
*******
Di Hadapan dokter Rendra Dirga terus menjelaskan apa yang terjadi padanya semalam. Berharap dia benar-benar akan cepat sembuh dengan total dan tak akan lagi mengalami hal yang begitu buruk seperti kelainannya itu.
Dirga tidak mau sampai menyakiti istrinya lagi. Dan Dirga juga sangat menginginkan bisa terus memberikan nafkah lahir ataupun batin kepada istrinya karena itu memang kewajibannya sebagai seorang suami.
"Bagaimana, Dok. Apakah saya benar-benar akan sembuh dengan cepat? Apakah saya benar bisa sembuh total?" Dirga begitu antusias bertanya pada dokter Rendra.
Sementara dokter Rendra begitu senang mendengar penjelasan Dirga. Biasanya orang yang mengalami hal ini akan sangat lama masa penyembuhannya. Tapi, sepertinya ini tidak berlaku pada Dirga.
Dirga membaik dengan waktu yang sangat cepat. Bahkan dokter Rendra sangat tidak percaya.
Ternyata benar, kekuatan doa itu yang paling nyata. Doa Dirga sendiri, kemauannya untuk sembuh dan tekatnya, juga iman yang kuatlah yang membuat Dirga cepat sembuh.
Bukan itu saja, tapi cinta Kanaya, doanya, juga dukungan Kanaya yang begitu besar juga menjadi pemicu kekuatan Dirga untuk lebih kuat.
"Saya yakin anda akan cepat sembuh, Tuan. Dan saya yakin Anda akan benar-benar sembuh total. Tetap lakukan apa yang saya katakan dan juga minum obatnya secara teratur."
"Padahal saya baru mau menyarankan terapi yang lain yang lebih besar pengaruhnya, tapi melihat perkembangannya sangat bagus seperti ini sepertinya anda tak lagi membutuhkannya."
"Jangan berhenti melakukannya, coba terus dan berusaha mengendalikan semua yang hadir di pikiran anda. Jika pikiran-pikiran buruk itu hilang itu adalah kesembuhan. Anda telah sembuh," Ucap dokter Rendra begitu panjang.
"Benarkah saya tidak membutuhkan terapi lainnya?" Tanya Dirga lagi.
"Untuk sekarang tidak, yang terpenting jangan lupakan obatnya untuk di minum secara teratur."
"Baik, Dok. Terima kasih," Begitu senang Dirga mendengarkan penjelasan dokter Rendra. Akhirnya tak lama lagi Dirga bisa sembuh, dia harus optimis untuk itu.
Dengan perasaan senang Dirga keluar dari rumah sakit namun di saat itu dia bertemu dengan Savira yang baru datang.
"Ga, kamu di sini?" Sapa Savira.
"Iya, Vir. Habis bertemu dengan dokter Rendra."
"Bagaimana perkembangannya, baik kan?" Savira sangat penasaran.
"Alhamdulillah, semua sesuai yang di harapkan, Vir. Doakan saja semoga secepatnya aku bisa sembuh."
"Amin... Hem, bagaimana kabar Kanaya sekarang, sibuk apa?"
"Alhamdulillah kabarnya baik, dia sibuk kursus sekarang. Ini aku baru mau jemput."
"Sstts.., sekarang bagaimana? Dia udah menerima kamu?" Savira sedikit memajukan wajahnya, berbisik supaya tak di dengar oleh orang lain.
"Alhamdulillah, semuanya juga berjalan sesuai harapan," Dirga tersenyum sendiri.
"Wih, gercep nih. Kalau sudah sembuh cepatlah bawa Kanaya kemana gitu, kalian jalan berdua dan nikmati waktu bersama. Ya kayak hanymoon gitu."
__ADS_1
"Iya, Insya Allah, Vira. Udah ya, maaf aku harus jemput Naya."
"Ih, buru-buru amat. Udah kangen berat ya?" Goda Savira.
"Apa sih, Vir!" Dirga tetap berlari.
"Hahaha, semoga sukses, Ga!" Dengan begitu senang Savira melambaikan tangan. Tentu kebahagiaan Dirga juga menjadi kebahagiaannya.
Keduanya benar-benar sahabat, tak ada rasa yang mungkin bisa menghancurkan persahabatan mereka. Persahabatan mereka sangat tulus.
Kadang ada saja orang yang mengira kalau mereka pasangan karena saking dekatnya. Tapi itu tak menjadi masalah karena mereka adalah sahabat, dan akan selalu menjadi sahabat.
"Semoga kamu selalu bahagia, Ga," Harap Savira dengan tulus.
********
Di depan LPK Dirga menunggu Kanaya, memang sengaja Dirga selalu menjemput sebelum Kanaya pulang karena dia tidak mau sampai Kanaya kelamaan menunggu.
Di tambah lagi, Dirga tidak mau sampai Kanaya di ganggu oleh Zein dan dia terlambat sampai kecolongan Zein melakukan sesuatu pada Kanaya.
Jelas, ketakutan Dirga sangat besar. Zein bukanlah orang yang mudah menyerah begitu saja dia akan terus melakukan apapun sampai dia mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Termasuk Kanaya.
"Naye, aku antar pulang ya. Sepertinya suamimu itu terlambat menjemput mu," Suara Zein sangat berat itu Dirga dengar itu artinya sebentar lagi Kanaya akan keluar.
Benar kan, Zein pasti akan berusaha mengambil kesempatan untuk bisa dekat dengan Kanaya. Untung saja Dirga memiliki istri yang pendiriannya sangat kuat. Yang tidak akan mudah tergoda pada rayuan gombal yang menjerumuskan.
Dirga menoleh dan melihat Kanaya sudah keluar di sebelahnya ada Zein yang masih terus berusaha keras.
"Sayang!" Teriak Dirga dengan sengaja memanggil Kanaya dengan panggilan sayang. Jelas suara Dirga langsung di sambut senyum dari Kanaya.
Zein terlihat kesal, gagal lagi dan gagal lagi. Kapan dia bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa selalu dekat dengan Kanaya.
"Maaf ya mas Zein. Saya harus pulang suami saya sudah jemput. Dan ya, suami saya tidak akan pernah terlambat menjemput saya jadi jangan pernah berfikir mas Zein bisa mengantarkan saya karena suami saya terlambat," Ucap Kanaya.
"Assalamu'alaikum," Imbuh Kanaya.
"Wa'alaikumsalam," Dengan malas Zein menjawab.
Matanya kini hanya bisa mengawasi punggung Kanaya yang sudah melangkah menjauh dan semakin dekat dengan Dirga yang tersenyum.
Jelas Zein begitu iri, dia begitu menginginkan Kanaya dan itu masih terus dia tanam dalam hatinya.
"Sudah siap untuk melihat tempat mas bekerja, Nay sayang?" Tanya Dirga.
Jelas Kanaya langsung mengangguk dia sangat ingin tau dimana suaminya itu bekerja.
"Baiklah, ayo kita berangkat," Di bukanya pintu mobil dan meminta Kanaya masuk.
__ADS_1
Setelah menutup pintunya Dirga menoleh ke arah Zein sebentar dan pria itu ternyata masih berada di sana.
'Maaf, Zein. Sampai kapanpun Kanaya hanya milikku, milikku,' batin Dirga.
*******
Kanaya begitu terperangah melihat gedung yang kini ada di hadapannya. Benarkah yang ada di hadapannya ini tempat kerja Dirga?
Sebagai apa Dirga kerja di sana, kenapa Dirga begitu bebas. Dia bisa berangkat sesuka hatinya, apakah bosnya tidak akan marah padanya?
"Mas, mas benar bekerja di sini?" Tanya Kanaya seraya menoleh ke arah Dirga.
"Iya, Sayang. Di sinilah tempat mas kerja. Kita masuk sekarang?" Tanyanya dan Kanaya mengangguk.
Dirga langsung merangkul pinggang Kanaya menghadirkan rasa malu di hatinya. Apa kata teman-teman Dirga yang lain kalau Dirga pamer kemesraan dengan istrinya di tempat kerjanya seperti ini.
"Tidak usah takut, yuk," Seolah tau Dirga apa yang Kanaya rasakan dan Dirga semakin erat merangkulnya.
Mata Kanaya terus melihat ke arah penjuru ruangan, banyak para pekerja yang tengah sibuk di sana dia juga langsung mengangguk hormat saat kedatangan Dirga.
"Minta perhatiannya sebentar!" Seru Dirga membuat semua orang langsung tau akan kedatangan Dirga. Mereka juga langsung berdiri.
"Perkenalkan, ini adalah Kanaya Setya Ningrum. Dia adalah istri saya. Saya harap kalian bisa menghormatinya saat dia datang kesini seperti menghormati saya!" Seru Dirga.
"Baik, Pak!" Seru semua menjawab.
"Terima kasih," Ucap Dirga.
Tak pernah ada di pikiran Kanaya kalau setelah Dirga mengenalkannya sebagai istri semua mendekat untuk menyalami, sementara yang laki-laki tetap menyapa dan menyatukan kedua tangan di depan dada mereka.
"Sekarang kita ke ruangan, Mas." Ajak Dirga.
Di sepanjang jalan Kanaya terus melihat-lihat dalam rasa terpukau. Perusahaan yang indah dan sangat rapi.
"Mas, mas bekerja sebagai apa di sini. Kok semua karyawan begitu hormat pada mas?" Tanya Kanaya.
Keduanya masuk di ruangan Dirga dan kini Dirga melepaskan rangkulan pada Kanaya.
Dirga berdiri di depan Kanaya dan menatapnya dengan serius. Kedua tangan juga meraih tangan Kanaya.
"Mas adalah pemilik perusahaan ini, Naya sayang. Jelas mereka akan hormat pada mas." Jawab Dirga.
"Hah!" Kanaya melongo seketika itu.
**********
Bersambung....
__ADS_1