
...*****...
Yuan begitu bingung ketika pagi hari dan melihat para tetangga yang sudah bersiap-siap. Bukan hanya para laki-laki, tapi ada sebagian perempuan yang sudah rapi dan sudah berkumpul di tengah yang luas yang kemarin menjadi tempat acara resepsi Yuan dan Hani setelah acara akad di lakukan di rumah Hani.
Tentu Yuan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Para tetangga itu akan pergi kemana hingga semua beramai-ramai.
"Pakde, pada mau kemana?" tanya Yuan yang sangat penasaran.
"Loh, kamu tidak tau pow, bukannya kita semua akan takziah ke Semarang di tempat Kanaya," jawab orang yang Yuan tanya itu.
Yuan sempat tercengang, Semarang, tempat Kanaya?
"Ke tempat Kanaya, Pakde? Emang siapanya yang meninggal, mertua Kanaya?" tanya Yuan lagi.
"Bapakmu belum cerita pow, kita kan mau ngelayat ke Semarang ke tempat Kanaya karena suaminya meninggal semalam."
"Su_suaminya Ayah meninggal?! Se_semalam?" sungguh tak percaya karena semalam Dirga masih membalas chatnya dan juga mengucapakan selamat atas pernikahannya.
Bagaimana mungkin?
Kabar ini bagaikan petir yang menyambar Yuan dengan sangat keras dan tiba-tiba, hingga akhirnya dia lemas tak ada daya. Seolah tulang-tulang juga lolos dari tubuhnya hingga dia begitu lemas dan terhuyung.
"Yuan!" beberapa orang langsung menangkap tubuh Yuan yang hampir jatuh karena rasa terkejutnya.
Apakah ini yang membuat Dirga mengatakan semua kemarin pada Yuan. Apakah ini alasan yang membuat Dirga menyerahkan Kanaya dan meminta Yuan untuk terus menjaganya?
Jika ini terjadi kemarin, mungkin Yuan tidak akan selemah ini karena dia bisa menggagalkan acara pernikahan yang belum terjadi. Tapi sekarang? Bahkan bukan hanya sekedar di lembar kertas saja dia sudah bersatu dengan Hani tapi mereka benar-benar sudah bersatu.
Yuan merasa begitu bodoh karena tidak mengerti maksud yang Dirga katakan. Dia bodoh karena kata-kata meninggalkan dari Dirga dia anggap bahwa Dirga akan menceraikan Kanaya.
Tapi ternyata benar, Dirga memang menceraikan Kanaya tapi cerai pati, alias menceriakan karena kematian.
__ADS_1
Yuan lemas langkahnya begitu pelan dengan tatapan mata kosong untuk kembali ke rumahnya. Semua orang sangat mengerti kalau Yuan sebenarnya dulu memang menyukai Kanaya, tapi karena orang tua yang tidak merestui dan sekarang jadi seperti ini.
Yuan terduduk dengan lemas di ruang tengah dan saat itu Hani menghampirinya.
"Apa kak Yuan menyesal telah menikah dengan Hani sekarang setelah tau Kanaya menjadi seorang janda?" tanyanya.
Ya, dalam hati Yuan sangat menyesal karena seharusnya dia bisa kembali dengan Kanaya setelah ini, tapi dengan keberadaan Hani yang sudah sah menjadi istrinya, dia tidak bisa mengabaikan itu.
"Hani rela jika kak Yuan akan meninggalkan Hani dan akan kembali dengan Kanaya. Buat apa kita lanjutkan hubungan ini kalau dalam hati kak Yuan saja ada Kanaya bukan Hani."
"Hani tidak mau menjadi penghalang kebahagiaan kalian. Hani ikhlas dengan semua yang sudah terjadi."
"Hani akan sangat senang karena sudah mendapatkan semuanya dari kak Yuan. Meski tidak mendapat cinta kak Yuan, setidaknya Hani mendapatkan hak Hani sebagai istri. Dan Hani tidak berdosa karena sudah melaksanakan kewajiban Hani."
Yuan menoleh ke arah Hani, dia menghentikan pergerakan Hani yang ingin beranjak.
"Tidak, meski aku mau tapi aku tidak akan melakukannya. Ini adalah takdir kita. Takdir antara aku, kamu dan Kanaya."
Ternyata Yuan tidak egois. Dia tetap mempertahankan Hani meski sebenarnya hatinya ada Kanaya.
Di rengkuhnya tubuh Hani dan di kecup keningnya dengan pelan.
"Kanaya adalah masa lalu ku, dan kamu adalah masa depan ku. Bantu aku, bantu aku untuk bisa melupakannya." ucap Yuan.
********
Duka sangat besar untuk Kanaya, dia kehilangan Dirga di hari yang seharusnya mereka bahagia dengan kehadiran anaknya.
Memandangi pusara Dirga dari jauh air matanya terus mengalir. Dia ingin mendekat tapi tidak bisa karena keadaan yang sedang nifas dan tak mungkin masuk ke area pemakaman.
Semua sudah pergi, hanya tinggal dirinya saja dan juga pak Danu yang menunggu dari kejauhan.
__ADS_1
Pak Danu kuga sangat berduka, bertahun-tahun dia ikut dengan Dirga bagaimana dia bisa tabah dengan semua ini. Apalagi melihat keadaan Kanaya sekarang, dia semakin tak berdaya dia tau bagaimana Dirga berusaha keras untuk mendapatkan Kanaya. Sekarang setelah sudah di dapat dan hidup mereka akan bahagia perpisahan telah merenggut kebahagiaan mereka.
"Ayy," Kanaya masih bergeming.
"Yang sabar ya, Ayy. Akang takut kamu akan kuat."
Baru Kanaya menoleh dan akhirnya dia melihat Yuan yang berdiri tak jauh darinya bersama Hani.
Hani tak kuasa melihat betapa hancurnya Kanaya sekarang dia ingin berlari merasa bersalah tapi tangannya langsung di tangkap oleh Yuan. Seharusnya dia tidak menerima pernikahannya dan Kanaya bisa bahagia dengan Yuan.
"Kamu sahabatnya, jangan tinggalkan dia ketika berduka." katanya. Hani langsung berlari menghampiri Kanaya dan memeluknya.
Keduanya menangis bersama-sama. Berbagi duka di tengah-tengah kebahagiaan. Kebahagiaan Hani dan Yuan yang sudah menikah dan juga kebahagiaan Kanaya yang menjadi seorang ibu.
"Yang sabar ya, Ayy." kata Hani.
*******
Takdir memang tidak selalu indah. Tak selalu seperti yang kita harapkan.
Kita mengharapkan bersama dengan orang yang pertama kali hadir dalam hidup kita tapi jika takdir sudah mengatakan hal lain kenapa tidak? Kita tidak bisa berjalan dengan apa yang menjadi kehendak kita. Kita hanya seorang hamba yang akan melangkah sesuai apa yang di inginkan oleh sang Pencipta.
Begitu juga dengan Kanaya. Takdirnya memang tak seindah dari kehidupan-kehidupan pasangan yang semestinya, takdirnya juga tidak semulus harapannya.
Selamat jalan Dirga Gantara...
Jasamu akan hidup Kanaya begitu besar dan tidak akan pernah terlupakan. Cintamu juga sangat besar dan juga sangat abadi...
Cinta pertama sehidup semati...
END.....
__ADS_1