Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Kelainan Dirga


__ADS_3

'Kenapa harus seperti ini jalannya. Kenapa harus seperti ini takdir yang Engkau berikan pada hamba. Kuatkan aku, lapangkan_lah dadaku untuk menerima semua ini. Dan jangan biarkan lagi aku menyakitinya.'


#Dirga Gantara


*********


Begitu menyesal Dirga sekarang. Meski sudah sampai di rumahnya di Semarang Kanaya belum juga sadarkan diri. Bahkan dokter pribadi yang sebenarnya adalah sahabat Dirga juga sudah melakukan berbagai macam cara.


Mungkin itu terjadi karena Kanaya terlalu tertekan juga sangat lemah membuat dia tidak cepat sadar.


"Ga, lima menit lagi dia tidak bangun kita harus bawa ke rumah sakit. Kita tidak bisa mengabaikan ini. Sebenarnya ini benar-benar sudah fatal, Ga. Kalau terjadi apa-apa padanya bukan hanya kamu tapi aku juga akan kena hukum," Ucap Savira dokter sekaligus sahabat Dirga sejak kecil itu.


"Kamu gila ya, Vir! Kalau kita bawa ke rumah sakit itu artinya kita juga menyerahkan diri kita ke kantor polisi!" Seru Dirga.


"Tapi ini sudah sangat buruk, Ga! Apa kamu mau dia kenapa-napa! Lagian kamu sangat gila, Ga! Kamu memaksakan kehendak mu untuk menjadikan dia milikmu seutuhnya dengan kejam! Kamu bukan hanya memaksanya tapi kamu juga menyiksanya! Apa yang terjadi padamu, Ga. Apa! Aku kenal kamu udah dari kecil, kamu tidak pernah sejahat ini pada orang lain, bahkan berteriak saja kamu tidak pernah, tapi ini? Dia istrimu, Ga. Istri!" Ucap Savira panjang lebar.


"Aku juga tidak tau apa yang sudah aku perbuat padanya, Vir. Awalnya aku tidak akan menyiksanya seperti ini. Aku akan tetap memintanya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Aku ingin aku juga dia sama-sama ridho. Tapi saat dia menolak dan aku menamparnya gairahku semakin memuncak, aku semakin suka saat melakukannya dengan dia yang semakin kesakitan."


Curahan hati Dirga yang dia sendiri sangat tidak tau pasti apa sebabnya.


"Aku semakin puas dan semangat saat dia kesakitan, Vir. Sekarang katakan, apa yang terjadi padaku Vir. Katakan!" Begitu bingung Dirga dengan dirinya sendiri.


Di tatapnya wajah Dirga dengan sangat lekat. Vira bisa pastikan apa yang terjadi pada Dirga saat ini.


"Kamu harus melakukan pengobatan,Ga. Kamu tidak bisa mengabaikan ini. Jika kamu abaikan kamu akan terus menyiksa istrimu saat kamu menginginkannya. Ini harus segera di obati, Ga." Ucap Savira.


"Maksudnya apa, Vir. Aku sakit gitu?" Mata Dirga memicing ke arah Savira.


"Ini adalah kelainan, Ga. Kamu tidak akan pernah bisa melakukannya dengan cara lembut. Semakin dia kesakitan maka gairah mu akan semakin besar. Jadi kamu juga tidak akan bisa melakukannya jika dia dalam keadaan baik-baik saja." Terang Savira.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal azim," Dirga terduduk lemas. Kenapa ini bisa terjadi padanya. Dia sangat mencintai Kanaya, dia ingin membuat Kanaya bahagia. Namun jika seperti ini tidak mungkin kan Kanaya bisa bahagia bersamanya. Karena Dirga pasti akan selalu menyakitinya.


"Katakan apa yang bisa aku lakukan untuk bisa sembuh dari ini, Vir. Aku tidak ingin terus menerus menyakitinya, aku tidak ingin kehilangan dia," Dirga begitu pasrah pada Savira, berharap sahabatnya itu punya cara untuk membuatnya sembuh seperti laki-laki normal pada umumnya.


"Kamu pasti bisa sembuh, Ga. Pasti. Percayalah padaku. Sekarang aku keluar dulu, kalau ada apa-apa cepat panggil aku," Savira bergegas pergi. Meninggalkan Dirga yang terpuruk di dalam kamar dengan terus menatap Kanaya yang terbaring di ranjang.


Perlahan Dirga berdiri, melangkah menghampiri Kanaya dengan tertatih menahan sakit di hatinya. Bukan sakit akibat kecemburuannya tetapi sakit akan kenyataan pahit yang terjadi padanya, hingga membuat orang yang dia cintai menderita.


Dirga ambruk duduk dengan lemas di sebelah Kanaya, dia menangis di hadapan Kanaya yang masih tidak sadar.


"Maafkan aku, Nay. Maaf," Diraihnya tangan Kanaya, di kecup berkali-kali juga sesekali dia tempelkan di pipinya.


Bagaimana tidak sesakit itu. Ini adalah pertama dia mencintai seorang wanita, jelas itu juga cinta pertamanya. Dia begitu ingin memilikinya tapi setelah dia miliki dia malah menyakitinya.


Kenapa takdir begitu menyiksanya. Siapa yang tersiksa dalam perjalanan rumah tangganya yang baru di mulai ini, Kanaya atau dirinya? Jelas keduanya akan sama-sama tersiksa.


"Bangun Naya sayang. Jangan buat aku takut dan semakin merasa bersalah," Ucap Dirga yang tangan satunya sudah membelai lembut pipi Kanaya. Pipi yang terdapat beberapa lebam akibat tamparannya.


"Astaghfirullah hal azim..., maafkan aku Nay," Semakin tersayat hati Dirga kala melihat wajah Kanaya sekarang. Jika tubuhnya di buka pastilah lebih parah lagi karena juga begitu banyak luka akibat sabetan dari gesper nya.


"Hemm," Suara Kanaya terdengar. Tapi matanya tetap tidak terbuka. Tubuhnya menggigil namun terasa panas. Kanaya demam.


"Astaghfirullah hal azim, Nay. Kamu demam! Nay, Nay," Dirga mengelus pipi Kanaya dengan rasa panik tubuh Kanaya semakin panas sekarang.


Dirga lari keluar berniat memanggil Savira yang menunggu di luar.


"Savira! Vira!" Teriak Dirga lantang. Dia sangat panik sekarang. Dia kembali berlari masuk menghampiri Kanaya yang terus menggigil juga terus bersuara.


"Ada apa, Ga!" Savira ikutan panik. Dia langsung berlari setelah mendapatkan panggilan dari Dirga.

__ADS_1


"Naya demam, Vir! Tubuhnya panas sekali," Dirga begitu panik.


Savira langsung bergerak, mengambil obat lalu dia suntikan lewat infus. Dia juga langsung memeriksa keadaan Kanaya yang semakin memburuk.


"Ga, kita harus bawa Naya ke rumah sakit," Ucap Savira.


Mata Dirga seketika melotot. Dia begitu takut jika Kanaya di bawa ke rumah sakit dan semuanya akan terbongkar. Citranya akan hancur dan dia akan sangat malu karena ketahuan memiliki kelainan yang tak biasa.


"Tidak, Vir. Aku tidak mau melakukan itu. Aku yakin kamu bisa menyelamatkannya tanpa harus ke rumah sakit. Aku mohon, Vir. Aku mohon," Begitu memohon Dirga pada Savira. Dia takut segalanya. Jika Kanaya masuk rumah sakit karena perbuatannya, apa yang akan di lakukan kedua orang tuanya.


Jelas, kedua orang tuanya akan sangat kecewa mereka juga pasti akan sangat marah. Kemarahan yang sangat besar itu dia tak bisa menanggungnya. Dia terlalu takut kalau kelainannya juga di ketahui orang tuanya.


"Tapi, Ga!"


"Aku mohon Vir. Kamu pasti bisa menyembuhkannya. A_aku juga akan terus terjaga untuknya. Aku akan terus merawatnya juga. Aku mohon, jangan sampai semua terdengar di luar termasuk apa yang terjadi padaku. Juga jangan pernah kamu katakan pada kedua orang tuaku ataupun Kanaya sendiri, aku mohon."


Tak tega rasa hati Savira, dia tak pernah melihat Dirga begitu memohon seperti ini pada dirinya apalagi pada orang lain?


"Baiklah. Aku akan berusaha sebisaku," Jawab Savira yang akhirnya mengabulkan permintaan Dirga.


"Terimakasih, Vir. Terimakasih," Ucap Dirga.


'Ya Allah, kenapa Engkau beri ujian pada Dirga seberat ini. Kuatkanlah dia Ya Allah, dan cepatlah angkat apa yang membuatnya menderita seperti ini. Biarkan dia bahagia dengan Kanaya, wanita pilihannya,' batin Savira yang ikut merasakan sedih.


Savira terdiam, dia merasa bersalah karena dia juga menyimpulkan keadaan apapun yang terjadi pada Dirga. Tidak seharusnya dia langsung katakan itu padanya. Itu harus melalui pemeriksaan terlebih dahulu. Tapi apa yang di alami Dirga, Savira sangat tau. Bahwa itu adalah sebuah kelainan seorang laki-laki dalam berhubungan suami istri.


***************


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2