Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Rasa Kecewa


__ADS_3

...****************...


Di perjalanan Kanaya terus diam, bukan karena sedih tapi sangat kecewa setelah mengetahui semua kebenaran tentang wak Tejo juga Arifin yang ternyata kasih sayangnya selama ini adalah sebuah kepalsuan.


Tak dapat di percaya kalau ternyata mereka begitu tega pada dirinya, semua kebaikannya semata-mata hanya untuk mendapatkan apa yang menjadi hak Kanaya yang begitu banyak.


Kenapa harus seperti itu, orang tua yang dia anggap sangat baik dan sangat tulus padanya ternyata semua hanyalah sebuah kepalsuan semata.


Tak ada yang patut di banggakan sekarang dari mereka tak ada yang bisa di harapkan dan tak akan pernah di percaya lagi.


Dirga begitu khawatir melihat keadaan Kanaya yang terlihat begitu kecewa. Bahkan dia sama sekali tidak menoleh ke arah Dirga dan terus menoleh keluar melihat semua yang mobil itu lewati.


Ada rasa menyesal dalam hati Dirga karena apa yang dia lakukan telah membuat istrinya sedih seperti ini. kemarin datang dengan sebuah kebahagiaan besar namun kini dia pulang dengan membawa luka yang juga sangat besar. Suami mana yang akan tahan melihat luka seorang istri yang begitu dia sayang.


"Nay, kamu baik-baik saja?" tanya Dirga seraya menyentuh pundak Kanaya.


Kanaya sama sekali tidak menoleh dia masih larut dalam rasa kecewa yang diakibatkan oleh orang yang selama ini dia percaya.


"Nay," sekali lagi Dirga memanggil dan kali ini Kanaya menoleh.


Matanya terlihat sayu terlihat begitu lelah bercampur rasa kecewa yang begitu besar. Matanya merah menahan sebuah gejolak besar yang ingin keluar tetapi tidak Kanaya izinkan dan terlihat jelas menggenang di dalamnya.


"Ada apa, ceritakan sama Mas," digenggamnya tangan Kanaya dengan penuh kelembutan dengan cara itu Dirga sangat yakin Kanaya akan menceritakan semua yang tengah dirasakan.


Tetapi sepertinya tidak terjadi karena Kanaya masih tetap diam tak ada sepatah pun kata yang keluar dari bibirnya yang ada hanya luka yang semakin besar yang terlihat di dalam matanya. Sungguh, Dirga pun merasa sangat menyesal.


Direngkuhnya tubuh Kanaya hingga masuk ke dekapan Dirga. Dipeluk dalam berharap dengan cara yang seperti itu bisa membuatkan Kanaya tenang.


Tetapi sepertinya tidak! tangis Kanaya tiba-tiba pecah dan membasahi baju yang dikenakan Dirga.


"Menangis lah, Nay. Keluarkan semuanya jika hanya dengan itu bisa membuatmu tenang. Kamu tidak sendiri ada Mas yang akan selalu bersamamu, menemanimu melewati masa-masa yang paling terberat dalam hidupmu."


"Kita berjuang bersama dan kita lewati semua ini hingga akhir dan kita dapatkan bahagia."


Semakin erat Dirga memeluk Kanaya yang kini semakin terisak. Tidak akan dicegah oleh Dirga tangis Kanaya yang terus keluar di dekapannya justru Dirga malah membiarkan dan meminta Kanaya untuk mengeluarkan semuanya.

__ADS_1


Dirga sangat yakin setelah itu semua akan baik-baik saja dan Kanaya akan kembali ceria dan bahagia seperti sedia kala.


"Mas, Kenapa Mas begitu baik kepada Kanaya di saat orang yang paling Kanaya percaya telah tega berbuat Curang di belakang Kanaya?" tanya Kanaya dengan tetap berada di dalam pelukan Dirga.


"Bagaimana jika Kanaya tidak bisa membalas semua kebaikan yang Mas berikan kepada Kanaya. Kanaya sangat takut jika suatu saat akan berubah."


Ya! ketakutan juga rasa kecewa yang membuat Kanaya juga takut jika suatu saat Dirga melakukan hal yang sama meski dia sendiri yakin bahwa Dirga tidak mungkin akan setega itu dengannya, tapi tidak ada yang tahu akan masa depan bukan semua bisa berubah. Semoga saja tidak!


"Apa yang kamu katakan, Nay. Mas tidak mungkin akan membuat kamu menderita. Mas berjanji akan selalu membuatmu bahagia."


"Dan ya! mas tidak pernah meminta apapun dari apa yang sudah Mas berikan kepadamu hanya satu yang Mas minta darimu kamu selalu bahagia dan juga tersenyum itu sudah lebih cukup dari semuanya." jawab Dirga.


"Jadi jangan terlalu berpikir bahwa Mas akan meminta imbalan. Mas bukan Arifin juga bukan Wak Tejo yang tamak akan harta. Mas Tulus, Mas juga sangat mencintaimu." terang Dirga dengan penuh keyakinan dan membuat Kanaya yakin bahwa yang dikatakan adalah kebenaran.


Kanaya semakin yakin bahwa apa yang dia dengar adalah hal yang nyata Dirga tidak mungkin melakukan hal yang sama seperti Arifin juga wak Tejo.


Seandainya Dirga hanya menginginkan sesuatu dari Kanaya tidak akan mungkin dia memberikan segalanya, benar begitu Bukan? bahkan mungkin Dirga sudah melakukannya.


Hingga begitu lelah Kanaya menangis di dekapan Dirga dan tidak terasa nafasnya perlahan mulai teratur dan suara isakan tak lagi terdengar itu berarti Kanaya telah tertidur.


Dirga melihat wajah Kanaya dan ternyata benar mata istrinya terpejam dengan nafas yang sudah teratur namun masih sesekali dia sesenggukan.


"Baik, Tuan," jawab pak Danu patuh melajukan mobilnya ke tempat yang diminta oleh Dirga yaitu ke penginapan.


Mungkin malam ini mereka akan menginap di sana lagian waktu libur mereka juga masih ada satu hari mereka masih bisa mempergunakan untuk sesuatu yang akan membuat hubungan mereka semakin dekat bahkan lebih dekat.


...****************...


Perlahan Kanaya membuka mata, jelas dia bingung karena berada di tempat asing yang belum pernah iya kunjungi sebelumnya.


Matanya melihat ke segala arah mencari Dirga tetapi tidak dia lihat keberadaannya, lalu di mana Dirga?


"Mas!" teriak Kanaya dan perlahan mulai turun dari ranjang.


Perlahan kaki mulai melangkah dan seketika suara percikan air dia dengar dari arah kamar mandi, itu artinya Dirga berada di kamar mandi.

__ADS_1


Kanaya bernafas lega karena Dirga tidak akan mungkin meninggalkannya. Kanaya begitu bersyukur karena Dirga tidak pernah merasa lelah, menuntunnya di jalan yang benar dan selalu ada untuknya.


Dirga hanya menginginkan kebahagiaan Kanaya saja dan itu sangat terlihat jelas dari mata Kanaya, mana mungkin Kanaya akan meragukan Dirga sekarang.


Glek...


Kanaya menelan salivanya sendiri saat pintu kamar mandi terbuka dan Dirga terlihat tangan bertel*njang dada dan hanya melilitkan handuk saja di perutnya.


Wajah Kanaya terasa panas saat yakin warnanya sudah merah sekarang.


"Nay, kamu kenapa?" tidak sadar dengan apa yang Dirga pakai saat ini dia malam menanyakan kepada Kanaya apa yang tengah terjadi kepadanya. Tentu istrinya sangat malu sekarang, lebih tepatnya dia gugup melihat suaminya dengan keadaan yang seperti itu.


"I_itu," Kanaya membalikkan badan dan berakhir memunggungi Dirga. Barulah sekarang Dirga sadar dengan apa yang terjadi.


Dirga hanya tersenyum mengamati dirinya sendiri yang dengan keadaan seperti itu, bahkan bukannya dia langsung pergi untuk mengambil baju dan memakainya tetapi malah mendekat ke arah Kanaya.


"Kenapa harus malu, aku adalah suamimu. Kamu halal atas segalanya. Kamu bebas melihatnya bahkan halal untuk menyentuhnya," ucap Dirga.


Di raih nya tangan Kanaya, di tarik perlahan hingga membuat Kanaya kembali ke arahnya. Di tempelkan tangan Kanaya di dadanya tentu akan merasakan bagaimana irama jantung Dirga sekarang.


"Bahkan jantung ini hanya berdetak untuk mu saja, Nay," ucapnya.


"Hah!" Kanaya mengangkat wajah, melihat Dirga yang menunduk melihatnya.


Dirga berjalan maju mengikis jarak dengan Kanaya. Tapi jarak itu tetap ada karena Kanaya berjalan mundur.


Hingga akhirnya Kanaya tak bisa mundur lagi setelah dia sampai kembali di kasurnya. Kanaya terjatuh duduk dan Dirga menyusulnya.


"Ridho?" tanya Dirga.


"Hem," Terlihat Kanaya masih dalam rasa panik. Dia masih di kuasai oleh rasa gugupnya.


"Bismillahirrahmanirrahim," bismillah sebagai awal untuk acara selanjutnya dari mereka berdua. Di lanjutkan dengan doa sebelum benar-benar masuk ke acara inti.


'Ya Allah, bantu aku untuk menahan semuanya. Jangan biarkan aku menyakiti istriku,' batin Dirga penuh harap.

__ADS_1


...****************...


Bersambung....


__ADS_2