
'Sedikit kebersamaan, sedikit kenangan, sedikit kebiasaan akan membuat hati bahagia. Bersamamu aku selalu bahagia, dan tak akan pernah bosan. Tetaplah tersenyum Kanaya ku sayang.'
#Yuan Prayoga
...****************...
Senyum terus keluar dari bibir Kanaya. Meski tak berani melihat bagaimana wajah Yuan tetapi Kanaya terus saja tersenyum. Hatinya sangat berbunga-bunga, tetapi juga terdapat rasa malu juga gak percaya diri.
Ya, setelah selesai di tempat Wati Kanaya di ajak Yuan untuk melipir ke tempat di mana semua motor dan mobil terparkir. Bahkan motor Yuan juga terparkir di sana.
Memang ada orang, tapi tak sebanyak di tempat acara. Dan Yuan juga Kanaya bisa berbincang-bincang di sana.
"Apa saja yang kamu lakukan saat akang nggak ada?" tanya Yuan yang menoleh ke arah Kanaya yang duduk tak begitu dekat dengannya. Gadisnya itu terus saja menunduk.
"Hem, seperti biasa," begitu ragu-ragu Kanaya menjawab.
"Kenapa sekarang akang jadi malas untuk pergi seperti ini, Ya. Apakah kamu tidak ikhlas jika akang pergi?"
"Hem?" Kanaya menoleh, dia terkesiap.
Benar, kalau di tanya ikhlas dan tidaknya Kanaya jelas tidak ikhlas. Kanaya ingin bisa terus bersama dengan Yuan seperti ini. Apalagi saat-saat ini Dirga terus saja berusaha untuk mendekatinya. Kanaya terlalu takut jika Yuan pergi.
"Kang," ingin rasanya Kanaya meminta Yuan untuk melamar sekarang juga, tapi apa daya Kanaya seorang perempuan juga tak punya keberanian untuk menyatakan itu.
Berbagai kejadian akhir-akhir ini membuat Kanaya takut. Takut jika Dirga akan datang lagi dan langsung melamarnya kepada wak Tejo. Dengan wak Tejo yang memiliki sifat keras itu Kanaya yakin dia akan memaksa Kanaya untuk menerima Dirga.
Akan menghalalkan cara untuk bisa membuat Kanaya mau menerimanya. Kalau Kanaya menolak pastilah wak Tejo akan marah habis-habisan, bisa jadi Kanaya akan di usir dan jadi gelandangan setelah itu.
Yuan terdiam menunggu, terlihat ada keraguan di mata Kanaya saat ini. Entah apa yang akan di katakan Kanaya.
"Ada apa?" Akhirnya pertanyaan lolos karena Yuan sudah sangat gak sabar. Yuan begitu penasaran apa yang ingin Kanaya katakan sampai-sampai dia terlihat ragu juga gusar seperti sekarang.
'Bagaimana, apakah aku harus bercerita kepada kang Yuan tentang laki-laki itu. Tapi? ah, kapan-kapan aja deh aku ceritanya. Lagian aku juga sudah menolaknya,' batin Kanaya.
__ADS_1
"Hem, kok diam?" Yuan semakin tak sabar. Matanya terus memandangi gadisnya yang sangat berbeda saat ini.
"Hem, tidak apa-apa kok, Kang." Kanaya urung untuk bercerita. Padahal ada kesempatan besar untuk dia bercerita tetapi entahlah.
"Besok pagi akang mau berangkat lagi, kamu jaga diri baik-baik ya. Kalau ada apa-apa hubungi Akang. Minta tolong sama Hani, akang udah bilang padanya."
Jelas hanya Hani yang bisa di mintai pertolongan oleh mereka berdua, karena hanya Hani yang punya ponsel.
'Hem, apakah memang benar-benar nggak bisa terus seperti ini ya, Kang? Kanaya ingin akang selalu ada seperti dulu lagi. Selalu menemani Aya, dan ada saat Aya butuh. Kali ini Aya sangat butuh akang, Aya takut, Kang. Takut,' batin Kanaya lagi.
Terselip keegoisan yang besar di hati Kanaya. Ingin bisa selalu bersama Yuan bahkan ingin sekali bisa secepatnya menjadi miliknya. Tapi, Kanaya tak bisa apapun kecuali hanya mengikuti alur yang harus terus berjalan.
"Kok ngelamun lagi?" Yuan semakin lekat memperhatikan wajah Kanaya, "apakah ada sesuatu yang kamu inginkan?"
"Hem!" Kanaya mengangkat wajahnya ke arah Yuan hingga mata mereka saling bertemu.
'Kanaya ingin akang menikahi Kanaya secepatnya, Kang,' keinginan Kanaya yang hanya terhenti di hati saja. Tak berani untuk bisa mengatakan secara langsung apa yang menjadi keinginannya.
"Hem?" belum juga Kanaya setuju Yuan sudah beranjak dan mendekati penjual cilok tersebut membuat mata Kanaya langsung mengikuti Yuan.
Kanaya terus menunggu hingga akhirnya Yuan kembali dengan membawa cilok satu bungkus plastik namun dengan dua tusuk dari bambu.
Bukan karena Yuan begitu pelit atau pengiritan, melainkan dia sudah terbiasa dengan jajan seperti itu jika dengan Kanaya. Kebiasaan sejak kecil itu bahkan terbawa sampai sekarang. Bahkan mereka berdua semakin menikmatinya.
''Kok cuma satu, Kang?'' tanya Kanaya.
Yuan hanya nyengir kuda saja untuk menanggapi. Dia langsung kembali duduk di tempat yang tadi.
''Kan biasanya juga seperti ini kan?'' jawab Yuan.
Kanaya tersenyum malu, memang sudah seperti biasa seperti itu tetapi Kanaya merasa sangat malu untuk sekarang. Karena mereka tidak hanya berdua saja di sana, melainkan banyak orang. Pastilah akan ada omongan yang tak enak nantinya.
Kanaya juga sangat takut kalau semua itu akan sampai ke telinga wak Tejo, pastilah dia akan mendapatkan masalah baru.
__ADS_1
''Mau makan sendiri atau di suapi?'' tanya Yuan, ''akk!'' Yuan langsung menyuapi Kanaya menggunakan satu tusuk sementara yang satunya sudah entah berantah hilang kemana.
''Tapi, Kang?'' Kanaya sangat ragu untuk menerima suapan dari Yuan, tetapi yuan sangat kekeh untuk menyuapi Kanaya seperti biasanya.
''Hem,'' Yuan tetap kekeh, dia tetap menginginkan kalau Kanaya harus menerima suapan dari tangannya.
"Hem," sekali lagi Yuan menegaskan hingga akhirnya Kanaya gak dapat menolak lagi dan langsung menerima suapan cilok dari tangan Yuan.
Senyum senang terlihat jelas di bibir Yuan. Matanya sangat jelas melihat saat mulut Kanaya menganga dan matanya menatap dirinya.
Kebahagiaan kedua tidak sama dengan kekesalan juga kemarahan dari Dirga yang melihat keduanya seperti itu. keduanya yang seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan.
Hati Dirga begitu panas, dia tak menyukai kedekatan Kanaya juga Yuan. Apalagi dengan kebahagiaan mereka berdua yang sangat jelas.
"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Kanaya harus menjadi milikku. Dia milikku!"
Begitu egoisnya Dirga saat ini, bahkan dia sudah mematenkan bahwa Kanaya hanya miliknya saja. Dan harus secepatnya menjadi miliknya.
Tak peduli dengan hati gadis itu Dirga tengah merancang rencana untuk bisa memilikinya.
"Bagaimana pun caranya, kamu harus menjadi milik ku, Naya."
Begitu gelap mata Dirga saat ini. Dia begitu kekeh untuk memiliki Kanaya dengan cara apapun.
"Jangan panggil aku Dirga Gantara kalau tidak bisa memiliki mu secepatnya," matanya sudah memerah penuh dengan amarah besar.
Masuk ke dalam mobil dan menutupnya dengan sangat keras. Bahkan suara itu bisa terdengar oleh Kanaya juga Yuan. Keduanya langsung menoleh namun sudah tak lagi melihat siapa yang telah berlaku seperti itu. Tapi tidak dengan Kanaya, dia mengenali mobil itu.
'Tuan Dirga kenapa?' batin Kanaya gak mengerti. Tak tau kalau dirinya lah yang menjadi penyebab kemarahan Dirga.
...****************...
Bersambung...
__ADS_1