Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Pengakuan Hati


__ADS_3

...****************...


"Mas, kenapa?" ada yang aneh pada Dirga dan itu terlihat jelas oleh Kanaya saat ini.


Dia memeluk tapi rasanya sangat berbeda, bahkan hembusan nafasnya saja tak seperti biasanya sebelum dia berangkat ke Jepara beberapa hari yang lalu.


"Mas, apakah ada masalah?" tanya Kanaya lagi, padahal pertanyaan yang pertama tadi belum di jawab tapi dia sudah kembali bertanya.


Jelas, perubahan Dirga akan membuat Kanaya sangat bingung dan juga khawatir.


Kanaya beralih duduk dan Dirga pun mengikutinya. Di genggamnya tangan Kanaya dengan erat, matanya menatap sayu dan begitu banyak keraguan.


Ada apa ini?


Itulah yang menjadi pertanyaan Kanaya hingga matanya terpaku memandang wajah Dirga yang begitu aneh. Apakah mungkin Dirga melakukan kesalahan ketika di Jepara?


Pikiran Kanaya berkelana begitu jauh. Tapi jelas dia berpikir seperti itu karena Dirga berubah setelah pulang dari sana.


"Mas, ada apa?" kembali Kanaya bertanya berharap kali ini akan mendapatkan jawaban yang akan menjelaskan semuanya.


Dirga tertunduk tak berani memandang mata Kanaya sejenak matanya terpejam sebelum dia benar-benar siap untuk menjelaskan semuanya. Mengatakan semua yang sudah dia lakukan hingga akhirnya menjerat Kanaya dalam kehidupannya.


Kanaya masih menunggu, matanya sama sekali tak berpaling dari wajah Dirga yang tak terlihat. Jelas Dirga melakukan kesalahan kalau tidak dia pasti berani memandang Kanaya dengan tegak dan penuh keberanian.


"Nay," Dirga mulai berbicara, perlahan wajahnya terangkat dan memandang wajah Kanaya dengan pasrah.


Dirga pasrah dengan semua yang akan terjadi, pasrah dengan semua yang akan dia dapatkan. Kebencian, atau mungkin sakit hati jika Kanaya memilih pergi. Itulah akibat dari perbuatannya sendiri.


"Hem?" semakin lekat dan semakin tak sabar Kanaya untuk mendengar semua yang ada di pikiran Dirga.


Perasaannya sangat was-was, jantungnya bahkan berdegup tak karuan karena rasa takut yang juga teramat sangat.

__ADS_1


Hanya satu yang Kanaya takutkan, bahwa Dirga hilang kendali saat di Jepara dan melakukan hubungan dengan cara memaksa wanita lain di sana.


Apakah ketakutan Kanaya terlalu berlebihan?


Kalau benar Dirga melakukan itu maka Kanaya juga akan merasa sangat berdosa karena tak bisa memberikan hak nya pada suaminya dan membuatnya memaksa orang lain.


'Astaghfirullah hal 'azim, kenapa kamu memiliki pikiran seperti itu, Ay?' Kanaya hanya bisa beristighfar dalam hati. Bagaimana bisa dia meragukan suaminya seperti itu.


Bahkan suaminya saja berjuang mati-matian untuk mengendalikan kelainannya ketika bersamanya bagaimana mungkin dia akan lepas kendali pada wanita lain. Iman Dirga sangat kuat dan yakin bisa mengendalikan itu.


Tapi ketakutan seorang istri pasti akan selalu ada kan?


"Mas minta maaf, mas telah melakukan kesalahan," ucapan Dirga terhenti.


Jelas, dengan cara bicara dan suara Dirga yang gemeter membuat Kanaya semakin tak karuan. Jantungnya semakin cepat berdetak.


"Ke_kesalahan?" Rasa sakit sudah mulai tumbuh di hati Kanaya. Apakah yang dia pikirkan benar-benar terjadi? Apakah Dirga melakukan hubungan dengan wanita lain?


Mata Kanaya sudah terdapat gejolak yang mulai memaksa untuk keluar tapi tetap dia usahakan untuk di tahan. Semuanya belum jelas karena Dirga belum mengatakan semuanya jadi bagaimana mungkin dia langsung menyimpulkan kalau yang ada di pikirannya itu benar?


Dirga kembali menunduk, siapkah dia mengatakan semuanya? tapi jika tidak sekarang kapan lagi. Dirga akan selalu di hantui dengan rasa bersalah dan itu bisa saja seumur hidupnya.


"Maafkan mas karena mas menggunakan mahabbah untuk bisa mengikatmu menjadi milik mas," tak mampu Dirga melihat wajah apalagi mata Kanaya.


Syok, itu pasti yang terjadi pada Kanaya sekarang nyatanya dia langsung melepaskan tangannya dari genggaman Dirga.


Kanaya tercekat, jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar kata mahabbah yang Dirga katakan barusan. Bagaimana mungkin dia bisa mudah terkena hal seperti itu?


Luluh sudah air mata Kanaya saat ini. Matanya terus memandang Dirga yang sama sekali menunduk seolah kehilangan wibawanya sebagai seorang laki-laki.


"Mas memang laki-laki bodoh yang tak bisa meluluhkan hati wanita dengan cara yang benar. Hingga akhirnya mas menggunakan cara yang salah. Mas telah memahabbahimu setelah mas tak rela kamu menolak mas."

__ADS_1


"Mas tak menerima penolakanmu. Padahal mas tau kamu tidak akan menerima mas. Menerima laki-laki yang tiba-tiba datang dan menginginkan mu. Menginginkan cintamu."


"Berkali-kali mas merapalkan doa mahabbah untuk mu. Berharap kamu bisa menerima mas, menerima pinangan mas dan ternyata semua memang terjadi. Apapun yang mas ingin telah terwujud hingga akhirnya sekarang kamu berada di hadapan mas sebagai istri mas."


"Seharusnya mas sekarang bahagia, dan melupakan semua itu karena kamu sudah berhasil menjadi milik mas. Tapi tidak! mas merasa sangat berdosa sekarang dan mas tidak akan bisa bahagia dengan cara yang sudah mas lakukan."


"Mas salah. Mas salah karena telah memisahkan dua hati yang sudah saling memiliki. Mas salah karena membuat luka di dua hati yang sudah begitu banyak mimpi juga komitmen untuk bersama. Mas memang egois."


"Memang tak seharusnya mas mengatakan ini, tapi cinta mu juga cinta Yuan memang sangat besar dan mas mengakui itu. Mungkin mas menang karena bisa menjadikan mu milikku, tapi mas kalah karena tak bisa memiliki cintamu."


"Sekarang, kamu boleh memilih, Nay. Kamu bisa menentukan semua jalan hidup mu. Jika kamu tetap bertahan mas akan berusaha untuk menebus kesalahan dengan berusaha membahagiakan mu. Tapi, jika kamu memilih pergi mas tidak akan mengalami mu. Dan mas akan bertanggung jawab dengan semua yang sudah mas lakukan."


"Sekarang mas sudah mengakui kesalahan mas. Mas tidak tau rasamu yang ada sekarang adalah efek dari mahabbah mas atau dari Allah."


"Kamu bisa memutuskan Jalan mu sekarang, Nay. Jika kamu bertahan mas akan sangat bahagia. Tapi jika kamu akan pergi mas tidak akan menghalangi."


"Jika kamu bertahan maka maafkan mas, dan kita mulai semuanya dari awal dengan cara yang benar. Tapi jika tidak, mas tetap mengharap maaf mu dan mas akan berusaha mengembalikan semua yang seharusnya menjadi kebahagiaan mu."


"Mas tidak mau terus berdosa karena tetap menahan mu dan memaksakan cinta mu yang sebenarnya milik orang lain. Mas tidak mau mas bahagia sementara kamu tidak. Mas ingin ikatan yang sehat, yang sama-sama kita bahagia."


Bukan hanya air mata Kanaya yang tumpah tapi juga air mata Dirga. Dirga akan ikhlas untuk semua yang dia dapatkan.


Kebencian Kanaya, juga di tinggalkan juga rasa sakit karena rasa bersalah.


Semua sudah Dirga serahkan pada Sang Pencipta, semua jalan hidupnya adalah milik-Nya bukan milik Dirga.


"Pikirkan lah baik-baik, Nay. Dan tentukan apa yang ingin kamu lakukan. Mas tidak akan memaksa kamu," Dirga turun dari ranjang, memandangi Kanaya sejenak yang terlihat penuh kekecewaan.


"Sekali lagi maafkan mas, Nay. Mas sudah memberikan begitu banyak luka di hatimu," Dirga membawa dukanya sendiri keluar dari kamar meninggalkan Kanaya untuk berpikir keputusan apa yang akan dia ambil.


Dirga tidak mau tetap berada di sana dan akan menjadi bayang-bayang Kanaya. Kanaya harus mengambil keputusan bukan karena kasihan padanya. Semuanya harus murni yang datang di hatinya.

__ADS_1


...****************...


Bersambung....


__ADS_2