
Pasrah, itu adalah jalan yang terbaik untuk Kanaya dia hanya bisa pasrah karena menolak pun juga tak ada gunanya.
Kaki perlahan mulai melangkah masuk, meskipun semua lampu sudah menyala tapi tak ada orang, mungkin pak Danu sudah pulang. Ya! pak Danu tidak tinggal sepenuhnya di sana hanya berangkat pagi pulang malam. Rumahnya juga sangat dekat hanya di daerah itu juga dan cukup hanya dengan jalan kaki.
Dirga berhenti setelah masuk sedikit mendorong pintu sehingga tertutup sempurna.
"Kunci pintunya,"ucap Dirga meminta Kanaya yang melakukan sementara dia masih tetap menggendong Kanaya.
Tak ada protes Kanaya langsung melakukan apa yang menjadi perintah untuknya tak lama Dirga kembali berjalan setelah mendengar jelas suara dari Kanaya yang memutar kuncinya.
Kanaya hanya diam namun kini pipinya terlihat sangat memerah saat melihat Dirga terus menatapnya dengan kekaguman dan tak berkedip. Apa Dirga tidak takut akan jatuh padahal kakinya terus berjalan.
"Kenapa bersembunyi?" tanya Dirga karena Kanaya menyembunyikan wajahnya dengan menutupnya dengan hijabnya sendiri.
__ADS_1
"Habis mas natapnya seperti itu. Kayak mau makan Naya saja," jawabnya dengan tak membuka hijab dari wajahnya.
"Pengen sih memakan kamu, tapi...?" Dirga terdiam.
Deg....
Jantung Kanaya berdetak secara kilat dia ingat akan apa yang di alami Dirga tak seharusnya dia mengatakan itu. Tapi Kanaya juga tidak berniat menjurus ke sana.
Kini Kanaya juga terdiam, dia menyadari kecerobohannya seharusnya dia tidak mengatakan itu. Bagaimana kalau Dirga harus berjuang menahan semuanya sendiri karena tak ingin menyakitinya.
Sebagai seorang istri Kanaya juga menginginkan pahala karena melayani suaminya dengan baik. Memberikan haknya yang sebenarnya adalah kewajiban Kanaya untuk memberikan. Tapi, Kanaya sangat takut. Bohong kalau dia tidak takut dan menerima begitu saja.
Hati kecil seorang wanita juga menginginkan dia di sentuh oleh suaminya, memberikan setiap hak-haknya. Mengumpulkan pahala-pahala dengan cara berhubungan sebagaimana selayaknya. Tapi ketakutan lebih mendominasi di hati Kanaya.
Kanaya menginginkan tapi dengan cara kelembutan. Pasti benih-benih cinta akan tumbuh jika semua di lakukan dengan kelembutan, tapi jika dengan cara Dirga yang sudah-sudah Kanaya takut bukanya benih-benih cinta yang hadir melainkan sebuah kebencian.
Perlahan Dirga menurunkan Kanaya di atas ranjang, sangat pelan. Terasa Dirga juga duduk di sebelahnya, melepas sendal Kanaya yang masih menempel dan menaruhnya di bawah ranjang.
'Ya Allah, apakah aku salah jika aku menginginkannya. Berapa lama lagi aku harus menahannya, sampai kapan Ya Allah, sampai kapan?' batin Dirga dengan helaan nafas yang panjang.
Sementara Kanaya masih terdiam, wajahnya masih tertutup. Apakah dia tertidur?
Dirga sangat penasaran, dia mendekatkan tangannya dengan ragu menarik hijab Kanaya dengan pelan. Terlihatlah wajah Kanaya yang gelisah.
Matanya kini menatap Dirga dengan terus mematung.
'Kenapa, apakah mas Dirga menginginkan ku? bagaimana jika...?' batin Kanaya.
Mata Dirga terpejam gejolak gairah semakin membesar kala melihat wajah Kanaya yang ada di hadapannya.
'Apakah aku bisa menahannya?' batin Dirga lagi. Tapi itu tidak akan dia ketahui jika tidak di coba. Benar begitu kan?
Kanaya tau, suaminya itu benar-benar menginginkannya, dia ingin menyentuhnya tapi sangat ragu. Lalu apa yang harus Kanaya lakukan?
__ADS_1
Kenapa lagi-lagi harus seperti ini, sampai kapan mereka berdua akan selalu menahan pahala yang besar yang seharusnya mereka berdua dapatkan.
"Ma_mas," Kanaya beralih duduk menyadarkan Dirga dan berhasil membuatnya membuka mata.
"Ada apa?" tanya Kanaya lagi seraya menyentuh tangan Dirga dengan lembut.
"Ti_tidak apa-apa," tak ingin Dirga mengakuinya dia akan berusaha menahan daripada dia akan kembali menyakiti Kanaya lagi.
"Mas mau ke kamar mandi sebentar," pamit Dirga yang cepat-cepat beranjak. Meninggalkan Kanaya yang kini hanya terpaku melihatnya.
"Ya Allah, sampai kapan akan selalu seperti ini. Apakah kami tidak bisa seperti pasangan-pasangan yang lain yang bisa selalu memadu kasih sesuai syari'at- Mu?" gumam Kanaya.
Cinta memang belum besar tapi ketaatan kepada Allah membuat Kanaya akan melakukan semua yang memang sudah menjadi jalannya.
Bagaimana dan apa yang harus di lakukan oleh seorang istri dan itu ingin tetap Kanaya lakukan, dia takut dosa kalau sampai dia lebih mengagungkan egonya karena cinta yang masih sebesar biji jagung.
Kanaya juga ikut beranjak, berniat untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur yang lebih nyaman. Setelah semua sudah ganti Kanaya berhenti di depan meja rias dan menyisir rambutnya.
Rambut panjangnya begitu indah tergerai begitu saja, sejak saat Dirga sendiri yang membuka hijabnya Kanaya sudah selalu membuka hijabnya saat di kamar. Mempersilahkan untuk suaminya melihat seperti apa rupa sebenarnya.
Di saat Kanaya belum selesai Dirga keluar dari kamar mandi, memakai kaus oblong berwarna putih dengan sarung hitam yang dia lilitkan di pinggangnya.
Wajahnya, rambutnya semuanya basah dan Dirga keluar juga dengan mengalungkan handuk serta tangan yang mengeringkannya.
Kanaya pernah membaca salah satu artikel yang dia cari di ponselnya, bahwa salah satu untuk menghilangkan gairah yang besar bisa dengan cara mandi, benarkah itu yang Dirga lakukan?
"Mas, mas baik-baik saja?" tanya Kanaya begitu khawatir.
"He'em, Mas baik-baik saja. Tidak perlu khawatir," seulas senyum keluar dari bibir Dirga, benarkah Kanaya tidak boleh khawatir dengan keadaan suaminya yang jelas itu sangat menyiksa?
...****************...
...Bersambung.......
__ADS_1