
"********"
Rasa pusing benar-benar Kanaya rasakan setelah sampai di tempat pusat perbelanjaan. Sesekali dia menggelengkan kepala dan juga menutup matanya seraya menunduk dengan tangan yang berpegangan troli yang dia gunakan sebagai wadah untuk semua belanjaannya.
Ini tak biasa bahkan sangat tidak biasa karena selama Kanaya berada di Semarang baru kali ini dia merasakan sakit, sebelumnya sama sekali tidak pernah.
Sejenak dia menghentikan langkah hingga rasa pusing itu perlahan hilang dan dia kembali lagi berjalan dan memilih apa yang ingin dia beli.
Pak Danu tidak mengetahuinya karena dia tidak mengikuti ke mana Kanaya pergi dia di tempat lain juga untuk berbelanja hal yang lain itu pun atas permintaan dari Kanaya supaya waktunya lebih singkat.
"Astaghfirullah hal adzim..." Kanaya kembali berhenti ketika merasa pusing itu kembali datang rasanya benar-benar tidak nyaman.
"Mbak, mbak kenapa?" Satu pengunjung yang melihat Kanaya yang seperti itu langsung menghampiri dan menyentuh pundaknya untuk menyadarkan Kanaya akan kedatangannya.
"Tidak apa-apa hanya sedikit pusing saja," jawab Kanaya sembari tersenyum kepada wanita tersebut.
"Lebih baik mbak istirahat lebih dulu kalau memang merasa pusing, atau mungkin Mbak mau saya belikan minuman hangat supaya lebih tenang?"
Ternyata wanita itu begitu baik dan menawarkan minum kepada Kanaya wanita yang sama sekali tidak dia kenal.
Kanaya sangat yakin di manapun kita membuat kebaikan dan di manapun juga kebaikan itu pasti akan kita dapatkan dari orang lain.
''Terima kasih, Bu. Tapi tidak usah, Saya tidak mau merepotkan ibu, Ibu pasti sedang buru-buru bukan?"
Sangat enggan untuk menerima perbuatan baik dari seorang karena kan Ayah tahu semua orang pasti memiliki kesibukan tersendiri jadi dia sangat takut kalau sampai mengganggu aktivitas orang lain.
"Tidak apa-apa saya Ikhlas kok melakukannya. Lebih baik mbak duduk dulu di sini biar saya cari minum dulu," Ucapnya.
__ADS_1
Kanaya mengangguk-pelan dia juga duduk di salah satu bangku yang sudah ada semenjak tadi sementara ibu-ibu tersebut sudah berlangsung bergegas pergi mencari apa yang tadi dia tawarkan.
Tak berapa lama Ibu itu kembali dengan membawa cup yang berisi teh hangat yang langsung diberikan kepada Kanaya.
"Ini mbak, di minum dulu. Biar lebih tenang." Ucapnya.
Dengan perlahan Kanaya menerima minuman tersebut dan sang ibu tersenyum senang karena bisa membantu Kanaya yang terlihat begitu pucat saat ini.
"Mbak ke sini bersama siapa, Apa perlu saya panggilkan orang yang datang dengan mbak apa mungkin saya menghubungi keluarga Mbak?"
"Saya datang dengan sopir saya bu sebentar lagi dia juga ke sini biar saya menunggu di sini saja," jawab Kanaya membuat ibu itu mengangguk mengerti.
"Ya sudah, sekarang Mbak bagaimana kalau sudah baikan saya pergi untuk melanjutkan belanja atau saya temani di sini sampai sopir Mbak datang?"
"Tidak usah Bu, saya bisa sendiri silakan Ibu melanjutkan belanja ibu. Saya benar-benar berterima kasih sudah dibantu."
Ibu tersebut benar-benar pergi melanjutkan belanjanya meninggalkan Kanaya duduk di sana sendiri menunggu pak Danu ya sebentar lagi pasti akan datang.
Melihat majikannya pucat seperti itu pastilah membuat pak Danu sangat panik dia berlari meski masih jauh dan Ingin secepatnya memastikan kalau majikannya dalam keadaan baik-baik saja.
"Nona, nona baik-baik saja?" Tanya pak Danu dengan sangat khawatir.
"Saya tidak apa apa Pak, ini hanya pusing saja kok sebentar lagi juga sembuh," Jawab Kanaya.
"Kalau begitu lebih baik kita pulang saja Nona saya tidak mau terjadi apa-apa kepada nona."
Sepertinya niat Kanaya untuk membeli bahan akan gagal karena setelah ini pasti pak Danu tidak akan membiarkan dia belanja lagi. Pak Danu sudah selalu di wanti-wanti oleh Dirga dan dia tidak akan pernah mengecewakan Dirga.
__ADS_1
"Tapi, Pak?"
"Sudahlah, Nona. Kita bisa belanja lagi besok setelah nona benar-benar dalam keadaan baik-baik saja. Kalau Nona bersikeras kalau sampai terjadi apa-apa pasti saya yang akan disalahkan, jadi lebih baik kita pulang saja."
Kanaya tak bisa mengelak lagi dari keinginan pak Danu untuk pulang dia harus mengikuti apa yang diinginkan karena semua itu juga atas perintah dari Dirga sang suami.
"Nanti kita mampir di apotek sebentar ya Pak," ucap Kanaya dan untuk permintaan ini pak Danu tidak menolak karena Kanaya pasti ingin membeli obat untuk sakit kepalanya.
Semuanya pak Danu yang menyelesaikan belanjanya sementara Kanaya hanya duduk menunggu hingga semuanya selesai.
Dan benar saja di tengah perjalanan mobil berhenti di apotek pinggir jalan. Sebenarnya pak Danu yang ingin turun dan membelikan obat untuk Kanaya Tetapi dia tidak ingin merepotkan hingga Kanaya sendiri yang turun.
********
Ternyata bukan hanya Kanaya yang merasa sakit kepala tetapi Dirga juga sama di kantornya dia tidak bisa konsentrasi karena sakit kepala yang sangat luar biasa.
Sesekali dia menggeleng dan memejamkan mata untuk bisa menghilangkan rasa sakitnya tetapi ternyata Sama saja tidak berubah masih tetap sakit ketika dia membuka mata.
"Astaghfirullah," kedua tangannya memijat kepala sendiri dan saat itu rasanya lumayan enak namun itu hanya beberapa saat saja.
"Aku harus ke rumah sakit untuk pemeriksaan sakit kepalaku sudah berhari-hari tapi tidak kunjung sembuh pasti ada solusi jika datang ke rumah sakit."
Dirga bergegas dia membereskan semuanya dan bergerak untuk segera pergi ke rumah sakit. Berhari-hari dia merasa pusing dan sudah setiap hari dia minum obat dan yang dia beli dari apotek tetapi masih saja sama belum juga sembuh. Entah apa yang terjadi kepadanya.
********
Bersambung...
__ADS_1