
◦•●◉✿"✿◉●•
"Hidup, mati, jodoh, rezeki semua sudah ada takdir masing-masing di semua manusia. Semua juga sementara, tak akan ada yang kekal di genggaman meski kita terus berusaha memperjuangkan nya." Seru Kyai Aslan.
Semua tampak diam mendengarkan. Seolah semua terhipnotis dengan dakwah yang Kyai Aslan ucapkan. Semuanya sangat mudah di mengerti dan di terima dengan baik.
Doa juga salam menjadi akhir dari Kyai Aslan dan menjadi akhir juga acara khataman hari ini. Semua berjalan sebagai mana semestinya, sukses besar.
Semua tamu undangan satu persatu meninggalkan tempat acara. Sementara para santri juga ketiga sahabat itu masih setia di sana. Mereka yang belum sempat makan membuat mereka tertahan dan di minta untuk makan-makan. Mereka tak akan di perbolehkan pulang sebelum perut mereka kenyang.
Hingga akhirnya mereka semua bisa pulang, sementara para anak didik mereka juga sama. Tapi mereka pulang bersama orang tua mereka masing-masing, sementara Kanaya, Hani juga Wati kembali berjalan kaki seperti biasanya.
"Alhamdulillah ya, akhirnya tugas kita sudah selesai. Dan alhamdulillahnya semua berjalan dengan sangat lancar dan bisa di terima baik oleh semua orang." Ucap Hani.
Begitu bahagia mereka bertiga, akhirnya semua telah selesai. Sekarang mereka bisa ngaji lagi seperti biasa tanpa harus memikul tanggung jawab besar untuk mendidik anak-anak lagi.
Ketiganya menghentikan langkah saat melihat Yuan yang kembali menghadang mereka bertiga dengan sepedanya yang berwarna biru.
"Ay, kami duluan ya," Wati langsung menarik tangan Hani. Dan mereka berdua berjalan mendahului dan melalui Yuan.
"Mari, Kak Yuan. Duluan ya!" Seru Hani.
"Hem," Yuan mengangguk juga tersenyum seraya melihat kepergian Hani juga Wati yang semakin jauh. Tak lama Yuan kembali beralih melihat Kanaya yang sudah berjalan pelan dan mulai dekat.
"Mau jalan kaki atau Akang bonceng biar nggak capek?" Tawar Yuan.
"Hem...? Jalan kaki saja, Kang," Jawab Kanaya, tidak mungkin dia akan berboncengan. Tapi kadang-kadang juga mereka akan berboncengan sih meski Kanaya tak berpegangan dengan Yuan.
"Baiklah," Yuan juga Kanaya benar-benar berjalan. Yuan terus mendorong sepedanya yang menjadi sekat di antara mereka berdua.
Hening sementara. Dan tak lama Yuan kembali berbicara.
"Ay, Akang bangga padamu. Kamu benar-benar bagus dalam pentas tadi. Kamu berhasil." Puji Yuan.
Kanaya masih diam tak menjawab tapi dia hanya menunduk malu. Kenapa dia menjadi lebih gugup sekarang setelah satu bulan tak bertemu.
Kerinduan benar menggebu-gebu dalam hati Kanaya juga Yuan hingga ingin rasanya mereka memberikan pelukan untuk menumpahkan rasa rindu mereka. Tapi semua keinginan masih terkena jarak haram yang belum mereka ubah menjadi halal.
Tapi tak butuh memberikan pelukan ataupun semua ciuman, hanya memberikan sebuah senyuman sudah membuat keduanya bahagia. Inikah yang di namakan dengan cinta sejati? Entahlah.
"Oh, ya! Ada sesuatu untuk Ayya." Sebuah kresek putih berisi kotak yang di bungkus kertas kado bergambar hati di berikan oleh Yuan untuk Kanaya.
Gadis itu mengernyit namun tetap menerimanya.
__ADS_1
"Ini apa, Kang?" Tanya Kanaya bingung. Dia langsung membuka kresek dan melihat dua kotak itu namun Kanaya belum berniat untuk membukanya.
"Buka saja." Jawab Yuan, seraya menatap lekat Kanaya yang masih sangat penasaran.
Kotak Kanaya keluarkan, rasa ingin tau apa yang ada di dalamnya membuat dia bergegas untuk membukanya.
"Beneran Kanaya boleh membukanya sekarang?" Kanaya kembali memastikan. Soalnya, belum juga orangnya pergi masak udah di buka begitu saja. Ya sopan nggak sopan sih.
"Buka saja," Yuan menekankan. Keduanya duduk di tugu yang ada di pinggir jalan hanya untuk membuka hadiah yang Yuan berikan untuk Kanaya.
"Itu hadiah kamu karena telah berhasil," Ucap Yuan yang ikut duduk namun tetap dalam jarak aman.
Kanaya bergeming, dia sudah serius dengan apa yang ada di hadapannya. Di bukannya perlahan tanpa harus merobek kertas pembungkus yang bergambar hati itu. Kanaya membukanya sesuai dengan lipatan-lipatannya jadi kertas pembungkus itu tetap aman.
Wajah berbinar langsung terlihat jelas dari Kanaya. Novel yang ingin sekali dia baca jalan ceritanya dan sekarang dia bisa memegangnya langsung tanpa rasa penasaran sebenarnya seperti apa bukunya. Dulu Kanaya hanya mendengar dari bibir ke bibir teman-teman bahwa ceritanya sangat bagus dan sekarang dia bisa menyimak jalan ceritanya setelah ini.
"Ayat-ayat Cinta!" Kanaya menoleh ke arah Yuan.
"Ini beneran untuk Kanaya, Kang?" Kanaya masih tak percaya, semua ini masih seperti mimpi untuknya. Bisa memiliki apa yang dia inginkan.
"Iya. Bagaimana, apa Ayya suka?" Tanya Yuan dan Kanaya langsung mengangguk dengan heboh.
Ingin Kanaya lompat-lompat sekarang, dia sangat bahagia. Tak ada yang lebih memperhatikan kebahagiaan Kanaya kecuali Yuan. Dia selalu saja ada cara membuat Kanaya tersenyum.
Di tengah-tengah semua orang abai padanya tapi Yuan selalu ada, tapi entah sekarang. Yuan tidak pasti ada di rumah, satu bulan mereka baru bisa bertemu itu akan sangat membuat Kanaya kesepian.
Apakah dengan cara seperti saat ini bisa di katakan pengungkapan Cinta? Kalau benar maka Yuan sudah berkali-kali mengungkapkannya. Tetapi jika cinta harus di katakan dengan kata maka Yuan sama sekali belum pernah mengatakannya.
Senyummu adalah kebahagiaan ku.
Kata itulah yang menggambarkan Yuan pada Kanaya. Senyumnya bisa mengubah sebuah duka dan lara yang ada di dalam hatinya. Tapi tetap tak bisa mengubah rasa gelisah dan takut akan kehilangan gadisnya ini.
Hati Yuan benar-benar berselimut gelisah yang sangat besar. Entah kenapa, tapi Yuan sangat takut Kanaya akan pergi jauh darinya.
Apakah ini benar-benar cinta? Apakah hanya sebuah obsesi untuk bisa memiliki Kanaya? Yuan rasa tidak, ini benar-benar cinta. Cinta yang ingin melihat gadis tercintanya selalu bahagia. Inilah cinta sejatinya.
"Yang satu buka di rumah saja," ucap Yuan.
"Baik, Kang!" Kanaya mengangguk semangat.
'Apakah cara ini sudah benar? Apakah aku tetap harus mengikatnya? Ya Allah, jagalah cinta ini. Jika rasa ini salah maka aku lah yang melakukan kesalahannya. Tapi jika rasa ini benar, maka jagalah untuk selamanya.'
'Cinta adalah fitrah yang Engkau berikan. Kami sebagai hamba tak bisa memilih siapa yang berhak mendapatkan cinta kami, karena itu sudah menjadi ketentuan-Mu. Kami juga tidak berhak memaksa untuk menghadirkan cinta itu untuk siapapun, karena cinta itu yang memilih bukan kami sebagai pelaku yang memilih. Dan cintaku memilih Kanaya yang mendapatkannya.'
__ADS_1
'Gadis berkulit sawo matang dengan hidung mancung alis tipis juga wajah yang tirus. Cintaku sudah memilihnya. Semoga Engkau meridhoi cinta kami. Entah kami bisa bersatu ataupun tidak, tapi cinta tidak akan pernah musnah, cinta kami sejati untuk satu sama lain. Hari ini, esok dan selamanya.' batin Yuan seraya menatap gadisnya yang tersenyum penuh kebahagiaan.
"Terimakasih ya, Kang. Ayya benar-benar menyukainya!" Seruan Kanaya seketika membuyarkan angan Yuan.
Sebuah mimpi untuk bisa naik pelaminan dengan gadisnya yang bisa membuatnya selalu tersenyum. Gadis yang mampu menggetarkan hatinya dan mengenalkan akan arti sebuah cinta.
"Sama-sama. Semoga suatu saat Akang bisa membawamu melihat langsung bagaimana filmnya. Akang akan menantikan saat itu, Ayy," Lirih Yuan dengan penuh harap, namun tetap terdengar oleh Kanaya.
"Apakah ada filmnya?"
"Tentu, di Jogja sering di putar di bioskop. Berdoa ya, semoga kelak kita bisa nonton berdua." ucap Yuan. Tentu Yuan menginginkan itu, memimpikan saat-saat mereka sudah halal dan bisa pergi kemanapun berdua tanpa takut akan dosa.
"Amin, semoga Allah mengabulkan doa Akang." Kanaya tersenyum sangat manis sekali. membuat hati Yuan kembali bergetar.
Tiinnnn......
Bunyi klakson mobil seketika mengejutkan keduanya yang tengah saling menatap. Entah siapa yang mengganggu kebahagiaan mereka berdua ini.
Rasa ingin mengumpat tapi rasa hati Yuan tak sampai. Dia punya batasan untuk itu. Hanya matanya saja yang berakhir melotot tanda tak menyukai perbuatan orang yang melintas itu. Apa karena dia kaya dan punya mobil mewah lantas berperilaku seperti itu?
"Akang mengenalnya?" Tanya Kanaya dan Yuan kembali menoleh sebentar ke arahnya.
"Tidak, Akang tidak mengenalnya." Jawab Yuan sembari memperhatikan mobil itu yang semakin jauh.
"Ini sudah hampir menjelang maghrib, Akang antar Ayya pulang. Takut di marahin Wak Tejo." Yuan berdiri lebih dulu.
"Hem," Kanaya mengangguk.
Jarak yang jauh membuat Yuan meminta Kanaya untuk menerima tawaran untuk di bonceng dengan sepedanya. Dan kini Kanaya tidak menolak.
Roda mulai berputar seiring kaki Yuan yang terus mengayuh nya dengan perlahan. Sementara Kanaya, dia hanya berpegangan bagian belakang saja.
Hembusan angin kabut pekat menjelang petang menjadi saksi kisah mereka yang begitu indah. Begitu membahagiakan meski tak saling mengungkapkan cinta.
Sementara di dalam mobil yang barusan melintas, seorang pria menatap tak suka dengan kebersamaan Yuan juga Kanaya. Matanya langsung mengisyaratkan sebuah kebencian dan kemarahan yang sangat besar.
"Bagaimana, apakah kamu sudah dapatkan informasinya?" Tanyanya tegas.
"Sudah, Tuan. Ini informasi yang Anda minta." Sebuah map di terima dari sang ajudannya.
"Kanaya Setya Ningrum, nama yang bagus. Aku sangat menyukainya." Pria itu menyeringai, sepertinya dia benar-benar sangat tertarik dengan Kanaya.
"Kamu pasti sudah tau kan apa yang saya inginkan? Atur semuanya, aku ingin dia menjadi milikku dalam waktu dekat." Titahnya.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
◦•●◉✿"✿◉●•◦