Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Alhamdulillah


__ADS_3

...****************...


Kata orang mabuk cinta bisa bikin orang buta, dia mendapatkan kenikmatan namun disertai kehilangan akal. Bahkan juga bisa membuat orang seakan gila, karena dia melakukan apapun yang di ingin sampai di bawah nalar.


Tapi berbeda jika cinta yang berlandaskan iman, mereka akan betul merasakan keindahan dan kebahagiaan yang hakiki. Dan Cinta yang seperti ini biasanya tidak bisa terpisahkan dari agama.


Tanpa cinta tak ada pengorbanan, tanpa cinta tak ada harap akan ketaatan dan tanpa cinta tak akan pernah di temui kekhusyukan.


Itulah kenapa Dirga begitu menjunjung tinggi nilai cinta dengan iman. Dia berani jujur meski bisa saja yang di korbankan adalah kebahagiaannya. Tapi alhamdulillah, niat yang baik akan selalu berakhir baik pula.


Dengan sedikit duka dan kecewa sekarang Dirga dan Kanaya bisa memetik indahnya cinta. Mengarungi bahtera yang begitu indah yang benar-benar berlandaskan cinta. Meski belum begitu besar tapi sudah ada dan itu akan menjadi pondasi untuk membuatnya semakin kokoh.


Tak henti-hentinya Dirga selalu mengucap kata syukur. Sembari memeluk sang istri dia terus saja menghujani kecupan di keningnya. Kecupan lembut namun terasa begitu memabukkan.


Sementara Kanaya, dia juga terus membalas perlakuan Dirga kepalanya di atas tangan Dirga yang menjadi bantal sementara tangannya terus berada di atas dada Dirga dan merasakan getaran juga telinganya mendengar melodi indah penuh cinta dari jantung juga hati Dirga.


"Nay, apakah kamu tidak akan pernah membuka hijab mu meski di hadapan suamimu sendiri?"


Tangan Kanaya berhenti bergerak. Ya, bahkan sampai saat ini Kanaya masih tidur dengan hijabnya.


"Hem?" tentu Kanaya akan bingung untuk menjawab.


"Kalau belum siap jangan di lepas. Mau kamu seperti apapun kamu tetap istriku," ucap Dirga karena keraguan Kanaya barusan.


"Hem, bukankah mas yang ingin lihat kenapa tidak mas sendiri yang melepaskan," Kanaya tersenyum malu. Apakah dengan seperti ini sama saja dia tengah menggoda Dirga? tapi tak masalah sih, Dirga kan suaminya.


"Beneran, boleh?" Dirga masih memastikan.


Kanaya mengangguk pelan, bukankah semua yang ada pada Kanaya adalah milik Dirga? pastilah Kanaya akan mengizinkannya.


"Bismillahirrahmanirrahim," tangan Dirga bergerak perlahan melepaskan hijab instan yang Kanaya pakai. Rambutnya masih di ikat dan perlahan Dirga juga melepaskan.


"Subhanallah," Dirga langsung terpukau. Ini adalah pertama kali Dirga melihat rambut Kanaya dengan benar-benar dalam kesadaran penuh. Tanpa ada amarah juga tidak di selimuti dengan kelainannya yang seolah membutakan mata bahkan juga dengan hatinya.

__ADS_1


"Semoga Allah selalu melindungi mu, melindungi kecantikan mu, dan melindungi kehormatan mu," ucapnya dengan menyingkirkan sedikit rambut yang menutupi wajah Kanaya.


"Amin," dan hanya itu yang Kanaya ucapkan itupun juga sudah dengan gemetar juga dengan sangat malu.


"Loh, kenapa?" Dirga melirik dan wajah Kanaya di sembunyikan di dada Dirga.


"Malu, mas lihatnya gitu banget sih," tetap Kanaya menyembunyikan wajahnya.


"Hem, itu semua karena kamu begitu cantik, Sayang." ucap Dirga.


Kedekatan, kebersamaan membuat hubungan semakin erat. Bahkan hanya dengan sentuhan kecil saja dapat menyalurkan benih-benih cinta di hati keduanya.


Inilah cinta mereka. Cinta yang tidak di kendalikan oleh hawa n*fsu. Cinta mereka hanya bertujuan untuk Allah, dan akan selalu seperti itu.


"Mas, bagaimana dengan pengobatan mas?" tanya Kanaya memberanikan diri. Sudah beberapa hari Kanaya tidak pernah lagi menemani Dirga untuk bertemu dokter tapi katanya Dirga sangat rajin ke sana untuk melanjutkan pengobatannya.


"Alhamdulillah, semua semakin baik." Suulas senyum penuh kebahagiaan keluar dari bibir Dirga.


'Semua semakin baik, Nay. Dan mas harap akan segera hilang biar mas bisa memenuhi kewajiban dengan baik sebagai seorang suami,' batin Dirga.


Dirga memiliki syarat utama itu jadi akan sangat mudah untuknya cepat sembuh. Di tambah dengan arahan juga obat dari dokter pasti akan semakin mempercepat lagi.


"Alhamdulillah," terlihat Kanaya juga sangat bahagia dengan jawaban Dirga itu artinya dia akan segera sembuh kan dan Kanaya tidak perlu takut lagi dengan kelainan Dirga yang sangat menakutkan itu. Kebahagiaan pasti akan semakin besar nantinya.


"Udah malam, tidurlah," Dirga semakin erat memeluk Kanaya benar-benar tak ingin di lepaskan.


"Hem," Kanaya pun melakukan hal yang sama, tak ada rasa malu lagi saat memeluk Dirga bahkan Kanaya begitu senang melakukan itu.


...****************...


Shalat subuh berjamaah kembali Dirga dan Kanaya lakukan di dalam kamarnya. Menambah kedekatan keduanya dan yang jelas akan semakin membuat erat ikatan mereka.


Begitu khusuk setiap gerak juga setiap doa yang di panjatkan. Hingga berakhir dengan salam dan kedua menyiarkan rasa syukur secara bersamaan.

__ADS_1


Kenikmatan yang sangat besar yang mereka dapatkan, bisa melakukan ibadah wajib dengan bersama-sama.


Seusai berdoa Dirga seperti biasa, menoleh ke belakang dan mengganti posisi duduknya untuk menghadap Kanaya. Mengulurkan tangan untuk di salami dan meraih kepala Kanaya untuk di limpahi kecupan. Sungguh, pemandangan yang sangat indah bukan?


Apalagi semua itu sudah berlandaskan cinta jadi akan semakin indah.


Menikmati masa-masa indah tumbuhnya cinta bersama, mengikis jarak pintu gerbang kebahagiaan dengan langkah yang penuh dengan cinta dan juga keimanan.


Semua di lakukan juga dengan dasar keimanan. Jika hal yang di cintai hal yang terlarang pastilah iman itu yang akan membantu untuk memutuskannya. Namun, jika yang di cintai itu sesuatu kebenaran pastilah iman akan semakin menyuburkannya.


Dirga maupun Kanaya sedang dalam proses itu, proses penyuburan cinta mereka untuk menjadi lebat, kemudian bisa berbunga dan menjadi indah. Sungguh mengagumkan.


Muach....


Bukan hanya kecupan di kening saja, melainkan di bibir yang selalu membuat jantung Dirga selalu bekerja lebih cepat saat menatapnya.


"Apa kamu bahagia?" mata keduanya saling beradu pandang sama-sama mengisyaratkan sebuah cinta yang semakin besar.


"Hem," Kanaya mengangguk kecil namun sangat cukup membuat hati Dirga begitu bahagia.


Al-Qur'an Dirga ambil dari atas nakas langsung di buka di hadapan Kanaya. Kanaya pikir dia akan kembali mendengar suara indah Dirga saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an tapi ternyata?


"Hem," Dirga menyodorkan pada Kanaya dan meminta Kanaya yang mengaji. Yah! Kanaya yang mengaji dan Dirga yang menyimak.


"Kenapa malah bengong, yuk mulai. Mas mau denger kamu ngaji juga," ucapnya.


Di mulai dari Surah Al-Fatihah dan di sambung dengan Surah Al-Baqarah.


Dengan tartil Kanaya melantunkannya, meski awalnya merasa sangat grogi tapi akhirnya dia begitu menghayati dan Dirga terus mendengarkan dengan sesekali membenarkan.


Alhamdulillah, Dirga begitu bersyukur karena memiliki Kanaya. Bagi Dirga dia adalah wanita sholehah. Di hatinya hanya selalu ada kebaikan, dia juga tidak pernah menuntut apapun sebagai istri dan yang pasti dia selalu bisa menjaga kehormatan sang suami.


Alhamdulillah....

__ADS_1


...****************...


Bersambung.....


__ADS_2