
*********
Dengan senyum yang dibuat-buat selepas dan semanis mungkin Dirga masuk ke dalam rumah setelah pulang dari kantornya. Tentu kedatangannya sudah disambut oleh istri tercintanya dan memang selalu seperti itu ketika Dirga pulang Kanaya selalu menunggu di ruang tengah dan seketika menghampiri ketika melihat Dirga pulang bahkan Kanaya selalu keluar rumah dan menjemput di mobil.
Rasanya sangat senang melihat suaminya pulang, mulai melayani mulai memberikan senyum indah supaya membahagiakan ketika dilihat ketika dipandang oleh suaminya dan membuat lelah itu hilang.
"Senang sekali, Ada apa ini?" Melihat Kanaya yang begitu senang tanpa membuat Dirga sangat penasaran dan ingin tahu.
"Tidak, tidak ada yang spesial Kanaya hanya sangat merindukan Mas dan setelah melihat Mas pulang Kanaya sangat senang."
Dirga mengangguk paham sebenarnya memang sudah seperti biasa Kanaya selalu seperti itu tetapi Dirga melihatnya begitu istimewa hari ini.
"Alhamdulillah, semoga kamu selalu bahagia seperti ini dan Mas bisa selalu melihat kamu tersenyum."
Dirangkul pinggang Kanaya dan diajak masuk ke dalam kamar. Sesampainya dia malam Kanaya membantu melepaskan dasi dan juga jas yang dipakai oleh Dirga lalu membawanya ke tempat baju kotor dan setelah itu dia mengambilkan handuk untuk Dirga.
"Mas bersih-bersih dulu setelah itu kita makan semuanya sudah Kanaya siapkan."
"Kok kamu yang menyiapkan bukan karena sudah pernah bilang kamu tidak boleh menyentuh pekerjaan apapun, kan sudah ada mbak."
Tentu kekhawatiran selalu datang disaat Kanaya melakukan pekerjaan. Dirga tidak mau sampai Kanaya kelelahan dan akan terjadi sesuatu kepada keduanya.
"Tidak kok, Mas. Kanaya hanya bekerja sedikit saja supaya otot-otot Kanaya bekerja. Kalau terus dimanjakan nanti otot Kanaya malah tidur terus akan malas melakukan apapun."
"Ya sudah, yang terpenting kamu jangan sampai terlalu lelah kamu harus selalu mengingat bahwa sekarang kamu tidak sendiri ada anak kita yang perlu kamu jaga dan harus kamu pastikan bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja. Kamu mengerti kan."
Kanaya mengangguk tentu dia sangat mengerti akan tugas yang sudah menjadi kodrat untuknya, untuk setiap wanita.
*********
__ADS_1
Tidak ada yang dikatakan oleh Dirga mengenai apa yang terjadi kepada dirinya. Dia sangat takut kalau bercerita dan akan mempengaruhi kesehatan karena ia juga janin yang ada dalam kandungannya.
Sesekali Dirga tersenyum sembari menikmati makanan yang katanya buatan dari Kanaya sendiri. Rasanya masih sama dan selalu enak dan tidak membosankan tentu selalu menjadi makanan favorit untuk Dirga.
Dirga memang tidak mengatakan apapun tetapi terlihat jelas dimata Kanaya ada yang disembunyikan oleh Dirga kepadanya.
Kegelisahan terlihat jelas di wajah Dirga yang dia paksakan untuk tersenyum dan selalu terlihat baik-baik saja.
"Mas kenapa?" Tanya Kanaya begitu penasaran. Karena begitu penasaran dengan apa yang dia lihat dari Dirga Kanaya sampai menghentikan aktivitas makannya.
"Hem? Mas tidak apa-apa. Makanan mu selalu enak, Nay." Dirga langsung mengalihkan pembicaraan tak mau sampai Kanaya terus bertanya dan akan mendesaknya.
"Mas selalu saja mengatakan hal itu," Kanaya tersenyum merasa malu karena mendapat pujian dari Dirga. Meski itu adalah hal yang biasa tetapi rasanya sungguh berbeda malu tetapi menghadirkan sebuah kebahagiaan yang tiada kira.
Kembali mereka menikmati nikmatnya makanan yang mereka makan saat ini menikmati malam bersama dengan makanan yang dimasak oleh Kanaya.
Kita sangat optimis bahwa dia pasti akan bisa melewati ujian ini dan dia bisa sembuh seperti masalah yang terjadi kepadanya waktu itu. Dirga sangat yakin.
Hingga akhirnya acara mereka selesai mereka ditutup dengan makan malam bersama dan setelahnya mereka mengaji bersama meski hanya sebentar dan kemudian mereka tidur setelah menjelang jam 09.00 malam.
********
Kehidupan Wak Tejo menjadi tidak menentu sekarang dia sangat bingung akan pergi ke mana setelah diusir dari rumah. Tidak ada tujuan yang jelas karena saudaranya juga tidak mau menerima bahkan membantu saja mereka tidak mau mengingat apa yang selalu dilakukan oleh Wak Tejo.
Sementara kedua menantunya mereka terpaksa kembali ke rumah orang tua mereka masing-masing. Meski orang tua mereka tidak ingin menerima kehadiran mereka lagi tetapi akhirnya mereka diterima meski dengan syarat yang harus ditaati.
Sebesar apapun kesalahan seorang anak pastilah orang tua akan selalu memaafkan dan akan selalu memberikan kesempatan untuk mereka berubah dan menjadi lebih baik lagi, dan itulah yang didapatkan mereka berdua kesempatan.
Mereka hanya mengatakan kalau mereka pergi dari rumah karena Arifin telah pergi dan sama sekali belum ada kabar setelah Arifin kembali mereka juga akan kembali lagi.
__ADS_1
Itulah alasan mereka. Sementara kebenaran yang sesungguhnya sama sekali tidak mereka katakan Bagaimana hubungan mereka dengan Wak Tejo yang sempat melakukan zina.
Entah seberapa besar kekecewaan orang tua jika mengetahui kelakuan anak mereka seperti itu maka dari itu mereka berusaha menyimpan rapat-rapat Apa yang sebenarnya terjadi, mereka tidak ingin diusir dari orang tuanya dan akan bernasib seperti Wak Tejo yang tidak jelas ke mana akan pergi.
Itulah hukum alam kalau kita berbuat baik pasti apa yang kita dapat juga hal yang baik. Tetapi jika yang kita lakukan adalah hal keburukan maka hal yang buruk juga yang akan kita dapat.
Sekarang Wak Tejo Tengah memetik hasil dari perbuatannya sendiri yang selalu bertingkah tidak adil kepada Kanaya bahkan tidak memberinya kasih sayang yang tulus dan kini yang dia dapat lebih parah dari apa yang dia berikan kepada keponakannya tersebut.
Hidup tanpa arah yang jelas, tanpa kebahagiaan dan juga tanpa kasih sayang dari siapapun entah keluarga kerabat atau sahabat. Semua telah menjauhinya.
"Kamu sekarang di mana, Fin bapak hanya sendiri sekarang," ucap Wak Tejo. Kakinya sesekali berhenti melangkah dengan mata yang terus melihat kesana kemari siapa tahu dapat melihat anaknya yang sudah lama tidak dia temui.
Hanya Arifin saja yang menjadi harapannya, tidak ada siapapun lagi karena wa Ami juga tidak akan mungkin bisa kembali menerimanya.
Tak ada banyak bekal yang dia bawa hanya beberapa uang saja itupun hanya hasil dari pertanian yang tidak seberapa.
Kakinya kembali melangkah entah akan sampai kapan dan sampai mana kaki itu akan kembali berhenti tak ada tujuan yang jelas dia bisa mendapatkan tempat yang bisa menjadi pelindung untuk dirinya dari panas juga hujan.
"Apakah aku harus mencari pekerjaan? Tapi jika tidak Bagaimana aku akan hidup setelah ini?"
Wak Tejo terus menimang-nimang apa yang harus dilakukan dan jika harus bekerja pekerjaan apa yang akan dia cari.
Kini hatinya benar-benar merasa sangat menyesal karena perbuatan yang telah dia lakukan, dia tahu itu salah dan dia ingin memperbaiki semuanya jika bisa.
"Bu, maafkan bapak," gumamnya.
*********
Bersambung.....
__ADS_1