
'Sepi, itulah yang aku alami sekarang. Tak ada lagi kedua sahabat yang selalu ada. Sahabat senang juga duka. Berbahagialah dengan hidup kalian berdua, dan biarkan aku bahagia dengan kesendirianku setelah kepergian kalian. Tetaplah menjadi sahabat meski kita tak lagi bersama.'
#Hani
```````````````
Kenapa begitu susah untuk melupakan semua kenangan yang sudah lama dengan Kanaya sehingga Yuan begitu kehilangan semua konsentrasinya dalam semua apa yang dia lakukan.
Tubuhnya menjadi lunglai. Apa yang dia perjuangkan saat ini untuk bisa sukses akan bisa dia nikmati bersama dengan Kanaya, bisa dia rayakan kelak bersamanya tapi apa sekarang, semua seakan hancur tak bermakna.
Sebenarnya semua yang Yuan perjuangkan saat ini tidak akan pernah menjadi sia-sia karena semua akan berguna untuknya kelak. Tapi tidak dengan pemikiran Yuan sekarang, semua seakan tak ada guna lagi.
Diamnya Yuan tentu membuat Angga merasa sangat keheranan. Semenjak dia kembali dari rumahnya dia menjadi pendiam dan suka melamun. Semua seolah dia abaikan begitu saja. Inikah yang di namakan patah hati?
''Yuan, sebenarnya kamu ada apa sih. Dari tadi kamu terus diam terus seperti ini, apakah ada yang sangat mengganggu pikiranmu?'' Angga sangat penasaran. Dari pagi hingga sekarang sudah sore Yuan terus diam dan tak mau bercerita apa yang telah terjadi kepadanya.
Bukannya menjawab Yuan malah semakin larut dalam lamunan. Memikirkan semua kisah manis yang akhirnya tak bisa dia miliki.
Angga menyerobot duduk di sebelah Yuan yang terus mengabaikannya. Dia sangat yakin ada hal yang temannya itu sembunyikan , tapi apa?
''Yuan, ayolah. Bagi penderitaan mu padaku supaya kau tidak terlalu seperti ini. Setidaknya dengan sedikit bercerita akan membuat hatimu sedikit tenang.''
Disentuhnya bahu Yuan dan akhirnya bisa membuat dia tersadar.
''Dia sudah pergi, Ga,'' Yuan hanya menoleh sebentar lalu kembali lagi dengan inti dari apa yang menjadi pusat penglihatannya.
Gambar gadisnya yang fotonya sudah bisa dia pegang tidak perlu membuka ponselnya. Foto Kanaya dengan hijab merahnya yang begitu manis di hiasi senyuman.
Angga melihat apa yang ada di tangan Yuan dan sekarang dia sangat tau apa yang membuat sahabatnya itu menjadi seperti ini. Menjadi seorang pemuda yang kehilangan jalan.
__ADS_1
''Emang dia pergi kemana?'' tanya Angga tak mengerti. Apa mungkin pergi kerja dengan jarak yang sangat jauh atau pergi memutuskan Yuan.
''Dia pergi dari hidupku dan menjemput hidup barunya dengan pria lain, Ga,'' suara Yuan benar-benar sangat penuh dengan kerapuhan sekarang ini. Kenapa, bukan pria ataupun wanita kalau patah hati pasti gejalanya akan sama. Apakah itu memang sudah menjadi penyakit bawaan dari orang yang patah hati?
''Astaghfirullah, pantas saja kamu dari tadi terus seperti ini.'' sungguh terperangah tak percaya Angga sekarang. Dia tau betapa sayang dan dekatnya Yuan dengan gadis yang tidak dia kenal itu. Meski belum pernah bertemu tetapi Angga sudah tau semuanya kerena Yuan juga selalu menceritakannya.
''Sungguh malang nasibmu, Yuan.'' Angga terpaku sejenak namun tak lama langsung kembali melihat wajah Yuan.
''Tidak apa, Yuan. Tidak usah bersedih terlalu berlebihan, kalian berpisah dengan cara seperti ini berarti karena dia memang bukan jodohmu. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah memperbaiki diri, berjuang untuk menjadi sukses sebelum Allah mempertemukan jodoh yang sebenarnya.''
''Jadi di saat kamu bertemu dengannya kamu sudah sukses dan sudah menjadi lebih baik. Tunggulah dan terus berdoa, Yuan. Supaya kelak jika Allah memberikan cinta untukmu lagi dia adalah gadis yang memang jodohmu.'' benar yang Angga katakan.
Sepertinya Yuan harus menerima saran dari sahabatnya itu.
''Aku tau kamu tak akan bisa melupakan dengan cepat. Pelan-pelan saja, aku yakin kamu akan bisa melewati ini semua.''
`````````````````
Begitu tak percaya Wati saat ini jika Kanaya sudah menikah. Dia sepat ingin marah karena tidak di undang, Wati berfikir Kanaya memang sengaja melupakan dirinya setelah dia berada di kampung yang berbeda.
Namun amarah Wati bisa redam saat Hani menjelaskan semua yang telah terjadi. Jangankan Wati yang berada di kampung yang berbeda, Hani yang ada di kampung yang sama saja dia juga tidak bisa menyaksikan jalannya pernikahan sahabatnya itu.
Sungguh, mereka berdua tarasa sangat miris menjadi sahabat, tapi mereka juga sangat kasihan dengan apa yang di alami oleh Kanaya.
''Han. Sekarang bagaimana keadaan Kanaya ya. Aku kok jadi mengkhawatirkannya.'' Wati mulai berbicara.
Sebenarnya kedatangan Wati juga karena merindukan orang tuanya tak menyangka kalau dia malah akan medapatkan kabar yang seperti ini. Kabar pernikahan dari sahabatnya yang terkesan di persingkat juga yang jelas di paksakan.
''Aku juga sama khawatir padanya, Wat. Tapi mau bagaimana lagi, kita tak bisa melakukan apapun.'' jawab Hani.
__ADS_1
''Apalagi kemarin tuan Dirga sangat marah karena kata-kata Kanaya. Semoga saja dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh pada Kanaya.''
''Kenapa nasib Kanaya selalu seperti ini. Dia selalu saja kehilangan orang-orang yang dia sayang. Dulu kedua orang tuanya, sekarang dia juga harus kehilangan kasih sayang dari Kak Yuan. Semoga setelah ini dia tak akan merasakan kehilangan lagi.''
''Amin.'' Jawab Hani.
Secara nyata yang terlihat dari mata memang Kanaya tak lagi mendapatkan kasih sayang dari Yuan, tapi secara kasat mata dia masih tetap mendapatkannya, karena Yuan selalu mengirimkan doa untuk kebahagiaanya. Jadi kasih sayang yang seperti apalagi yang Kanaya harapkan.
''Wati!'' suara seorang laki-laki terdengar oleh keduanya. Dan Wati sangat mengenalnya karena dia adalah suaminya.
''Ya!'' jawab Wati yang juga berteriak supaya suaminya bisa mendengarnya.
Wati mulai buru-buru untuk secepatnya keluar, ''Han, aku pulang dulu ya. Kapan-kapan aku akan datang lagi.''
''Iya, hati-hati ya, Wati.'' Wati hanya memberikan deheman kecil juga anggukan saja sebagai jawaban itupun kakiya sudah berlari untuk keluar dari rumah Hani.
Hani hanya terdiam mengiringi kepergian Wati. Kini dia benar-benar sendiri tak ada Wati juga tak ada Kanaya. Kedua sahabatnya telah pergi meninggalkannya.
Hatinya pastilah sedih, dia juga merasa sangat kesepian. Bukan berarti dia juga ingi secepatnya bisa menikah, Tidak!
Hani masih ingin berlama-lama bersama kedua orang tuanya, dia sangat sangat nyaman dengan statusnya sekarang.
Tak peduli ada yang mengatakan kalau Hani tidak laku, itu tak masalah tak dia ambil pusing karena umurnya juga masih sangat muda meski umurnya satu tahun lebih tua dari Wati juga Kanaya.
''Suatu saat dia pasti akan datang, Han. Jangan di ambil pusing.'' gumamnya.
````````````````
Bersambung.....
__ADS_1