
...*********...
Akhirnya, Kanaya bisa merasakan menjadi mahasiswa juga. Datang ke kampus dengan seragam dan juga buku tugas yang harus dia kumpulkan.
Meski dalam keadaan hamil tapi dia tetap senang dan begitu menikmati, bahkan para teman-temannya yang belum begitu kenal juga tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka tetap mau menjadi teman Kanaya.
Kanaya yang memang mudah berbaur membuat dia langsung mendapatkan teman-teman meski dengan beberapa kali pertemuan saja, semua juga sangat senang menjadi teman Kanaya.
Namun satu laki-laki yang selalu saja sinis dengan Kanaya. Dia mempermasalahkan Kanaya yang menjadi mahasiswa tapi dalam keadaan hamil. Sungguh, laki-laki itu sangat aneh bahkan seolah mencari perhatian dengan terus mencaci Kanaya.
"Huh, dasar! Orang hamil saja banyak keinginan." Katanya.
Kanaya yang sedang berjalan dengan beberapa temannya tidak menghiraukan sama sekali dan terus berjalan. Dia berhenti pun juga tidak ada gunanya.
"Menyebalkan sekali sih dia," ucap salah satu teman Kanaya yang merasa geram sendiri.
Padahal mereka juga tidak saling kenal tapi dia terus bicara nyindir pada Kanaya. Apakah sebenarnya dia ingin kenalan dengan Kanaya tapi tak di hiraukan? Mungkin.
"Sudah lah, Mei. Kita biarkan saja," Kanaya yang cuek saja langsung menggandeng lengan Mei temannya itu.
Sekali Kanaya menoleh ke arah laki-laki yang masih terus melihatnya itu. Dia masih terlihat begitu angkuh dengan mata tajam ke arahnya.
Tak peduli apa yang laki-laki itu pikirkan atas dirinya. Karena Kanaya memang tidak peduli yang terpenting dia tidak membuat masalah pada siapapun terlebih lagi pada laki-laki itu.
__ADS_1
Matanya terlihat begitu nyalang penuh amarah karena tegurannya sama sekali tidak di perhatikan oleh Kanaya.
Kanaya yang memang tidak lama-lama di kampus akan segera pulang karena pasti Dirga juga sudah menjemputnya. Ternyata kedua temannya itu juga sudah hendak pulang.
Langkah Kanaya dan dua temannya ternyata di buntuti oleh laki-laki tadi, dia berjalan namun dengan jarak aman supaya Kanaya tidak melihatnya. Ternyata dia sangat penasaran saja dengan Kanaya.
Hingga akhirnya matanya semakin nyalang ketika Kanaya berpamitan pada kedua temannya untuk menghampiri laki-laki yang tidak jauh dari sana yang ternyata adalah Dirga.
"Mas, Mas Dirga!" teriak Kanaya dengan begitu bahagia karena melihat suaminya yang sudah menunggu di luar mobil.
Laki-laki itu terlihat melotot ke arah Kanaya yang memanggil Dirga dan tersenyum. Apakah mungkin ada sesuatu pada laki-laki itu? Masak iya dia tertarik pada perempuan bersuami yang juga jelas-jelas tengah hamil.
Tangannya terlihat mengepal dengan penuh amarah. Baru beberapa kali bertemu saja tapi Kanaya mampu mengaduk-aduk hatinya menjadi tidak karuan.
Tatapan semakin tidak senang setelah melihat Kanaya yang sudah sampai di hadapan Dirga dan melihat bagaimana kemesraan mereka. Di mana letak kesalahannya? Mereka suami istri jika hanya sekedar menyalami dan mengecup punggung tangan dan di balas dengan mendapatkan kecupan di kening bukankah itu wajar?
"Sial," umpatnya dengan tangan mengepal dan langsung berlalu pergi dari tempat itu karena tidak mau menyaksikan kedekatan Kanaya dengan Dirga yang ada di depan matanya.
Sementara Kanaya dan Dirga mereka sudah masuk ke dalam mobil bergegas untuk pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan Kanaya.
Pemeriksaan rutin yang harus terus di lakukan oleh Kanaya sampai kelahiran kelak.
"Nay, kamu kenapa? Kok mas lihat kamu seperti kesal?"
__ADS_1
"Tidak ada mas, hanya tadi ada mahasiswa yang sangat aneh. Hem, sungguh tidak menyenangkan deh pokoknya."
"Oh, tapi dia tidak mengganggu kamu kan?" Dirga jelas langsung khawatir.
"Tidak kok, Mas. Sama sekali tidak."
"Oh iya, Mas. Bagaimana penampilan Naya bagus tidak? Tadi mas nggak lihat karena yang nganter Naya pak Danu."
Dengan senang Kanaya menunjukkan penampilannya pada Dirga. Seragamnya yang berupa jas itu membuat Kanaya sangat senang.
Ini bukan sekedar mimpi yang seperti dulu lagi, bukan mimpi yang tak mungkin terwujud ini nyata! Bukan mimpi belaka. Kanaya sudah menjadi mahasiswa dengan memakai jas seragam kampus.
"Bagus, apa kamu senang?"
"Tentu, Naya sangat senang." Dengan bangga Kanaya memegangi jasnya.
"Alhamdulillah, kalau kamu senang. Semangat untuk sukses, jemput kesuksesan yang ada di depan mata," kembali Dirga selalu memberikan semangat, dia adalah pendukung untuk setiap keberhasilan Kanaya.
Bukan hanya hal materi saja, tapi semua Dirga lakukan untuk bisa membuat Kanaya selalu berhasil dalam bidang apapun.
********
Bersambung....
__ADS_1